
Maaf ya,, author potong sebentar,, βΊ
Sebelum ke ceritanya author mau berterimakasih pada Azri Sani Fauziah yg sudah memberikan hadiah pernikahan utk Abighail dan ustadz Afnan. Yaitu berupa gambar sampul dari novel ini,, π
Dan iya,, bagi kalian para reader semua jika kalian ingin memberikan hadiah utk Abighail dan ustadz Afnan dgn senang hati author akan menerimanya,,π.
Sekian dari author sekali lagi maaf karna author memotong ceritanya,, π.
Happy Reading,,! π
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Abighail mengangkat kepalanya. Saat dia mengangkat kepalanya dia terkejut karna dia tdk percaya apa yg dia lihat di depan matanya. Ternyata pria itu adalah,,
" Ustadz Afnan,, " gumam Abighail.
( Yey,, tebakan kalian semua benar,, hore,, ππ )
Abighail tak percaya dgn apa yg dia lihat saat ini. Org yg berdiri di depannya sekarang adalah ustadz Afnan. Abighail trs menatap ustadz Afnan. Sementara yg ditatap hanya tersenyum.
Sesekali Abighail mengedipkan matanya sambil menggelengkan kepalanya.
" Apakah ini nyata,,?" tanya Abighail dlm hantinya.
" Terimakasih sudah menunggu ku,, " ucap ustadz Afnan pada Abighail. Abighail tak menanggapi perkataan ustadz Afnan. Dia masih bingung atas apa yg terjadi.
" Ayo kita ke bawah, semua org sudah menunggu,, " ajak ustadz Afnan. Ustadz Afnan menuntun Abighail.
" ... " Abighail hanya mengikuti tuntunan ustadz Afnan sambil.
Saat berjalan Abighail trs berfikir apakah ini khayalan atau kenyataan . Abighail dan ustadz Afnan menuruni anak tangga satu persatu.
Semua org menatap kagum pada Abighail. Kenapa tdk, Abighail yg terlihat sangat cantik bersanding dgn ustadz muda yg juga sangat tampan yaitu ustadz Afnan.
Abighail juga melihat ada teman temannya.
Abighail tersenyum pada semua org, saat menuruni tangga. Namun dapat terlihat dari raut wajahnya, dia sedang ke bingungan. Org org terdekatnya tertawa geli melihat raut wajah Abighail.
Banyak sekali org yg menghadiri pernikahan Abighail dan Ustadz Afnan, namun kebanyakan tamu yg datang adalah teman pak Adam.
Abighail dan ustadz Afnan berjalan menuju ke kursi pengantin yg sudah disiapkan. Pertama Ayah dan ibu Abighail mengucapkan selamat pada mereka. Setelah itu giliran Abi dan Umi yg mengucapkan selamat pada Abighail dan ustadz Afnan.
Semua org mengucapkan selamat pada pasangan pengantin baru. Mereka satu persatu bersalaman dgn sang pengantin, namun jika Abighail berhadapan dgn seorang laki laki dia hanya menempatkan tangan di dadanya, begitu juga dgn ustadz Afnan.
" Selamat ya,, " ucap salah satu tamu yg datang.
" Iya,, terimakasih,, " balas Abighail sambil tersenyum ramah.
" Selamat ustadz,, ustadzah,, " ucap pengunjung yg lain.
" Terimakasih,, " balas Abighail dan ustadz Afnan.
Saat org org sedang bersalaman, Abighail sesekali melihat ke arah tamu. Dari gerak gerik nya Abighail seperti yg sedang mencari seseorang.
" Ehem,, tdk baik bagi seorang perempuan yg sudah menikah melihat laki laki lain,, selain suaminya,, " ucap ustadz Afnan.
Abighail langsung menundukkan kepalanya sambil berkata " Maaf ustadz,, ".
Kini giliran teman teman Abighail yg mengucapkan selamat.
" Yey,, selamat ya Abighail,, " ucap Azri yg datang.
