
Happy Reading,,! π
Ustadz Afnan tinggal beberapa hari di rumah Abighail.
Ustadz Afnan sudah mulai terbiasa dgn suasana rumah mertuanya itu. Dan kini pasangan pengantin baru itu sedang berkemas, karna besok akan pinda ke pesantren.
Banyak sekali barang milik Abighail yg dibawa, maklum saja kan Abighail akan pinda dari rumah itu. Sudah ada 3 koper yg akan di bawa oleh Abighail. Masih tersisa satu koper lagi.
Abighail sedang melipat sejadah berwarna biru utk dimasukkan ke dlm koper. Abighail menatap sejadah itu.
" Kamu masih menyimpan sejadah itu,,?" tanya ustadz Afnan mendekat pada Abighail.
" Iya ustadz,, soalnya ini pertama kali ustadz memberikan barang pada saya,, " jwb Abighail sambil tersenyum, lamu memasukan sejadah itu ke dlm koper.
Akhirnya koper terakhir sudah selesai. Abighail duduk di tepi ranjangnya. Ustadz Afnan duduk di samping Abighail.
" Abighail,, " panggil ustadz Afnan.
" Iya ustadz,,?" tanya Abighail.
" Em,, apakah boleh jika kamu tdk memanggil saya dgn kata ustadz,,?" tanya Abighail.
Abighail tersenyum " Boleh,, tapi harus panggil apa,,?" tanya Abighail.
" Terserah kamu,, " jwb ustadz Afnan.
" Em,, ayah,,? " tanya Abighail.
Ustadz Afnan menggelengkan kepala.
" Kakak,,?" tanya Abighail.
Ustadz Afnan menggelengkan kepala.
" Abang,,?" tanya Abighail.
Ustadz Afnan masih menggelengkan kepalanya.
" Abi,,?" tanya Abighail.
" Kita belum punya anak,, tapi kalau kamu mau,, " jwb ustadz Afnan sambil memajukan badannya.
" Ih,, bukan,, aku hanya bertanya,, " ucap Abighail sambil mendorong pelan ustadz Afnan. " kalo mas,,? Gimana,,?" tanya Abighail.
" Boleh,, " ucap ustadz Afnan.
" Tapi itu terlalu biasa,, " ucap Abighail.
Mereka berdua berfikir, panggilan apa yg cocok utk satu sama lain.
" Aha,, " Abighail mendapatkan ide. " Bagaimana kalau akang,, " ujar Abighail.
" Hem,, π " ekspresi ustadz Afnan.
" Ustadz tdk suka ya panggilan itu,, aku juga tdk suka,, " ucap Abighail.
Mereka berfikir lagi
" Habib,, " ucap Abighail tiba tiba.
Ustadz Afnan menatap Abighail sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Baiklah,, mulai sekarang Abighail akan panggil ustadz Habib,, " ucap Abighail. " Tapi ustadz juga,, eh maksudnya habib jangan panggil Abighail kamu,, " lanjut Abighail.
" Lalu harus panggil apa,,?" tanya ustadz Afnan.
" Apa aja,, " jwb Abighail.
" Humairah,, " ucap ustadz Afnan.
Abighail tesenyum senang sambil menganggukkan kepanya.
Keesokan harinya.
Abighail pindah diantarkan oleh pak Adam, bu 'Ainun, kak Firman, kak Shella dan si kembar Arsya dan Arsyi.
Sesampainya mereka di pesantren mereka di sambut dgn lantunan shalawat yg di lantunkan oleh santri dan santriwati.
Semua org gembira dgn kedatangan Abighail ke pesantren. Para santri dan santriwati menatap Abighail dgn kehangatan.
Setelah sampai di pesantren, keluarga Abighail hanya tinggal sebentar setelah itu mereka pulang. Mereka bilang mereka akan kesini lagi saat acara resepsi.
Abighail tidur di kamar ustadz Afnan, iyalah,, org mereka sudah menjadi suami istri sekarang,, π .
Abighail menghadap jendela menatap ke area pesantren. Abighail merasa terharu, karna dia tdk menyangka akan kembali ke pesantren ini, dia menitikkan airmata nya.
Dari arah belakang ustadz Afnan melihat Abighail yg sedang berdiri di dekat jendela. Ustadz Afnan memeluk Abighail dari belakang. Ustadz Afnan menyenderkan kepalanya di tengkuk Abighail.
Abighail sedikit terkejut dgn sikap ustadz Afnan. Namun dia membiarkan ustadz Afnan berada di posisinya sekarang.
" Sedang apa,,?" tanya ustadz Afnan masih dgn posisi yg tdk berubah.
" Tdk sedang apa apa,, hanya melihat area pesantren,," jwb Abighail.
Ustadz Afnan melepaskan pelukannya, dan membalikkan tubuh Abighail.
" Mai,, kamu nangis,,?" tanya ustadz Afnan yg melihat bekas air mata di wajah Abighail.
" Ah,, tdk bib,, aku tdk menangis,, " jwb Abighail mengusap wajahnya.
