
Dia masih berharap meski secuil. Berharap bahwa Lova dan dirinya masih bisa bersama lagi. Tapi, ternyata tidak. Ternyata, Lova sudah tidak mau bersamanya lagi. Dirinya sudah terganti oleh Sean, kakaknya. Zean kecewa berat. Tapi, ia harus menerima keadaan dan kenyataan yg sebenarnya terjadi. Bahwa, dirinya dan Lova memang sudah tidak bisa lagi bersama. Bahwa, ia harus memutuskan ia harus berpisah dengan Lova. Ia harus melakukannya. Bila itu sudah menjadi keinginan Lova.
Two Husband S2 Eps 35
Malam itu telah larut, Sean pulang kembali ke rumah dalam keadaan lelah. Ia memarkirkan mobilnya, dan langsung masuk ke dalam rumah. Ketika, ia hendak melewati ruang tamu. Ia melihat Zean sedang duduk disana. Ia terkejut dan matanya membelalak lebar. Ia tak menyangka kalau ia akan melihat Zean sedang duduk disana menunggunya. Sean menyapanya.
Sean : "Zean?"
Zean : "Ah, kakak."
Zean berdiri dari duduknya. Sean mendekati adiknya itu lalu kemudian ia memeluknya erat. Disana, sangat terasa rasa rindu mengalir deras dalam pelukan Sean terhadap sang adik yg telah lama pergi dan tak pernah kembali. Sean melepas pelukannya.
Sean : "Kau bertambah tua sekarang, Zean."
Zean : "Apa. Enak saja, kakak yg bertambah tua sekarang. Lihat saja, ada uban dikepalamu."
Sean : "Apa. Uban? Dikepalaku? Zean, sialan. Jangan, bercanda kau."
Zean tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha"
Zean : "Maaf, kak aku hanya bercanda. Mana mungkin, tumbuh uban di kepalamu."
Sean : "Dasar, kau adik kurang ajarr. Oh, apakah kau sudah makan?"
Zean : "Sudah kak, tadi makan bersama Lova dan juga Zidan."
Sean : "Zidan ikut makan malam?"
Zean : "Haha, tidak kak. Dia hanya duduk di pangkuan Lova saja. Menemani ibunya makan."
Sean : "Oh, kupikir anak itu akan ikut makan bersama ibunya."
Zean : "Ya, anakmu sangat tampan kak."
Sean : "Hem? Anakku memang tampan."
Zean : "Tapi, ketampanan anakmu belum dapat mengalahkan ketampanan anakku. Hahaha..."
Sean : "Kamprett. Ehh? Memangnya, kau sudah menikah lagi?"
Zean : "Menikah lagi? Dengan siapa, kak?"
Sean : "Dengan wanita tentunya."
Zean : "Tidak kak. Aku tidak menikah lagi."
Sean : "Kalau, kau tidak menikah lagi. Lalu, darimana datangnya anak yg kau bilang ketampanannya melebihi anakku."
Zean : "Panjang ceritanya, kakak?"
Sean : "Tidak apa-apa, ceritakan saja. Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan seluruh ceritamu. Karena, besok aku libur."
Zean : "Ouh. Baiklah, kak. Bagaimana, kalau kita naik ke balkon saja. Sambil bercerita dan minum bir. Sepertinya menyenangkan."
Sean : "Tentu saja, ayo. Tunggu, aku ambil bir dulu di kulkas."
Zean mengangguk.
Zean : "Kakak, aku tunggu kakak di balkon."
Sean : "Baiklah."
Zean segera naik ke lantai atas menuju balkon. Tempat ia biasanya menyendiri dulu. Dahulu, balkon menjadi tempat sekaligus saksi bisu akan rasa sedihnya bila mengingat Lova. Bila rasa sedih itu datang menghinggap maka ia akan pergi kesana untuk menyendiri dan sendiri saja.
Sean : "Zean."
Zean : "Ya, kak."
Sean : "Ini birmu. Tangkap."
Sean melempar bir dalam kemasan kaleng kepada Zean. Zean pun menangkapnya.
Zean : "Terima kasih, kak."
Sean mengangguk. Ia meneguk bir itu sedikit demi sedikit. Demikian juga dengan Zean, ia juga meneguk bir itu perlahan-lahan.
Zean meresapi rasa enak dari bir tersebut.
Zean : "Kak, rasa bir ini pas sekali. Enak dan sangat mantap. Aku suka."
Sean : "Ya, ini adalah bir berkualitas bagus. Kau tahu aku suka mengoleksi bermacam-macam bir di ruang kantorku."
