
Happy Reading,,! π
Sejak Latipah mendapat tugas bari ustadz Afnan, sikapnya sedikit berubah pada Abighail. Terutama saat Abighail sedang honeymoon di pesantren. Ustadz Afnan, Latipah, abi dan umi, mereka sama-sama menjaga Abighail dengan baik.
Terkadang Abighail merasakan mual, apalagi saat berhubungan dengan makanan. Abighail juga terkadang ngidam. Tapi,, ngidamnya Abighail masih terbilang biasa lah.
Abighail bukan tipe bumil yang pilih-pilih dalam makanan. Hanya saja, terkadang dia merasakan mual saat hendak makan atau sedang memasaka.
Suatu malam, keluarga ustadz Afnan termasuk Abighail sedang makan malam bersama. Masing-masing sudah mendapat maknanannya sendiri, termasuk juga Abighail. Tapi, yang lain sudah mulai makan, Abighail masih mendiamkan makannya.
"Kenapa gak dimakan mai,,? Kamu gak suka,,? Atau mau makan yang lain,,?" tanya ustadz Afnan.
"Bukannya gak suka, tapi,, em,, gimana ya,, aku gak selera makannya,," jawab Abighail sambil menatap makanan yang ada di piringnya.
"Terus mau makan apa,,?" tanya ustadz Afnan.
Abi, umi dan Latipah hanya mendengarkan mereka saja. Abighail melihat makanan milik ustadz Afnan, diapun tersenyum penuh arti.
"Bib,," panggil Abighail dengan mata yang berbinar.
"Iya,," jawab ustadz Afnan.
"Aku mau,," ucap Abigahil.
"Mau apa,,?" tanya ustadz Afnan bingung.
"Aku mau makan,," jawab Abighail sambil melihat pada makanan milik ustadz Afnan.
Ustadz Afnan menyadari apa yang dimaksud Abighail.
"Jangan bilang kalau kamu mau makanan yang ada di piring aku,," tebak ustadz Afnan.
"Iya,," ucap Abighail membenarkan tebakan dari suaminya itu.
"Tapi mai,, ini bekas aku,," tolak ustadz Afnan dengan halus.
"Ya,, terus kenapa,,? Pokoknya aku mau yang itu,," rengek Abighail.
"Mai,, masa kamu mau makanan yang udah aku makan,,?" tanya ustadz Afnan.
"Ha,, aku mau yang itu,," kekeh Abighail.
Ustadz Afnan melihat pada abi dan uminya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar saja. Abi dan umi menganggukkan kepalanya, menyetujui keinginan Abighail.
"Hem,, yasudah,," uatadz Afnan mengalah.
Dia memberikan makanannya pada Abighail. Abighail menerimanya dengan senang. Dan sebagai gantinya ustadz Afnan memakan makanan milik Abighail. Baru satu suapan Abighail sudah berhenti makan.
"Kenapa lagi mai,,? Makanannya gak enak,,?" tanya ustadz Afnan.
"Terus apa,,?" tanya ustadz Afnan yang semakin bingung.
"Aku mau makan sepiring sama kamu,," jawab Abighail dengan wajah yang memelas.
Ustadz Afnan mengerutkan keningnya.
"Bolehkan,,?" tanya Abighail meminta penuh harapan.
"Huh,, boleh,, ayok,," setuju ustadz Afnan.
Abighail dan ustadz Afnan makan dalam satu piring. Terkadang Abighail meminta ustadz Afnan untuk menyuapinya. Sebenarnya ustadz Afnan juga ingin disuapi oleh Abighail, namun dia malu jika harus melakukan itu di hadapan abi dan uminya.
Apakah Abighail tidak malu,,? Jangan tanya jawabannya tidak sama sekali. Mungkin karna bawaan sedang hamil, jadi Abighail tidak merasa malu jika dia ingin mendapatkan sikap romantis dari ustadz Afnan di depan orang lain.
Tapi bukan berarti Abighail tidak mempunyai rasa malu dan tidak menghargai orang lain. Sekali lagi author sampaikan Abighail bersikap seperti itu atau bisa dibilang manja, karena bawaan dari hamil ya reader semua.
"Umi, abi,, Latipah keruang tamu ya,," ucap Latipah sambil membawa makannya.
"Lho,, kenapa sayang,,? Makannya di sini aja,," tanta umi.
"Latipah di ruang tamu aja umi,, gak enak soalnya,," tolak Latipah.
"Gak enak kenapa,,?" tanya abi.
"Mata aku ternodai, liat sepasang suami istri dengan adegan romantis mereka,, mending aku di sana aja,," tolak Latipah yang mulai berjalan meninggalkan empat orang itu.
"Kamu juga sebentar lagi bakal ngerasain kok Latipah,," goda Abighail.
"Diem Abighail,," ucap Latipah.
"Latipah sini,," panggil Abighail.
"..." Latipah tetap melanjutkan jalannya.
"Latipah,," panggil Abighail lagi.
"Tau ah,," ujar Latipah yang sudah menjauh.
Keempat orang itu tertawa melihat tingkah Latipah.
Bersambung..
Terima kasih sudah mampir,,π
Jangan lupa tinggalkan jejak ya,, supaya author lebih semangat nulisnya,,π
Terus dukung author ya,,π