
Happy Reading!😊
Setelah tidur cukup lama, Abighail bangun. Tampak sudah ada umi dan bu'Ainun datang menjenguk Abighail.
"Sayang bagaimana keadaanmu?" tanya bu 'Ainun.
"Alhamdulillah bu, sekarang sudah lebih baik" jawab Abighail.
"Apa ada yang sakit nak?" tanya umi.
"Tidak umi. Abighail hanya merasa lemas saja" jawab Abighail.
"Sekarang kamu makan ya" ucap bu 'Ainun.
Abighail menganggukkan kepalanya.
Abighail mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Bu 'Ainun hendak menyuapi Abighail. Namun tiba-tiba Abighail mengidamkan sesuatu.
"Kenapa sayang?" tanya bu 'Ainun yang heran melihat Abighail tidak menerima suapan bubur darinya.
"Em,, gak papa bu" jawab Abighail ragu.
"Kenapa kamu gak makan buburnya?" tanya bu 'Ainun.
"Em,, itu anu.." Abighail ragu untuk menjawab. Abighail malu untuk mengutarakan keinginannya.
Umi menyadari keinginan Abighail. Umi pun membisikan sesuatu ketelinga bu 'Ainun. Setelah mendapatkan bisikan dari umi, bu 'Ainun pun paham. Dia tersenyum pada Abighail.
"Umi, apakah ayah dan abi sudah membeli buah-buahan?" tanya bu 'Ainun.
"Belum bu" jawab umi.
"Kita beli buah-buahan yuk umi" ajak bu 'Ainun.
"Mari bu. Tapi bagaimana dengan Abighail?" tanya umi.
"Nak Afnan akan menyuapinya" jawab bu 'Ainun.
"Abighail, umi dan ibumu akan membeli buah-buahan dulu. Kamu makan disuapi suamimu saja ya" ucap umi.
"Iya umi" jawab Abighail.
"Assalamu'alaikum" pamit umi dan bu 'Ainun.
"Wa'alaikumsalam" balas Abighail.
Bu 'Ainun dan umi meninggalkan ruangan Abighail. Abighail tersenyum, rupanya ibu dan uminya mengerti keinginan Abighail. Apa kalian tahu Abighail mengidamkan apa? Ya,, Abighail mengidamkan disuapi oleh ustadz Afnan.
"Lho,, umi, ibu kalian mau ke mana?" tanya pak Adam yang melihat bu 'Ainun dan umi keluar.
"Kami mau membeli buah-buahan" jawab bu 'Ainun.
"Apa Abighail sudah bangun?" tanya abi.
"Sudah bi" jawab umi.
"Bagaimana keadaannya?" tanya pak Adam.
"Alhamdulillah,, sekarang dia sudah lebih baik" jawab bu 'Ainun.
"Alhamdulillah.." ucap pak Adam, abi dan ustadz Afnan.
"Nan, kamu temani Abighail gih. Dan iya, suapi dia juga" ucap umi.
"Baik umi" balas ustadz Afnan.
Ustadz Afnan masuk ke ruangan Abighail.
"Ayah juga mau melihat Abighail" ujar pak Adam hendak masuk ke ruangan Abighail.
"Eh,, ayah jangan" cegah bu 'Ainun.
"Kenapa?" tanya pak Adam.
"Em,, lebih baik ayah dan abi mengurus administrasinya" jawab bu 'Ainun.
"Nanti saja, saat Abighail sudah mau pulang" tolak pak Adam.
"Kalo gitu lebih baik abi dan pak Adam segera ke mesjid" ucap umi. "Sebentar lagi sudah mau Dzuhur" lanjut umi.
Pak Adam dan abi melihat jam ditangannya.
"Masih lama umi, ada 1 jam lagi" ucap abi.
"Gak papa abi. Abi kan selalu bilang datang ke mesjid sebelum waktu shalat itu sangat baik" ucap umi.
"Lalu nak Afnan gimana?" tanya pak Adam.
"Biarkan saja. Afnan kan sedang menjaga Abighail dulu. Nanti setelah kami kembali, Afnan akan menyusul" jawab umi.
Pak Adam dan abi pergi ke mesjid. Sementara bu 'Ainun dan umi mereka pergi membeli buah-buahan untuk Abighail.
