
Happy Reading,,! π
Ustadz Afnan dan Abighail sedang berada di kamar mereka. Abighail sedang melipat pakaian sementara ustadz Afnan sedang melihat brosur yang ada di tangannya.
"Mai coba lihat, kamu suka yang mana,,?" tanya ustadz Afnan pada Abighail sambil menunjukan brosur yang dipegangnya.
"Bib kamu mau beli rumah,,?" tanya Abighail karna yang ditunjukkan oleh ustadz Afnan adalah brosur rumah.
"Iya,," jawab ustadz Afnan.
"Lho,, kok beli rumah sih,,? Emang kita mau pindah,,?" tanya Abighail.
"Iya,," jawab ustadz Afnan.
"Kenapa,,? Kamu gak seneng ya aku tinggal disini,,?" tanya Abighail lagi.
"Bukan mai,, kita pindah itu karna kamu kan tau aku juga mengurus perusahaan,, nah jarak rumah ini ke perusahaan itu jauh,, kalo kita tinggal di sana nanti jarak ke perusahaannya gak terlalu jauh mai,," jelas ustadz Afnan.
"Terus pesantren gimana,,?" tanya Abighial khawatir.
"Aku juga pasti akan ke pesantren kok mai,," jawab ustadz Afnan.
Abighail terdiam.
"Jadi kamu setuju gak,,?" tanya ustadz Afnan memastikan.
"Baiklah aku setuju,, tapi bib kamu juga harus menjalankan kewajibanmu di pesantren,," syarat Abighail.
"Tentu saja,," balas ustadz Afnan.
Abighail kembali melakukan aktivitasnya melipat pakaian.
"Jadi yang mana yang bagus,,?" tanya ustadz Afnan.
Abighail melihat brosur itu.
"Yang ini juga bagus,, tapi ini terlihat mahal,," jawab Abighail. "Yang ini aja deh,," tunjuk Abighail.
Ustadz Afnan akan bicara namun Abighail memotong pembicaraannya.
"Eh jangan jangan,, itu juga terlihat mahal. Nah yang ini aja,," potong Abighail.
Ustadz Afnan hendak bicara lagi namun dipotong lagi oleh Abighail. "Eh tunggu,, itu juga kayaknya mahal,,".
"Jadi mau yang mana,,? Yang ini atau yang itu,, atau yang satunya lagi,,?" tanya ustadz Afnan memastikan.
"Aku gak tau,, aku bingung bib,," jawab Abighail bingung. "Manurut bibib yang mana,,?" tanya Abighail.
"Menurut aku,," jawaban ustadz Afnan dipotong lagi oleh Abighail.
"Ah aku tau yang ini aja,," potong Abighail lagi dan lagi. "Eh jangan deh,, yang itu sama kayak mahal,," lanjutnya. "Menurut kamu yang mana bib,,? Jawab donk,, jangan diem mulu,," protes Abighail.
"Gimana aku gak diem mai,, kamu motong terus perkataan aku,," jawab ustadz Afnan.
"Heheh,, ya maaf,, yaudah sekarang menurut kamu yang mana,,?" kekeh Abighail.
"Kalo aku si,, gimana menurut kamu aja,," jawab ustadz Afnan.
"Em,," Abighail membulak balikan brosur itu.
Mata Abighail tertuju pada satu rumah. Abighail terpukau pada rumah itu. Ustadz Afnan mengetahui Abighail menyukai rumah itu.
"Kamu suka yang ini mai,,?" tanya ustadz Afnan.
Abighail menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Yaudah kita pilih yang ini aja ya,,?" tanya ustadz Afnan.
"Jangan deh,, yang itu juga kayaknya mahal,," tolak Abighail.
"Gak papa mai,, kalo kamu suka yang ini, kita pilih yang ini aja,," ucap ustadz Afnan meyakinkan Abighail.
"Gak bib,, yang ini mahal,," tolak Abighail lagi.
"Gak papa mai,, kalo aku udah bilang gini kayak kamu, itu artinya insya Allah aku punya rezeki lebih mai,," jelas ustadz Afnan.
Abighail menatap ustadz Afnan.
"Hem,," Abighail menghembuskan nafas pasrah.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu,," ucap Abighail.
Ustadz Afnan tersenyum.
Satu minggu kemudian.
"Mai 3 hari lagi kita pindah ya,," ucap ustadz Afnan.
"3 hari lagi,,? Cepat sekali,,?" tanya Abighail.
"Kamu keberatan,,?" ustadz Afnan balik bertanya.
"Enggak sih,, aku gak keberatan,, cuma gak nyangka aja secepat ini,," jawab Abighail. "Baiklah kalo begitu,, dal 3 hari aku akan membereskan semua barang-barang kita,," lanjut Abighail.