" Selamat Abighail,, kini kamu sudah menikah,, " ucap Sipa.
" Selamat Abighail,, mudah mudahan kalian menjadi kelauarga yg Sakinah Mawaddah Wa Rahmah,, " ucap Latipah.
" Aamiin,, " ucap Abighail dan ustadz Afnan.
" Lho,, Azri, Sipa kalian kok bisa datang sih,,?" tanya Abighail heran.
" Iya lah,, kalau saja Latipah tdk memberitahu kami, kami gk bakalan tau tentang pernikahan kamu,, " ucap Azri kesal.
" Iya ni,, Abighail,, gimana sih,, kamu gk beritahu kami,, " timpal Sipa.
" Ya,, maaf,, aku gk bermaksud gitu kok,, " ucap Abighail. " Hah,, Sipa kamu,, " lanjut Abighail yg kaget melihat perut Sipa.
" Iya,, Abighail,, " ucap Sipa sambil mengelus ngelus perutnya.
" Berapa bulan,,? " tanya Abighail yg ikut memegang perut Sipa.
" Ini sudah yg ke 7 bulan,, " jwb Sipa sambil tersenyum.
Abighal tersenyum lebar.
" Abighail,, kami juga awalnya sangat terkejut melihat ke adaan Sipa,, namun ya,, kami sudah tdk heran lagi siapa yg sudah melakukan ini pada Sipa,, " ucap Azri yg melirik Fakhri suami dari Sipa, yg sedang berbicara dgn ustadz Afnan.
Abighail, Sipa dan Latipah pun melihat ke arah Fakhri.
" Eh,, tapi yg paling mengejutkan adalah kamu,, " ucap Sipa.
" Lah kok aku sih,,? " tanya Abighail tak mengerti.
" Iyalah kamu,, pertama kamu nikah gk ngundang kami,, dan yg ke 2 kami gk mengangka kalau kamu bakalan nikah sama ustadz Afnan,, " jwb Azri tak percaya.
" Aww,, " teriak Abighail agak keras karna Azri mencubit tangan Abighail dgn tiba tiba.
Ustadz Afnan yg berdiri di samping Abighail terkejut dan langsung melihat tangan Abighail yg dicubit oleh Azri.
" Abighail kamu tdk papa,,? Mana yg sakit,,? Pasti ini yg sakit,, " tanya ustadz Afnan sembari mengelus ngelus tangan Abighail yg tampak merah bekas cubitan dari Azri.
" Tdk terlalu sakit kok ustadz,, " jwb Abighail sambil memegang tangan ustadz Afnan yg sedang memegang tangan Abighail yg satunya lagi.
" Benar,,?" tanya ustadz Afnan menyakinkan.
Abigahil menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
" Aduh mesranya pengantin baru,, " ucap Azri dan langsung menerima tatapan tajam dari ustadz Afnan karna dia sudah berani menyakiti wanita yg kini menjadi istrinya itu.
Azri menelan slavina nya dgn susah payah.
" Maaf ustadz,, aku tdk sengaja,, " ucap Azri ketakutan. Namun ustadz Afnan masih menatapnya dgn tatapan yg sama.
" Em,, soalnya,, tadi Abighail bilang dia merasa bermimpi dgn semua yg terjadi,, jadi saya melakukan itu,, dan hasilnya uwalah,, Abighail menyadari kalau dia tdk bermimpi,, iya kan Abighail,, " ucap Azri sambil mengedipkan mata nya pada Abighail.
" Ah,, iya,, itu benar ustadz,, " ucap Abighail membantu Azri.
Ustadz Afnan pun tdk lagi menatap Azri dgn tatapan yg tajam. Mereka melanjutkan pembicaraan mereka masing-masing.
Tiba waktunya utk istirahat dan menunaikan ibadah shalat lima waktu yg tdk boleh di tinggalkan. Selesai shalat, keluarga serta para tamu undangan makan bersama. Namun ada juga yg sudah makan.
