USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Kehangatan Keluarga



Happy Reading!😊


Abighail sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Abighail dan ustadz Afnan sangat senang, karna mereka pulang bersama dengan putra pertama mereka. Kak Firman, kak Shella, Arsya dan Arsyi juga ikut.


Abighail dan ustadz Afnan memilih pulang ke pesantren. Jika Abighail tinggal di pesantren, umi juga bisa membantu Abighail mengurus baby Akbar. Umi dan abi tidak keberatan, bahkan mereka juga menginginkan hal itu.


Kepulangan Abighail disambut antusias oleh para santri dan santriwati. Baby Akbar digendong oleh umi. Karena Abighail masih sakit jika berjalan, jadi dia dibantu oleh ustadz Afnan. Ustadz Afnan memapah Abighail.


Banyak dari santri dan santriwati ingin melihat baby Akbar. Tapi mereka masih belum bisa melihat dengan puas, karna baby Akbar masih harus istirahat. Abighail juga masuk ke rumah untuk beristirahat.


Ustadz Afnan membantu Abighail duduk di atas tempat tidur.


"Mai,, kamu istirahat ya" ucap ustadz Afnan.


"Iya bib" balas Abighail.


Umi menaruh baby Akbar di samping Abighail. Abighail mengelus kepala baby Akbar dengan penuh kasih sayang. Arsya dan Arsya dan Arsyi menaiki tempat tidur Abighail. Mereka mendekati baby akbar yang sedang tertidur.


"Bibi,, apakah dede bayinya masih tidur?" tanya Arsyi.


"Tentu saja Arsyi. Lihat, matanya masih tertutup" Arsya menjawab pertanyaan Arsyi.


"Hm,, benar juga" gumam Arsyi.


"Bibi, apakah kami boleh menggendongnya?" tanya Arsya.


"Nanti ya sayang, sekarang dede bayinya masih tidur" kak Shella menjawab pertanyaan Arsya.


"Hm,, ya udah, Arsya dan Arsyi mau nungguin dede bayinya sampai bangun" ucap Arsya.


"Ma,, dede bayinya bolehkan dibawa pulang?" tanya Arsyi.


"Iya ma. Arsya dan Arsyi mau dede bayi juga" timpal Arsya.


"Hah?" semua orang terkejut dengan pertanyaan dan permintaan dari Arsya dan Arsyi.


"Dede bayinya gak bisa dibawa pulang sayang" jawab bu 'Ainun.


"Yah,, kenapa?" tanya Arsyi.


"Dede bayinya kan punya bibi Abighail sama paman Afnan. Kalo dede bayinya dibawa, nanti bibi sama paman sedih" jawab kak Shella.


"Sayang, kalo kamu mau dede bayi, minta sama mama sama ayah" ucap bu 'Ainun.


"Mama Arsya dan Arsyi mau dede bayi" pinta Arsya dan Arsyi.


"Iya nanti ya" jawab kak Shella.


"Maunya sekarang" ucap Arsyi.


Semua orang tertawa.


"Sayang, dede bayinya gak bisa langsung jadi. Harus nunggu dulu. Kalo mau cepet, minta sama ayah" ucap bu 'Ainun.


"Kalo minta sama ayah, emang langsung dikasih?" tanya Arsya.


"Ya,, enggak langsung sih. Tapi ayah pasti akan usahain secepat mungkin" jawab bu 'Ainun.


Kak Shella merona oleh perkataan ibu mertuanya itu.


"Bu,, udah ah" ucap kak Shella yang sudah tidak bisa menahan malunya.


"Arsya dan Arsyi mau minta sama ayah ah" Arsya dan Arsyi turun dari tempat tidur dan berlari ke luar dari kamar.


Mereka menemui kak Firman yang sedang berbicara dengan abi dan juga pak Adam. Semua orang tertawa lagi oleh tingkah bocah kembar itu.


"Ya udah, kami keluar dulu ya" ucap bu 'Ainun.


"Iya bu" jawab Abighail.


"Iya umi" jawan ustadz Afnan.


Bu 'Ainun dan umi pergi keluar duluan.


"Eh,, awasya kalo kalian udah mulai ***-***. Inget, Akbar masih kecil" ucap kak Shella.


