
Happy Reading,,! π
Jesi memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Buktinya, sekarang dia dengan percaya dirinya berpenampilan ya,, bisa dibilang sex* dihadapan ustadz Afnan. Bagaimana tidak sex*, rok yang dia kenakan di atas lutut, kemeja dan jas yang dia gunakan sangatlah ketat, sehingga membentuk lekuk tubuh Jesi. Ditambah lagi lipstik nya yang merah menyala. Mungkin bagi laki-laki yang lemah imannya penampilan Jesi sangatlah menggoda.
Jesi menetapkan ustadz Afnan sebagai targetnya. Dia mencoba beberapa cara agar ustadz Afnan dapat memperhatikannya. Namun, masih seperti dulu ustadz Afnan tidak memperhatikan Jesi. Jangankan memperhatikan, melirik saja tidak. Apalagi statusnya kini yang sudah mempunyai istri, dan sebentar lagi akan mempunyai anak.
Jesi sempat bertanya soal status ustadz Afnan. Ustadz Afnan menjawab yang sebenarnya, kalau dia sudah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak. Seketika wajah Jesi berubah menjadi marah penuh dengan amarah, seperti orang yang ingin membunuh seseorang.
Dengan cepat Jesi mengumpulkan informasi tentang istrinya ustadz Afnan yaitu Abighail. Jesi mengumpulkan informasi tentang Abighail dengan menyuruh seseorang. Informasi mengatakan kalau Abighail pernah mempunyai masalah yang cukup besar dengan seseorang.
"Heheh,, aku menemukan rekan yang cocok,," guma Jesi dengan senyum yang menyeringai.
...****************...
Abighail sedang melakukan bersih-bersih di rumah nya sambil melantunkan shalawat. Tiba-tiba..
Pletak,,
Sebuah batu berukuran senang menghantam pintu rumah Abighail.
"Astagfirullah,, suara apa itu,,?" Abighail kaget.
Abighail berjalan ke arah sumber suara.
"Apa ini,,? Batu,,?" Abighail mengambil batu itu.
"Siapa yang lempar,,?" tanya Abighail. "Oo,, mungkin gak sengaja kelempar,," pikirnya.
"Eh,, tapi apa ini,,? Sebuah surat,,?" Abighail menemukan surat yang diikat pada batu itu.
Abighail membuka surat itu dan membacanya.
"Apa isi surat ini,,?" penasaran Abighail.
"Tinggalkan Afnan,,!" Abighail membaca isi surat itu. "Tinggalkan Afnan,,? Apa maksudnya,,?" Abighail bingung dengn isi surat itu.
"Ah,, mungkin orang yang iseng,," Abighail berfikir positif.
Abighail membuang surat itu ke tempat sampah. Kemudian dia melanjutkan aktivitasnya menyapu. Abighail tidak menceritakan kejadian pada saat dia menyapu pada ustadz Afnan.
Tengah malam tepatnya pukul 00.10
Abighail dan ustadz Afnan sedang terlelap tidur.
Drt,, drt,, drt,,
Ponsel Abighail berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Em,," Abighail bangun dengan suara serak khas orang yang bangun tidur.
Abighail berusaha membuka mata nya dan mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Dengan mata yang berat Abighail melihat nama dari orang yang memanggilnya. Namun dilihat dengan jelas tidak ada nama, hanya ada nomor telepon nya saja.
"Siapa yang meneleponku malam-malam begini,,?" tanya Abighail. Akhirnya dia memutuskan untuk menjawab panggilan itu, karna dia takut ada hal yang penting.
Abighail menggeser tombol hijau yang ada di hp nya.
"Assalamu'alaikum,, siapa ini,,?" tanya Abighail.
"..." tak ada jawaban dari si penelpon itu.
"Hallo,,? Assalamualaikum,, ada orang,,?" Abighail bertanya lagi.
"..." masih tidak ada jawaban.
"Hallo,,? Kalo anda tidak mau berbicara akan saya tutup,," tegas Abighail.
"..." lagi-lagi tak ada jawaban.
" Huh,, mengganggu saja,, jam berapa sih ini,,?" Abighail melihat jam yang ada di ponselnya. "Jam 00.12,,? Kok ada orang iseng yang nelpon tengah malem begini,," Abighail hendak menutup panggilan telepon nya.
Sreng,, sreng,, sreng,,
Namun, tiba-tiba di sebrang panggilan ada suara aneh. Abighail menempelkan telinganya pada hp miliknya agar dapat mendengar suara itu dengan jelas. "Suara apa ini,,?" pikir Abighail dalam hati. Lama kelamaan Abigahil mendengar suara itu, dia mulai mengenali suara apa itu. Suara itu adalah suara pisau yang sedang di asah atau di pertajam. Abighail sangat terkejut dengan suara itu.
"Hallo,,? Siapa ini,,?" tanya Abighail yang mulai ketakutan.
"Sreng,, sreng,, sreng,," orang itu malam memperkeras suara pisau itu.
