USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Permintaan Terakhir Abighail



Happy Reading!๐Ÿ˜Š


Ustadz Afnan kembali ke ruangan Abighail bersama bu 'Ainun dan umi. Saat ustadz Afnan kembali Abighail tampak sedang asik memakan buah-buahan.


"Assalamu'alaikum" ucap ustadz Afnan, bu 'Ainun dan umi.


"Wa'alaikumsalam" jawab Abighail. "Eh, ibu, umi, kapan kalian datang?" tanya Abighail.


"Baru saja sayang" jawab ibu.


"Nak, apa kamu habis nangis? Mata kamu kok sembap gini?" tanya umi yang melihat mata Abighail sembap.


"Oh,, ini umi, tadi Abighail tiba-tiba kepikiran soal Ahkam" jawab Abighail berbohong.


"Ahkam? Siapa itu?" tanya bu 'Ainun.


"Itu bu, anak yang juga dirawat di rumah sakit ini" jawab ustadz Afnan.


"Dia mengidap Leukemia. Dia bilang hidupnya sudah tidak lama lagi. Abighail sedih aja, diusianya yang masih kecil, dia sudah tahu kalau hidupnya tidak akan lama. Padahalkan itu belum tentu" ucap Abighail.


"Astaghfirullah,, kasian juga ya" ucap bu 'Ainun.


"Nan, kamu belum pulangkan dari semalam?" tanya umi.


"Iya umi" jawab ustadz Afnan.


"Pulang dulu nan, istirahat. Nanti ba'da Ashar ke sini lagi" titah umi.


"Tapi umi, Afnan mau nemenin Abighail" tolak ustadz Afnan.


"Nak Afnan benar apa kata umi kamu. Lebih baik nak Afnan pulang dulu. Jangan khawatirkan Abighail. Ada ibu dan umi yang menjaganya. Nanti kalau ada apa-apa ibu pasti akan beritahu kamu" bujuk bu 'Ainun.


Ustadz Afnan melihat pada Abighail, seolah ustadz Afnan bertanya bagaimana pendapatnya. Abighail memganggukkan kepalanya pertanda setuju pada perkataan umi dan bu 'Ainun.


"Baiklah, Afnan pulang dulu. ibu, umi, titip Abighail ya" ucap ustadz Afnan.


"Iya" jawab bu 'Ainun dan umi secara bersamaan.


"Mai, aku pulang dulu. Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku ya" pamit ustadz Afnan pada Abighail.


"Siap bos" jawab Abighail.


Abighail menciun tangan ustadz Afnan, dan ustadz Afnan mencium kening Abighail. Setelah itu ustadz Afnan menyalami tangan umi dan bu 'Ainun.


"Assalamu'alaikum" ucap ustadz Afnan.


"Wa'alaikumsalam" jawab Abighail, bu 'Ainun dan umi.


Bu 'Ainun dan umi memberi tahu Abighail pengalaman mereka selama mengandung dan membesarkan anak-anak mereka. Abighail senang dengan cerita pengalaman mereka.


"Andai aku bisa merasakannya" gumam Abighail.


"Apa sayang? Andai apa?" tanya bu 'Ainun yang mendengar Abighail bergumam sesuatu.


"Ah, itu andai aku bisa melihat momen berkesan itu" jawab Abighail.


"Sebentar lagi kamu juga akan mengalaminya sayang" ucap bu 'Ainun.


Abighail tersenyum mendengar perkataan umi.


Sore harinya ustadz Afnan kembali ke rumah sakit sambil membawa martabak cokelat keju yang diinginkan Abighail. Abighail sangat senang karna martabak pesanannya datang.


Abighail hanya memakan satu potong martabak. Dan sisanya Abighail meminta ustadz Afnan, bu 'Ainun dan umi untuk memakannya.


"Bib, kita ke ruangan Ahkam yuk" ajak Abighail yang merasa bosan.


"ayo" setuju ustadz Afnan.


Abighail dan ustadz Afnan mengunjungi Ahkam. Kebetulan ruangan Ahkam masih di lantai yang sama dengan ruangan Abighail, bahkan tidak terlalu jauh dari ruangan Abighail.


"Assalamu'alaikum" ucap Abighail dan ustadz Afnan memasuki ruangan Ahkam.


"Wa'alaikumsalam" jawab orang yang ada di ruangan itu.


"Kak Abighail" ujar Ahkam.


"Kakak ke sini?" tanya Ahkam.


"Iya, saolnya dede bayinya ingin ketemu dengan kakak Ahkam" jawab Abighail sambil tersenyum dan mengelus rambut Ahkam.


"Maaf bu, kalau kedatangan kami mengganggu" ucap ustadz Afnan.


