USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Tugas Baru



Happy Reading,,! 😊


Sesampainya di pesantren, Abighail disuruh oleh ustadz Afnan untuk beristirahat. Abighail hanya bisa menuruti apa yang dikatakan oleh ustadz Afnan.


"Kak, gimana kondisi Abighail,,?" tanya Latipah yang melihat ustadz Afnan keluar dari kamarnya.


"Alhamdulillah,, dia baik-baik saja,," jawab ustadz Afnan.


"Kalo calon bayinya,,?" tanyanya lagi.


"Alhamdulillah juga,," jawab ustadz Afnan. "Dokter bilang, Abighail mengalami kram, jadi mengakibatkan sakit pada perutnya. Jika saja sakitnya itu terlalu berlebih, dapat mengakibatkan keguguran,," lanjut ustadz Afnan.


"Astaghfirullah,," gumam Latipah.


Keduanya terdiam.


"Kak,," panggil Latipah ragu.


"Iya,,?" tanya ustasz Afnan.


"Em,, sebenernya ada sesuatu yang harus aku beritahu sama kakak,," jawab Latipah.


"Soal apa,,?" tanya ustadz Afnan penasaran.


"Sebenernya sebelum perut Abighail sakit, em,, Abigahil sempat ditabrak seseorang,," jawab Latipah.


"Hah,,? Ditabrak,,? Maksudnya gimana,,?" tanya ustadz Afnan tak mengerti.


"Sebaiknya kita jangan ngobrol di sini kak,, kita pindah aja yuk,," ajak Latipah karna takut Abighail akan mendengar apa yabg dibicarakan oleh dirinya dan ustadz Afnan.


Latipan dan ustadz Afnan mencari tempat yang lebih aman. Mereka memilih mengobrol di dapur, karna itulah yang menurut mereka tempat paling aman untul mengobrol.


"Begini kak,,," Latipah menceritakan saat dirinya dan Abighail berjalan-jalan di pesantren dan sampai Abighail ditabrak dengan sengaja oleh Lidya.


"Lidya,,?" tanya ustadz Afnan.


"Iya kak,, dia ituloh yang dulu ada masalah sama Abighail,," jawab Latipah dengan geram jika mengingat kelakuan Lidya.


"Astaghfirullah,," gumam ustadz Afnan tak menyangka Lidya berbuat seperti itu pada Abighail. "Kenapa kamu gak berutahu kakak dari tadi,,?" ustadz Afnan kembali bertanya.


"Ya maaf,, soalnya Abighail melarang aku untuk beritahu kak Afnan,," jawab Latipah.


"Kenapa Abighail melakukan itu,,?" lirih ustadz Afnan yang masih terdengar oleh Latipah.


"Mungkin karna Abighail gak mau buat kak Afnan khawatir,," jawab Latipah.


"Jurstru dengan menyembunyikan kebenaran membuat saya lebih khawatir Latipah,," papar ustadz Afnan dengan wajah yang menahan amarah.


Latipah terdiam, dia tidak dapat mengatakan apa-apa lagi pada ustadz Afnan.


"Hah begini saja, mulai sekarang kamu harus mengawasi sekaligus menjaga Abighail saat Abighail sedang bersama kamu. Dan juga kamu harus melaporkan pada saya apa saja yang Abighail lakuakan dan bicarakan,," ucap ustadz Afnan dengan tegas.


"Siap Dan (komandan),," ucap Latipah dengan tangan yang memberi hormat, layaknya prajurit yang menerima perintah dari atasannya.


...****************...


Abighail bangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya, yaitu ustadz Afnan.


"Habib ke mana,,? Persaan tadi masih ada,," gumam Abighail.


Abighail ke luar kamar, dia pergi ke arah dapur karena tenggorokannya terasa kering.


"Ingat, ini tugas baru untuk kamu. Kamu harus melakukannya dengan baik,," ucap ustadz Afnan.


"Baik kak,," balas Latipah.


"Tugas apa yang harus dilakukan dengan baik,,?" tanya Abighail yang baru masuk ke dapur.


Ustadz Afnan dan Latipah terdiam saat Abighail datang.


Apa Abigahil mendengar apa yang aku dan kak Afnan bicarakan,,? batin Latipah.


"Kalian sedang apa,,?" tanya Abighail.


"Eh,, mai, kamu kenapa keluar kamar,,? Harusnya kamu istirahat aja,," bukannya menjawab, ustadz Afnan malah balik bertanya.


"Aku mau minum,, tenggorokan aku kering bib,," jawab Abighail.


"Oo,, kamu mau minum Ghail,, bentar aku ambilin,," Latipah mengambilkan air minum untuk Abighail.


"Makasih,," ucap Abighail dengan senyuman.


"Iya,," balas Latipah.


"Mai, minumnya di dalem aja sambil duduk,," ucap ustadz Afnan dan diangguki oleh Abighail.


Latipah dan ustadz Afnan menunggu Abigahil sampai dia menyelesaikan minumnya. Latipah dan ustadz Afnan saling meng kode satu sama lain. Mereka khawatir kalo Abighail mendengar apa yang mereka bicarakan.


Abighail sudah selesai meminum air itu. Latipah mengambil alih gelas yang di pegang oleh Abighail.


"Sekarang kamu istirahat lagi ya,," pinta ustadz Afnan sambil mengelus punggung Abighail.


"Iya,," ucap Abighail sambil menganggukkan kepalanya.


Ustadz Afnan menuntun Abighail saat masuk ke kamar. Latipah pernafas lega, karna Abighail tak menanyakan perihal tadi.


"Eh tunggu,," Abigahil menghentikan langkahnya.


"Kenapa mai,,?" tanya ustadz Afnan.


"Apa yang kalian bicarakan tadi,,? Tugas apa yang harus dilakukan dengan baik,,?" tanya Abighail penasaran.


Deg,, baru saja Latipah tenang dan sekarang ketenangannya menghilang.


"Em,," Latipah bingung harus menjawab apa.


"Ee,," ustadz Afnan juga sama, dia bingung harus menjawab apa.


Abighail menunggu jawaban dari keduanya.


"Tugas,, tugas,, tugas pesantren,, ya, benar tugas pesantren,," jawab ustadz Afnan.


"Tugas pesantren apa,,?" tanya Abighail tambah penasaran.


"Tugas pesantren,, ya pokoknya tugas mengenai masalah pesantren lah,, kamu gak perlu tau Ghail,," jawab Latipah. "Yang kamu perlukan sekarang itu,, adalah istiraha,, sekarang kamu pergi istirahat,," titah Latipah.


"Iya,, tapi kenapa ngobrolinnya di dapur,,?" tanya Abighail lagi.


"Karna tadi aku liat ustadz Afnan ke dapur, dia mau buatin kamu bubur. Aku samperin tuh,, terus kami malah ngobrol masalah pesantren,," jawab Latipah berbohong.


"Oo,, yasudah,," gumam Abigahil, dia kira masalah mengenai dirinya.


"Alhamdulillah,," gumam Latipah yang melihat Abigahil sudah masuk ke kamarnya.


Bersambung..


Terima kasih sudah mampir,, 😊


Maaf up nya lama,, πŸ™ƒ


Terus dukung author ya,, πŸ˜‰


Salam hangat dari author,, ☺


Sambil nunggu author up, silahkan kalian bisa baca novel author yang di bawah ini,, πŸ˜†