Ustadz Afnan melihat Abighail sedang duduk di ranjang rumah sakit. Di sebelahnya terdapat bubur yang masih penuh.
"Assalamu'alaikum" ucap ustadz Afnan menghampiri Abighail.
"Wa'alaikumsalam" jawab Abighail. Abighail menyalami tangan ustadz Afnan.
Ustadz Afnan menatap Abighail dengan hangat. Abighail hanya menundukkan kepalanya saat ditatap oleh ustadz Afnan.
"Mai,, sekarang apa yang kamu rasakan? Apakah pusing? Mual? Atau apa?" tanya ustadz Afnan.
Sebenarnya ustadz Afnan takut kalau Abighail masih marah padanya.
"Enggak kok, cuma lemas aja bib" jawab Abighail.
Ustadz Afnan tersenyum, berarti Abighail sudah tidak marah lagi, karna bicaranya sudah seperti sedia kala.
"Makan dulu yuk, aku suapin" ucap ustadz Afnan.
Abighail mengaggukkan kepalanya pertanda setuju. Memang itu yang diinginkan oleh Abighail.
Ustadz Afnan heran pada Abighail yang terus menundukkan kepalanya. Akhirnya ustadz Afnan menundukkan kepalanya seperti orang mengintip. Ustadz Afnan melihat wajah istrinnya itu. Abighail yang sadar akan tingkah suaminya itu, mengangkat kepalanya.
"Kenapa?" tanya Abighail.
"Nggak kok" jawab ustadz Afnan.
Dalam hati, Abighail merasa tidak enak. Karna tadi sudah marah pada ustadz Afnan. Ustadz Afnan bersiap untuk memasukan bubur pada mulut Abighail. Namun Abighail tak kunjung membuka mulutnya. Abighail malah kembali menundukkan kepalanya.
"Mai, ayo buka mulutnya" pinta ustadz Afnan.
"Bib.." ucap ustadz Afnan.
"Hm? Kenapa sayang?" tanya ustadz Afnan.
"Maaf,, hiks,, hiks.." ucap Abighail sambil terdengar tangisan kecil.
Ustadz Afnan menyimpan bubur itu. Dia menangkup wajah Abighail.
"Mai,, kamu nangis?" tanya ustadz Afnan.
"Maaf bib.." ucap Abighail sambil terus menangis.
"Maaf untuk apa sayang? Kamu gak berbuat salah, kok malah minta maaf" tanya ustadz Afnan sedikit bingung. Ustadz Afnan mengahapus air mata yang membasahi pipi Abighail.
"Tadi aku marah padamu. Aku sudah berpikir buruk tentang kamu bib.." jawab Abighail yang tidak berhentj menangis.
"Udah jangan dipikirkan. Aku ngerti kok" ucap ustadz Afnan.
Tangisan Abighail belum berhenti. Akhirnya ustadz Afnan menutuskan untuk memeluk Abighail, guna memberikan ketenangan padanya. Setelah cukup lama, ustadz Afnan melepaskan pelukannya.
"Udah, jangan nangis lagi ya. sekarang lanjutin makannya" ucap ustadz Afnan
"Aku mau bertemu dengan Lidya bib. Dia gak boleh dipenjara. Dia itu udah nolongin aku" pinta Abighail.
"Iya, nanti kita bertemu Lidya. Sekarang, kamu makan dulu ya" setuju ustadz Afnan.
Abighail menuruti perkataan ustadz Afnan. Sedikit demi sedikit bubur yang dimakan oleh Abighail sudah habis.
"Bib, ayo kita bertemu Lidya" pinta Abighail lagi.
"Nanti ya mai, ba'da Dzuhur" ucap ustadz Afnan.
"Maunya sekarang" rengek Abighail.
"Nanti mai,, sebentar lagi waktu Dzuhur" bujuk ustadz Afnan.
"Hem,, iya deh" pasrah Abighail.
Bersambung..
Hallo Reader🤗
Dalam bab ini author bingung harus beri judul apa😅
Kalian usulin ya, judul yang bagus untuk bab ini☺
Terima kasih sudah mampir😊
Jangan lupa tinggalkan jejak😆
Terus dukung karya author ya😉
Salam hangat dari author😁