USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Resepsi



Happy Reading,,! 😊


Tibalah hari dimana acara resepsi diadakan. Dalam acara resepsi itu antara satri dan santriwati diberi skat penghalang. Jadi para santri dan santriwati tidak bisa bertemu secara langsung.


Begitu juga dengan Abighail dan ustadz Afnan.


Sebelum acara dimulai para santri dan santriwati mengadakan doa bersama. Acara juga diiringi dengan lantunan shlawat dari grup marawis pesantren.


Para santri dan Santriwati mengucapkan selamat pada Abighail dan ustadz Afnan. Banyak alumni yang datang menghadiri acara itu. Bahkan sangat banyak. Mulai dari alumni yang sudah menjadi kiyai, yang sudah menjadi pejabat, Direktur, pengurus pondok, dan masih banyak lagi.


Acara resepsi ini seperti bukan acara resepsi, melainkan acara reuni akbar.


Azri dan Sipa juga hadir. Bahkan teman lama Abighail Nisa pun juga ikut hadir.


"Assalamu'alaikum,," ucap Nisa yang bersalaman dengan Abighail.


"Wa'alaikumsalam,," jawab Abighail. "Nisa kan,,?" tanya Abighail.


Nisa menganggukkan kepalanya. Abighail memeluk Nisa.


"Nisa,, aku sangat senang bertemu dengan kamu,," ucap Abighail melepaskan pelukannya.


"Aku juga Abighail,," ucap Nisa. " Abighail kamu apa kabar,,?" tanya Nisa.


"Alhamdulillah baik,, kamu sendiri gimana,,?" jawab Abighail yang dilanjutkan dengan pertanyaan.


"Alhamdulillah,, " jawab Nisa.


"Nis,, kamu tau dari mana pernikahan aku,,?" tanya Abighail.


"Aku tau dari bibi aku,," jawab Nisa. "kamu ini,, gimana sih,, masa kamu nikah gak ngasih tau aku,, apalagi kamu nikah sama ustadz Afnan,," keluh Nisa.


"Maaf ya,, aku gak ada maksud apa apa kok,," sesal Abighail.


"Iya,, aku ngerti kok,," ucap Nisa.


Abighail tersenyum.


"Ngobrol teross,, sampai kelar acara,," kesal Azri.


"Iya nih,, cepetan napa,, aku udah pegel nih,," keluh Sipa.


Ternyata Azri dan Sipa dari tadi berada di belakang Nisa. Namun Abighail tak memperhatikan, karna perhatiannya tertuju pada Nisa.


"Lho,, kalia juga disini,,?" tanya Abighail.


"Iyalah,, kau pikir kami teman macam apa,,? Masa resepsi teman sendiri tak hadir,," kesal Azri.


"Ya maaf,, soalnya aku gak sadar kalian datang,, maaf ya,," ucap Abighail membujuk Azri agar tidak marah.


"Hem,, iya,, iya,," ucap Azri.


"Hey,, cepatlah,, kaki ku pegel nih,, kasian bayi aku dari tadi berdiri terus,," keluh Sipa dengan nada kesal.


"Sip,, yang berdiri itu kamu,, bukan bayi kamu,," ujar Azri.


"Zri,, kan bayi aku ada di tubuh aku,, jadi kalo aku berdiri,, itu artinya dia juga berdiri,," jawab Sipa.


"Hem,, iyalah,, terserah bumil aja,," ucap Azri.


"Maaflah Sip,," ucap Abighail Nisa.


"Yaudah kita duduk yuk,," ajak Abighail.


Mereka berempat duduk, Sipa duduk dengan membawa makanan.


"Eh Nis,, kamu udah ketemu sama Latipah belum,,?" tanya Abighail.


"Latipah,,? Belum deh kayaknya,," jawab Nisa.


"Bentar ya,," ucap Abighail.


Abighail mengedarkan pandangannya mencari sosok Latipah. Setelah ketemu, Abighail memanggil Latipah.


"Ada apa Abighail,,?" tanya Latipah menghampiri Abighail.


"Kenalin ini Nisa,," jawab Abighail meperkenalkan Nisa pada Latipah.


"Ini loh,, yang dulu kita ceritain ke kamu,," timpal Azri.


"Oo,, Nisa yang itu,," ujar Latipah ingat.


