USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Lidya Pergi



Happy Reading!😊


Keesokan harinya Abighail bersiap untuk bertemu Lidya.


"Bib, ayo" ajak Abighail yang sudah rapi.


"Ayo ke mana mai?" tanya ustadz Afnan bingung.


"Ya ketemu Lidya lah bib. Kamukan kemarin udah janji sama aku" jawab Abighail.


"Nanti donk mai,, ini baru jam 6 pagi lho" ucap ustadz Afnan.


"Heheh,, aku udah gak sabar bib" cengir Abighail.


Ustadz Afnan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Abighail. "Yaudah kita sarapan dulu" ajak ustadz Afnan.


"Ayo, tapi aku mau disuapi sama kamu" ucap Abighail.


"Iya ayo" balas ustadz Afnan.


Abighail dan ustadz Afnan sarapan dengan sangat romantis. Keduanya saling menyuapi satu sama lain. Setelah selesai sarapan, ustadz Afnan meminta Abighail agar menunggu sebentar lagi, karna ustadz Afnan ada keperluan. Abighail menuruti perkataan ustadz Afnan. Dia menunggu di ruang baca sambil membaca buku tentang kehamilan.


"Mai.." panggil ustadz Afnan.


"Iya, ada apa?" tanya Abighail.


"Katanya mau ketemu Lidya. Ayo" ajak ustadz Afnan.


"Wah, benarkah? ayo, aku udah gak sabar" ucap Abighail senang.


Abighail menuruni tangga. Saat melewati ruang tamu, Abighail melihat sosok wanita yang dikenalnya.


"Lidya" ucap Abighail tak percaya.


Lidya terenyum melihat Abighail.


"Ldya.." Abighail segera memeluk Lidya dengan erat. Dan Lidya pun membalas pelukan itu. "Aku seneng banget, bisa ketemu sama kamu" ucap Abighail.


"Aku juga seneng Abigahil" balas Lidya.


"Lidya kok kamu bisa ke sini sih? Bukannya kamu.." Abighail tak melanjutkan pertanyaannya, dia takut Lidya akan tersinggung.


"Ini semua berkat ustadz Afnan dan ustadz Rizky, juga pak Rijal. Jadi aku bisa keluar" jawab Lidya.


"Alhamdulillah.." ucap Abighail.


"Gimana kabar kamu? Kamu udah baikan?" tanya Lidya.


"Alhamdulillah, aku udah baikan kok. Malah aku udah bisa lari maraton" jawab Abighail dengan candaan.


"Hahah,, kamu bisa aja" Lidya tertawa.


"Kamu sendiri gimana?" tanya Abighail.


"Alhamdulillah" jawab Lidya. "Kalo kabar calon ponakan aku gimana di dalem sini?" tanya Lidya sambil mengelus perut Abighail.


"Aku baik-baik aja bibi,," jawab Abighail menggantikan jawaban calon anaknya.


"Alhamdulillah.." ucap Lidya.


Abighail dan Lidya pun tertawa bersama-sama. Mereka berbincang-bincang dengan gembira. Setelah pukul 10.00 Lidya pamit untuk pergi.


"Abighail aku pamit pulang ya" pamit Lidya.


"Yah,, kok pulang sih?" tanya Abighail tak rela.


"Iya, sudah waktunya aku pulang" jawab Lidya.


"Yah.." Abighail tertunduk lesu. "Kalau besok, kita bisa ketemu lagikan?" tanya Abighail.


"Maaf, mungkin gak bisa. Sekalian aku juga mau pamit, aku akan pindah" jawab Lidya.


"Pindah ke mana?" tanya Abighail bingung.


"Ke Aceh. Aku akan memulai hidup baruku di sana" jawab Lidya.


"Tapikan, kamu bukan orang aceh" ucap Abighail.


"Hem,, jangan pindah donk" pinta Abighail.


"Gak bisa Ghail. Nanti siang aku berangkat" tolak Lidya.


