
Happy Reading,,! π
Pagi hari.
Abighail sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya. Ustadz Afnan sedang bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan. Oh iya,, kalian tau tidak, kalo ustadz Afnan itu pergi ke perusahaan selalu menggunakan baju koko. Dia tidak mau jika ke perusahaan harus menggunakan kemeja dan jas. Namun, meskipun ustadz Afnan memakai baju koko, pesona nya tidak kurang sedikit pun, malah pesona nya lebih menawan daripada yang lainnya. Apalagi kayawan yang ada di perusahaan nya rata-rata memakai kemeja. Dan kalian juga tau tidak,,? Kalo di perusahaan ustadz Afnan menjadi incaran bagi karyawan wanita. Namun sayang, ustadz Afnan sudah menikah.
"Alhamdulillah,," ucap Abighail setelah selesai menghidangkan makanan yang ia masak di atas meja makan. "Bib,, sini makan dulu,," panggil Abighail sedikit berteriak.
Ustadz Afnan pun turun ke bawah.
"Sini duduk,," ajak Abighail.
Ustadz Afnan duduk di kursi yang biasanya ia tempati.
Abighail mengambilkan makan untuk ustadz Afnan.
"Terima kasih,," ucap ustadz Afnan. Dan di balas senyuman oleh Abighail.
Skip.
Ustadz Afnan khawatir pada kondisi Abighail. Sehingga dia ragu-ragu untuk pergi ke perusahaan.
"Mai,, kamu yakin kamu gak papa aku tinggalin,,?" tanya ustadz Afnan khawatir.
"Gak papa bib,," jawab Abighail sambil berjalan ke depan gerbang untuk mengantar ustadz Afnan pergi bekerja.
"Yakin,,?" tanya ustadz Afnan memastikan.
"Iya bib,," jawab Abighail dengan pasti.
"Kalo ada apa-apa hubungi aku ya,," pinta ustadz Afnan.
"Iya bib,, lagian kan, di sini dekat dengan tetangga, jadi kalau ada apa-apa aku tinggal minta bantuan sama tetangga bib,," jawab Abighail meyakinkan ustadz Afnan.
"Aku khawatir sama kamu,," ucap ustadz Afnan.
"Bib,, aku gak papa kok. Tadi malam, aku cuma syok aja,, ada yang telepon terus langsung bilang gitu sama aku,," ucap Abighail.
"Baiklah,, kalo gitu aku berangkat dulu ya,, Assalamu'alaikum,," pamit ustadz Afnan.
"Iya,, Wa'alaikumsalam,," jawab Abighail.
Abighail menyalami tangan ustadz Afnan. Dan ustadz Afnan mencium kening Abighail.
Ustadz Afnan mengendarai mobilnya dan meninggalkan Abighail sendiri di rumah.
Tinggalah Abighail sendiri di rumah. Setelah mobil ustadz Afna tak kelihatan, Abighail pun masuk kembali ke dalam rumahnya.
Dari ke jauhan ada seseorang yang mengawasi aktivitas Abighail. Setelah dia melihat ustadz Afnan pergi dan Abighail kembali ke dalam rumah, dia pun pergi entah ke mana.
Entah kenapa semenjak Abighail mengandung, dirinya lebih suka pada tanaman. Jika ada waktu luang pasti dia sempatkan untuk berbicara bersama tanaman miliknya. Dan seperti sekarang, setelah Abighail bersih-bersih rumah, dia berbicara dengan tanaman miliknya.
"Assalamu'alaikum,," sapa Abighail pada tanaman miliknya itu.
"..." tak ada jawaban dari tanaman Abighail. (Iyalah,, kalo tanaman bisa bicara sudah jadi viral kan,, π tapi sebenarnya tanaman juga bisa bicara,, cuma kita nya yang tidak mendengar dan memahaminya,βΊ maaf author ilu nimrung,,π).
"Apa kalian baik-baik saja,,? Apa kalian haus,,?" tanya Abighail sambil memegang daun tanaman miliknya.
"Aku akan memberi kalian air,," ucap Abighail.
"Kalian harus sehat,, kalian tau aku sangat menyayangi kalian,, kalo kalian sakit, nanti aku sedih,," ucap Abighail sambil terus menyiram tanamannya.
