USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Kabar Bahagia



Happy Reading,,! 😊


Ustadz Afnan menuruti keinginan Abighail, yaitu pergi ke pesantren. Sesampainya di pesantren, Abigahil terlihat lebih gembira dari hari biasanya. Bagaimana tidak, dia akan memberitahukan kabar gembira pada semua orang.


"Assalamu'alaikum umi,," ucap Abighail sembari memeluk umi yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Wa'alaikumsalam sayang,," jawab umi yang membalas pelukan dari menantunya itu.


Abighail melepaskan pelukannya dari uminya.


"Umi di mana abi,,?" tanya Abighail sambil mengedarkan pandangannya.


"Abi di sini nak,," jawab abi yang baru datang dari arah dapur. "Ada apa kamu mencari abi,,?" tanya Abi.


"Begini umi, abi,, kami mau memberi kabar gembira,," jawab Abighail.


"Kabar gembira apa sayang,,?" tanya umi.


"Abighail sedang mengandung mi,," jawab ustadz Afnan.


"Hah,,?" umi dan abi terkejut.


"Benar itu Abighail,,?" tanya Abi.


Abighail menganggukkan kepalanya semangat.


"Alhamdulillah,," ucap abi dan umi mengucap syukur.


Umi langsung memeluk tubuh Abighail dan sesekali mencium kepalanya serta menangis terharu. Sementara abi memeluk ustadz Afnan dengan perasaan bangga dan haru (tapi abi tidak mencium ustadz Afnan ya,,πŸ˜‚).


Setelah mengajar, Latipah pulang ke rumah abi dan umi. Saat Latipah memasuki rumah, betapa terkejutnya dia melihat orang-orang sedang berpelukan. Abighail berpelukan dengan umi, sedangkan ustadz Afnan berpelukan dengan abi.


"Ada apa ini,,? Apakah hari ini adalah hari berpelukan,,?" tanya Latipah bingung.


Semua orang melepaskan pelukannya dan menatap Latipah.


"Heheh,, enggak kok sayang,," jawab umi.


"Lalu kenapa kalian berpelukan,,? Dan,, kenapa umi menangis,,?" tanya Latipah tambah bingung.


"Kami baru saja mendapatkan kabar gembira dari Abighail dan Afnan Latipah,," jawab abi.


"Kabar apa,,?" tanya Latipah penasaran.


"Sebentar lagi Abighail dan Afnan akan menjadi orang tua,,!" jawab umi senang.


"Hah,,? Benarkah itu,,?" tanya Latipah tak menyangka.


Semua orang menganggukkan kepala mereka.


"Alhamdulillah,," ucap Latipah berlari kecil dan memeluk Abighail.


"Selamat ya Abighail,," ucap Latipah.


"Iya,, makasih ya Latipah,," balas Abighail.


Mereka melepaskan pelukan mereka.


"Ah,, aku udah gak sabar pengen gendong keponakan aku,," ucap Latipah girang.


"Sabar,, semuanya butuh proses,," ucap abi.


Semua orang senang dengan kabar baik itu.


"Latipah kamu kapan nyusul,,?" goda Abighail.


"Nyusul apa,,? Hamil,,? Nanti,, nikah aja belum,," jawab Latipah.


"Yaudah nikah dulu,," ucap Abighail.


"Heheh,, doa kan saja,, kalo udah ada pasti,," ucap Latipah.


"Pasti apa,,?" tanya Abighail.


"Pasti ada,," jawab Latipah sambil terkekeh.


Abighail dan Latipah berjalan-jalan mengelilingi area pesantren. Entah kenapa Abighail ingin berjalan-jalan. Ustadz Afnan pergi ke perusahaan karna ada urusan mendadak. Sementara abi dan umi melanjutkan aktivitas nya masing-masing.


"Latipah gimana kamu sama Marsel,,?" tanya Abighail sambil berjalan.


"Ya,, gitu,," jawab Abighail.


"Gitu gimana,,?" tanya Abighail penasaran.


"Masih dalam proses Ghail,," jawab Latipah sambil menatap lurus kedepan.


"Gimana kalo kamu beneran jadi sama Marsel,,?" tanya Abighail.


"Ya,, gak gimana-gimana,," jawab Latipah tersenyum kecut.


"Kamu ini,, gimana sih,, kok kayal yang gak semangat gitu ngejalaninnya,, apa kamu jangan-jangan mau langsung nikah,,? Kayak aku,,?" tanya Abighail.


"Bukan Ghail,, aku juga gak tau,, entah kenapa aku merasa kalo proses ini gak akan berjalan dengan lancar,," jawab Latipah dengan nada putus asa.


Abighail menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuh Latipah agar menghapnya dan memegang bahu nya .


"Latipah,, jalan ini udah benar kok, kamu dan Marsel udah ngejalaninnya dengan benar,," ucap Abighail. "Cuma,, kalo dalam hati kamu masih ada rasa gak yakin,, itu berarti kamu gak yakin sama Allah Pah,, jalan yang kamu dan Marsel lakukan itu benar,, gak menentang agama,, kamu harus meyakinkan hati kamu,,"lanjut Abighail.


"Tapi Ghail,, Marsel itu kayak yang gak serius,," keluh Latipah.


"Gak serius gimana,,?" tanya Abighail.


"Ya,, dia kayak yang gak serius Ghail,, kamu pasti taulah,, gimana yang gak serius,," jawab Latipah.


"Hem,, kalo Marsel gak serius,, gak mungkin dia datang pada orang tua kamu dan berbicara pada abi dan umi,, dan juga,, dia gak mungkin menyetujui untuk melakukan proses ini,," ucap Abighail.


"Benar juga apa kata kamu,," balas Latipah.


"Proses apa ustadzah,,?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang dan mengagetkan Abighail dan Latipah.


"Astaghfirullah,," ucap Abighail dan Latipah memegang dada mereka karena terkejut.


Bersambung..


#Maaf up nya lama,, ☺


#Juga maaf up nya sedikit,, πŸ™