USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Teror 3



Happy Reading,,! 😊


Beberapa hari kemudian.


Setiap hari Abighail selalu saja mendapat kiriman teror dari orang yang tidak dikenal. Abighail selalu menceritakan kejadian-kejadian yang dialaminya pada ustad Afnan. Namun, ada juga yang dia sembunyikan. Seperti kejadian siang tadi.


Abighail baru saja selesai melaksanakan shalat Dzuhur. Tiba-tiba ada seseorang yang melempari pagar Abighail dengan batu kecil arau kerikil.


"Astaghfirullah,, suara apa itu,,?" gumam Abighail.


Abighail segera melihat keluar jendela. Betapa terkejutnya dia, mendapati seseorang yang berpakaian serba hitam sedang melempari pagar rumahnya. Sadar akan perlakuannya diketahui oleh si pemilik rumah, orang itu segera kabur. Sebelum kabur, orang itu meletakan sesuatu di depan pagar rumah Abighail.


Abighail segera turun ke bawah untuk mendatangi orang itu.


"Hey,, tunggu,, jangan kabur,," teriak Abighail sambil berlari dengan kondisi yang masih memakai mukenanya.


"Tunggu,," teriak Abighal lagi.


Namun sayang, seberapa kerasnya Abighail berteriak, orang itu tidak berhenti.


Abighail berhenti di depan gerbang rumahnya.


"Hosh,, hosh,, Astaghfirullah,, Astaghfirullah,," Abighail mencoba mengatur nafasnya dengan membaca istighfar.


"Siapa orang itu,,? Kenapa orang itu selalu meneror ku,,?" tanya Abighail pada dirinya sendiri.


"Ah sudahlah,," Abighail berniat untuk kembali ke dalam rumahnya.


Saat hendak kembali, Abighail melihat sebuah kardus berukuran sedang tergeletak di depan gerbang rumahnya.


"Eh apa ini,,? Siapa yang nyimpen kardus ini,,? Apa orang itu yang menyimpannya,,?" pikir Abighail sambil mengambil kardus itu.


"Buka gak yah,,? Kata bibib, kalo nemu sesuatu yang mencurigakan harus di buang. Aku buang aja ah,," ucap Abighail mengingat kembali perkataan ustadz Afnan.


Tangan Abighail sudah bersiap untuk membuang kardus itu, tapi terhenti oleh keinginannya.


"Tapi aku penasaran apa isinya,, aku buka aja deh,," Abighail berniat untuk membuka kardus itu. "Eh buka jangan ya,,? Buka aja deh,," Abighail bimbang dengan keputusan yang dia ambil.


Akhirnya dia memutuskan untuk membuka kardus itu dan melihat isinya, setelah itu baru dia buang.


Betapa terkejutnya Abighail setelah melihat isi dari kardus itu.


"Ah,," teriak Abighail melemparkan kardus itu ke sembarang arah. Bruk,, Abighail jatuh pingsan di depan pagar rumahnya.


Bu Susi yang keluar untuk membuang sampah, terkejut mendapati Abighail tergeletak pingsan.


"Astaghfirullah ustadzah,," kaget bu Susi.


Bu Susi segera menghampiri Abighail yang tergeletak pingsan.


"Ustadzah,, ustadzah,, bangun,," bu Susi mengguncang-guncang tubuh Abighail agar dia segera bangun. Namun usahanya tidak membuahkan hasil.


Bu Susi memanggil tetangga lain untuk membantu dirinya mengangkat tubuh Abighail ke dalam rumahnya. Abighail di tidur kan di atas sofa panjang.


"Duh,, ustadzah bangun,, ustadzah kenapa,,?" tanya bu Susi sambil berusaha untuk membangunkan Abighail.


"Bu Susi ustadzah Abighail kenapa,,?" tanya bu Wulan yang ikut membantu menggotong Abighail ke dalam rumahnya.