"π" ustadz Afnan memberikan jempol pada Abighail.
Tibalah waktunya Abighail dan ustadz Afnan untuk pindah ke rumah baru mereka. Sebelumnya mereka sudah meminta izin pada abi dan umi serta Latipah. Mereka semua memberikan izin mereka.
"Umi,, abi,, kami pamit ya,," ucap ustadz Afnan.
"Iya,," jawab abi dan umi.
"Kami janji kami akan sering-sering berkunjung,," ucap ustadz Afnan.
"Iya umi,, abi,, lagi pula jarak dari rumah ke pesantren tidak terlalu jauh,," timpal Abighail.
"Iya,, kami juga insya Allah sesekali akan berkunjung ke rumah kalian nanti,," ucap umi.
"Iya umi kami pasti akan menunggu umi,," balas Abighail.
"Yah,, aku sendirian lagi donk,," ujar Latipah.
"Latipah kamu bisa ikut dengan kami,," ucap Abighail.
"Iya Latipah ayo,, cepat kemasi barang-barang mu kami akan menunggumu,," ucap ustadz Afnan.
Latipah berfikir. "Em,, enggak deh,, aku mau di sini aja. Kalo aku ikut dengan kalian nanti disana aku cuma bakalan jadi nyamuk,, terus kalo aku ikut dengan kalian siapa yang akan menjaga abi dan umi,,?" ucap Latipah.
"Yakin nih kamu gak mau ikut,,?" tanya Abighail meyakinkan.
"Iya aku yakin,," jawab Latipah.
"Yaudah kami pamit dulu ya, Assalamu'alaikum,," pamit ustadz Afnan dan Abighail.
"Wa'alaikumsalam,," jawab abi, umi dan Latipah.
Ustadz Afnan dan Abighail memasuki mobil. Tapi, saat Abighail hendak masuk mobil tiba tiba ada 3 santriwati yang memanggilnya.
"Ustadzah,,! Ustadzah Abighail,,! Tunggu jangan pergi dulu,,!" teriak para santriwati itu.
Abighail menutup pintu mobil dan ustadz Afnan keluar dari mobil untuk melihat siapa yang berteriak manggil istrinya itu.
"Hani, Salsa, Sisi,,? Ada apa kenapa kalian berteriak-teriak,,?" tanya Abighail heran.
"Ustadzah mau pindah,,?" tanya Hani sambil mengatur nafasnya.
"Iya,," jawab Abighail sambil tersenyum.
"Kenapa pindah ustadzah,,? Baru saja ustadzah kembali ke pesantren ini,, sekarang sudah mau pindah lagi,," ucap Sisi kecewa.
"Maaf ya,, tapi insya Allah ustadzah akan sering-sering berkunjung kok,," jawab Abighail.
"Tapikan beda rasanya ustadzah,," protes Sisi.
"Sisi,, udah sih,, kita harus menerima keputusan ustadzah Abighail dan ustadz Afnan. Pasti ada alasan dibalik kepindahan mereka Si,," ucap Salsa menenangkan Sisi. "Dan lagi,, siapa tau kita akan segera mendapat kabar gembira dari ustadz Afnan dan ustadzah Abighail,," lanjut Salsa.
"Kabar gembira apa,,?" tanya Hani tak mengerti.
"Kamu ini gimana sih,,? Maksud aku itu,, siapa tau nanti pas ustadzah Abighail ke sini dia sedang mengandung,," jawab Salsa sambil menggoda Abighail.
Wajah Abighail memerah karna malu dengan peekataan Salsa.
"Salsa sudah kamu jangan menggoda ustadzah Abighail lagi,," ucap Latipah.
"Iya nih Salsa,," timpal Hani dan Sisi.
"Kalian juga,," ucap Latipah.
"Maaf ustadzah,," ucap Salsa, Hani dan Sisi bersamaan.
" Em,, ada apa kalian memanggil ustadzah,,?" tanya Abighail.
"Oh iya lupa,, kami itu mau memberikan hadiah untuk ustadzah Abighail,," jawab Hani senang.
"Hadiah,,?" tanya Abighail.
"Iya,, ini hadiah pernikahan ustadzah Abighail dan ustadz Afnan,," jawab Salsa.
Hani, Salsa dan Sisi memberikan hadiah mereka. Abighail menerima hadiah dari ketiga santriwati itu.
"Meskipun hadiah kami tidak mewah,, tapi mudah-mudahan ustadzah akan senang,," ucap Sisi.
"Jazakallah khairan katsiran,," ucap Abighail. "Terimakasih atas hadiah yang kalian berikan,," sambung Abighail.
"Iya ustadzah,," ucap Sisi.
"Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi ustadzah Abighail dan ustadz Afnan,," ucap Hani.
