
Happy Reading!😊
Ustadz Afnan memenuhi keinginan Abighail untuk bertemu denga Lidya. Lidya datang bersama dengan polisi yang juga akan meminta keterangan dari Abighail. Di dalam ruangan Abighail kini terdapat cukup banyak orang. Lidya duduk di kursi dekat ranjang Abighail.
"Abighail, bagaimana kondisimu?" tanya Lidya.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja" jawab Abighail. "Kau sendiri bagaimana? Apa tanganmu tidak papa?" Abighail balik bertanya.
"Tanganku sudah sembuh" jawab Lidya.
Lidya sangat gugup saat berbicara dengan Abighail. Lidya malu dengan perbuatannya sendiri.
"Abighail, aku minta maaf. Aku terhasut oleh perkataan Jesi. Aku mengejar apa yang tidak ditakdirkan untukku. Aku membahayakanmu dan calon bayimu. Aku sungguh menyesal Abighail" ucap Lidya menyesal.
"Sudahlah Lid. Sejak awal aku sudah memaafkanmu. Apalagi karna dirimu juga aku bisa selamat dari Jesi" ucap Abighail.
"Tapi itu tidak sebanding dengan apa yang sudah aku lakukan padamu" ucap Lidya dengan menahan air matanya.
"Jelas saja sebanding. Bahkan kau rela berkelah* dengan Jesi demi menyelamatkan aku" Abighail memegang tangan Lidya.
Semua orang hanya mendengarkan percakapan antara Abighail dengan Lidya.
"Pak, Lidya tidak akan dipenjara kan?" tanya Abighail oada komandan polisi yang ada di ruangan Abighail.
"Maaf bu, tapi nona Lidya terlibat dalam kasus pencul*kkan ini. Dan juga nona Lidya menjadi tersangka atas pembunuh*n nona Jesi" jawab komandan polisi itu.
"Tapi Lidya melakukan itu demi menyelamatkanku pak" sangkal Abighail.
"Tetap saja bu, nona Lidya terlibat dalam kasus pencul*kkan" ucap komandan polisi itu.
"Dan ingat, pada akhirnya siapa yang sudah menyelamatkanku. Kami tidak akan melanjutkan laporan ini" ucap Abighail.
Semua orang terdiam dengan perkataan Abighail. Mereka tidak menyangka, kalau Abighail akan melepaskan Lidya begitu saja, setelah apa yang Lidya perbuat padanya.
"Begini saja bu, kami akan melepaskan kasus ini apabila ada saksi yang menguatkan kalau nona Lidya berusaha membantu bu Abighail" usul komandan polisi itu.
"Saksi apalagi pak? Bukankah kalian melihat sendiri, bagaimana Lidya menyelamatkanku dari Jesi? Kalian mau saksi berapa banyak?" tanya Abighail.
Lagi-lagi semua orang terdiam.
"Kalau kalian mau bukti, di rumah kosong itu ada surat yang diberikan oleh Lidya. Surat itu berisi peringatan terhadap Jesi. Lidya memperingatkanku akan bahaya yang akan datang jika aku memakan makanan yang diberikan oleh Jesi. Kalian juga bisa mengecek makanan yang diberikan Jesi untukku" ucap Abighail. "Aku mohon, tolong lepaskan Lidya" lanjut Abighail.
"Bu, kami melihat nona Lidya menyelamatkan ibu. Tapi kami juga melihat nona Lidya memegang senjata yang digunakan untuk menemb*k nona Jesi" ucap salah satu polisi.
Abighail hendak berucap lagi, namun Lidya menghentikannya.
"Sudah Abighail. Biarkan aku dipenjara. Aku pantas mendapatkan ini" ucap Lidya.
"Tidak Lid, aku gak mau kamu dipenjara" tolak Abighail.
Abighail memegang tangan Lidya dengan erat.
"Mari nona Lidya, kita harus kembali" ucap komandan polisi.
Lidya hendak berdiri dan pergi. Namun Abighail menahannya.
"Jangan pergi" pinta Abighail.
"Maaf Ghail, aku harus pergi" tolak Lidya.
"Pak, tolong jangan bawa Lidya pak. Dia tidak bersalah" pinta Abighail.
Salah satu tangan Abighail memegang tangan Lidya, dan satunya lagi memegang tangan ustadz Afnan untuk menahan tubuhnya. Abighail menatap Lidya berisyarat untuk tidak pergi. Lidya tersenyum pada Abighail, sebagai isyarat untuk merelakannya pergi.
"Bib,, tolong cegah Lidya agar tidak pergi" pinta Abighail.
"Mai,, biarkan polisi menanganinya terlebih dahulu" ucap ustadz Afnan.
Polwan menuntun Lidya untuk ikut bersamanya. Pelahan tangan Abighail telepas dari tangan Lidya. Abighail hendak berlari pada Lidya, namun ustadz Afnan memegang tubuh Abighail. Lidya semakin jauh dari Abighail. Saat di ambang pintu, tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu dengan sengaja. Orang itu masuk bersama dengan seorang anak perempuan.
"Nanti setelah menjenguk nenek, kita pulang ya" ucap orang itu.
"Aku mau nginep di sini yah, sama nenek" ucap anak perempuan itu.
"Tapikan.." orang itu berhenti berbiacara saat masuk ke ruangan Abighail dan melihat orang yang ada di dalam ruangan Abighail.
Semua orang menatap pada orang yang baru saja datang.
"Maaf ini bukan ruangan 210?" tanya orang itu.
"Bukan pak, ini 209. Ruangan 210 ada di sebelah kiri" jawab komandan polisi.
"Wah, berarti saya salah masuk ruangan donk" cengir orang itu. "Maaf sudah mengganggu" lanjut orang itu
Orang itu bersiap untuk pergi, namun dia melihat salah satu orang yang dikenalnya.
"Eh, neng Lidya kan?" tanya orang itu.
"Pak Rijal" ucap Lidya kaget melihat pak Rijal datang ke rumah sakit.
Ya, orang itu pak Rijal, seorang pemilik bengkel yang pernah membantu Lidya menjalankan rencananya. Pak Rijal datang bersama Ayu.
"Neng sedang apa? Bukannya neng bilang mau nyelametin seseorang ya? Siapa namanya? Em,, kalo gak salah, namanya Ghail, Ghail gitu" pak Rijal mengingat-ngingat nama yang dibicarakan oleh Jesi dan Lidya.
"Apa maksud bapak Abighail?" tanya pak Adam.
"Iya pak, namanya Abighail" jawab pak Rijal. "Gimana, apa orangnya udah selamat?" tanya pak Rijal.
"Alhamdulillah pak, dia selamat" jawab Lidya.
"Alhamdulillah.." ucap pak Rijal. "Eh, neng Lidya kenapa sama polisi?" pak Rijal bingung karna ada polisi yang memegang tangan Lidya.
"Apa bapak kenal pada nona Lidya?" tanya komandan polisi.
"Kenal pak, tadi pagi kita ketemu" jawab pak Slamet.
"Bapak bilang, nona Lidya mau menyelamatkan seseorang? Dari mana bapak tau itu?" tanya anggota polisi lain.
"Iya, tadi pas ketemu nona Lidya dia bilang begitu sama saya" jawab pak Rijal.
"Kalau begitu, bapak bisa menjadi saksi baru dalam kasus ini" ucap polisi itu.
Bersambung..
Terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
Terus dukung karya author ya😄
Salam hangat dari author😁