
Bara tak berkata lagi. Ia mengecup kening Mitha dan memeluknya tubuhnya erat. Ia tidak ingin melepaskn Mitha. Selamanya, ia ingin bersama Mitha.
TWO HUSBAND S2 Eps 27
Bara dan Mitha duduk di ruang makan keluarga. Mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama. Tak lama, si kakek nyentrik bin jadul datang dan langsung marah-marah sama Bara cucu kesayangannya. Karena, kemarin ponsel Bara tidak bisa dihubungi. Jimmy melipat di dada.
Jimmy : "Huh!"
Jimmy memalingkan muka sembari mengambil tempat duduk disana. Bibirnya tampak mengerucut. Bara dan Mitha saling pandang melihatnya. Bara memberi kode pada Mitha agar menyapa kakeknya.
Mitha : "Kakek? Selamat pagi."
Jimmy menjawab sekenanya.
Jimmy : "Pagi."
Mitha : "Kakek, apa kakek kurang tidur?"
Jimmy diam saja. Bara menarik nafas.
Bara : "Kakek? Ada apa denganmu. Kenapa, kakek kelihatan seperti orang marah."
Jimmy : "Ini semua gara-gara kamu tahu!"
Bara : "Gara-gara aku? Memangnya aku kenapa."
Jimmy : "Kenapa kemarin ponselmu mati dan tak bisa dihubungi. Hah!"
Mitha memandang Bara. Ingin tahu penjelasan Bara.
Bara : "Oh, itu? Kemarin, ponselku habis baterai kakek? Jadi, tidak bisa dihubungi."
Jimmy : "Bohong!"
Bara : "Kakek, aku tidak bohong."
Jimmy : "Huh, kau pembohong besar. Dasar, boneka semprull!"
Bara : "Kakek, please. Jangan, marah padaku. Aku minta maaf sama kakek."
Jimmy : "Minta maaf...minta maaf...minta maaf sama kelinci kecilku sana! Huh."
Bara : "Kelinci kecil?"
Jimmy : "Kemarin, aku melihatnya menangis. Ku tebak itu pasti ulahmu."
Bara menarik nafas lelah. Ia tak bisa mengelak kata-kata Jimmy.
Bara : "Iya, kakek. Itu ulahku."
Jimmy : "Tuh kan? Dasar, kau boneka semprull. Menyebalkan."
Bara : "Kakek? Janganlah, kau marah padaku lagi. Aku sudah meminta maaf pada Mitha. Iya kan, sayang?"
Mitha : "Iya, kakek. Bara sudah meminta maaf padaku. Kami sudah berbaikan."
Jimmy : "Benarkah, kelinci kecil? Dia sudah minta maaf?"
Mitha tersenyum.
Mitha : "Benar, kakek? Sekarang, kakek jangan marah lagi ya?"
Jimmy : "Baiklah, jika kau sudah berkata begitu. Hei, boneka semprull aku maafkan kamu. Tapi, ingat awas aja kamu menyakiti kelinciku lagi ya?"
Bara : "Hah, iya...iya...kakek?"
"Dasar, kamprett...!!!"
Bara mengumpat dalam hati. Ia sangat kesal, namun ia juga mengakui bahwa kakeknya begitu karena kakeknya menyayangi dirinya dan Mitha. Dia tidak ingin kedua pasangan muda itu bertengkar hanya karena masalah kecil.
Jimmy : "Bagus...bagus. Ah, Mitha bisakah kau menemani orang tua ini?"
Mitha : "Kemana, kakek?"
Jimmy : "Ah, menemui beruang kecilku."
Bara : "Beruang kecil? Beruang kecil siapa kek?"
Jimmy : "Itu, si Zidan. Wohh...aku rindu sekali dengannya. Bagaimana, Mitha? Kau akan menemani orang tua ini kan?"
Mitha : "Zidan? Bukankah, dia anak adikku Lova?"
Jimmy : "Ya, dia anak kelinci kecil itu. Gimana, ayolah aku rindu sekali dengannya."
Mitha : "Baiklah, kakek? Aku akan menemani kakek."
Bara : "Aku ikut. Aku yg akan menyetir. Hari ini aku libur. Aku akan serahkan pekerjaanku pada Lee."
Mitha : "Baiklah, sayang? Bagaimana kakek?"
Jimmy : "Ya...ya...boleh. Sekalian, akan kutunjukkan padanya untuk membuat beruang kecil seperti Zidan."
Bara : "Apa, maksud kakek berbicara begitu?"
Jimmy : "Maksud si orangtua ini adalah aku ingin kamu buat beruang lucu kaya Zidan. Hehehe....!"
Bara menepuk jidatnya sendiri. Sedàngkan, Mitha tampak tersenyum melihat ekspresi Bara. Mitha merasa Jimmy sudah sangat ingin menggendong seorang cicit. Kata-kata Jimmy maupun tingkah laku Jimmy membuat Mitha selalu tersenyum atau pun tertawa kecil menahan geli. Dan, kata-kata Jimmy itu sukses membuat Bara mengalah.
