TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband S2-41



Fang Yi tersenyum cerah saat menjawab kata-kata Zhang Jie Luo. Matanya berbinar bahagia. Ia menatap tiada henti mata coklat Zhang Jie Luo. Ia terkesima pada wajah tampan Zhang Jie Luo beserta dengan keramahan sikapnya. Fang Yi benar-benar jatuh cinta dengan laki-laki ini. Fang Yi benar-benar mengagumi laki-laki ini. Fang Yi ingin laki-laki ini. Fang Yi tidak berdaya jika ia tak melihatnya satu hari saja.


Two Husband S2 Eps 41


Perusahaan Standford Group


Bara menghembuskan nafas lelah. Pikirannya jauh menerawang. Teringat kembali ketika Lee datang ke kantornya dengan membawa file tentang Zhang Jie Luo. Lee mengetuk pintu ruangannya.


"Tok...tok...tok..."


Bara : "Masuk!"


Lee kemudian masuk ke dalam ruangan itu.


Lee : "Tuan?"


Bara : "Bagaimana? Apa, kau sudah mendapatkan apa yg kuminta?"


Lee : "Sudah, tuan? Ini filenya."


Bara : "Bacakan!"


Lee : "Baik, tuan?"


Lee kemudian membacakan file tentang Zhang Jie Luo.


Lee : "Nama, Zhang Jie Luo..."


Bara : "Jangan katakan yg tidak perlu. Intinya saja."


Lee : "Baiklah, tuan? Tuan Zhang merupakan seorang pemilik kasino no. 1 di negara Macau. Ia merupakan seorang yg handal di bidang itu. Selain itu, ia juga memiliki hubungan dengan para pembunuh bayaran terkenal di China. Bisa dibilang usahanya lancar berkat dukungan dari banyak pihak seperti mereka. Di belakangnya ada seseorang yg selalu memantau pergerakannya dia adalah Tian Cheng."


Bara : "Tian Cheng? Siapa, dia? Apa, kau sudah menyelidikinya."


Lee : "Belum, tuan?"


Bara : "Selidiki, tentang Tian Cheng. Dan, tentang Zhang Jie Luo itu. Apa, informasinya hanya segitu?"


Lee berkeringat dingin.


Lee : "Tuan sebenarnya ada satu masalah disaat saya sedang menyelidiki lelaki itu."


Bara : "Apa, masalahnya. Katakan!"


Lee : "Informasi tentang lelaki ini separuhnya bersifat rahasia, tuan. Sangat sulit mendapatkannya."


Bara : "Baiklah, aku hargai usahamu. Sisanya serahkan padaku. Pergilah!"


Lee : "Baik, tuan."


Lee segera pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Bara disana dengan segudang pertanyaan di kepalanya.


"Zhang Jie Luo. Tampaknya kau bukanlah orang yg biasa saja. Terbukti, kau ini benar-benar luar biasa. Bahkan, untuk menyelidiki tentang dirimu pun. Aku sampai harus melakukan hal yg gila demi mendapatkan informasi tentangmu. Dan, menjauhkanmu dari Mitha, istriku. Kau benar-benar keparat sialan!"


Bara menarik nafas dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Bara : "Sial! Dasar, laki-laki sialan. Gara-gara dia, aku harus berurusan dengan orang gila itu lagi. Paul Markhensen. Dia pusat informasi yg kubutuhkan. Namun, informasi darinya sangatlah mahal. Tidak masalah bagiku. Demi, Mitha. Aku akan lakukan apa pun untuknya. Bahkan, harus membunuh orang sekali pun. Siapa yg takut."


Bara bicara sendiri pada dirinya. Ia akhirnya harus meminta bantuan dari Paul Markhensen. Yang merupakan seseorang yg bergerak di bidang pembelian informasi. Informasi yg dimiliki oleh Paul sangatlah mahal karena ia pun mendapatkan informasi tersebut dengan cara illegal.


Paul sendiri dahulunya merupakan partner kerja dari Bara. Dulu mereka sering sekali terlihat terlibat bersama dalam perjanjian kerjasama dengan banyak pihak. Namun, beberapa tahun kemudian hubungan antara dua partner kerja itu menjadi renggang. Tidak tahu apa sebabnya. Tapi, sejak saat itu baik Bara maupun Paul jadi berjalan masing-masing.


Dan, sekarang Bara membutuhkan bantuan dari Paul. Untuk, memecahkan separuh informasi Zhang Jie Luo yg tersimpan secara rahasia dan bersifat pribadi. Ia mengambil ponselnya dan melakukan percakapan via internasional dengan Paul. Seseorang yg pernah menjadi partner usahanya dulu.


💕💕💕💕💕


***Sementara itu di sisi lain*...


Inggris**


Paul sedang berada di atas ranjangnya. Ia sedang terlelap dalam mimpi indahnya. Tiba-tiba, suara dering ponselnya yg berisik membangunkan dirinya.


Paul : "Uuughh....berisik!"


Ia mengumpat karena tidurnya terganggu. Ia membuka mata dengan sedikit terpejam. Ia meraba-raba di mana ia meletakkan ponselnya.


Paul : "Dasar, keparat sialan. Dimana aku meletakkan ponsel sialan itu."


Paul lagi-lagi mengumpat. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju meja dimana ia biasa menaruh ponselnya. Ia mengambil ponselnya yg sedari tadi berisiknya bukan main. Ia melihat pada layar ponselnya siapa orang yg sudah berani mengganggu waktu tidurnya. Ketika, ia melihatnya siapa yg meneleponnya. Matanya langsung membuka lebar. Ia mengeryitkan dahinya.


"Bara? Nagapain, bocah itu meneleponku. Sudah lama sejak kejadian waktu itu. Sekarang, mau apa dia meneleponku?"


