
Happy Reading!😊
Bi Murni sangat senang mengelus perut buncit Abighail.
"Bibi gak nyangka deh neng" ujar bi Murni.
"Gak nyangka apa bi?" tanya Abighail.
"Gak nyangka neng Abighail bakalan nikah sama ustadz Afnan" jawan bi Murni.
"Heheh.." Abighail terkekeh mendengar jawaban dari bi Murni.
"Bener ih neng. Bibi kira ustadz Afnan bakalan nikah sama yang lain. Terus neng Abighail juga, bibi kira neng Abighail waktu itu belum keluar dari pesantren. Eh pas bibi tanyain sama neng Latipah, neng Latipah bilang neng Abighail juga mau nikah" tutur bi Murni.
Abighail tersenyum mendengar perkataan bi Murni.
"Emang ya, jodoh mah enggak kemana" ucap bi Murni.
...****************...
1 bulan kemudian, Abighail sudah mulai persiapan untuk persalinannya. Abighail menginginkan proses persalinannya secara normal, namun doker bilang jika tidak memungkinkan, Abighail akan melakukan persalinan dengan peroses caesar.
1 minggu Lagi Abighail dikabarkan akan melahirkan. Namun belum juga 1 minggu Abighail sudah merasakan kontraksi di perutnya. Ustadz Afnan memilih segera membawa Abighail ke rumah sakit.
Abighail berbaring di ranjang rumah sakit. Abighail selalu mengatur nafasnya agar mengurangi rasa sakit pada perutnya. Ustadz Afnan sering mengelus punggung Abighail untuk meredakan rasa sakitnya. Sejujurnya ustadz Afnan sangat tidak tega melihat Abighail kesakitan.
Suatu pagi Abighail memberi tahu kalau dirinya ingin berjalan-jalan ke taman yang ada di rumah sakit. Ustadz Afnan menuruti permintaan Abighail. Abighail sangat senang, karna di taman itu juga banyak pasien yang sedang berjemur. Abighail merasa sedih saat melihat salah satu anak yang duduk di kursi roda. Kepala anak itu botak.
Anak itu tampak murung sendirian. Awalnya ada keluarga yang mendampinginya, namun keluarga itu pergi. Mungkin membawa barang yang ketinggalan di ruangannya.
"Bib, kita ke sana yuk" ajak Abighail sambil menunjuk anak yang sedang duduk di kursi roda sendirian.
"Ayok" setuju ustadz Afnan.
Ustadz Afnan dan Abighail menghampiri anak itu.
"Assalamu'alaikum" sapa Abighail.
Anak itu mendongkakkan kepalanya "Wa'alaikumsalam" jawab anak itu.
"Kamu sendirian aja" ucap Abighail.
"Ibu lagi membawa minum kak" jawab anak itu.
"Oh iya, kita belum kenalan. Kenalin nama kakak Abighail, dan ini kak Afnan" Abighail memperkenalkan dirinya dan ustadz Afnan. "Nama kamu siapa?" tanya Abighail.
"Namaku Ahkam" jawab anak itu.
"O,, Ahkam. Wah nama yang bagus" ucap Abighail.
Tiba-tiba Abighail ingin memakan sesuatu.
"Bib, aku mau makan apel" ucap Abighail.
"Apel? Ya udah, aku bawain apel dulu. Kamu jangan ke mana-mana" ucap ustadz Afnan.
"Iya, aku mau sama Ahkam aja" balas Abighail.
Ustadz Afnan mengambil apel untuk Abighail. Tinggalah Abighail dan Ahkam berdua. Abighail merasa pegal, jadi dia duduk di kursi yang ada di taman itu. Dan Ahkam berada di depannya.
"Ahkam umurnya berapa?" tanya Abighail.
"7 tahun" jawab Akham dengan singkat.
"Ahkam kenapa? Kok keliatannya sedih sih?" tanya Abighail mulai mendekati Ahkam.
"Hidup Ahkam gak bakalan lama" jawab Ahkam sedih.
"Siapa yang bilang gitu?" tanya Abigail.
"Dokter" jawab Ahkam. "Semalam, saat Ahkam selesai di periksa, Ahkam pura-pura tidur. Ahkam mendengar kata doktet sama ibu kalau hidup Ahkam gak akan lama" lanjut Ahkam.
Abighail tertegun mendengar jawaban dari Ahkam. Abighail tidak menyangka Ahkam sudah mengetahui hal seperti itu disaat kondisinya seperti ini.
"Ahkam, Ahkam tau gak arti nama Ahkam itu apa?" tanya Abighail.
Ahkam menggelengkan kepalanya.
"Nama Ahkam itu berarti kuat" ucap Abighail.
Ahkam menatap Abighail "Kuat?" tanya Ahkam tidak mengerti.
