
Happy Reading!😊
30 menit kemudian Jesi kembali lagi. Dia melihat Lidya masih merenungkan dirinya. Jesi berpikir dia harus menyingkirkan Lidya, setelah dia menyingkirkan Abighail.
"Hei, apakah dia masih ada di dalam?" tanya Jesi pada Lidya.
"Aku mempunyai nama" ucap Lidya.
"Iya aku tahu" balas Jesi. "Apakah dia masih ada di dalam?" Jesi kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama.
"Kau pikir aku akan melepaskannya?" Lidya malah balik bertanya.
"Heheh,, tidak" jawab Jesi sambil tersenyum kecil.
Lidya memutar bola matanya jengah.
"Mari kita berikan makanan ini pada Abighail" ajak Jesi.
"Hem.." Lidya hanya mendehem. "Kau saja duluan" ucap Lidya. "Tunggu" cegah Lidya. "Apa yang kau berikan untuk Abighail?" tanya Lidya.
"Makanan" jawab Jesi.
"Hanya itu?" tanya Lidya menaruh curiga.
"Tidak, aku menambahkan bumbu rahasia" jawab Jesi sambil terenyum licik.
Lidya mengerutkan keningnya.
Jesi membuka pintu. Tampak Abighail sedang memeluk lututnya. Masih terdengar isak tangis dari Abighail.
Abighail merasa ada yang membuka pintu. dia mengangkat kepalanya melihat siapa yang datang.
"Hai, bagaimana keadaanmu?" tanya Jesi berjalan masuk.
"Untuk apa kau ke sini?" tanya Abighail dengan wajah tak suka pada Jesi.
"Hei,, kenapa kamu melihatku seperti itu? Aku ke sini hanya untuk memberikan makanan ini" jawab Jesi sambil memperlihatkan kantong makanan yang dia bawa.
Jesi meletakan kantong itu dihadapan Abighail.
"Bawa kembali makanan itu" titah Abighail.
"Aku tahu kau pasti lapar, jadi makanlah. Menangis itu membutuhkan energi. Kalau kau tidak mempunyai energi, bagaimana kau bisa menangis?" ucap Jesi diakhiri dengan pertanyaan.
Abighail hanya diam menatap Jesi dengan tajam.
"Makanlah. Kau harus hidup untuk besok" ucap Jesi.
Abighail membuang muka kasar.
"Oh iya, aku lupa mengenalkanmu pada seseorang" ujar Jesi. "Masuklah" panggil Jesi pada Lidya.
Lidya masuk ke ruangan itu.
"Lidya" gumam Abighail.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Jesi.
"Hai, Abighail" ucap Jesi.
"Sedang apa kau di sini Lidya?" tanya Abighail bingung.
"Dia adalah rekanku" bukan Lidya yang menjawab, tapi Jesilah yang menjawab.
"Rekan?" tanya Abighail tidak mengerti.
"Iya, dia yang membantuku untuk membawamu ke sini" jawab Jesi.
"Benarkah itu?" tanya Abighail tidak percaya.
"Kenyataannya memang seperti itu Abighail" jawab Lidya.
"Kenapa kamu tega sama aku Lidya? Bukankah kita ini teman?" tanya Abighail mulai menangis.
"Teman? Kau bilang kita teman? Setelah apa yang kau lakukan padaku, apakah kau masih bilang kau ini temanku?" tanya Lidya dengan menaikan nada suaranya.
"Memang apa yang ku lakukan apadamu?" tanya Abighail.
"Dulu, saat kau di rumah sakit, kau bilang kau tidak berniat untuk mendekati ustadz Afnan. Namun sekarang apa? Kau menikah dengan ustadz Afnan. Bahkan sekarang kamu mengandung anak ustadz Afnan" ucap Lidya.
"Lid, aku tidak merencanakan aku akan menikah dengan ustadz Afnan. Allah yang sudah mempersatukan kami Lid" Abighail memberi penjelasan pada Lidya.
"Jangan bawa-bawa nama Allah" ucap Lidya.
"Kenapa kamu tidak mempercayai aku?" tanya Abighail sambil menangis.
"Apa yang harus ku percaya dari wanita munafik sepertimu?" bentak Lidya.
Jesi tersenyum atas perkataan Lidya. Rupanya aku tidak salah dalam memilih rekan. Heheh,, dasar wanita bod*h. Mudah sekali mempengaruhimu gumam Jesi dalam hati.
"Puas kamu Jesi. Puas kamu membuat aku dan Lidya salah paham?" ucap Abighail berteriak pada Jesi.
Plak,, Lidya menamp*r Abighail. Abighail tertegun mendapat tamparan dari Lidya, dia memegang wajah yang ditamparnya.
"Jangan pernah menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri" ucap Lidya.
Abighail terdiam. Dia tidak menyangka Lidya akan berbuat seperti itu padanya.
"Jesi" panggil Abighail.
"Hem?" tanya Jesi.
"Aku mau tanya satu pertanyaan sama kamu" jawab Abighail.
"Jangankan satu, seribu pun akan ku jawab" balas Jesi.
"Aku gak butuh seribu jawab dari kamu. Cukup satu saja, dan itu akan membuatku yakin" ucap Abighail.
Jesi teriam, menandakan siap dengan pertanyaan Abighail.
"Kamu bilang, kamu dan ustadz Afnan mempunyai anak" ucap Abighail.
"Iya, itu benar" Jesi membenarkan perkataan Abighail.