Bara : "Baiklah, kakek. Aku akan menuruti keinginan kakek."
Jimmy : "Begitu dong, kalau Lova punya Zidan. Aku mau kamu punya Cecil si beruang kecil. Hehehe...!"
Mitha : "Cecil siapa, kakek?"
Jimmy : "Tentu saja, Cecil calon cicitku. Hehehe...kelinci kecil kamu harus banyak makan sup bergizi. Nanti, aku akan suruh Will membuatkannya untukmu."
Mitha : "Sup bergizi?"
Jimmy : "Iya, biar kamu cepat hamil beruang kecil Cecil. Hahaha😄😄😄
Mitha & Bara : "Ughhh, dasar kakek semprull."
Mitha dan Bara segera pergi dari ruang meja makan. Padahal mereka berdua belum selesai dengan sarapan pagi mereka. Jimmy melihat mereka pergi lalu ia juga ikut-ikutan tidak menyelesaikan sarapan paginya. Ia menyusul Bara dan Mitha kemudian menggandeng tangan mereka berdua.
Jimmy : "Haha...ayo...ayo...kita pergi melihat beruang kecil."
Bara dan Mitha saling pandang. Mereka sungguh tak bisa menolak ajakan Jimmy untuk pergi ke rumah Lova saudara kembar Mitha. Jimmy memang sudah tidak sabar ingin melihat si imut Zidan. Jimmy jatuh cinta sama Zidan si kecil imut anak Lova dan Sean.
.
.
.
.
.
.
Kediaman Sean....
Pagi itu di rumah Lova. Zidan menangis begitu keras. Tangisannya membuat panik seisi rumah termasuk Sean dan Lova. Saat itu sang pengasuh yg merawat Zidan sedang sibuk menelepon seseorang temannya. Ia teledor dalam merawat Zidan. Hingga mengakibatkan anak kecil itu jatuh dari tempat tidur.
Lova langsung mengambil Zidan sementara itu Sean sibuk memarahi sang pengasuh yg teledor dalam mengasuh Zidan. Sean sangat marah, ia benar-benar marah. Hampir saja ia memukul pengasuh tersebut jika ia tidak dicegah oleh Lova.
Lova : "Jangan, sayang?"
Sean : "Jangan, apanya. Lihat! Dia sudah membuat anak kita jatuh dan kepalanya benjol. Aku sudah menyuruhmu untuk memecatnya. Tapi, kenapa kau tidak menurutiku? Kau malah membiarkan dia tetap bekerja disini dan sekarang lihat. Apa, yg sudah ia lakukan sama anak kita."
Lova terdiam mendengar Sean yg marah-marah padanya. Sean pusing kepalanya. Melihat, tiba-tiba saja titik air mata jatuh di pipinya. Tiba-tiba, Sean menjadi luruh hatinya. Amarahnya yg tadi hilang enath kemana. Sean memeluk Lova.
Sean : "Maafkan, aku sayang? Aku gak sengaja membuatmu menangis."
Lova terisak.
Lova : "Hiks...kamu kok kasar gitu sih marahnya. Kamu gak perlu marah. Langsung aja pecat dia. Dan, kamu gak perlu marahin aku."
Sean : "Maaf, aku terbawa emosi tadi. Ydh, kita panggil dokter buat cek kondisi Zidan ya?"
Lova : "Hiks...iya."
Sean : "Sudah, kamu jangan nangis lagi. Nanti, cantiknya ilang lho..."
Lova tersenyum setelah dibujuk oleh Sean.
Sean : "Kamu duduk dulu disini dan kamu telepon dokter. Aku akan mengurus pengasuh itu."
Lova : "Sayang?"
Sean : "Ya?"
Lova : "Jangan, memukulnya. Pecat saja, okey."
Sean : "Baiklah, sayang?"
Sean segera menghampiri pengasuh tersebut yg tampak ketakutan.
Pengasuh : "Am...ampuni...saya tuan? Saya tidak senagaja membuat tuan muda Zidan jatuh."
Sean : "Kau! Mulai hari ini kau dipecat! Kau pergilah dari sini. Ini uang pesangonmu. Carilah, pekerjaan di tempat lain!"
Pengasuh : "Baiklah, tuan. Saya, akan pergi. Terima kasih tuan sudah tidak memukul saya."
Kemudian, pengasuh itu segera mengemasi barang-barangnya. Ia segera pergi dari kediaman Frederick. Ia sangat takut menghadapi kemarahan Sean. Jadi, ia pun tidak berani lagi bertahan di rumah itu. Ia segera pergi setelah selesai mengemasi barang-barangnya. Tak lupa, ia meminta maaf pada Lova dan Sean. Setelahnya, ia segera ngacir entah kemana.
Bersambung.....
TWO HUSBAND Season 2