
Happy Reading!😊
Abighail masih belum diizinkan untuk pulang. Saat ini Abighail sedang menggendong baby Akbar ditemani oleh ustadz Afnan. Keluarga yang lainnya sedang pulang.
"Assalamu'alaikum" ucap seseorang memasuki ruangan Abighail.
"Wa'alaikumsalam" jawab Abighail dan ustadz Afnan.
"Eh,, Latipah, Azri" ujar Abighail senang.
Orang yang datang adalah Latipah dan Azri. Mereka datang untuk menjenguk Abighail.
"Hai Abighail. Bagaimana keadaanmu?" tanya Latipah.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja" jawab Abighail.
"Mana bayinya? Aku mau gendong donk"ucap Azri mendekati Abighail yang sedang duduk di atas ranjangnya.
"Eh,, Azri, kamu tuh ya. Bukannya tanya kondisi aku gimana? Kondisi bayi aku gimana? Ini malah mau langsung gendong aja" protes Abighail.
"Abighail, aku udah tau semuanya dari my hubby" ucap Azri.
"Huh.." Abighail mendengus kesal. "Kalian ke sini sama siapa? Kalian kok bisa berengan sih?" tanya Abighail.
"Aku datang sama mas Marsel. Kami ke sini sengaja mau jenguk kamu. Kami janjian ngejenguk kamunya" jawab Latipah.
"Kalo aku sama my hubby" jawab Azri.
"Di mana mereka?" tanya Abighail.
"Masih di luar. Mereka jalannya lama" jawab Azri.
"Azri, bukan mereka yang terlalu lama, tapi kamu yang ingin cepat-cepat ke sini" ucap Latipah.
"Hm,, iya. Sama aja" ucap Azri.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
"Assalamu'alaikum" ucap ustadz Rizky dan Marsel masuk ke dalam ruangan Abighail.
"Wa'alaikumsalam" jawab semua orang.
"Nih, yang kita bicarain datang" ucap Azri.
Ustadz Rizky dan Marsel mendekati ustadz Afnan yang sedang berdiri di sisi Abighail.
"Selamat ya ustadz" Marsel menjabat tangan ustadz Afnan kemudian memeluknya sebentar.
"Iya, terima kasih" ucap ustadz Afnan yang membalas jabatan tangan dan pelukan dari Marsel.
"Selamat Nan, sekarang kamu udah jadi seorang ayah" ucap ustadz Rizky yang juga melakukan hal yang sama seperti Marsel.
"Makasih Ky" ucap ustadz Afnan.
"Ih,, lucunya" ujar Azri yang sedari tadi memperhatikan Akbar. "Aku mau gendong donk" pinta Azri.
"Minta izin dulu sama abinya" ucap Abighail yang melirik ustadz Afnan.
Abighail tau, kalau Azri pasti tidak berani meminta izin pada ustadz Afnan. Azri kurang berani kalau harus berhadapan secara langsung dengan ustadz Afnan.
Azri melihat pada ustadz Afnan. Azri terdiam. Kemudian dia melihat pada suaminya, yaitu ustadz Rizky.
"Hubby,, tolong minta izin donk ke ustadz Afnan, aku mau gendong bayi Abighail" Azri meminta bantuan ustadz Rizky.
"Ay,, kamu minta izin sendiri. Kan kamu yang mau gendong bayinya" ucap ustadz Rizky.
"Ih,, tolong kamu bilangin ke ustadz Afnan" ucap Azri sambil memegang tangan ustadz Rizky.
"Kamu aja yang bilang" tolak ustadz Rizky.
Ustadz Rizky sengaja menolak keinginan Azri. Ustadz Rizky ingin sedikit menjahili istrinya itu.
"Hem.." Azri menatap ustadz Rizky sambil memanyunkan bibirnya. "Ustadz" panggil Azri dengan ragu.
Ustadz Afnan menatap Azri tanpa ekspresi.