Panggilan Via Internasional...


Paul : "Halo."


Bara : "Halo, Paul. Bagaimana kabarmu. Sudah lama kita tidak saling menyapa."


Paul : "Aku baik-baik saja. Lalu, kau?"


Bara : "Aku juga baik."


Paul : "Tumben kau meneleponku. Ada apa. Katakan cepat."


Bara : "Paul, jangan terburu-buru. Aku masih ingin berbicara panjang denganmu."


Paul : "Bara. Kau seorang pengusaha sukses. Kau tidak perlu berbicara panjang atau pun dengan hangat padaku. Aku ini hanya orang biasa. Tidak sepadan denganmu yg kekayaannya melambung tinggi bagaikan bintang-bintang berserakan di langit."


Bara : "Paul, aku minta maaf soal waktu itu. Saat itu aku emosi dan langsung membatalkan perjanjian kerjasama kita. Dengarkan, kau partner kerja terbaikku."


Bara : "Um? Aku butuh bantuanmu."


Paul : "Bantuan apa?"


Bara : "Informasi tentang seseorang."


Paul : "Siapa?"


Bara : "Zhang Jie Luo."


Paul : "Zhang Jie Luo?"


Bara : "Ya, kenapa?"


Paul : "Dia adalah orang yg mengguncangkan negara Macau. Seorang pemilik kasino no. 1 dan terbesar di Macau. Katakan padaku, apa kau berselisih dengannya."


Bara : "Bukan aku, tapi istriku. Dia mengganggu istriku."


Paul : "Istri? Hei, sejak kapan kau memiliki istri."


Bara : "Sejak setahun lebih yg lalu."


Paul : "Ck....., dasar bodoh. Jika begitu, kenapa tidak kau bunuh saja dia? Kau kuat. Kau juga memiiki segalanya. Bukankah sangat mudah bagimu melenyapkannya?"


Bara : "Tidak semudah itu, Paul. Dia memiliki hubungan atau koneksi jaringan dengan para pembunuh bayaran di Beijing."


Paul : "Bukankah, kau juga memiliki koneksi dengan mereka juga?"


Bara : "Itu sudah lama berlalu. Waktu itu aku menggunakan mereka untuk membunuh orang yg sudah membunuh kedua orang tuaku. Saat semua itu selesai dan dendamku terlaksana. Maka, sejak saat itu hubunganku pun putus dengan mereka semua."


Paul : "Oh, jadi begitu. Ya sudahlah, aku akan cari informasi tentang Zhang Jie Luo."


Bara : "Berapa lama prosesnya."


Paul : "Aku butuh waktu 2 minggu."


Bara : "Terlalu lama. Seminggu. Aku beri kau waktu seminggu. Dan, untuk itu aku akan membayarmu dengan mahal."


Paul : "Baiklah, kalau begitu aku mau pulau yg waktu itu kau menangkan di pelelangan."


Bara : "Oke, deal!"


"Tut"


Bara mengakhiri percakapan. Paul tersenyum lebar. Sudah terbayang pulau pribadi milik Bara yg waktu itu dimenangkan oleh Bara di pelelangan. Sekarang, Paul pun mulai disibukkan karena permintaan Bara yg ingin tahu tentang rahasia Zhang Jie Luo yg membuatnya penasaran.


Steven : "Woyy...Bara. Jangan termenung begitu. Kesambet ya?"


Tiba-tiba, suara Steven menyadarkan Bara dari lamunannya.


Bara : "Oh, rambut kuning. Tidak. Aku hanya berpikir tentang Paul tadi."


Sean : "Paul? Orang yg dulu pernah menjadi partner bisnismu itu?"


Bara : "Iya, aku sudah menyerahkan hal tentang Zhang Jie Luo padanya."


Sean : "Maksudmu?"


Bara : "Paul adalah pusat informasi. Dahulu aku menggunakan jasanya untuk menemukan orang yg telah membunuh kedua orang tuaku."


Sean : "Oh, masalah yg waktu itu ya. Bukankah, kau sudah membayar seseorang untuk membunuh orang tersebut?"


Bara : "Ya, dan orang itu sudah mati."


Sean : "Baguslah. Jika, sudah mati. Kalau tidak, biar aku yg menyelesaikannya."


Bara : "Tidak perlu. Masalahnya sudah selesai."


Steven : "Bara, tentang Zhang Jie Luo ini. Sepertinya dia merupakan orang yg tidak mudah dihadapi ya?"


Bara : "Ya, rambut kuning. Kau benar. Dia merupakan orang no. 1 di Macau dalam bisnis kasino."


Sean : "Kasino? Perjudian?"


Bara : "Ya"


Sean : "Tidak heran dia berani mendekati kak Mitha. Mungkin dia punya banyak koneksi dengan orang-orang penting."


Bara : "Ya, dia punya koneksi dengan jaringan para pembunuh bayaran di Beijing."


Steven : "Wow, Bara. Kau harus hati-hati berhadapan dengannya. Taruh orang-orang yg lihai bertarung di sisimu."


Bara : "Tidak perlu khawatir. Aku tahu itu."


Steven : "Baiklah, tampaknya hari sudah siang. Kalau begitu aku kembali duluan. Bye...!"


Bara : "Bye kuning."


Sean : "Aku juga. Lova mungkin sudah menungguku. Aku pulang. Hei, Stevie. Tunggu!"


Bara : "Okey, hati-hatilah kalian."


Steven dan Sean segera kembali ke rumah masing-masing. Tinggallah Bara disana. Sendirian dan diam termangu memikirkan Mitha, istrinya. Dan, juga masalah tentang Zhang Jie Luo yg ingin merusak rumah tangganya dengan Mitha.


Bersambung....


TWO HUSBAND Season 2