
Happy Reading!😊
Keesokan harinya, Abighail lebih sering merasakan kontraksi di perutnya. Ustadz Afnan selalu setia mendampingi Abighail. Akhir-akhir ini Abighail ingin terus dekat dengan ustadz Afnan, Abighail tidak bisa jauh dari ustadz Afnan.
Abighail dan ustadz Afnan sudah menyiapkan nama untuk calon anak mereka. Awalnya Abighail mempunyai keinginan untuk memiliki banyak anak bersama ustadz Afnan. Namun jikalau Abighail ditakdirkan untuk memiliki satu anakpun itu sudah cukup bagi Abighail.
"Bib, nyanyiin aku shalawat donk" pinta Abighail.
Ustadz Afnan menyangikan sholawat sambil mengelus perut Abighail. Abighail terus menatap wajah ustadz Afnan. Ada rasa sakit dihatinya saat melantunkan shalawat untuk Abighail. Ustadz Afnan masih memikirkan keinginan Abighail tadi malam.
Abighail tertidur saat ustadz Afnan melantunkan shalawat. Mengetahui Abighail tertidur, ustadz Afnan membenamkan kepalanya sambil memegang tangan kanan Abighail. Terdengar isakan kecil dari ustadz Afnan. Rupanya ustadz Afnan tidak dapat menahan perasaan sedihnya. Ustadz Afnan tidak pernah serapuh dan sesedih ini.
Abighail terbangun oleh isakan ustadz Afnan. Namun ustadz Afnan tidak tahu kalau Abighail bangun. Tangan Abighail terasa basah karna air mata ustadz Afnan. Sejujurnya Abighail juga merasa sedih, namun dia tidak ingin hari-hari terakhirnya dihabiskan dengan bersedih. Abighail ingin hari-hari terakhirnya diisi dengan kebahagiaan.
Abighail mengangkat tangannya dan ditaruhlah di atas kepala ustadz Afnan. Abighail mengelus kepala ustadz Afnan dengan lembut. Ustadz Afnan menyadari kalau ada tangan yang menyentuh kepalanya segera mengangkat kepalanya.
Ustadz Afnan menatap Abighail. Abighail yang ditatap oleh ustadz Afnan hanya tersenyum dengan tulus.
"Maaf, aku membangunkanmu" ucap ustadz Afnan segera menghapus air matanya.
Abighail menggelengkan kepalanya. "Kamu kenapa bib?" tanya Abighail.
"Tidak, tidak papa kok. Tadi hanya ada debu di mataku" jawab ustadz Afnan berbohong.
Abighail menanggapi jawaban Abighail dengan senyuman.
Abighail tahu kalau ustadz Afnan berbohong padanya. Namun Abighail tidak mengatakan apapun.
Dokter telah menetapkan Abighail akan melahirkan 2 hari lagi. Ustadz Afnan meminta pada dokter agar dapat menyelamatkan istri dan anaknya. Dokter menjawab akan mengusahakannya.
Abighail baru saja selesai melaksanakan shalat Ashar. Ustadz Afnan sedang berada di luar bersama dengan pak Adam dan umi. Bu 'Ainun sedang ke kamar mandi yang ada di ruangan Abighail.
Sementara Abighail saat ini sedang duduk di atas ranjang rumah sakitnya. Terlihat Abighail sedang mengatur nafas sambil terus beristighfar. Ya,, kini Abighail merasa perutnya sakit. Entah kenapa rasa sakit diperutnya kali ini, terasa sangatlah sakit, berbeda dengan sebelumnya.
Semakin lama, rasa sakitnya semakin menjadi. Bahkan untuk memanggil seseorang pun Abighail tidak bisa, karna tertahan oleh rasa sakitnya. Abighail meraih gelas berisikan air di sebelah ranjangnya dengan susah payah. Abighail meminum air itu. Siapa tau dengan ia minum, rasa sakitnya akan berkurang. Namun saat dia hendak menaruh kembali gelas itu, tangan Abighail tidak kuat. Dan tidak sengaja Abighail menjatuhkan gelas itu.
Prang,, suara gelas jatuh.
Bertepatan dengan jatuhnya gelas, rasa sakit di perut Abighail bertambah.
Ustadz Afnan yang mendengar suara benda pecah dari dalam ruangan, segera masuk ke ruangan Abighail. Begitu juga dengan pak Adam dan umi. Bu 'Ainun pun juga ikut keluar karna mendengar suara barang pecah.
"Astaghfirullah, mai" ustadz Afnan menghampiri Abighail.
"Astaghfirullah, sayang" ujar pak Adam.
"Astaghfirullah, nak" ujar umi.
"Astaghfirullah, Abighail" ujar bu 'Ainun.
Abighail merapatkan giginya menahan sakit.
"Mai, kamu kenapa mai?" tanya ustadz panik.
"S,,sakit bib" jawab Abighail sambil memegang perutnya.
"Sakit?" gumam ustadz Afnan.
"Yah,, cepet panggil dokter" pinta bu 'Ainun.
"I-iya" balas pak Adam.
Pak Adam berjalan ke depan ruangan.
"Dokter,, suster,, cepat ke sini. Siapapun cepat" teriak pak Adam.
Ustadz Afnan, pak Adam, bu 'Ainun dan umi, berusaha menengangkan Abighail. Abighail sebenarnya tenang, hanya saja dia tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya. Seluruh keluarga Abighail tampak panik dan khawatir.
