USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Do'ain aja,,



Happy Reading,,! 😊


Ustadz Afnan memperhatikan Abighail yg sedang bermain bersama keponakannya. Namun tiba tiba Abighail terlihat terpental dan akan jatuh.


Hap,,


Ustadz Afnan menangkap Abigha yg hendak jatuh. Pandanga mereka bertemu.


1 detik,,


2 detik,,


3 detik,,


4 detik,,


5 detik,,


" Ustadz Afnan,, " gumam Abighail.


" Eh,, astaghfirullah hal adzim,, " ustadz Afnan melepaskan pegangan nya dan Abighail kembali berdiri dgn tegak seraya membaca istighfar.


Canggung,,


Setelah kejadian barusan Abighail dan ustadz Afnan merasa canggung.


" Em,, terimakasih ustadz,, " Abighail membuka suaranya dgn gugup.


" Iya,, " balas ustadz Afnan dgn gugup tapi dia tdk memperlihatkan kegugupannya.


" Bibi,, bibi tdk papa kan,,?" tanya Arsya dan Arsyi bersamaan, karna tadi mereka melihat Abighail akan jatuh.


" Iya bibi tdk papa,, " jab Abighail sambil tersenyum.


Ustadz Afnan berjongkok di hadapan Arsya dan Arsyi. " Arsya,, Arsyi,, mainnya jangan sambil rebutan,, kasian bibinya,, " ucap nya seraya tersenyum.


Arsya dan Arsyi melihat ke arah Abighail yg sedang tersenyum.


" Iya paman,, " ucap si kembar. " Maafkan kami ya bi,, " sesal mereka sambil menundukan kepala.


" Iya gk papa kok,, " balas Abighail yg masih tersenyum manis pada kedua keponakannya itu.


Arsya dan Arsyi memeluk kaki Abighail, karna Abighail sedang dlm posisi berdiri. Abighail yg mendapat pelukan tiba tiba, dia langsung berjongkok dan membalas pelukan dari kedua keponakannya itu.


Ustadz Afnan tersenyum melihat momen itu.


" Em,, Arsya, Arsyi paman boleh ikutan main gk,,?" tanya ustadz Afnan.


Arsya dan Arsyi melepaskan pelukannya dari Abighail dan menghadap ustadz Afnan.


" Boleh paman,, ayo,, " jwb mereka dgn senyum yg mengembang.


Arsya, Arsyi, Abighail dan ustadz Afnan bermain bersama. Sesekali ustadz Afnan bertanya pada Abighail. Dan sesekali juga ustadz Afnan bersenda gurau.


" Em,, Abighail bagaimana kondisimu,,?" tanya ustadz Afnan.


" Alhamdulillah ustadz,, kondisi saya sudah membaik,, " jwb Abighail.


Ustadz Afnan hanya menganggukan kepalanya.


" Em,, ustadz sejak kapan kesini,,?" tanya Abighail.


" Sejak tadi,, " jwb ustadz Afnan.


Abighail menganggukan kepalanya. Abighail sangat ingin bertanya ada keperluan apa ustadz Afnan datang kesini? Tapi,, dia bingung harus bertanya bagaimana.


" Saya datang kesini utk menjenguk kamu Abighail,, " ucap ustadz Afnan tiba tiba sambil melihat ke arah Abighail.


Lagi lagi pandangan mereka bertemu. Abighail langsung menundukan kepalanya. Wajah Abighail memerah entah kenapa bisa seperti itu. Mungkin,, karna perkataan ustadz Afnan.


Astaghfirullah,, kenapa dadaku berdekup kencang,, dan kenapa lagi ustadz Afnan tiba tiba berkata seperti itu,, seolah dia tau apa yg ada di pikiran ku gumam Abighail dalam hati.


Ustadz Afnan juga langsung membalikan pandangannya ke sembarang arah. Aduh,, astaghfirullah,, kenapa tadi aku tiba tiba berbicara seperti itu,, gumam ustadz Afnan dalam hati.


Dari kejauhan tampak ada seseorang yg memperhatikan mereka. Org itu adalah bu 'Ainun.


Bu 'Ainun memperhatikan aktivitas Abighail dan ustadz Afnan yg sedang bermain bersama Arsya dan Arsyi.


Serasi


Itulah kata yg terlintas di pikiran bu 'Ainun dan itu adalah kata yg tepat utk mereka saat ini. Mereka bagaikan keluarga yg sempurna.


Dimana ustadz Afnan sebagai Ayah nya, Abighail sebagai ibunya dan Arsya serta Arsyi sebagai kedua anak mereka.


Hah andai itu semua terjadi,, gumam bu 'Ainun.


Bu 'Ainun menghampiri mereka dgn membawa minuman dan cemilan.


Arsya dan Arsyi yg sedang bermain melihat neneknya membawa makanan dan minuman langsung berlari menghampirinya.


" Nenek,, sini Arsya bantu,, " ucap Arsya sambil berlari mendekati neneknya.


" Arsyi juga mau bantu,, " ucap Arsyi yg juga ikut berlari.


