USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Tertembak



Happy Reading!๐Ÿ˜Š


"Pak, berapa lama lagi ini?" tanya ustadz Afnan yang ikut dengan mobil polisi.


"15 menit lagi kita sampai pak" jawab salah seorang polisi itu.


"Mohon bersabar ya pak, sebentar lagi kita akan segera sampai" ucap polisi lainnya.


Ustadz Afnan sangat khawatir pada Abighail, dia takut para pencul*k itu akan melukai Abighail. Ustadz Afnan merasa perjalannya kali ini sangatlah lama.


Dilain tempat.


Jesi terkejut dengan pengakuan Lidya.


"Terserah. Kalo gitu kamu akan bernasib sama seperti Abighail" ucap Jesi.


Jesi menod*ngkan pist*l pada Abighail, dia bersiap untuk menarik platuknya. Namun, dengan cepat Lidya menghalagi dan menarik pist*l dari tangan Jesi. Terjadi tarik menarik antara Jesi dengan Lidya.


Tenaga Jesi lebih kuat daripada Lidya, sehingga tubuh Lidya dengan mudah dipentalkan oleh Jesi. Jesi memuk*l kepala Lidya menggunakan pist*lnya. Hingga membuat Lidya semakin merasakan sakit di kepalanya. Penglihatan Lidya muali buram, Lidya berusaha agar matanya tidak tertutup.


Jesi kembali menyer*t Abighail. Dia bertujuan untuk membawa Abighail ke tempat yang lebih aman. Abighail meronta, tapi lagi-lagi tenaga Jesi lebih kuat dibandingkan dengan Abighail. Lidya melihat Abighail ditarik paks* oleh Jesi. Dia berusaha untuk berdiri dan mengejar Jesi.


Lidya berlari agar dapat mencegah Jesi membawa Abighail lebih jauh. Dan akhirnya Lidya bisa merebut Abighail dari Jesi.


"Kamu jangan coba-coba menghalangiku. Atau kamu akan merasakan akibatnya sendiri" ucap Jesi memberi Lidya peringatan keras.


"Coba saja kalau kau bisa" tantang Lidya.


Lidya menyuruh Abighail untuk berada di balik pohon. Dan Abighail pun menuruti perintah Lidya.


Jesi mengarahkan post*l pada Lidya, namun Lidya tidak takut menghadapi pist*l yang di arahkan Jesi. Jesi menarik platuknya, Lidya menghindar dari tembak*n Jesi.


Jesi terperanjat melihat Lidya yang dapat menghindar dari tembak*nnya. Bahkan Lidya sendiri dia sangat tidak menyangka kalau dia baru saja menghindar dari maut. Lidya segera merebut pist*l Jesi saat Jesi sedang lengah, akibat sasarannya dapat dihindarkan. Pist*l terjatuh ke tanah.


Jesi menatap Lidya dengan marah, begitupun dengan Lidya. Terjadi baku hantam antara Lidya dengan Jesi. Kali ini Lidya lebih unggul dari Jesi. Namun Jesi sengaja memuk*l Lidya di bagian kepalanya dan membuat Lidya jatuh. Saat Lidya jatuh Jesi segera mengambil pist*lnya kembali dan menod*ngkannya pada Lidya.


Saat Jesi hendak menarik platuknya, kali ini Abighail mencoba merebut pist*l dari Jesi. Sekarang Jesi dan Abighail yang sedang berebut pist*l. Jesi menghemp*skan Abighail. Abighail terhemp*s ke salah satu pohon. Kepala Abighail berbenturan dengan pohon itu cukup keras, dan menyebabkan kepala Abighail berdar*h.


Jesi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Abighail terjatuh dan Lidya pun juga terjatuh. Jesi akan menghab*si Abighail dulu, baru kemudian dia akan menghab*si Lidya si penghianat itu.


