
Happy Reading!😊
Lidya kembali ke apartemen. Saat Lidya kembali, tampak Jesi yang sudah segar.
"Dari mana aja kamu?" tanya Jesi.
"Habis dari tempat karaoke" jawab Lidya sambil meletakan makanan yang dibawanya. "Kamu gak liat apa? Aku habis beli makanan" lanjut Jesi.
"Kenapa lama banget? Udah hampir 1 jam lho, kamu beli makanan" tanya Jesi ketus.
"Heh, denger. Kamu nunjukin arah yang salah sama aku. Jadi aku harus putar balik lagi" jawab Lidya berbohong.
"Kenapa gak bawa mobil aja sih?" tanya Jesi lagi.
"Aku gak mau bawa mobil kamu. Yang ada, nanti aku tambah susah. Udah tuan rumahnya nyusahin, eh mobilnya juga nyusahin. Kalian sama-sama nyusahain" jawab Lidya.
"Hem.." Jesi mendengus kesal atas ucapan Lidya.
"Ya udah, ayo kita makan aja" ajak Lidya.
Jesi pun menuruti ajakan Lidya.
Setelah makan, Jesi dan Lidya bersiap untuk ke tempat Abighail disek*p. Lidya duluan masuk ke dalam mobil.
Pak, 5 menit lagi taburin paku yang saya beri. Pesan Lidya pada pak Rijal.
Tak lama pak Rijal pun membalas.
Siap neng balas pak Rijal.
Jesi pun masuk ke dalam mobil, Lidya segera menyimpan ponselnya.
"Kenapa kamu?" tanya Jesi curiga pada Lidya.
"Eng,, enggak kenapa-napa kok" jawab Lidya.
"Kenapa kamu langsung simpen ponsel kamu?" tanya Jesi lagi.
"Ih,, kepo, itu privasi aku. Kamu gak berhak buat tau" jawab Lidya.
"Terserah" ucap Jesi.
"Emang terserah" gumam Lidya.
Mereka berduapun terdiam.
"Eh, apa kita beli makanan dulu buat Abighail?" tanya Lidya.
"Buat apa ngasih makanan sama orang yang udah gak ada" jawab Jesi sambil tersenyum licik.
"Gak ada?" gumam Lidya. "Oo.." Lidya juga tersenyum licik sama seperti Jesi.
Tiba-tiba mobil Jesi berhenti tepat di depan bengkel milik pak Rijal.
"Eh,, kenapa nih?" gumam Jesi.
Jesi merasa ada yang tidak beres pada mobilnya. Jesi pun keluar untuk mengecek mobilnya.
"Yah,, kok bannya kempes sih?" gumam Jesi.
"Kenapa Jes?" Lidya pura-pura tidak tahu.
"Ini, bannya kempes" jawab Jesi.
"Hah? Kempes?" tanya Lidya keluar dari mobil. "Hah,, kenapa harus kempes segala sih?" tanya Lidya.
"Aku juga gak tau" jawab Jesi.
Jesi mengamati ban mobilnya yang kempes.
"Eh, apa nih?" Jesi melihat sesuatu yang menancap pada ban mobilnya. "Ini paku" ujarnya.
"Paku? Masa sih?" tanya Lidya. "Wah,, ini bener paku" lanjut Lidya.
Jesi mengusap wajahnya gusar.
"Mending kamu ke bengkelin aja dulu. Nah kebetulan ini ada bengkel" usul Lidya.
"Kenapa neng?" tanya pak Rijal menghampiri.
"Ini pak, mobil temen saya bannya kempes karna paku" jawab Lidya.
"Wah ini mah dalem neng" ucap pak Rijal setelah melihat kondisi ban mobil itu.
"Ha,, pasti bapak nih, yang naburin paku" tuduh Jesi.
"Astaghfirullah neng, saya memulai usaha ini dengan jujur neng" sangkal pak Rijal.
"Alah gak usah bohong deh pak. Jelas-jelas ban mobil saya kempes, dan berhenti tepat di depan bengkel bapak" ucap Jesi.
"Jes, kamu gak boleh asal tuduh aja" ucap Lidya.
"Iya neng, lagian mungkin itu kerjaan bengkel lain neng. Karna di sebelah sana juga ada bengkel. Atau bisa aja itu kerjaan orang iseng" ucap pak Rijal membela dirinya lagi.
"Huh,, ya udah cepetan benerin nih" titah Jesi.
Pak Rijal memeriksa seberapa dalam ban mobil milik Jesi.
"Kira-kira berapa lama pak?" tanya Jesi.
"Sekitar 1 jam neng" jawab pak Rijal.
Lidya mengoke 2 jari pada pak Rijal. Dia mengisyaratkan untuk menyebutkan 2 jam. Pak Rijal pun paham, akan kode yang diisyaratkan oleh Lidya.
"Eh,, tapi dilihat dari dalemnya ban yang kena paku, kayaknya 2 jam deh neng. Soalnya ini tembus ke ban delem" ralat pak Rijal.
"Huh.." Jesi mendengus kesal.
Jesi mengerutkan keningnya.
"Aku takut dia akan kabur" ucap Lidya.
"Lid, orang yang gak bernyawa, gak mungkin bisa ke mana-mana" ucap Jesi.
"Ya,, kalaupun dia udah gak bernyawa, aku bakalan jagain jasadnya" Lidya berusaha menyakinkan Jesi.