"Tidak kok pak, malah kami seneng dengan kedatangan kalian" jawab ibunya Ahkam.


Abighail cukup lama berbincang dengan Ahkam dan keluarganya. Setelah itu, Abighail dan ustadz Afnan kembali ke ruangan Abighail. bu 'Ainun dan umi sudah pulang.


Malampun tiba. Abighail dan ustadz Afnan melaksanakan shalat Magrib maupun Isya secara berjama'ah. Setelah selesai shalat Isya, Abighail ingin membicarakan sesuatu dengan ustadz Afnan.


Abighail mencium tangan ustadz Afnan seperti biasa. Saat ustadz Afnan hendak berdiri, Abighail menahannya.


"Bib, tunggu dulu" cegah Abighail.


"Kenapa mai?" tanya ustadz Afnan.


"Aku mau bicara sebentar" jawab Abighail.


Ustadz Afnan kembali duduk seperti sedia kala.


"Bicara apa?" tanya ustadz Afnan.


"Aku ingin minta sesuatu sama kamu" jawab Abighail dengan serius.


"Minta apa? Insya Allah, kalo aku mampu, aku akan memenuhinya" tanya ustadz Afnan sambil tersenyum.


"Bib, aku minta tolong jaga anak kita" jawab Abighail memegang tangan ustadz Afnan.


Ustadz Afnan mengerutkan keningnya. "Apa maksud kamu?" tanya ustadz Afnan mulai tidak tenang.


"Aku minta, tolong jaga anak kita jika nanti aku tidak ada" jawab Abighail.


Ustadz Afnan menatap Abighail meminta penjelasan.


"Aku takut kalau disaat setelah aku melahirkan, aku tidak bisa mendampinginya sampai dia tumbuh dewasa" Abighail membendung air matanya. "Jangan biarkan dia kekurangan kasih sayang. Kamu harus bisa menjadi sosok seorang ibu. Kamu harus menggantikan peranku sebagai ibu" lanjut Abighail yang tak bisa membendung air matanya.


"Mai,, kamu ngomong apa sih? Jangan bicara kayak gitu ah" ustadz Afnan menghapus air mata Abighail yang jatuh dipipinya.


"Aku udah tau bib, aku udah tau semuanya" ucap Abighail.


Ustadz Afnan mengerutkan keningnya. "Apa jangan-jangan.." ustadz Afnan menyadari sesuatu.


"Iya, aku tau apa yang dikatakan oleh dokter. Aku tau semuanya" Abighail membenarkan apa yang ustadz Afnan pikirkan.


"Gak, mai. Aku yakin, kamu dan anak kita akan selamat. Aku yakin itu" ustadz Afnan juga mulai meneteskan air matanya.


"Aamiin,, aamiin,, aamiin. Aku juga berharap seperti itu" balas Abighail sambil mengecup tangan ustadz Afnan berkali-kali. "Tapi aku tidak bisa merubah takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah bib. Allah lebih tau yang terbaik kita" lanjut Abighail.


Ustadz Afnan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Abighail kembali menggenggam tangan ustadz Afnan dengan erat.


"Nanti, kalau kamu menemukan seorang wanita yang menyayangi kamu, menyayangi anak kita dengan tulus, menganggapnya seperti anak sendiri, jangan ragu untuk menikahinya. Jika kamu yakin kalau dia bisa menerima kamu dan anak kita, aku ikhlas bib. Aku sangat ikhlas" ucap Abighail dengan berlinang air mata, namun masih bisa tersenyum.


"Sut,, udah mai. Diem, itu semua gak akan terjadi. Kita akan membesarkan anak kita bersama-sama" ustadz Afnan mencoba memghilangkan pemikiran Abighail.


Ustadz Afnan menyatukan keningnya dan kening Abighail. Keduanya menangis.


"Maaf bib, aku belum bisa menjadi istri yang baik, aku banyak melakukan kesalahan padamu, aku.." Abighail tidak bisa meneruskan perkataannya.


Ustadz Afnan segera merengkuh Abighail dalam pelukannya. Abighail menangis dalam pelukan ustadz Afnan. Abighail menangis bukan karna takut dirinya akan meninggal. Tapi Abighail menangis karna dia sedih tidak bisa membesarkan, memberikan kasih sayang untuk anaknya, serta dia akan meninggalkan tanggung jawab yang besar pada ustadz Afnan.


Bersambung..


Terus pantengin novel author sampai akhir ya๐Ÿ˜„


Terima kasih sudah mampir๐Ÿ˜Š


Jangan lupa tinggalkan jejak๐Ÿ˜‰


Terus dukung author ya๐Ÿ˜†


Salam hangat dari author๐Ÿ˜