"Ujian? Tapi Ahkam kan masih kecil. Ahkam selalu berbuat baik, Ahkam enggak nakal, kenapa Ahkam diberi ujian seperti ini kak?" tanya Ahkam mulai menangis.
"Sut,, Ahkam gak boleh nangis" Abighail menghapus air mata yang mengaalir dipipi Ahkam. "Ahkam, dengerin kakak. Allah itu memberi ujian pada hambanya karna 2 hal. 1 untuk menghapus dosa-dosa kita. Yang ke-2 untuk mengangkat derajat kita" Abighail berusaha menghibur Ahkam.
Ahkam menatap Abighail dengan lekat.
"Kalau Allah menguji Ahkam bukan untuk menghapus dosa, mungkin Allah menguji Ahkam untuk mengangkat derajat Ahkam. Allah ingin mengetahui seberapa kuat, seberapa sabar, seberapa tegarnya Ahkam melalui ujian ini" Jelas Abigail.
"Benarkah?" tanya Ahkam dengan polosnya.
"He'em. Ahkam, percayalah Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan manusia. Allah yakin, kalau Ahkam pasti bisa melalui ujian ini" jawab Abighail sambil tersenyum. "Ahkam mau masuk surga gak?" tanya Abighail.
"Mau" jawab Ahkam.
"Kalo gitu, Ahkam harus terus semangat. Jangan pustus asa. Kita sama-sama berjuang. Allah tau apa yang terbaik untuk kita" Abighail memberi semangat pada Ahkam.
Ahkam tersenyum mendengar perkataan Abighail.
"Kak, kakak sedang hamil?" tanya Ahkam.
"Iya" jawab Abighail sambil mengelus perutnya.
"Kalau kakak sudah melahirkan, apakah boleh Ahkam melihat bayi kakak?" tanya Ahkam sekaligus meminta.
"Tentu saja boleh. Nanti dede bayinya seneng karna bisa bertemu dengan kakal Ahkam yang kuat" jawab Abighail.
Abighail dan Akham tertawa bersama.
Dari kejauhan, tampak ada 2 orang yang memperhatikan Abighail dan Ahkam.
Abighail sudah kembali ke ruangannya. Begitu juga dengan Ahkam. Hari ini dokter akan mengecek kondisi kandungan Abighail. Dokter tampak murung setelah mengecek keadaan Abighail.
"Dok, bagaimana kondisi saya?" tanya Abighail.
"Em,, Alhamdulillah. Baik bu" jawab dokter itu.
"Alhamdulillah.." ucap Abighail dan ustadz Afnan.
"Em,, pak mari ikut ke ruang saya. Ada yang ingin saya sampaikan mengenai vitamin yang harus diberikan pada istri bapak" ucap dokter itu.
"Baik dok mari" setuju ustadz Afnan.
Dokter pergi terlebih dahulu menuju ruangannya.
"Mai, aku pergi ke ruangan dokter dulu ya. Kamu gak papakan aku tinggal dulu?" tanya ustadz Afnan.
"Iya, gak papa kok bib" jawab Abighail.
"Ya udah. Assalamu'alaikum" pamit ustadz Afnan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Abighail.
Abighail tidak percaya pada ucapan dokter kalau dia ingin membicarakan mengenai vitamin. Abighail yakin kalau ada yang disembunyikan oleh dokter itu. Diam-diam Abighail mengikuti ustadz Afnan. Dia mengintip dari luar. Dan kebetulan, pintu ruangan itu tidak tertutup rapat.
"Dok vitamin apa yang harus diberikan pada istri saya?" tanya ustadz Afnan.
"Begini pak. Maaf sebelumnya, saya menggunakan alasan vitamin agar bapak bisa ke ruangan saya tanpa istri bapak" jawab dokter.
Ustadz Afnan mengerutkan keningnya pertanda tidak mengerti.
"Begini pak, kondisi kandungan istri bapak sangatlah lemah. Jika kondisinya seperti ini terus, maka saat proses persalinan, kemungkinan kami tidak bisa menyelamatkan keduanya. Kami hanya bisa menyelamatkan satu nyawa saja. Yaitu antara nyawa ibu atau anak. Kami tidak menjamin keselamatan keduanya pak" ucap dokter menjelaskan serinci-rincinya.
Duar,, bagai petir di siang bolong. Ustadz Afnan dan Abighail tertegun dengan penjelasan Abighail. Ustadz Afnan tidak bisa berkata-kata lagi. Mana mungkin dia harus memilih salah satu antara istri dan anaknya.
Abighail kembali ke ruangannya. Dia menangis mendengar perkataan dokter itu.
Bersambung..
Hallo para reader semua🤗 terus pantengin novel author ya, karna ini sudah mendekati akhir.
Author juga mau nanya nih, sama kalian. Kalian mau gak kalau novel ini ada terusannya? Kalo kalian mau komen sebanyak banyak nya☺
Terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
Terus dukung author😉
Salam hangat dari author😁