Bu 'Ainun memberikan nampan yg berisi minuman pada Arsya sedangkan Arsyi membawa nampan yg berisi cemilan.


" Hati hati jatuh,, " ucap bu 'Ainun.


Arsya dan Arsyi meletakan minuman dan makanan nya di bangku yg ada di halaman belakang.


Bu 'Ainun mengajak Abighail dan ustadz Afnan utk memakan makanan yg ada di atas meja. Abighail dan ustadz Afnan menuruti perkataan bu 'Ainun.


Mereka menikmati makanannya sambil di iringi pembicaraan biasa. Arsya dan Arsyi kembali bermain.


Namun Abighail dan ustadz Afnan masih berbincang bincang.


" Paman ayo main lagi,, " ajak Arsya.


" Iya paman ayo,, bibi juga ayo main lagi,, " timpal Arsyi.


" Sayang kalian main berdua dulu ya,, nenek mau bicara sama paman dan bibi,, " ucap bu 'Ainun.


Abighail dan ustadz Afnan tersenyum pada Arsya dan Arsyi. Mereka tampak muram.


" Yaudah ayo mainnya sama mama,, " ucap kak Sella dari arah belakang.


" Mama,, " ujar si kembar.


" Ayo ma,, main,, " ajak Arsyi.


" Iya,, " jwb kak Shella.


Akhirnya Arsya dan Arsyi bermain dgn kak Shella.


" Nak Afnan,, " panggil bu 'Ainun.


Ustadz Afnan menoleh ke arah bu 'Ainun sambil bertanya" Iya bu,,?".


" Sebenarnya apa maksud dan tujuan ustadz Afnan kesini,,?" tanya bu 'Ainun yg merasa ustadz Afnan datang ke rumahnya bukan utk menjenguk Abighail saja.


Ustadz Afnan tersenyum " Sebenarnya saya datang kesini juga utk membicarakan masalah Lidya" jwb nya.


Abighail menundukkan kepalanya.


" Saya ingin mendiskusikan bersama bu 'Ainun dan pak Firman serta Abighail mengenai hukuman apa yg akan diberikan pada Abighail" lanjut ustadz Afnan.


" Oh,, tapi ayahnya Abighail belum pulang,, dia pulang mungkin sore nanti" ucap bu 'Ainun.


Ustadz Afnan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.


" Kalo begitu saya pamit dulu,," ucap ustadz Afnan.


" Nak Afnan kok buru buru,,?" tanya bu 'Ainun.


" Iya,, soalnya saya ada urusan lain dan insya Allah nanti ba'da Maghrib saya akan ke sini lagi utk mendiskusikan masalah itu,," jwb ustadz Afnan.


" Ooo,, iya,, kalo begitu ayo kita makan dulu,," ajak bu 'Ainun.


" Tdk terimakasih bu,, " tolak ustadz Afnan secara halus.


Bu 'Ainun menganggukkan kepalanya.


" Baiklah saya pamit dulu, Assalamu'alaikum,," pamit ustadz Afnan.


" Wa'alaikumsalam,," jwb bu 'Ainun.


Ustadz Afnan berdiri dari duduknya. Setelah bersalaman, ustadz Afnan menghampiri Arsya dan Arsyi.


" Arsya,, Arsyi,, " panggil ustadz Afnan.


" Iya paman,, " jwb Arsya dan Arsyi mendekati ustadz Afnan.


" Paman pulang dulu ya,, " pamit ustadz Afnan pada si kembar.


" Yah,, paman kok pulang sih,,?" tanya Arsya.


" Maafya sayang,, insya Allah kapam kapan kita main lagi yah,,!" ucap ustadz Afnan.


" Iya paman,, " jwb si kembar.


Arsya dan Arsyi menyalami tangan ustadz Afnan. Ustadz Afnan tersenyum begitu juga Arsya dan Arsyi.


" Ustadz,, mari saya antar,, " ucap Abighail setelah ustadz Afnan bersalaman dgn Arsya dan Arsyi.


" Iya,, " jwb ustadz Afnan.


Abighail mengantar ustadz Afnan sampai ke depan gerbang.


Satpam rumah Abighail membukakan pagar utk agar mobil milik ustadz Afnan bisa keluar.


Sebelum pergi Abighail berbicara dgn ustadz Afnan.


" Ustadz,, terimakasih sudah mau menjenguk saya,," ucap Abighail sambil menundukkan kepalanya.


" Iya,, " jwb ustadz Afnan.


" Dan juga terimakasih karna ustadz sudah menyelesaikan masalah yg terjadi pada saya,," lanjut Abighail.


" Iya,, " jwb ustadz Afnan lagi.


" Saya pamit,, Assalamu'alaikum,," ucap ustadz Afnan.


" Wa'alaikumsalam,, " jwb Abighail " Hati hati ustadz,, " lanjutnya.


" Iya,, terimakasih,," balas ustadz Afnan.


Tin,, tin,,


Ustadz Afnan mengelaksoni Abighail dan di jwb anggukan Abighail.