Abighail menampilkan wajah sedihnya.


"Jangan sedih donk Ghail. Suatu hari nanti, kalo ada umur dan kalo ditakdirkan, kita pasti akan bertemu" Lidya menghibur Abighail.


"Benar apa kata Lidya mai" timpal ustadz Afnan.


"Hem,, kalo gitu kamu hati-hati di jalan ya. Jaga kesehatan kamu, dan yang terpenting kamu jangan tinggalin Shalat" ucap Abighail.


"Iya, makasih ya nak ustadzah" balas Lidya.


Abighail dan Lidya saling berpelukan cukup lama.


"Abighail, ustadz, saya pamit. Sekali lagi maaf untuk semuanya" pamit Lidya untuk yang terakhir kalinya.


"Iya" balas Abighail dan ustadz Afnan bersamaan.


Lidya pulang dengan menggunakan taxi online. Awalnya ustadz Afnan akan mengantar Lidya. Namun Lidya menolaknya dengan alasan sudah terlanjur memesan taxi online.


...****************...


Beberapa bulan berlalu, kini usia kandungan Abighail mengijak 8 bulan. Sekarang Abighail tinggal di pesantren. Ustadz Afnan khawatir pada kondisi Abighail. Selama kehamilan, Abighail selalu tidak bisa diam. Dia selalu ingin melalukan aktivitas. Mungkin jika akvitas seperti menyapu lantai, itu wajar saja. Tapi Abighail selalu ingin memindahkan barang berat, salah satunya adalah pot bunga yang ada di rumahnya. Abighail selalu merubah posisi tanaman-tanaman yang ada di rumahnya.


Ustadz Afnan sudah lelah melarang Abighail. Jika Abighail berada di pesantren, mungkin umi dan abi bisa melarang Abighail.


Oh iya, kalian harus tahu. Kalau Latipah dan Marsel sudah menikah, saat usia kandungan Abighail 3 bulan. Kalo kalian tanya soal Azri, dia juga sudah menikah 1 bulan lalu. Jangan tanya siapa yang menikah dengan Azri. Jawabannya kalian pati sudah tahu.


Ustadz Afnan umi dan abi menjaga ketat kehamilan Abighail. Mereka berubah menjadi sangat posesip.


Suatu hari, dipagi yang cerah.


Abigahil merasa bosan diam terus di rumah. Kini tidak ada yang menemaninya. Latipah yang dulu sering menemaninya saat dia di pesantren, kini dia sudah pindah ke rumah Marsel.


Abighail memilih untuk pergi ke dapur untuk membantu bi Murni. Siapa tau ada yang bisa dia lakukan.


"Assalamu'alaikum" ucap Abighail memasuki dapur pesantren.


"Wa'alaikumsalam" jawab bi Murni dari dalam dapur. "Eh, neng Abighail. Ngapain neng ke sini?" tanya bi Murni.


"Abighail mau bantu bibi" jawab Abighail.


"Bantu apa? Bibi sedang tidak melakukan apapun" jawab bi Murni.


Abighail merasa lututnya pegal, jadi dia memutuskan untuk duduk di bangku yang ada di dapur. Bi Murni pun juga ikut duduk.


"Huh,, capek juga ya bi" ujar Abighail.


"Maklum neng, kalo sedang hamil mah" balas bi Murni.


Abighail mengatur nafasnya secara perlahan.


"Neng" ucap bi Murni.


"Iya bi?" tanya Abighail.


"Bibi boleh pegang perut neng Abighail gak?" tanya bi Murni sebagai jawaban.


"Boleh donk bi" jawab Abighail.


Bi Murni mengelus perut Abighail yang sudah membesar. Bi Murni tersenyum, begitu juga dengan Abighail.


Bersambung..


Terima kasih sudah mampir😊


Jangan lupa tingalkan jejak😉


Terus dukung karya author ya😄


Pantengin sampai akhir, sebentar lagi akhir lho🙂


Salam hangat dari author😁