"Boleh,, aku menggendong bayi ustadz?" tanya Azri.
Ustadz Afnan teerdiam. "Boleh" jawab ustadz Afnan.
"Beneran nih ustadz?"tanya Azri memastikan.
"Iya.." jawab ustadz Afnan.
"Kalo kamu bertanya lagi, saya akan cabut izin saya" ucap ustadz Afnan.
Azri langsung diam. Azri mendekati Abighail dan menggendong Akbar dengan hati-hati.
Para suami dari ketiga istri itu keluar dari ruangan Abighail. Mereka memilih mengobrol di luar ruangan. Mereka tidak mau mengganggu ketiga wanita itu.
"Abighail jujur, aku sangat senang melihat kondisi kamu sekarang ini" ucap Latipah.
"Iya Ghail, aku tau kondisi kamu dari suami aku. Saat itu aku khawatir banget" timpal Azri.
"Alhamdulillah, sekarangkan aku sudah tidak papa" balas Abighail.
"Ghail, kamu tau gak? Pas aku tau kamu di culik, wah,, aku marah banget. Aku sampe mau datengin tuh ke rumah si Lidya nya" ucap Azri yang tampak marah.
"Kamu tau dari mana? Kan waktu itu, kamu belum nikah sama ustadz Rizky" tanya Abighail.
"Aku tau dari suamiku" jawab Azri.
"Ah,, atau jangan-jangan setelah kita menginap di rumah Abighail, kamu tambah deket ya sama ustadz Rizky?" tebak Latipah.
"Heheh,, iya" jawab Azri.
Katiga wanita itu tertawa.
"Eh Ghail, siapa nama si ganteng ini?" tanya Azri.
"Namanya Akbar Afriansyah" jawab Abighail.
"Akbar? Wah,, suatu hari nanti, dia pasti akan menjadi orang besar. Dia akan dikenal oleh semua orang" ucap Azri.
Abighail menanggapi perkataan Azri dengan senyuman.
"Eh Latipah, nanti anakmu akan kau kasih nama apa?" tanya Azri.
"Latipah kamu lagi mengandung?" tanya Abighail sedikit terkejut.
"Iya" jawab Latipah sambil mengelus perutnya yang masih datar.
"Berapa bulan?" tanya Abighail.
"Baru 2 bulan" jawab Latipah.
"Azri, kamu kapan nyusul?" tanya Abighail.
"Em,, nanti. Belum di kasih sama Allah" jawab Azri.
Tiba-tiba Akbar menangis meminta diberi asi. Azri memberikan Akbar pada Abighail kembali. Akbar diberi asi oleh Abighail, Akbar pun berhenti menangis.
"Ghail, putra kamu tu mirip sama kak Afnan ya" ujar Latipah.
"Iyalah Latipah. Kalo mirip Marsel kan mana mungkin" balas Azri.
"Iya juga ya. Apalagi kalau mirip ustadz Rizky" ucap Latipah.
"Hem,, kan. Eh, kok malah bawa-bawa suami aku?" protes Azri.
"Lah,, kan iya donk. Gak mungkin kalo mirip ustadz Rizky. Tadi kamu juga bilang, bayi Abighail gak mungkin mirip suami aku" jawab Latipah. "Akbar ini, murni hasil kerja keras Abighail dan kak Afnan. Jadi mirip ustadz Afnan" lajut Latipah.
"Hahahah,, bener" Azri dan Latipah tertawa.
Sentara Abighail merona dengan perkataan Latipah.
"Aku seneng banget kalian dateng ke sini" ucap Abighail. "Makasih ya, kalian udah mau dateng" lanjut Abighail.
"Kami juga seneng Ghail" balas Azri dan Latipah.
Ketiga wanita itu membahas banyak hal.
Bersambung..
Masih belum end lho,, jadi terus pantengin
Terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
Terus dukung karya author ya😉
Salam hangat dari author😁