Nisa dan Latipah berkenalan. Baru sebentar saja berkenalan mereka sudah akrab. Mereka berbincang bincang. Sampai akhirnya Latipah harus pergi.


"Assalamu'alaikum,," ucap santriwati menghampiri Abighail dan teman temannya.


"Wa'alaikumsalam,," jawab Abighail dan teman temannya.


"Maaf menggangguk ustadzah,, saya membawa pesan dari umi untuk ustadzah Latipah,," ucap santriwati itu.


"Pesan apa,,?" tanya Latipah.


"Ustadzah Latipah diminta untuk menghadap umi,," jawab santriwati itu.


"Oo,, baiklah, terimakasih,, " ucap Latipah.


"Iya ustadzah,, kalo gitu saya pamit dulu. Assalamu'alaikum,," pamit santriwati itu.


"Wa'alaikumsalam,," jawab Latipah dan yang lainnya.


"Aku kesana dulu ya,, Assalamu'alaikum,," pamit Latipah.


"Wa'alaikumsalam,," jawab Abighail dan Nisa.


"Wa'alaikumsalam ustadzah,," jawab Azri.


Latipah pergi meninggalkan Abighail, Azri, Sipa dan Nisa.


"Latipah itu ustadzah ya,,?" tanya Nisa.


"Iya, dia itu ustadzah galak,, kayak kak Salma dan ustadzah Santika dulu,, tapi dia lebih galak,," jawab Azri.


"Azri,, Latipah itu enggak galak,, dia itu cuma tegas,," ucap Abighail.


"Hem,, iya,, iya,, maksud aku tegas bukan galak,," ucap Azri mengalah. "Eh,, yang belain adik iparnya,," gumam Azri.


"Apa Zri,,?" tanya Abighail yang samar samar sedikit terdengar gumaman Azri.


"Enggak kok,," jawab Azri.


Acara berjalan dengan lancar mulai dari awal sampai akhir.


"Huh,, capek banget,," ucap Abighail duduk di kursi yang ada di kamar.


Abighail menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Mau aku pijitin?" tanya ustadz Afnan.


"Eh gk perlu kok bib,, ini cuma pegel sedikit,," tolak Abighail dengan halus. " Bib pasti kamu capek banget,, dari tadi terus melayani para tamu,, sini aku pijitin,," lanjut Abighail.


"Gak usah mai,, kamu juga pasti capek,," tolak ustadz Afnan.


" Ih,, gak papa bib,, lagian kan ini juga termasuk kewajiban aku sebagai seorang istri,," kekeh Abighail sambil beranjak memegang bahu ustadz Afnan dan memijatnya.


"Gak usah mai,, aku gak terlalu capek kok,, " tolak ustadz Afnan yang mencoba menghentikan tangan Abighail yang sedang memijat bahu ustadz Afnan.


" lIh,, gk mau,, aku mau pijitin kamu bib,," ucap Abighail yang merajuk, tangannya berhenti memijat bahu ustadz Afnan dan malah menyilangkan tangannya di dadanya ditambah pipinya yang mengembung.


"Hem,," ustadz Afnan menghembuskan nafas pelan. Dia heran dengan ke kukuhan istrinya itu. Bukannya malah marah tetapi ustadz Afnan tersenyum dengan sikap Abighail. Ustadz Afnan menganggap sikap Abighail itu sangat lucu.


"Baiklah,," ucap ustadz Afnan sambil mencubit pipi Abighail yang mengembung itu.


Seketika Abighail tersenyum senang dan Abighail kembali memijat bahu ustadz Afnan.


Cukup lama Abighail memijat ustadz Afnan. Ustadz Afnan sudah 3 × meminta Abighail untuk berhenti memijat bahunya. Namun Abighail tidak mau berhenti meminjat. Sampai akhirnya Abighail menuruti permintaan ustadz Afnan.


"Terimakasih,," ucap ustadz Afnan.


"Tidak perlu berterimakasih bib,, seharusnya aku yang berterimakasih, karna habib sudah membiarkan aku menjalankan salah satu kewajibanku,," ucap Abighail.


Mereka saling menatap dan tersenyum.


"Sudah malam,, istirahat yuk,," ajak ustadz Afnan.


"Iya,," jawab Abighail.


"Sebelumnya kita shalat dulu,," ucap ustadz Afnan.


