USTADZ KU IMAM KU

USTADZ KU IMAM KU
Akhirnya Jujur Juga



Happy Reading,,! 😊


"Masasih bib,,? Kok aku gak ngerasa,,?" tanya Abighail yang mulai panik.


"Semenjak kamu pingsan di depan rumah, kamu mulai berubah. Sebenarnya, apa yang kamu temukan di depan rumah sampai kamu pingsan mai,,?" tanya ustadz Afnan.


"Aku,," Abighail ragu untuk menjawab. "Aku,, aku gak nemu apa-apa kok bib,," jawab Abighail sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani untuk menatap mata ustadz Afnan.


"Kalo gak ada apa-apa, sekarang kamu tatap mata aku. Dan katakan kamu gak nemu apa-apa di depan gerbang rumah kita!" tegas ustadz Afnan.


Abighail tak menggubris perkataan ustadz Afnan.


"Mai,,"ustadz Afnan mengguncangkan tubuh Abighail.


Abighail melihat wajah ustadz Afnan sambil menahan tangisnya. Namun, dia masih tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Abighail kembali menundukkan kepalanya.


"Hem,," ustadz Afnan mengusap wajahnya gusar. "Mai,," panggil ustadz Afnan lembut.


Abighail tak menjawab panggilan ustadz Afnan.


"Mai,, dari awal pernikahan kan kita udah janji gak akan ada rahasia diantara kita. Kalo salah satu terkena masalah, itu bukan masalah kamu atau aku. Tapi, itu masalah kita mai,, jadi cerita ya, apa yang sebenarnya terjadi,," bujuk ustadz Afnan dengan lemah lembut sambil mengelus-elus kepala Abighail.


Tanpa aba-aba, Abighail langsung memeluk tubuh ustadz Afnan dengan erat. Ustadz Afnan kaget dengan sikap Abighail. Terdengar isakan tangis Abighail.


"Mai,, kamu nangis,,? Kenapa,,?" tanya ustadz Afnan mencoba melepaskan pelukan istrinya, guna melihat wajah Abighail.


Namun Abighai tak mau melepaskan pelukannya, dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Mai,, maaf. Aku gak maksud untuk kasar sama kamu,," ucap ustadz Afnan. Dia khawatir kalau ucapannya terlalu kasar.


Abighail menggelengkan kepalanya.


Untuk beberapa saat Abighail menangis dipelukan ustadz Afnan. Ustadz Afnan hanya bisa membiarkan Abighail. Tak lama Abighail pun melepaskan pelukannya.


"Hiks,, hiks,," Abighail mencoba mengatur nafasnya.


Ustadz Afnan menggenggam tangan Abighail dengan erat. "Maaf mai,, aku gak maksud kasar,," ucapnya.


"Enggak bib,, seharusnya aku yang minta maaf,," ucap Abighail dengan tersengal sengal. "Aku udah gelanggar perintah kamu,," lanjutnya.


Ustadz Afnan mengerutkan keningnya.


"Kamu pernah bilang, kalau menemukan sesuatu yang mencurigakan harus dibuang. Tapi waktu itu aku malah membukanya,," ucap Abighail menahan tangisnya.


"Maksudnya,,? Coba kamu ceritakan dengan tenang ya,," pinta ustadz Afnan.


Ustadz Afnan menganggukkan kepalanya mendengar cerita dari Abighail. Namun dia penasaran isi dari kotak yang Abighail temukan. "Apa yang ada dalam kotak itu,,?" tanya ustadz Afnan penasaran.


"Itu,, i-itu,," Abighail gelagapan.


"Apa mai,,?" tanya ustadz Afnan semakin penasaran.


"Itu,, k*p*l* kucing bib,," jawab Abighail yang menangis lagi.


"Ke*p*l* kucing,,?" ustadz Afnan mengerutkan keningnya.


"Iya,, kotak itu berisi k*p*l* kucing yang masih berlumuran darah,," jawab Abighail.


"Maksud kamu, hanya k*p*l*nya saja,,?" tanya ustadz Afnan merasa tidak percaya, atas apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


"Iya bib,, k*p*l*nya saja, tidak ada badannya,," jawab Abighail sambil terus menangis. "Dan lagi, mata kucingnya terbuka dan melihat ke arah ku,, di sekitar k*p*l*nya masih ada darah yang berlumuran,, aku takut bib,," tangis Abighail semakin menjadi-jadi.


"Sut,, sudah, sudah,, jangan menangis lagi,," ustadz Afnan membawa Abighail kedalam pelukannya, dan membiarkan Abighail menangis dalam pelukannya.


Ustadz Afnan mengelus-elus punggung Abighail.


"Aku takut kamu marah bib,, aku takut,, aku gak berani cerita sama kamu,," ucap Abighail di sela-sela tangisannya.


"Sut,, udah-udah,, iya aku ngerti,,"ucap ustadz Afnan sambil terus mengelus punggu Abighail.


Selang beberapa waktu, ustadz Afnan tak mendengar tangisan Abighail lagi. Dia melepaskan pelukannya. Dilihatnya wajah istrinya itu yang tampak memejamkan matanya. Ustadz Afnan membelai wajah Abighail, namun tak ada reaksi. Ternyata Abighail tertidur dengan keadaan menangis dan dalam pelukan ustadz Afnan.


Ustadz Afnan menggendong tubuh Abighail menuju ke kamar mereka. Lalu ustadz Afnan menidurkan Abigahil dengan posisi benar, kemudian ia menyelimuti tubuh Abighail.


Ustadz Afnan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, kemudian dia melakukan shalat.


Setelah selesai shalat, ustadz Afnan membaringkan tubuhnya di samping Abighail. Ditatapnya wajah cantik istrinya itu. ustadz Afnan membelai wajah Abighail. "Maaf mai,, karna aku kamu jadi tertidur dengan keadaan menangis,," gumamnya. "Ya Allah, ujian apa yang sedang menimpa keluargaku,,? Aku berserah hanya padamu Ya Allah,," lanjut ustadz Afnan.


Ustadz Afnan membawa Abighail dalam dekapannya, dan dia ikut tertidur bersama istrinya.


Bersambung..


Terima kasih sudah mampir 😊


Terus dukung author ya ☺


Jangan lupa tekan like dan vote ya πŸ˜†