
Happy Reading!๐
Abighail membuka matanya secara perlahan. Kepalanya terasa berat, entah apa yang dia hirup sebelum dia pingsan tadi. Abighail mendudukkan badannya. Dia mengedarkan pandangannya. Dia mencoba memperjelas penglihatannya, karna penglihatannya itu sedikit buram. Gelap, itulah yang dilihat oleh Abighail.
Abighail berada di ruangan yang gelap, karan pintu dan jendela ruangan itu tertutup. Hanya ada cahanya remang-remang dari luar, jadi tempat itu tidak terlalu gelap.
"Di mana aku?" gumam Abighail yang tampak asing dengan ruangan yang di tempatinya.
Abighail baru menyadari ternyata tangan dan kakinya diikat.
"Siapa yang membawaku ke sini?" tanya Abighail, dia mencoba melepas tali yang mengikat tangannya. "Ahk,, susah sekali" ucap Abighail frustasi.
"Seingatku, tadi aku berjalan menuju kantor, lalu ada seseorang yang membek*pku. Lalu aku,, aku tidak ingat" Abighail bermonolog. "Hausnya" tenggorokan Abighail terasa kering.
Kalau kalian tanya, apakah Abighail takut? Tentu saja dia takut. Tapi rasa takutnya tidak terlalu berlebihan, mungkin karena Abighail tau bahwa Allah akan selalu melindungi hambanya yang sedang dalam masalah.
"Tolong.." teriak Abighail. "Apakah ada orang di luar?" tanya Abighail dengan berteriak. "Tolol,, eh Astaghfiirullahal, salah. Tolong,," teriak Abighail lagi.
Karna tidak mendapat jawaban, akhirnya Abighail diam. Dia tidak mau membuat dirinya kehabisan tenaga, hanya gara-gara berteriak.
"Sepertinya ini ruang tengah" ucap Abighail yang melihat ke sana ke mari.
Abighail menyimpulkan, kalau ruang yang ia tempati adalah ruang tengah. Karna terlihat dari kedua sisinya, masih ada beberapa pintu yang tertutup. Ruang itu terlihat sudah tua, karna terlihat dari catnya yang sudah mulai terkelupas. Dinding dan lantainya juga kotor. Serta ada pecahan kaca yang berserakan. Pecahan kaca itu berasal dari figura yang jatu. Abighail diam-diam memgambilnya. Abighail mendengar suara langkah kaki mendekat. Dengan segera Abighail bersuara kembali.
"Tolong,, apa ada orang di luar? Tolong aku!" ucap Abighail.
Pintu terbuka, Abighail mejamkan matanya karan silau melihat cahaya dari luar. Tampak seorang perempuan bejalan masuk dan menutup pintu kembali. Abighail mempethatikan perempuan itu.
"Nona, tolong aku. Tolong buka ikatan tangan dan kaki ku. Aku tidak bisa melepaskannya" pinta Abighail.
Perempuan itu tidak mendengarkan Abighail. Dia terus berjalan dan membuka salah satu jendela yang ada di ruangan itu. Akhirnya cahaya bisa masuk, dan Abighail dapat melihat wajah dari perempuan itu.
"Nona, apa kau bisa membantuku?" tanya Abighail.
Perempuan itu berjongkok di depan Abighail dengan menaikan satu alisnya dan menampilkan raut wajah seperti sedang bertanya.
"Tolong lepaskan ikatanku, agar aku bisa pergi" pinta Abighail.
"Kau ingin, aku membantumu agar kau bisa pergi?" tanya perempuan itu.
Abighail menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Untuk apa aku membantumu? Aku sudah bersusah payah membawamu ke sini. Dan sekarang, kau ingin aku melepaskanmu begitu saja?" tanya perempuan itu.
"Apa maksudmu nona? Apa kau yang sudah membawaku ke sini? Apa kau yang mencul*kku?" tanya Abighail.
"Kau sudah lihat jawabannya" jawab perempuan itu.
Abighail terdiam.
"Kenapa kau mencul*kku? Apa salahku padamu nona? Aku tidak mempunyai masalah denganmu" tanya Abighail pada perempuan itu.
Namun perempuan itu malah tersenyum smrik.
"Atau jangan-jangan,, kau yang sering menghubungiku? Kau yang sering menerorku? Apa itu betul?" tanya Abighail yang menyadari sesuatu.
Perempuan itu hanya diam saja sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa kau tidak menjawabku? Jawab pertanyaanku!" ucap Abighail membentak perempuan itu.
"Iya, aku yang sudah melakukan itu" jawab perempuan itu dengan meninggikan suaranya karna dia kesal pada Abighail yang sudah membentaknya.
