USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Lahirnya Bayi Abighail dan Ustadz Afnan



Happy Reading!😊


Ustadz Afnan berada di belakang kepala Abighail. Ustadz Afnan terus memegang kepala Abighail. Ustadz Afnan terus memanjatkan do'a dan dzikir. Ustadz Afnan sangat berharap kalau Abighail dan anaknya bisa selamat.


Abighail diberi obat bius oleh dokter. Namun Abighail tidak sepenuhnya tidak sadarkan diri. Abighail setengah sadar saat dokter melakukan operasi padanya. Abighail menatap ke atas dengan mata yang sedikit terbuka.


Saat dokter melakukan operasi, Abighail yang menatap ke atas seperti melihat sebuah taman yang indah. Taman itu dipenuhi dengan bunga warna warni dan juga pepohonan hijau. Apabila memandang taman itu, mata tidak akan pernah jenuh. Malah kita merasa ingin sekali bisa berjalan-jalan dan berlama-lama di taman itu.


Ustadz Afnan sesekali mencium kepala Abighail sambil menangis.


Operasi dilakukan sekitar 1 jam. Terdengar suara tangis bayi, saat dikeluarkan oleh dokter dari dalam perut Abighail. Bertepatan dengan dikeluarkannya bayi, Abighail samar-samar dapat melihat bayi yang masih berlum*ran dar*h. Bayi Abighail dan ustadz Afnan berjenis kelamin laki-laki.


Semua orang mengetahui kalau mata Abighail setenhah terbuka, menandakan kalau Abighail setengah sadar. Dokter memutuskan untuk menaruh bayi yang baru saja dilahirkan, di atas dada Abighail.


Ustadz Afnan tersenyum senang, sedih, khawatir dan pasrah. Semua tercampur aduk.


Beberapa suster menjahit kembali bekas operasi pada perut Abighail. Dokter menempatkan bayi Abighail di atas dada Abighail. Tangis bayi Abighail berhenti saat diletakan di atas dada Abighail. Abighail menggerakan tangannya mengelus putranya yang baru lahir. Baru satu usapan di kepala putranya, tiba-tiba tangan Abighail kembali ke tempat dengan sendirinya. Mata Abighail tertutup rapat. Abighail tak sadarkan diri.


Begitu mata Abighail tertutup, bayi Abighail kembali menangis. Bahkan tangisannya lebih keras dari pertama kali menangis.


Seketika semua orang panik. Dokter mengambil putra Abighail dari atas dada Abighail, dan menyerahkannya pada suster untuk dimandika. Dokter dan suster lain memeriksa kondisi Abighail.


"Astaghfirullah, mai,, mai,, bangun mai,," ustadz Afnan panik. Ustadz Afnan mengelus pipi Abighail.


"Dok, kenapa istri saya dok?" tanya ustadz Afnan.


"Suster, tolong periksa layar monitor" titah dokter tanpa mejawab pertanyaan ustadz Afnan.


"Dok, detak jauntung pasien melemah" ucap suster.


"Pak, sebaiknya bapak tunggu di luar dulu. Biarkan dokter berkonsentrasi" ucap salah satu suster.


Ustadz Afnan menuruti perkataan suster itu dengan berat hati. Ustadz Afnan juga sadar kalau bisa saja kehadirannya menjadi pengganggu kerja dokter, meskipun sebenarnya ustadz Afnan tidak mengganggu sama sekali.


Dokter dan suster berusaha dengan keras untuk memeriksa kondisi Abighail.


Keadaan di luar.


Keluarga Abighail panik menunggu selesai operasi. Abi juga sudah datang, saat mendapat informasi kalau Abighail akan melahirkan. Setelah menunggu sekitar 1 jam, terdengar suara tangisan bayi. Semua orang senang, namun kesenangan mereka memudar mengingat bagaimana kondisi Abighail.


Sekitar beberapa menit setelah tangisan bayi berhenti, kemudian terdengar tangisan bayi lagi, terlihat ustadz Afnan keluar dari ruang operasi dengan wajah yang khawatir.


"Nak, bagaimana kondisi Abighail?" tanya bu 'Ainun.


Ustadz Afnan memggelengkan kepalanya. " Afnan tidak tahu bu. Tadi Abighail masih sadar, tapi tiba-tiba Abighail tak sadarkan diri" jawab ustadz Afnan.


"Astaghfirullah, lalu bayi kalian?" tanya umi.


Semua orang terdiam.


"Bi,, bagaimana kalau Abighail.." perkataan ustadz Afnan dipotong oleh abi.


"Sut,, nan. Kamu jangan ngomong gitu. Kita harus yakin kalau Abighail akan selamat" ucap Abi.


Ustadz Afnan memeluk abinya. Semua orang tidak pernah melihat ustadz Afnan yang serapuh itu. Ustadz Afnan menjadikan abinya sebagai penopang tubuhnya untuk menumpahkan kesedihannya.


15 menit kemudian dokter keluar dari ruang operasi.


Keluarga yang melihat dokter keluar, segera menghampirinya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya ustadz Afnan.


"Iya dok. Bagaimana keadaan putri saya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya bu 'Ainun.


"Kondisi istri bapak masih tidak sadarkan diri. Kami masih belum bisa memutuskan apakah dia baik-baik saja atau tidak. Yang jelas, jika dalam 24 jam pasien tidak sadarkan diri, maka kondisi pasien tidak baik-baik saja" jawab dokter.


"Jika Istri saya sadar dalam waktu kurang dari 24 jam?" tanya ustadz Afnan.


"Jika istri bapak sadar dalam waktu kurang dari 24 jam. Maka dapat dipastikan kalau istri bapak baik-baik saja" jawab dokter itu. "Kita sama-sama berdo'a untuk kesembuhan istri bapak" lanjut dokter.


Dokter dan suster membawa Abighail ke ruangan sebelumnya. Semua orang dapat melihat Abighail terbaring tak sadarkan diri dengan selang infus, selang dar*h dan selang oksigen menempel pada tubuh Abighail.


Suster membawa bayi Abighail dan menyerahkannya pada ustadz Afnan untuk diadzani.


Dokter memberitahu jangan ada keributan atau suara berisik di dalam ruangan Abighail. Keluarga Abighail dokter kembali berbicara di luar ruangan Abighail.


"Dok bagaimana kondisi bayinya?" tanya umi.


"Alhamdulillah. Bayinya sangat sehat, tidak kurang sedikitpun" jawab dokter. "Berat badannya juga bagu" lanjut dokter.


Bersambung..


Terus pantengin


Terima kasih sudah mampir😊


Jangan lupa tinggalkan jejak😆


Terus dukung karya author ya😉


Salam hangat dari author😁