"Em,, aku enggak bib,," ucap Abighail sambil wajahnya memerah.


"Yah,, hilang donk kesempatan,," gumam ustadz Afnan.


"Kesempatan apa bib,,?" tanya Abighail yang mendengar samar samar gumaman ustadz Afnan.


"Ah enggak kok,," sangkal ustadz Afnan. " Yaudah aku ambil wudhu dulu,," lanjutnya.


Abighail menatap bingung ustadz Afnan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah lebih satu minggu Abighail tinggal di pesantren sebagai istrinya ustadz Afnan. Abighail menajani hari harinya dengan senang. Namun,, Abighail baru tahu kenapa sejak Abighail lulus ustadz Afnan jarang mengajar. Rupanya, ustadz Afnan selain dia mengurus pesantren tapi dia juga mengurus perusahaan yang dikembangkan oleh keluarganya. Huh,, pekerjaan ustadz Afnan jadi bertambah.


Seperti sebelumnya Abighail selalu ditemani oleh Latipah. Abighail sangat senang, karna dia bisa dekat dengan Latipah lagi. Pernah saat setelah menikah beberapa hari, Latipah membuat Abighail kesal. Karna dia ngotot untuk memanggil Abighail dengan panggilan kakak.


Abighail sedang membereskan piring yang baru dicucinya.


"Kak aku bantuin ya,," tawar Latipah.


"Iya,," balas Abighail.


"Eh tunggu, barusan kamu bilang apa,,?" tanya Abighail.


"Bantuin ya,," jawab Latipah.


"Sebelum itu,," ucap Abighail.


"Aku,," jawab Latipah.


"Ih bukan,, sebelum Itu nya lagi,," kekeh Abighail.


"Kak,," jawab Latipah.


"Latipah kok kamu panggil aku kak sih,,?" tanya Abighail.


"Emang kenapa,,? Kamu kan udah kakak ipar aku,," jawab Latipah.


"Ih,, apaan sih,, udah ah kamu jangan panggil aku kakak,, gk enang di dengar,," ucap Abighail.


"Gk bisa kak,, mana mungkin aku panggil kakak langsung dengan nama kakak,," tolak Latipah.


"Udah ya Latipah,, pokoknya aku gak mau denger kamu panggil aku kakak lagi, titik, " kekeh Abighail.


"Gak bisa kak,," tolak Latipah lagi.


"Latipah,, ayolah,, jangan panggil aku kakak lagi,, aku geli dengernya,," pinta Abighail. "Kalo kamu masih panggil aku kakak, aku bakalan panggil kamu adik,," lanjut Abighail.


"Bagus kalo gitu,," balas Latipah.


"Lho,, kok bagus sih,,? Harusnya kamu tuh gak nyaman dengernya,," tanya Abighail.


"Aku nyaman kok, malah itu bagus sekali,," jawab Latipah.


"Latipah,, ayolah,, jangan begini,, gak lucu,," pinta Abighail.


Latipah berjalan pergi meninggalkan Abighail.


"Prt,, prt,, prt,," Latipah menahan tawa nya.


"Latipah,," panggil Abighail sambil memegang tangan Latipah.


"Hahahah,,," Latipah tertawa melihat ekspresi Abighail.


"Ih,, kamu ngerjain aku ya,,?" tanya Abighail.


"Nggak kok,, aku gak ngerjain kakak,," jawab Latipah sambil terus tertawa.


"Ih,, Latipah kamu ini bener bener ya,," geram Abighail karna menjadi korban candaan Latipah.


Abighail menggelitiki perut Latipah.


"Hahah,, udah,, udah,, maaf aku minta maaf,, aku salah,, iya,, aku ngerjain kamu,, maafin aku,," mohon Latipah karna sudah tidak kuat dengan gelitikan Abighail.


Abighail berhenti menggelitiki Latipah. Dia juga ikutan lelah karna menggelitiki Latipah.


"Latipah,, kamu jangan panggil aku gitu lagi ya,," pinta Abighail dengan wajah serius.


"Iya,, maaf karna aku sudah membuatmu kesal,," ucap Latipah.


Abighail dan Latipah saling berpelukan.


Bersambung..


#Terimakasih sudah mampir,, 😊


#Silahkan tinggalkan jejak,, ☺