"Aamiin,, insya Allah sangat bermanfaat,," jawab Abighail.
Setelah memberikan hadiah pada Abighail dan ustadz Afnan ketiga santriwati itu kembali ke tempat asal mereka. Sementara Abighail dan ustadz Afnan melanjutkan kembali perjalanan mereka yang tertunda. Butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai ke rumah baru mereka.
Akhirnya mereka sampai di rumah baru mereka. Ustadz Afnan memasukan mobilnya ke dalam rumah. Abighail turun dari mobil dan disusul oleh ustadz Afnan. Abighail menatap rumah itu.
"Subhanallah,," ujar Abighail mengagumi keindahan rumah barunya. Bagaimana tidak, rumah barunya itu sangat indah dan luas. Serta dikelilingi dengan halaman di sekitar rumahnya. Banyak tanaman dan bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumahnya. Membuat mata Abighail tak jenuh untuk memandang rumahnya itu.
"Suka,,?" tanya ustadz Afnan yang datang dari arah belakang.
Abighail menganggukkan kepalanya senang. "Terimakasih,," ucap Abighail.
Ustadz Afnan tersenyum dan mengusap kepala Abighail. "Ayo kita masuk,," ajak ustadz Afnan dan diangguki oleh Abighail.
Ustadz Afnan memagang pinggang Abighail dan berjalan masuk.
Ustadz Afnan mengeluarkan kunci rumah dari sakunya dan di bukalah pintu rumah itu.
"Bismillahirrahmanirrahim,," ucap ustadz Afnan sambil membuka pintu rumah itu. "Assalamu'alaikum,," lanjut ustadz Afnan.
"Assalamu'alaikum,," ucap Abighail.
Abighail melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu.
"Masya Allah,," gumam Abighail yang melihat seisi rumah itu. Rumah itu dilatar belakangi oleh dinding berwarna abu.
"Mai kamu suka,,?" tanya ustadz Afnan.
"Alhamdulillah,," jawab Abighail menganggukkan kepalanya. "Bib ini kamu yang mengatur semuanya,,?" tanya Abighail.
"Iya,, kenapa,,? Jelek ya,,?" tanya ustadz Afnan.
"Ini tuh bagus banget bib,," jawab Abighail. "Bib kok kamu bisa tau sih warna kesukaan aku,,?" tanya Abighail.
"Apa sih yang nggak aku tau dari kamu,," jawab ustadz Afnan sambil memeluk Abighail dari belakang.
"Ih,, serius bib,," ucap Abighail.
"Iya,, aku serius,," balas ustadz Afnan.
"Bib,," ucap ustadz Afnan.
"Heheh,," ustadz Afnan tertawa kecil. "Aku tau dari kak Firman mai,, katanya kamu itu dari kecil suka warna abu,, jadi aku buat deh rumahnya berlatar belakang warna abu,," jawab ustadz Afnan.
"Hem,, romantis banget,, makin suka deh aku,," ucap Abighail.
Ustadz Afnan melepaskan pelukannya dan berdiri di hadapan Abighail.
"Suma sama aku,,?" tanya ustadz Afnan.
"Bukan,, suka sama rumahnya,," jawab Abighail sambil terkekeh.
"Hem,," ustadz Afnan merajuk dan menundukkan kepalanya.
"Gak deh bercanda,, aku lebih suka sama kamu,," ucap Abighail sambil mencubit kedua pipi ustadz Afnan.
"Aw,, sakit mai,, >_< " ucap ustadz Afnan.
"Maaf habisnya gemes,, π " kekeh Abighail.
"Ohohoh,, mulai berani ya,," ucap ustadz Afnan sambil berjalan mendekati Abighail dengan tatapan mengerikan.
"Bib,, kamu mau ngapain,,? Mundur ah,," tanya Abighail dengan tersenyum kaku.
Ustadz Afnan semakin maju dan Abighail semakin mundur. Abighail terus mundur sampai akhirnya tubuh Abighail mentok di dinding. Ustadz Afnan menghalangi Abighail agar tidak bisa kabur dengan tangannya.
Abighail bingung harus bagaimana. Abighail berfikir keras bagaimana dia bisa kabur dari ustadz Afnan. Ustadz Afnan memajukan wajahnya. Sebelum wajah ustadz Afnan dekat dengan wajah Abighail, Abighail melarikan diri dengan cara berlari lewat bawah tangan ustadz Afnan.
"Hahah,," Abighail menertawakan ustadz Afnan sambil berlari.
"Awas ya,," geram ustadz Afnan yang mengejar Abighail.
Ustadz Afnan dan Abighailpun bermain kejar-kejaran di rumah baru mereka.
Bersambung...
#Maaf up nya lama,, π
#Terimakasih sudah mampir,, π
#Jangan lupa tinggalkan jejak,, π