Abighail memperhatikan mobil ustadz Afnan. Tampak ustadz Afnan tersenyum dari kaca spion pengemudi. Begitu juga dgn Abighail yg sedang tersenyum .


Setelah mobil ustadz Afnan tdk tampak Abighail kembali masuk ke dalam rumah.


" Non,, biar saya saja,, " ucap pak satpam.


" Tdk papa mang,, biar Abighail saja,, " tolak Abighail. " Oh iya mang,, panggil saya neng aja,, saya gk enak dipanggil non,,"


" Baik non,, eh maksudnya neng,," jwb pak satpam sambil menganggukkan kepalanya.


Abighail menutup gerbang. Setelah menutup gerbang pak satpam bertanya pada Abighail.


" Nenh,, tadi calon ya,,?" tanya pak satpam.


" Calon,,? " Abighail bingung karna tdk mengerti dgn pertanyaan pak satpam.


" Iya,, itu ustadz Afnan calon suaminya neng Abighail kam,,?" tanya pak satpam.


Abighail terdiam tdk menanggapi perkataan pak satpam.


" Heheh,," Abighail tersenyum kecil.


" Loh kok neng malah seyum sih,,? Hah berarti benar nih,,! Kapan neng,,? Apa nanti nunggu neng Abighail selesai sekolah,,?" tanya pak satpam.


" Kapan apa mang,,?" Abighail balik bertanya.


" Kapan neng Abighail sama ustadz Afnan nikahnya,," jwb pak satpam.


" Ih,, mamang ini apaan sih,, Abighail tuh bukan calonnya ustadz Afnan,, Abighail senyum tuh karna pertanyaan mamang ini lucu,, " jwb Abighail. " Dan lagi,, mana mungkin ustadz Afnan mau sama saya. Di luar sana masih banyak wanita yg ilmu agamanya lebih tinggi dari saya,, dan lebih cantik dari saya. Jadi gk mungkin mang,, " lanjut Abighail seraya tersenyum.


" Ih neng,, gk boleh ngomong gitu,, jodoh mh ditangan Allah SWT dan yg pasti kalo udah jodoh gak akan kemana,, siapa tau ustadz Afnan memang jodoh nya neng Abighail,, " ucap pak satpam.


" Iya mang,, do'akan saja,, " jwb Abighail.


" Do'akan apa neng,,? Do'akan neng sama ustadz Afnan berjodoh,,? Kalo itu si,, mamang do'ain neng,, " ujar pak satpam.


" Ihh bukan mang,, do'ain ustadz Afnan mendapatkan jodoh yg terbaik,, " jwb Abighail sambil wajahnya bersemu merah.


" Oh,, kirain do'ain apa,, " jwb pak satpam sambil terkekeh.


" Mang Abighail ke dalam dulu ya,,!" izin Abighail.


" Iya neng silahkan,, " jwb pak satpam.


Ustadz Afnan masih tersenyum, dia mengingat perhatian Abighail pada nya. Beberapa lama ustadz Afnan mengingatnya setelah itu dia tersadar dan mengucapkan istighfar.


" Abighail kok nganterin ustadz Afnan nya lama,,? Apa jangan jangan kamu nganterinnya sampai ke pesantren ya,,? Atau,, em,, kakak tau ni,," tanya kak Shella sambil tersenyu mencurigakan.


" Atau apa sih kak,,? Kakak nih berfikir yg enggak enggak,, sama kaya mang Asep ( satpam),, " ucap Abighail.


" Mang Asep,,?" tanya kak Shella.


" Iya,, tadi tuh setelah Abighail mengantarkan ustadz afnan, mang Asep bicara yg enggak enggak,," jwb Abighail.


" Bicara yg enggak enggak gimana dek,,?" selidik kak Shella.


" Mang Asep bilang kalo ustadz Afnan itu calon suaminya Abighail,, " jwb Abighail.


" Ah,, cie,, cie,," goda kak Shella.


" Ihh kakak,, tau ah,, " rajuk Abighail.


Abighail berjalan menuju ke kamarnya sambil memegang wajahnya yg memerah karna godaan kak Shella.


Bersambung...


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


-


# Assalamu'alaikum reader semua,, πŸ™‹πŸ™‹


# Gimana kabar kalian,,? Kalian harus sehat ya,, jangan sakit sakit,, πŸ˜‡


# Maaf ya,, kalau ada yg typo nulisnya,, πŸ˜‚


# Maaf ya,, author lama up nya,, πŸ™


# Mohon dimaklum ya,, 😧


# Kalo kalian suka novelnya author,, kalian bisa Like πŸ‘πŸ‘, Komen πŸ’­πŸ’­, Share πŸ”ŠπŸ”Š, Rate Bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟 dan jangan lupa utk Vote πŸ‘†πŸ‘† ya,, supaya author lebih semangat nulisnya,, πŸ˜‰ πŸ˜‰


# Terus dukung author ya,, πŸ˜‡πŸ˜‡


# Salam hangat dari author,, 😊😊


# Terimakasih sudah mampir,, ☺☺


# Wassalamu'alaikum,, πŸ™‹πŸ™‹