Abighail, ustadz Afnan, Azri, Latipah, Sipa dan Fahri, mereka semua semeja. Selama mereka makan tdk ada suara sedikit pun. Selesai makan mereka bercakap cakap sebentar.
Setelah selesai istirahat acara dilanjutkan lagi. Tak disangka ternyata makin ke sini makin banyak tamu yg datang.
Saat ada kesempatan, Abighail duduk di kursi pengantinnya. Kakinya sangat pegal karna sedari tadi dia trs berdiri. Abighail memijat kakinya yg pegal.
Ustadz Afnan juga ikut duduk. Ustadz Afnan melihat Abighail sedang memijat kakinya yg pegal, lantas ustadz Afnan langsung berlutut dan berinisiatif utk memijat kaki sang istri.
Abighail yg mendapat perlakuan seperti itu sontak saja membuat dia kaget.
" Astaghfirullah,, ustadz, apa yg ustadz lakukan,,?" tanya Abighail kaget.
" Kenapa,,?" ustadz Afnan malah balik bertanya.
" Em,, tdk seharusnya ustadz seperti itu,, bukankah itu tdk pantas,,?" pertanya ustadz Afnan malah dijawab dgn pertanyaan oleh Abighail.
" Apakah salah, jika seorang suami memijit istrinya yg sedang kelelahan,,?" ustadz Afnan balik bertanya lagi.
" ... " Abighail tdk menjawab dia bingung harus menjawab apa. " Ustadz sudah,, sekarang sudah tdk pegal lagi kok,, " ucap Abighail sambil memegang tangan ustadz Afnan yg sedang memijit kakinya.
" Benar,,?" tanya ustadz Afnan.
Abighail menganggukkan kepalanya.
Ustadz Afnan berhenti memijat kaki Abighail. Kini mereka sama sama sedang duduk.
" Terimakasih ustadz,, " ucap Abighail sambil tersenyum manis dan melihat ke arah ustadz Afnan.
" Subhanallah,, " ucap ustadz Afnan.
" Kenapa ustadz,,?" tanya Abighail.
" Betapa murah hatinya Allah kepada saya,, " jwb ustadz Afnan.
" Memangnya kenapa ustadz,,?" tanya Abighail bingung.
" Allah sudah bermurah hati pada saya,, karna Allah telah memberikan senyuman manis itu utk saya,, dari wanita yg setiap hari kusebutkan namanya di sepertiga malam,, " jwb ustadz Afnan sambil tersenyum pada Abighail.
Wajah Abighail me merah seperti kepiting rebus setelah mendengar perkataan ustadz Afnan.
" Saya suka saat kamu tersipu malu,, " ucap ustadz Afnan.
Perkataan ustadz Afnan membuat Abighail tambah tersipu malu.
" Ustadz sudah,, jangan menggoda ku lagi,, " ucap Abighail karna tdk tahan dgn perkataan ustadz Afnan.
" Memang kenapa jika saya menggoda wanita yg kini sudah sah menjadi istri saya,,?" tanya ustadz Afnan.
" ... " lagi lagi Abighail tdk dapat menjawab pertanyaan dari ustadz Afnan.
" Lihatlah kebahagiaan yg terpancar dari wajah mereka berdua,, " ucap bu 'Ainun pada pak Adam, Abi dan Umi. Mereka melihat Abighail dan ustadz Afnan dari kejauhan.
" Iya,, betapa senangnya mereka,, " timpal umi.
" Tapi,, saya masih merasa bersalah pada Abighail,, " ucap bu 'Ainun. " Dari awal kita tdk memberitahu siapa yg akan dinikahi oleh Abighail,, " lanjutnya.
" Sudah bu,, yg terpenting Abighail sudah bahagia,, Kita sudah memilih org yg tepat utk Abighail, iyakan Dik,,?" ucap pak Adam.
" Iya,, kamu benar Dam,, " balas Abi.
Bersambung..
# Terimakasih sudah mampir,, π
# Silahkan tinggalkan jejak,, π