Tak lama, dokter dan suster pun datang. Wajah Abighail sudah pucat pasi. Dokter meminta ustadz Afnan dan yang lainnya menunggu di luar, karna dia akan memeriksa kondisi Abighail.
Dokter memeriksa Abighail dengan serius. Mata dokter terbuka lebar saat dia mengetahui apa yang harus dilakukan, sebagai tindakan penyelamatan pasiennya.
"Sus, siapkan ruang operasi" titah dokter itu.
"Baik dok" jawab suster itu.
Suster itu keluar. Saat suster itu keluar, keluarga Abighail langsung bertanya soal keadaan Abighail.
"Sus, sus, bagaimana keadaan anak saya?" tanya bu 'Ainun.
"Oprasi?" gumam semua orang.
Merekapun menjadi semakin khawatir.
Beberapa menit kemudian suster itu kembali ke ruangan Abighail. Setelah itu dokter keluar bersama dengan Abighail dan juga suster yang mendampinginya. Dokter dan suster mendorong ranjang Abighail dengan sedikit tergesa-gesa. Keluarga Abighail mengikuti dokter. Terlihat Abighail masih menahan sakitnya. Di ujung mata Abighail ada air mata yang keluar, menandakan kalau rasa sakit yang dialami oleh Abighail amatlah sakit.
"Dok, apa yang terjadi pada istri saya? Kenapa istri saya dibawa ke ruang operasi?" tanya Ustadz Afnan yang berjalan sambil memegang ranjang Abighail yang sedang bergerak.
"Begini pak, istri bapak akan melahirkan sekarang" jawab dokter itu.
"Tapikan kata dokter 2 hari lagi?" tanya umi.
"Jika menunggu 2 hari lagi, mungkin kami tidak akan bisa menyelamatkan antara ibu dan anak" jawab dokter.
Semua terdiam.
"Pak kondisi bayi dalam perut istri bapak tidak pada tempatnya. Hal ini membuat istri bapak merasakan sakit yang luar biasa. Jika dibiarkan terus, kami tidak bisa menyelatkan ibu atau anaknya" jelas dokter.
Semua orang kembali terdiam.
"Pak, saya sudah membemberi tahu pada bapak, kalau dalam persalinan ini, kami hanya bisa menyelamatkan satu nyawa saja. Yaitu antara anak dan istri bapak. Sekarang waktunya bapak memberikan keputusan, apakah bapak akan menyelamatkan istri bapak? Atau bapak akan menyelamatkan anak bapak?" tanya dokter meminta keputusan dari ustadz Afnan.
"Dok, saya ingin istri dan anak saya selamat" jawab ustadz Afnan.
"Pak, jika kami berusaha menyelamatkan keduanya, mungkin pada akhirnya kami tidak bisa menyelamatkan siapapun" ucap dokter.
"Ta-" ustadz Afnan hendak berucap, namun dipotong oleh Abighail.
"Dok, selamatkan anak saya. Saya mohon, anak saya harus selamat" ucap Abighail mengambil keputusan sambil memegang tangan ustadz Afnan.
Ustadz Afnan dan yang lainnya melebarkan mata mereka, terutama ustadz Afnan. Ustadz Afnan menatap Abighail. Abighail tersenyum penuh dengan ketulusan. Ustadz Afnan tidak bisa berkata apapun lagi.
Abighail dan ustadz Afnan terpisah, karena Abighail sudah memasuki ruang operasi.
"Maaf pak, bu, keluarga pasien tidak bisa ikut masuk ke ruang operasi" cegah suster.
Keluaga Abighail hanya bisa mematuhi perkataan suster. Mereka masih syok dengan keputusan yang diambil oleh Abighail.
Tiba-tiba ustadz Afnan menerobos masuk ke dalam ruang operasi.
"Pak, bapak tidak boleh masuk pak. Silahkan tunggu di luar" usir salah satu suster.
"Sus, saya mau menemani istri saya sus. Tolong izinkan saya" pinta ustadz Afnan.
"Maaf pak, tidak bisa" tolak suster.
Suster menarik ustadz Afnan dengan paksa, agar ustadz Afnan keluar.
"Sus tolong" pinta ustadz Afnan lagi.
"Maaf pak" tolak suster itu.
Dokter yang sedang bersiap melakukan operasi besar, mendengar ada keributan dari luar. Dokter segera melihat siapa yang membuat keributan.
"Dok, tolong izinkan saya menemani istri saya. Saya janji tidak akan mengganggu dok" bujuk ustadz Afnan saat dokter keluar.
Awalnya dokter ingin menolak, namun dia tidak tega melihat ustadz Afnan. Akhirnya dokter mengizinkan ustadz Afnan untuk menemani Abighail.
"Terima kasih dok. Terima kasih banyak" ucap ustadz Afnan senang.
Ustadz Afnan mengikuti dokter dan suster masuk ke ruang operasi. Suster meminta ustadz Afnan untuk memakai baju hijau yang biasa digunakan saat operasi berlangsung.
Keluarga Abighail merasa khawatir dan sedih. Mereka terus memanjatkan doa untuk keselamatan Abighail dan anaknya.
Bersambung..
Et,, masih belum end
Pantengin terus sapai end ya
Terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
Terus dudkung author ya😉
Salam hangat dari author😁