Jesi kembali mengarahkan pist*lnya pada Abighail. Dia yakin, kalau kali ini dia akan berhasil menghab*si Abighail. Namun berkali-kali Lidya menyelamatkan Abighail dengan menghalangi dan berusaha merebut pist*l dari tangan Jesi. Namun kali ini berbeda, tenaga antara Lidya dan Jesi sama-sama kuat. Keduanya memegang pist*l. Dan tiba-tiba..


Dor,, satu tembak*n terlepas dari pist*l itu.


Ustadz Afnan dan yang kalinya baru saja sampai di tempat Abighail berada. Mereka menuju sebuah rumah yang tidak berpenghuni. Setelah mereka mengecek ke seluruh ruangan, tidak ditemukan satu orangpun. Mereka menemukan bekas lilin dan makanan yang masih belum tersentuh.


Ustadz Afnan yakin kalau Abighail tadi berada di situ. Namun dia tidak tahu sekarang Abighail berada di mana.


"Siap dan" jawab anggota polisi secara serentak.


Ustadz Afnan dan keluarganya juga ikut mencari. Baru beberapa laangkah mereka berjalan, tiba-tiba mereka mendengar suara tembak*n dan suara seseorang berteriak.


"Lidya" teriak orang tersebut. Semua orang berhenti seketika.


"Abighail" gumam ustadz Afnan.


"Dan, suaranya dari sebelah selatan" ucap salah satu anggota polisi.


Semua orangpun berjalan menuju sumber suara yang berada di arah selatan. begitu juga dengan ustadz Afnan. Setelah berjalan cukup jauh mereka mendapati seseorang. Ustadz Afnan mengenal siapa saja orang yang ada di sana. Dan salah satunya adalah istrinya yang sedang dia cari.


"Abighail" gumam ustadz Afnan.


Jesi dan Lidya membuka mata mereka. Abighail masih tidak tahu siapa yang tertemb*k, dia mengira kalau Lidya lah yang tertemb*k. Abighail mulai hilang kesadarannya, dan akhirnya diapun tak sadarkan diri.


"Abighail" teriak ustadz Afnan saat melihat Abighail pingsan.


Lidya dan Jesi melepaskan pit*l itu. Banyak dar*h yang mengotori tangan Jesi maupun Lidya serta pist*l itu. Lidya dan Jesi sama-sama melihat ke arah bawah. Tiba-tiba saja Jesi terbaring di tanah tak sadarkan diri. Lidya terkejut dan menutup mulutnya menggunakan tangan yang berlumuran dar*h. Dia melihat perut Jesi berdar*h sangat banyak. Lidya perlahan berjalan mundur, dia tidak tahu apa yang baru saja dia lakukan.


Polisi berjalan mendekati Lidya dan Jesi yang sudah tidak sadarkan diri. Salah satu polisi memeriksa keadaan Jesi, mulai dari nafas dan denyut nadinya.


"Sudah tidak bernafas dan" ucapnya.


Lidya dibawa ke kantor polisi. Sementara Abighail, dia dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya.


"Mai,, bangun mai.." ustadz Afnan menepuk-nepuk pipi Abighail agar dia sadar. Namun usaha ustadz Afnan tidak membuahkan hasil.


Mobil dikendarai oleh kak Firman. Kak Firman menjalankan mobilnya dengan sangat cepat. Sesampainya di rumah sakit, Abighail langsung ditangani oleh dokter.


Diperjalanan ke kantor polisi, Lidya terus menggumamkan sesuatu.


"Aku membun*hnya, aku membun*hnya, aku membun*hnya" Lidya terus bergumam aku membununya.


Bersambung...


Terima kasih sudah mampir๐Ÿ˜Š


Maaf kemarin tidak up๐Ÿ™‚


Jangan lupa tinggalkan jejak๐Ÿ˜†


Terus dukung karya author ya๐Ÿ˜‰


Salam hangat dari author๐Ÿ˜