Jesi tidak menyangka Abighail akan menanyakan hal itu.
"Kenapa kamu diam?" tanya Abighail. "Apa kamu tidak mempunyai alasan untuk menjawab pertanyaanku?" tanya Abighail lagi.
"Dulu, aku tidak mengira kalau aku akan hamil. Aku menemui Afnan untuk meminta pertanggung jawaban darinya. Tapi dia menolak untuk bertanggung jawab, dengan alasan dia belum siap menjadi ayah. Lalu kau tau apa yang dia katakan padaku?" Jawab Jesi dan diakhiri dengan pertanyaan.
Abighail diam sebagai jawabannya.
"Dia memintaku untuk menggugurk*n anak yang ku kandung" ucap Jesi.
Abighail membelalakan matanya mendengar perkataan Jesi.
"Aku tidak percaya" ucap Abighail.
"Terserah kau ingin percaya atau tidak" ucap Jesi.
"Lalu apakah abi dan umi mengetahuinya?" tanya Abighail
"Tentu saja. Bahkan mereka setuju dengan apa yang diucapkan oleh Afnan" jawab Jesi.
Abighail mulai menangis lagi. Lidya mengeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka Jesi akan membawa nama abi dan umi. Jesi hanya tersenyum senang.
"Aku masih ada urusan lain, mari kita pergi" ucap Jesi.
Lidya menganggukkan kepalanya.
Jesi dan Lidya hendak pergi, namun dihentikan oleh Abighail.
"Tunggu" cegah Abighail.
Jesi dan Lidya membalikkan tubuh mereka.
"Tolong biarkan aku melaksanakan kewajibanku untuk Shalat" pinta Abighail.
"Tidak" tolak Jesi.
"Tolong" Abighail masih berusaha membujuk Jesi.
"Tidak" tegas Jesi.
"Aku mohon" pinta Abighail lagi.
"Ti-" Lidya memotong perkataan Jesi.
"Biarkan dia Shalat, itu kewajibannya. Kita tidak bisa melarangnya" potong Lidya.
"Huh,, baiklah" Jesi menyetujui permintaan Abighail.
"Terima kasih" ucap Abighail.
"Tapi aku harus ke kamar mandi" ucap Abighail.
Jesi curiga pada Abighail. Dia curiga kalau Abighail akan kabur. Abighail dapat membaca pikiran Jesi.
"Aku janji tidak akan kabur" ucap Abighail.
"Ayo" ucap Jesi. "Kamu bawakan dia alat Shalat" titah Jesi.
"Baiklah" balas Lidya.
Jesi mengantar Abighail untuk ke kamar mandi. Sementara Lidya pergi mengambil alat Shalat untuk Abighail.
10 menit Abighail ke kamar mandi untuk berwudhu. Sementara Lidya masih belum kembali. 20 menit kemudian.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Jesi dengan kesal.
"Kau pikir kita ada di mana? Kita tidak sedang berada di tengah kota? Kita berada di area yang dipenuhi dengan hutan. Tidak ada pemukiman di sekitar sini" jawab Lidya.
"Bukankah kau menggunakan mobilku?" tanya Jesi.
"Ya, memang aku menggunakan mobilmu yang butut itu" jawab Lidya.
"Butut?" tanya Jesi menahan amarahnya.
"Iyalah, mobil tidak berguna. Di tengah jalan berhenti, karna kehabisan bensin. akhirnya aku harus berjalan dan membeli bensin terlebih dahulu" jawab Lidya dengan kesal.
"Lalu kau mengambil mukena itu dari mana?" tanya Jesi.
"Aku mengambilnya dari mushola yang ada di SPBU" jawab Lidya. "Ini" Lidya memberikan tote bag yang berisi alat Shalat.
"Ke mana arah kiblatnya?" tanya Abighail.
"Ke sana" jawab Lidya sambil menunjukan arah kiblat. "Di dalamnya juga ada lilin dan korek api, serta jam tangan" ucal Lidya.
"Terima kasih" ucap Abighail.
"Kenapa kau memberikannya lilin dan jam tangan?" protes Jesi.
"Memang kenapa? Apakah kau akan membiarkannya mati ketakutan karna kegelapan di sini? Atau kau berpikir, aku akan memberikannya sesuatu agar dia bisa kabur? Apa kau pikir dia bisa kabur hanya dengan sebuah jam tangan " tanya Lidya. "Kenapa kau tidak percaya padaku? Bukankah aku adalah rekamu? Tujuan kita sama" lanjut Lidya.
"Hem,, tidak bukan itu maksudku" jawab Jesi.
"Ya sudah, ayo kita pergi" ucap Lidya.
"Ayo" jawab Jesi.
Jesi berjalan terlebih dahulu, setelah itu disusul oleh Lidya. Lidya memberikan tatapan aneh pada Abighail, seolah mengisyaratkan sesuatu. Akhirnya mereka berdua telah pergi, meninggalkan Abighail sendirian.
Abighail membersihkan lantai ruangan itu menggunakan sapu yang ada di sana. Dia mengeluarkan isi dari tote bag yang diberikan oleh Azri. Abighail kaget mendapati isi dari tote bag itu. Memang tote bag itu berisi alat Shalat, lilin, korek api dan jam tangan. Tapi di dalamnya juga terdapat sebungkus roti dan selembar surat.
Bersambung..
Hem,, kira-kira apa ya, isi dari surat itu?
Terima kasih suda mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😁
Terus dukung author ya😆
Salam hangat dari author😁