" Bib,, aku hanya terharu karna aku bisa kembali ke pesantren ini,, saat terakhir kali aku pergi, aku pikir aku tdk akan kembali ke pesantren ini,, tapi sekarang,, ini akan menjadi tempat tinggal ku,, " ucap Abighail tersenyum.
Ustadz Afnan tersenyum, dia membelai kepala Abighail.
" Mau liat tempat utk resepsi tdk,,?" tanya ustadz Afnan.
" Mau,, " jwb Abighail menganggukkan kepalanya senang.
Abighail dan ustadz Afnan berjalan beriringan menuju tempat akan diadakannya resepsi pernikahan.
Para santri dan santriwati menyapa ustadz Afnan dan Abighail. Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di tempat yg sudah ditetapkan itu.
Tampak banyak org disana, mereka sedang sibuk dgn tugas mereka masing-masing. Saat mereka melihat kedatangan ustadz Afnan dan Abighail mereka menghentikan aktivitas mereka dan beralih menuju kedua pasangan yg baru datang.
" Assalamu'alaikum,, " sapa ustadz Afnan dan Abighail.
" Wa'alaikumsalam ustadz,, ustadzah,, " jwb semua org yg ada di sana.
" Bagaimana apakah persiapan nya lancar,,?" tanya ustadz Afnan.
" Alhamdulillah lancar ustadz,, " jwb salah seorang pekerja.
Ustadz Afnan menganggukkan kepalanya.
Para pekerja itu melanjutkan pekerjaan nya.
" Bib,, area nya sangat luas,, " ucap Abighail.
" Iya,, karna diperkirakan akan banyak org yg hadir,, " balas ustadz Afnan.
Abighail dan ustadz Afnan mengelilingi area itu.
Tak lama ada beberapa santriwati yg menghampiri Abighail dan ustadz Afnan.
" Assalamu'alaikum ustadz,, ustadzah,, " sapa para santriwati itu.
" Wa'alaikumsalam,, " jwb Abighail dan ustadz Afnan.
" Ustadzah, ustadzah tau tak,,? Kami itu sangat merindukan ustadzah,, " ucap salah satu santriwati bernama Hani.
" Iya ustadzah,, kami pikir ustadzah tdk akan kembali lagi,, " timpal teman Hani bernama Salsa.
" Lalu saat kami mendengar ustadz Afnan akan menikah dgn ustadzah Abighail, kami sangat senang,, " timpal teman mereka berdua yaitu Sisi.
Ustadz Afnan dan Abighail tersenyum dgn perkataan ketiga santriwati itu.
" Iya,, saya juga sangat senang karna bisa kembali ke pesantren ini,, " ucap Abighail.
" Tapi ustadzah, terakhir kali kita bertemu,, ustadzah terlihat sangat sedih,, " ucap Hani.
" Eh Hani,, apa yg kau katakan,,? Dengar ya,, yg sudah berlalu,, jangan di ungkit lagi,, itu tdk baik,, iyakan ustadzah,,?" ucap Sisi.
" Iya,, " jwb Abighail.
" Ustadzah,, kita berkeliling pesantren yuk,, selama ustadzah tdk di pesantren ada banyak perubahan,, ustadzah pasti belum tau kan,,?" ajak Salsa.
" Iya ayo,, kalian duluan nanti saya akan menyususl,, " balas Abighail.
" Baik ustadzah,, " jwb ketiga santriwati itu.
Mereka jalan duluan.
" Bib,, aku berkeliling dulu ya,, " ucap Abighail.
" Iya,, " ucap ustadz Afnan.
" Assalamu'alaikum,, " pamit Abighail menyalami tangan ustadz Afnan.
" Wa'alaikumsalam,, " jwb ustadz Afnan.
Abighail berjalan menyusul ketiga santriwati tadi. Abighail sudah berada di belakang para santriwati tadi.
" Eh tunggu kalian ini gimana si,, masa ustadzah jalan dibelakang kita,, ayo kita ke belakang,, " ucap Salsa.
" Oh iya,, maaf ya ustadzah,, " cengir Hani.
" Ustadzah maaf ya,, kami hanya mengikuti Hani,, " ucap Sisi.
" Eh apalah kok jadi aku pula yg disalahkan,, " ucap Hani tak terima.
" Iya,, udah gk papa kok,, " ucap Abighail.
Abighail berjalan di depan para santriwati itu.
Dari kejauhan tampak ada seseorang yg misterius, dia trs memperhatikan Abighail. Mulai dari tiba di pesantren, saat berjalan dgn ustadz Afnan menuju tempat resepsi, saat Abighail menyalami tangan ustadz Afnan dan sampai Abighail berjalan dgn para santriwati itu.
" Cih,, memang sejak awal kamu sudah menargetkan utk mendapatkan ustadz Afnan Abighail,, dulu Kamu bilang, kamu tdk pernah berniat utk mendekati ustadz Afnan. Tapi lihat sekarang,, kamu malah menikah dgn ustadz Afnan,, dasar kamu wanita munafik Abighail,, " gumam org itu yg bersembunyi sambil memperhatikan Abighail.
Bersambung..
# Maaf up nya lama,, π
# Terimakasih sudah mampir,, π
# Silahkan tinggalkan jejak,, βΊ