"Ih,, apaan sih kakak. Kakak tuh yang harusnya ***-***, kasian Arsya dan Arsyi mau dede bayi. Lagian kami juga gak bakal ngelakuin yang gituan dulu" balas Abighail.


"Ya,, kali aja" ucap kak Shella.


"Ih,, udah ah kakak.." Abighail gemas sendiri pada kakak iparnya itu.


Kak Shella keluar dari kamar Abighail sambil tertawa kecil. Ustadz Afnan hanya tersenyum melihat Abighail dan kak Shella.


Setelah semua orang keluar, tinggalah Abighail, ustadz Afnan dan baby Akbar di dalam kamar. Ustadz Afnan mendekati Abighail dan duduk di sampingnya. Ustadz Afnan menatap Abighail dan merangkulkan tangannya pada pundak Abighail.


"Kenapa?" tanya Abighail yang aneh pada tingkah ustadz Afnan.


"Gak kok. Aku cuma mau deket kamu aja" jawab ustadz Afnan menempelkan wajahnya pada wajah Abighail.


"Emang aku habis dari mana? Aku gak ke mana-mana kok. Setiap hari aku dedet sama kamu" tanya Abighail.


"Kamu tau? Aku hampir aja kehilangan kamu mai. Aku gak tau gimana jadinya kalo aku kehilangan kamu" ustadz Afnan memeluk Abighail dengan erat.


Entah kenapa, dari sejak Abighail sadarkan diri, sampai sekarang. Ustadz Afnan masih terlihat sedih dan rapuh, padahal sekarang Abighail sudah tidak papa.


Abighail mengelus kepala ustadz Afnan saat dalam pelukannya. Abighail seperti menyalurkan kekuatannya pada ustadz Afnan. Abighail merasa bahunya basah. Abighail melepaskan diri dari pelukan ustadz Afnan, guna melihat wajah suaminya itu.


"Bib,, kamu nangis?" tanya Abighail. "Kamu kenapa?" Abighail menghapus air mata pada wajah ustadz Afnan.


Ustadz Afnan menggelengkan kepalanya. "Aku bersyukur sekali. Allah menjawab do'a ku, juga do'a yang lainnya" jawab ustadz Afnan.


Abighail tersenyum. Abighail dan ustadz Afnan saling menatap. Lama kelamaan, wajah mereka semakin dekat. Saat wajah keduanya sudah sangat dekat, tiba-tiba baby Akbar menangis.


Abighail dan ustadz Afnan menoleh pada baby Akbar yang menangis. Ustadz Afnan menatap Abighail dengan frustasi. Baru saja mereka mau melakukan adegan romantis ala drakor, namun digagalkan oleh baby Akbar.


Abighail tersenyum sambil memgusap rahang ustadz Afnan. Kemudian dia meng*c*p b*b*r ustadz Afnan sekilas, lalu beralih pada baby Akbar yang sedang menangis.


"Duh,, putra umi kenapa? Putra umi minta asi? Putra umi mau makan?" Abighail memangku baby Akbar.


Abighail mencium baby akbar dengan gemas, setelah itu dia meny*s*inya. Ustadz Afnan hanya tersenyum pasrah. Saat ini, jika dia ingin melakukan hal romantis dengan Abighail, dia harus mengalah dulu.


"Mana putra abi yang menggemaskan?" ustadz Afnan menempel pada Abighail yang sedang meny*s*i baby Akbar.


"Bib, putra kita mirip kamu ya" ucap Abighail.


"Iyalah, masa harus mirip orang lain?" balas ustadz Afnan.


"Liat alisnya mirip kamu, tebel. Hidungnya juga. Ih,, mancungnya. Hidung aku gak mancung" ucap Abighail sambil menyentuh alis dan hidung putranya.


"Iya, tapi bibirnya kayak kamu, s*** dan m*ngg*d*" ucap ustadz Afnan menyenggol Abighail.


Blus,, wajah Abighail merah merona karna perkataan ustadz Afnan. "Ih,, apaan sih" ucap Abighail memukul pelan bahu ustadz Afnan.


Ustadz Afnan tertawa kecil.


Bersambung..


Hampir end


Terima kasih sudah mampir😊


Jangan lupa tinggalkan jejak😆


Terus dukung karya author ya😉


Salam hangat dari author😁