"Ya,, ayo kalo gitu" setuju Jesi.
"Kamu gak usah ikut, aku aja yang ke sana. Kamu tungguin mobil kamu aja" cegah Lidya.
"Gak ah, kamu aja yang tungguin mobilnya" tolak Jesi.
"Aku gak mau ah, nanti mobilnya ngadat sama aku. Kemarin aja ngadat" tolak Lidya.
"Ya udah ayo kita sama-sama aja" ucap Jesi.
"Jes, kalo kita sama-sama ke sana pake taxi. Nanti kita mau bawa tubuhnya pake apa? Mau pake gerobak?" tanya Lidya.
"Iya juga ya" gumam Jesi.
"Udah aku aja yang ke sana, kamu di sini aja nungguin mobil kamu" ucap Lidya.
"Iya,, iya,, sana cepet" setuju Jesi.
Lidya tersenyum, diapun menghentikan taxi yang ada di jalan. Lidya memberikan tanda terima kasih pada pak Rijal dengan menganggukkan kepalanya. Pak Rijal pun membalasnya dengan anggukkan juga.
"Selangkah lagi, rencanaku akan berhasil" gumam Lidya.
Lidya sampai pada di tempat Abighail berada membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Setelah sampai di tempat tujuannya, Lidya segera membuka pintu yang terkunci.
"Abighail" panggil Lidya.
Abighail yang sedang memeluk lututnya mengangkat kepalanya, karna mendengar suara yang memanggil namanya.
"Lidya" gumam Abighail.
Lidya segera menghampiri Abighail. "Kamu gak makan makanan itukan?" tanya Lidya.
"Enggak" jawab Abighail.
"Huh,, syukurlah" ucap Lidya senang.
"Lidya, kenapa kamu melakukan ini? Awalnya kamu membantu Jesi untuk mencul*kku. Tapi kamu memperinggatkanku makanan yang diberikan oleh Jesi" tanya Abighail.
"Sut,, sekarang gak ada waktu buat ngejawab itu. Kamu cepet kabur dari sini, sebelum Jesi datang ke sini" Lidya menyuruh Abighail agar pergi.
"Gak mau, kamu jawab dulu pertanyaan aku" tolak Abighail.
"Ghail, mengertilah. Aku sudah berusaha untuk membuat Jesi terlambat. Sekarang kamu pergi, pergi sejauh mungkin. Aku gak mau kamu sama calon anak kamu kenapa-napa" Lidya memberi penjelasan pada Abighail.
"Tapi Lid, bagaimana dengan kamu?" tanya Abighail yang enggan untuk pergi.
"Aku akan menahan Jesi di sini" jawab Lidya.
Abighail menatap Lidya.
"Udah pergi sana, pergi Ghail.." titah Lidya sambil menggerakan tangannya seperti mengusir.
Abighail menuruti titahan Lidya. Abighail berlari secepat mungkin.
Lidya sudah tak melihat Abighail. Dia masuk ke dalam. Entah kenapa perasannya tidak tenang. Dia takut kalau-kalau Jesi tiba di sini. Jika Jesi tahu Abighail melarikan diri dibantu oleh Lidya, maka itu akan memahayakan. Lidya berpikir bagaimana agar Jesi tidak curiga. Lidya melihat pecahan kaca dari figura. Dia segera mengambilnya.
"Mungkin cara ini bisa membuat Jesi tidak curiga. Ya, hanya ini satu-satunya cara" gumam Lidya.
"Ah,," jerit Lidya saat peracahan kaca menggor*s tangannya.
Ya,, Lidya menggor*s tangannya sendiri. Hal itu dilakukan agar Jesi berpikir kalau Abighail kabur setelah mencelak*i Lidya. Dan di situ Lidya akan pura-pura pingsan. Dengan begitu Jesi akan membantu Lidya terlebih dahulu, setelah itu dia akan mengejar Abighail. Jadi Abighail mempunyai waktu yanh cukup banyak untuk pergi jauh dari sini.
"Apakah ini cukup?" gumam Lidya.
Lidya berpikir sejenak.
"Aku rasa ini belum cukup. Bagaimana mungkin luka goresan di tangan bisa membuat seseorang pingsan" gumam Lidya.
Akhirnya Lidya memutuskan untuk membenturk*an kepalanya sendiri pada dinding.
Dug,, dug,,terdengar 2 suara benturan cukup keras. Kini kening Lidya berdarah dan berwarna biru keunguan. Lidya menggelengkan kepalanya menahan pusing.
Saat Lidya sedang menahan pusing, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti. Lidya dengan sempoyongan berjalan mengintip dari pintu siapa yang datang. Mata Lidya terbuka lebar, saat mengetahui siapa yang turun dari mobil.
"Jesi" gumam Lidya.
Yap, orang yang datang adalah Jesi. Lidya benar tentang perasannya, kalau Jesi akan segera datang. Lidya mengambil posisi dan diapun berpura-pura pingsan.
"Lid, Lidya.." panggil Jesi.
Jesi memasuki rumah itu.
"Lidya" teriak Jesi.
Jesi terkejut mendapati Lidya yang terbaring pingsan dengan kepala yang memar dan tangan yang berdar*h.
Bersambung..
Terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😄
Terus dukung karya author ya😆
Selamat Hari Raya Idul Adha semuanya😇
Salam hangat dari author😁