"Kenapa kau melakukannya? Siapa kau? Aku tidak pernah bertemu denganmu!" tanya Abighail.
(Dih, mantan. pancaran aja kagak, ngaku-ngaku mantan ๐ค)
Abighail terkejut mendengar pengakuan Jesi.
"Kenapa? Kamu kaget? Iya?" tanya Jesi tersenyum.
"Gak mungkin, kamu gak mungkin mantan ustadz Afnan. Suamiku itu tidak pernah berpacaran" sangkal Abighail.
"Kamu gak percaya? Ya sudah. Tapi kamu harus ingat ini, kamu harus meninggalkan Afnan" titah Jesi.
"Aku gak akan pernah meninggalkan suamiku!" tegas Abighail. "Siapa kau berhak melarangku untuk meninggalkan suamiku? Seharusnya kau yang meninggalkan suamiku. Aku adalah istri sahnya" tolak Abighail dengan menekan kata-katanya.
"Jelas aku berhak. Aku menginginkan ayah dari anakku untuk kembali bersama kami" ucap Jesi.
Duar,, bagai petir yang menyambar. Abighail sangat terkejut manakala Jesi mengatakan perihal anaknya.
"Anak?" tanya Abighail bingung.
"Iya, aku dan Afnan memiliki seorang anak perempuan. Dan kini usianya 6 tahun" jawab Jesi berbohong.
"Gak mungkin. Itu gak benerkan?" tanya Abighail yang tidak mempercayai perkataan Jesi.
"Aku gak mungkin berbohong masalah anak" jawab Jesi.
Jesi melihat Abighail yang menundukkan kepalanya dengan wajah syoknya. Rupanya Afnan tidak menceritakan masalalunya bersamaku batin Jesi. Akhirnya Jesi melanjutkan kebohongan yang dia katakan pada Abighail.
"6 tahun lalu, aku juga masuk pesantren sama sepertimu" Jesi mulai melancarkan misinya. "Aku satu angkatan dengan Afnan. Aku bukanlah santriwati yang berprestasi, aku juga bukan santri yang terkenal. Tapi aku mulai menyukai Afnan dalam diam. Aku tidak tau perasaan Afnan terhadapku. Tapi suatu hari, Afnan memberiku surat. Sejak saat itu, aku dan Afnan sering berbalas surat. Hingga suatu hari, Afnan mengajakku ke gudang pesantren. Aku menurutinya. Tapi tak disangka, Afnan memaksaku untuk melakukan itu bersamanya" papar Jesi dengan wajah yang meyakinkan.
"Bohong, kalau pun iya, kenapa kamu tidak menolaknya?" tanya Abighail.
"Bagaimana aku bisa menolaknya, kamu taukan tenaga laki-laki lebih besar dari tenaga perempuan? Lagipula Afnan sudah mengunci gudang itu" jawab Jesi.
"Kenapa kamu tidak berteriak?" tanya Abighail yang masih belum percaya.
"Meskipun aku berteriak, tidak akan ada yang mendengarnya. Karna tidak ada orang lain di sekitar gudang" jawab Jesi berkelah.
Abighail terdiam.
"Aku terbuai dengan perlakuan Afnan, sampai akhirnya kami melakukannya bersa--" perkataan Jesi dipotong oleh Abighail.
"cukup, diam. Hiks,, hiks,, aku tidak mau mendengarnya. Hiks,, hiks.." Abighail menangis sejadi-jadinya.
Abighail tak menyangka jika suami yang selama ini dicintainya sudah memiliki anak dengan wanita lain. Terlebih lagi ustadz Afnan tidak pernah menceritakan apapun padanya.
Jesi tersenyum licik dan puas. Karna sudah membuat Abighail menangis histeris.
"Itulah sebabnya aku menyuruhmu untuk meninggalkan Afnan. Aku membutuhkan ayah untuk anakku" ucap Jesi lagi. Jesi terus mempengaruhi Abighail.
"Diam! Pergi kamu, pergi! Aku gak mau liat kamu!" ucap Abighail berteriak.
Jesi melepaskan ikatan pada Abighail, dia menutup jendela dan keluar. Tak lupa jesi juga mengunci pintunya. Jesi melepaskan ikatan Abighail, karna dia yakin kalau Abighail tidak akan melarikan diri. Dia akan terus menangis. Setelah berada di luar Jesi tersenyum penuh dengan kemenangan.
Bersambung..
Terima kasih sudah mampir๐
Silahkan tinggalkan jejak๐
Terus dukung author ya๐
Salam hangat dari author ๐