Tak terasa waktu sudah berjalan begitu cepat. Abighail melihat ke dalam rumahnya, dia melihat jam yang ada di dinding.
"Astaghfirullah,, aku hampir terlambat,," ucap Abighail kaget melihat jam yang menunjukkan pukul 07.45. "Aku lupa,, sekarangkan ada jadwal pengajian,," lanjut Abighail.
Akhirnya Abighail mengakhiri menyiram tanaman nya dan segera bersiap-siap. Tak butuh waktu lama untuk Abighail bersiap-siap.
Setelah siap, Abighail bergegas untuk ke rumah bu Susi. Karna mereka akan berangkat bersama. Saat Abighail membuka gerbang, Abighail kaget karna bu Susi sudah berada di depan gerbang rumahnya.
"Astagfirullah bu Susi,," kaget Abighail.
"Heheh,, ustadzah,," cengir bu Susi.
"Bu Susi sudah lama menunggu,,?" tanya Abighail yang agak panik.
"Enggak kok,, baru juga nyempe,," jawab bu Susi. "Saya mau jemput ustadzah,," lanjut nya.
"Oo,, maaf ya bu,, saya terlambat,," ucap Abighail.
"Nggak kok ustadzah,," balas bu Susi. "Yaudah ayo kita berangkat,," ajak bu Susi.
"Iya bu,," Abighail duduk di atas motor bu Susi.
Sebenarnya Abighail juga punya motor sendiri yang di belikan oleh ustadz Afnan beberapa bulan lalu. Cuman semenjak Abighail mengandung, ustadz Afnan melarang Abighail untuk mengendarai motornya. Ya,, mau tidak mau Abighail harus menuruti perkataan suaminya.
Abighail dan bu Susi pergi ke pengajian bersama-sama.
Seorang pria dengan baju serba hitam, mulai dari celana panjang hitam, kaos hitam, jaket kupluk hitam yang di kuplukan pada kepala, dan topi hitam serta masker hitam, tampak sedang mengintai kediaman Abighail. Saat dirasa sepi, dengan cepat pria itu melemparkan kresek ke rumah Abighail. Kresek itu jatuh tepat di depan pintu rumah Abighail.
Pukul 11.00 Abighail pulang dari pengajian.
"Terima kasih bu,," ucap Abighail setelah turun dari motor bu Susi.
"Sama-sama ustadzah,," jawab bu Susi. "Kalo gitu saya pamit dulu,, Assalamu'alaikum,," lanjut bu Susi.
"Iya,, Wa'alaikumsalam,," jawab Abighail.
Bu Susi pergi ke rumahnya dan Abighail pergi ke rumahnya juga. Abighail membuka gerbang dan memasuki rumahnya. Saat Abighail hendak membuka pintu, dia terkejut karna mendapati kantong kresek di depan pintunya.
"Apa ini,,?" tanya Abighail berjongkok. "Hem,, tanah, bunga,," gumam Abighail.
Ya, kantong kresek itu berisikan tanah dan bunga yang di campur. Jika dilihat seperti tanah kuburan. Kresek itu sudah sobek karna di lempar, sehingga menyebabkan tanah yang ada di dalamnya keluar terkena lantai. "Kok ada kresek berisi tanah sih di sini,,?" Abighail bertanya pada diri sendiri. "Aku ganti baju dulu ah,, baru urus ini nanti,," gumam Abighail dan memasuki rumahnya untuk menyimpan barang bawaannya serta mengganti bajunya.
Setelah berganti baju, Abighail kembali ke depan pintu untuk membersihkan tanah itu. Abighail tidak berfikir kalau itu tanah kuburan (tapi sebenarnya emang bukan tanah kuburan ya,,).
"Ah kalo aku buang, sayang ni. Gimana kalau buat tanaman aja,," pikir Abighail.
Akhirnya Abighail mencampurkan tanah itu dengan tanah yang ada di pot tanamannya. "Mudah-mudahan makin subur ya,," ucap Abighail. Abighail tak menaruh curiga pada tanah itu, dia juga tidak berfikir siapa yang menaruhnya. Setelah selesai Abighail kembali ke dalam rumahnya.
Bersambung..
Terima kasih sudah mampir,, π
Maaf up nya lama,, βΊ
Terus dukung author ya,, π