USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Jus Rambutan



Happy Reading,,! 😊


Keesokan harinya.


Abighail dan ustadz Afnan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kandungan Abighail. Dokter memeriksa detak jantung Abighail, denyut nadi Abighail dan juga perut Abighail. Ustadz Afnan dan Abighail melihat calon bayi mereka lewat tampilan layar USG. Betapa takjubnya pasangan suami istri itu melihat calon bayinya yang masih sebesar biji kacang.


Setelah melakukan USG Abighail dan ustadz Afnan duduk dan berbicara denga dokter kandungan yang bernama dokter Chika.


"Bu,, kandungan ibu berusia 5 minggu lebih 4 hari,," ucap Chika.


"5 minggu,,?" tanya Abighail dan mendapat anggukan dari Chika.


"Kok kecil sih dok,,? Kapan besarnya,,?" tanya Abighail heran.


"Heheh,," Chika tertawa kecil. "Begini bu,, semuanya pasti butuh proses. Seperti bapak dan ibu yang menantikan kehadiran sang janin yang ada di perut ibu. Setelah melakukan hubungan, keesokan harinya ibu tidak langsung melahirkan bukan,,? Tentunya ada proses didalamnya. Mulai dari sel telur yang dibuahi oleh ****** sampai terbentuk janin,," ucap Chika.


Chika menjelaskan proses kehamilan pada Abighail dan ustadz Afnan. Ustadz Afnan dan Abighail hanya menganggukkan kepala mereka. Apabila ada yang mereka tidak mengerti mereka menanyakannya pada Chika.


"Pak,, dalam kehamilan istri bapak,, bapak harus lebih banyak bersabar dan juga sebisa mungkin menuruti keinginan istri bapak,," ucap Chika.


Ustadz Afnan menganggukkan kepalanya.


"Pada tahap ini suasana hati ibu Abighail bisa saja berubah-ubah setiap saat,, jadi bapak harus sabar,," tutur Chika.


Ustadz Afnan menganggukkan kepalanya lagi.


"Dan lagi,, usia kehamilan bu Abighail ini masih rentan yang namanya keguguran. Jadi bapak harus menjaga kondisi bu Abighail,," jelas Chika.


"Baik dok,," ucap ustadz Afnan.


"Untuk ibu,, ibu jangan melakukan aktivitas berat, jangan kecapean, makan makanan yang bergizi, karna kandungan ibu masih lemah,," ucap Chika.


"Iya dok,," balas Abighail.


Chika memberikan resep vitamin yang harus dimakan oleh Abighail. Setelah cukup lama berbincang, ustadz Afnan dan Abighail pulang ke rumah. Sebenarnya Abighail tidak mau pulang dulu, dia mau ke pesantren dan memberi tahukan pada abi dan umi serta Latipah atas kehamilannya. Namun,, ustadz Afnan memilih pulang, karna dia takut Abighail akan kecapean.


Abighail dan ustadz Afnan tiba di rumah pukul 15.45. Sebelum pulang mereka mampir terlebih dahulu ke mesjid dan ke tempat makan untuk mengisi perut mereka. Setelah sampai di rumah Abighail terus merengek pada ustadz Afnan. Dia ingin pergi ke pesantren bertemu dengan abi dan umi. Ustadz Afnan terus membujuk Abighail.


"Bib,, aku mau ke pesantren,," ucap Abighail.


"Besok ya mai,," tolak ustadz Afnan halus.


"Aku maunya sekarang,, aku gak mau besok,," rengek Abighail.


"Mai,, kita kan baru aja pulang,, masa udah ke pesantren sih,, kamu ingat kan pesan dokter Chika tadi,,?" tanya ustadz Afnan.


"Iya,," jawab Abighail dengan nada ketus.


"Apa coba,,?" tanya ustadz memastikan.


"Dia bilang aku gak boleh kecapean,," jawab Abighail.


"Nah,, itu tau,, jadi besok ya,," bujuk ustadz Afnan.


"Iya,," jawab Abighail pasrah.


Abighail dan ustadz Afnan mengistirahatkan tubuh mereka agar kembali bertenaga.


Malam pun tiba. Abighail dan ustadz Afnan baru saja selesai makan malam. Seperti biasa, setelah makan malam ustadz Afnan melihat tayangan tausiyah di tv. Dan Abighail pun juga ikut menontonnya sambil memeluk tangan ustadz Afnan dan menyandarkan Kepalanya di bahu ustadz Afnan.