"Halo,,? Siapa ini,,? Jawab,,!" tegas Abighail.
"Hahahah,," tawa seorang wanita menggema di panggilan itu.
"Siapa kau,,? Jawab aku,,! Kenapa kau hanya tertawa,,?" tanya Abighail.
"Tinggalkan Afnan, kalau tidak kau akan tiada,," ancam wanita itu.
"Siapa kau,,? Kenapa kau mengancam ku,,? Katakan siapa kau sebenarnya,,?" tanya Abighail sedikit berteriak.
"Buk,, (seperti suara danging yang di potong dengan sangat keras) Hahahah,," wanita itu tertawa lagi.
"Ah,," Abighail menjerit dan melemparkan ponsel miliknya ke sembarang arah.
Brak,, ponsel Abighail dilemparkan.
Ustadz Afnan yang mendengar suara lemparan terperanjat "Astagfirullah."
Ustadz Afnan melihat Abighail yang sedang ketakutan dengan nafas yang tidak teratur.
"Mai kamu kenapa,,?" tanya ustadz Afnan.
Abighail menatap getir ustadz Afnan.
"Mai,,?" tanya ustadz Afnan memegang baru istrinya itu.
Sret,, Abighail langsung memeluk ustadz Afnan dengan erat. Ustadz Afnan terkejut dengan sikap Abighail yang tiba-tiba memeluknya. Ustadz Afnan membiarkan Abighail dalam pelukannya agar istrinya itu dapat lebih tenang.
"Hiks,, hiks,," Abighail menagis di pelukan ustadz Afnan.
"Mai kamu nangis,,?" tanya ustadz Afnan.
"Hiks,, hiks,," Abighail hanya menangis.
"Mai kamu kenapa,,?" tanya ustadz Afnan memegang tubuh Abighail agar dia bisa menatapnya.
"Hiks,, hiks,, aku takut bib,," jawab Abighail.
"Takut apa mai,,?" tanya ustadz Afnan bingung.
"Aku takut kehilangan kamu,, hiks,," jawab Abighail san langsung memeluk ustadz Afnan lagi.
"Takut kehilangan aku,,? Aku gak akan ke mana-mana kok mai,," ustadz Afnan mencoba menenangkan Abighail.
"Aku takut,," ujar Abighail lagi.
"Coba cerita, siapa yang nelpon kamu,,?" tanya ustadz Afnan.
"Aku gak tau siapa yang nelpon aku,," jawab Abighail.
"Gak tau,,?" tanya ustadz Afnan.
Abighail menganggukkan kepalanya.
Abighail menceritakan apa saja yang dia dengar saat menerima panggilan tadi.
Ustadz Afnan terkejut dengan cerita istrinya itu. Dia terus menenangkan Abighail yang sedari tadi terus menangis.
Ustadz Afnan menangkupkan kedua tangannya pada wajah Abighail. "Sudah mai,, jangan menangis lagi,, lebih baik kita shalat yuk,,!" ajak ustadz Afnan. Ustadz Afnan menghapus air mata Abighail dan tersenyum.
Abighail menganggukkan kepalanya.
Mereka pun shalat tahajud berjama'ah dan meminta perlindungan dari Allah SWT. Selesai shalat mereka kembali tidur. Abighail tidur dengan posisi memeluk ustadz Afnan. Sementara ustadz Afnan membelai kepala Abighail yang tidak tertutup oleh jilbab.
"Bib,," panggil Abighail menanggahkan kepalannya pada ustadz Afnan
"Hem,, apa sayang,,?" tanya ustadz Afnan menundukan kepalanya menghadap Abighail.
"Kamu jangan pernah tinggalin aku ya,, aku takut,," pinta Abighail.
"Iya,, insya Allah aku akan tetap berada di samping kamu,," jawab ustadz Afnan sambil tersenyum. Abighail membalas senyuman itu.
Mereka masih saling bertatapan satu sama lain.
Cup,, ustadz Afna mencium kening Abighail. Abighail langsung menundukkan kepalanya karna malu. Ustadz Afnan tersenyum senang karna bisa menenangkan hati istrinya. Ya,, walaupun sedikit.
"Mai,, kamu tidak mau membalas ku,,? Misalnya di sini,,? Atau di sini,,?" tanya ustadz Afnan sambil menunjuk pada pipi dan bibir ustadz Afnan.
Abighail menggelengkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, tanpa melihat anggota tubuh mana yang ditunjuk oleh ustadz Afnan.
"Yakin,,?" goda ustadz Afnan.
Abighail semakin dalam menenggelamkan wajahnya di dada ustadz Afnan.
"Heheh,," ustadz Afnan tertawa kecil.
Bersambung...
Terima kasih sudah mampir,, π
Silagkan tinggalakn jejak dengan like, komen rate bintang 5, vote dan jangan lupa untuk share,, π
Terus dukung author ya,, π
Maaf banyam yang typo,, π