"Saya juga gak tau bu,, tadi saya mau buang sampah kaget liat ustadzah Abighail udah pingsan,," jawab bu Susi.


"Bu telepon ustadz Afnan,, supaya dia cepet ke sini,," usul bu Maya.


"Iya bu,, biar saya yang hubungin dokter,," timpal bu Ratna.


Setelah mendapat telepon dari bu Susi ustadz Afnan segera kembali ke rumahnya, untuk melihat kondisi istrinya. Semua urusan perusahaan, sementara diserahkan pada ustadz Rizky.


Para tetangga Abighail sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, hanya menyisakan bu Susi saja.


Setelah ustadz Afnan sampai di rumah, dia memindahkan Abighail ke kamar. Tak lama pun dokter datang. Cukup lama dokter memeriksa keadaan Abighail.


"Kondisi istri bapak sudah membaik, dia hanya syok dengan apa yang dia lihat,," jawab dokter yang memeriksa Abighail.


"Apakah ada yang serius dok,,?" tanya ustadz Afnan lagi.


"Untuk saat ini tidak, hanya saja istri bapak mengalami demam biasa,," jawab dokter itu sambil membereskan peralatan medisnya.


"Apa itu membahayakan janin yang dikandungnya dok,,?" tanya ustadz Afnan tambah khawatir.


"Tidak pak. Tapi jika demamnya semakin tinggi, bapak harus segera membawa istri bapak ke rumah sakit,," jawab dokternya. "Ini, saya memberi resep obat dan vitamin yang harus di minum oleh istri bapak,," lanjutnya sambil memberikan secarik kertas berisikan resep obat dan vitamin.


"Terima kasih dok,," ucap ustadz Afnan menerima resep itu.


"Kalo begitu saya pamit dulu, mudah-mudahan istri bapak lekas sembuh,," pamit dokter itu.


"Iya, Aamiin,, terima kasih atas do'a nya dok. Mari saya antar,," balas ustadz Afnan.


Ustadz Afnan memgantar dokter itu sampai di gerbang rumahnya. Sementara bu Susi menemani Abighail yang masih belun sadar.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,," ucap ustadz Afnan.


"Iya sama-sama pak, lagi pula ini sudah menjadi kewajiban saya,," jawab dokter itu sebelum pergi. "Oh iya pak,, jangan lupa, terus dampingi istri bapak. Karna dia masih dalam kedaan syok,," ucap dokter itu.


"Baik dok,," jawab ustadz Afnan.


"Assalamu'alaikum,," pamit dokter itu.


"Wa'alaikumsalam,," jawab ustadz Afnan.


Sepeninggalnya dokter itu, ustadz Afnan segera masuk kembali ke dalam rumahnya.


Hanya hening yang ada di ruangan itu. Bu Susi dan ustadz Afnan menatap Abighail dengan cemas.


"Bu sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya,,?" tanya ustadz Afnan.


"Saya juga tidak tahu ustadz,, pas saya lihat ustadzah udah pingsan di depan gerbang,," jawab bu Susi.


Ustadz Afnan terus membelai kepala Abighail.


"Em,, ustadz saya permisi dulu,," izin bu Susi.


"Iya bu,," jawab ustadz Afnan.


"kalo butuh bantuan, ustadz bisa hubungi saya,," tawar bu Susi.


"Terima kasih atas bantuannya bu,," balas ustadz Afnan.


"Assalamu'alaikum ustadz,," pamit bu Susi.


"Wa'alaikumsalam bu,," jawab ustadz Afnan.


Bu Susi pulang ke rumahnya. Tinggalah ustadz Afnan dan Abighail di kamar mereka.


Bersambung...


Kira-kira apa ya, yang ada di dalam kardus itu,,?


Menurut kalian apa,,?


Komen ya di bawah,,πŸ˜†


Penasaran gak,,?


Tunggu kelanjutannya ya,, πŸ˜…


Terus dukung author,, 😊


Terima kasih sudah mampir,, πŸ˜‰