"Bib,," panggil Abighail pada ustadz Afnan.


"Hem,," jawab ustadz Afnan.


"Aku mau jus,," pinta Abighail.


"Jus apa,,?" tanya ustadz Afnan yang masih setia dengan tv nya.


"Jus rambutan,," jawab Abighail.


"Besok aja ya,, sekarang sudah malam,," tolak ustadz Afnan secara halus sambil mengelus kepala Abighail.


"Besok aja ya,, udah malem mai,," bujuk ustadz Afnan.


"Ah,, aku maunya sekarang,, lagian kan belum terlalu malem,," rengek Abighail.


"Besok aja ya,, kita kan gak punya rambutannya,," ustadz Afnan berusaha menolak keinginan istrinya itu.


"Kamu beli dulu di mini market,," ucap Abighail sambil mata berbinar.


Ustadz Afnan tak tega jika harus berkata tidak. Akhirnya ustadz Afnan menuruti keinginan Abighail.


Setelah ustadz Afnan membeli rambutan, dia pun segera membuat jus rambutan yang diinginkan oleh Abighail. Beberapa menit kemudian jusnya pun siap.


"Mai,, ini jus nya,," ucap ustadz Afnan berjalan mendekati Abighail yang sedang duduk menonton televisi.


"Wah,," Abighail mengambil jus itu dari tangan ustadz Afnan. "Terima kasih suamiku tersayang,," ucap Abighail sambil tersenyum.


"Sama-sama istriku tercinta,," balas ustadz Afnan sambil duduk di samping Abighail.


Abighail meminum jus itu sampai tandas. Ustadz Afnan memperhatikan Abighail yang meminum jus buatannya dengan nikmat.


"Alhamdulillah,," ucap Abighail sembari tersenyum dan menatap ustadz Afnan.


"Enak,,?" tanya ustadz Afnan.


Abighail menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Abighail menatap gelas yang sudah kosong. Seketika Abighail teringat sesuatu. Dia lupa tidak menawarkan ustadz Afnan jus yang sudah dia minum.


"Bib,," panggil Abighail dengan wajah terkejutnya.


"Apa,,? Mau lagi,,?" tanya ustadz Afnan.


"Bukan,," jawab Abighail dengan wajah serius nya .


"Lalu apa,,?" tanya ustadz Afnan bingung.


"Aku lupa tidak memberi kamu jus nya,, padahal kamu yang membuatnya,," jawab Abighail dengan nada sedihnya. "Maaf,," lanjut Abighail yang hampir meneteskan air matanya.


"Gak papa mai,, lagian aku gak mau kok,, kalo aku mau aku tinggal buat aja,," ucap ustadz Afnan menenangkan Abighail.


Abighail menundukkan kepalanya. Ustadz Afnan yang melihat Abighail masih sedih dia mengambil tindakan. Cup,, ustadz Afnan memberi kecupan pada bibir Abighail. Abighail tertegun mendapat perlakuan seperti itu dari ustadz Afnan. Karna meskipun mereka sudah menikah cukup lama, jika Abighail mendapatkan perilaku seperti itu tanpa aba-aba maka dia akan terkejut.


Abighail menatap ustadz Afnan bingung dengan wajah terkejutnya. Ustadz Afnan memandang Abighail sambil tersenyum.


"Apa itu,,?" tanya Abighail dengan wajah yang memerah.


"Minum,," jawab ustadz Afnan dengan santai.


"Minum apanya,,?" tanya Abighail yang masih menunduk karna wajahnya kini memanas.


"Aku minum lewat bibir yang meminum jus buatan ku,, jadi aku sudah meminum jus itu,," jawab ustadz Afnan sambil terkekeh.


"Memangnya bisa,,?" tanya Abighail.


"Bisa donk,, buktinya sudah aku lakukan,," jawab ustadz Afnan sambil mengelus kepala Abighail dengan lembut.


Bersambung...


Maaf up nya lama,, πŸ™


Author lagi nyari ide alur lain lagi nih,,


Kalo kalian ingin memberi masukan atau kritik tentang novelnya author, silahkan,, 😊


Dengan senang hati author akan menerimanya,, πŸ˜‰


Oh iya,, terus dukung authornya,, πŸ˜†


Sampai jumpa di eps selanjutnya,, ☺