Zean : "Ternyata, kebiasaan kakak memang tidak pernah berubah."
Sean : "Tentu saja. Oh, ya ceritakan kemana saja kamu selama ini setelah Lova mengusirmu."
Zean menarik nafas lelah. Untuk sejenak, ia terdiam dan pikirannya jauh menerawang. Teringat kembali masa yg lalu. Ketika, Lova mengusirnya dan menyuruhnya pergi karena ia tak berhasil menemukan Suzy.
Sean : "Kenapa, kamu diam? Bila terasa berat lebih baik tidak usah diceritakan saja."
Zean : "Mana mungkin, kak. Aku akan bercerita kak."
Lalu, kemudian Zean menceritakan kemana saja ia pergi dan apa saja yg ia lakukan selama ia berada di daerah S. Tentang hidupnya yg sederhana dengan membangun toko sembako bersama istrinya Suzy. Sean sempat kaget ketika mendengar keseluruhan cerita Zean tentang Suzy. Sungguh, ia tak menyangka bahwa adiknya itu akan menerima Suzy setelah ia gagal mempertahankan Lova.
Sean : "Jadi, kau dan Suzy akan mengadakan acara syukuran ulang tahun putramu?"
Zean : "Iya, kakak."
Sean : "Tenang saja, kami pasti datang."
Zean : "Benarkah?"
Sean : "Ya, kapan aku pernah berbohong padamu. Nanti, aku akan membawa serta Bara dan Mitha kesana."
Zean : "Bara? Playboy inggris itu."
Sean : "Ya. Dia sudah menikah dengan kembaran Lova. Mitha."
Zean : "Apa, kembaran? Jadi, benar Lova punya kembaran?"
Sean : "Ya, kau sepertinya mengerti sesuatu."
Zean : "Ya, sewaktu di daerah S. Aku bertemu dengan seorang wanita yg mirip dengan Lova. Tapi, wanita itu perangainya sangat kasar sekali. Dia menamparku. Rasanya sakit sekali."
Sean : "****** kau, kau pasti melakukan sesuatu padanya. Hingga ia menamparmu. Apa, yg kau lakukan padanya."
Zean : "Aku memeluknya, karena aku menyangka dia Lova."
Sean : "Hegh! Pantas saja dia menamparmu. Ternyata begitu. Lain kali jangan kurang ajar padanya. Dia kakaknya Lova, istri kita. Nanti, jika kau bertemu dengannya. Panggil dia kakak."
Zean : "Ouh. Kak, masihkah Lova istriku?"
Sean : "Kenapa, kau bertanya begitu?"
Zean : "Tentu saja. Aku..."
Sean : "Lova milikku. Kamu jangan coba menyentuhnya. Kuingatkan padamu."
Zean : "Kakak, bukankah kau bilang dia istri kita."
Sean : "Memang. Tapi, masamu sudah berakhir. Kau sudah lama pergi. Lebih baik ceraikan dia. Agar dia tidak tergantung kesana dan kesini. Dia seorang wanita. Biarkan dia bersamaku. Dan, aku pasti akan menikahinya lagi. Please! Bisakah."
Zean tertegun mendengar kata-kata Sean.
Zean : "Entahlah, kak. Aku tidak tahu. Akan, aku pikirkan dulu. Selamat malam, kak. Btw, birnya enak. Nanti, kalau aku pulang aku mau membawanya satu botol."
Sean : "Bukan hanya, satu botol. Aku akan memberikan banyak untukmu."
Zean : "Oke, baiklah."
Zean segera pergi meninggalkan tempat itu. Kini, tinggallah Sean disana. Sendiri, terpaku menatap langit malam yg bertebaran banyak sekali bintang. Tatapan matanya, sangat tajam dan lurus ke depan. Ia berharap keinginannya dapat dikabulkan oleh Zean. Memang, rasanya tidak mungkin jika Zean mau melepas Lova untuknya. Namun, entah kenapa tadi ia tampak sangat percaya diri meminta Lova secara langsung kepada Zean.
Sedangkan, Zean dia jadi bertambah bingung. Memikirkan hubungan pernikahannya sendiri dengan Lova. Apakah, mereka masih pantas disebut suami dan istri. Sedangkan, mereka sudah terpisah sekian lamanya. Akankah, ia mampu melepas Lova untuk kakaknya Sean. Sedangkan, rasa cinta itu masih ada. Dan, kini mengalir deras dalam dadanya. Ia semakin tak rela untuk melepas Lova. Tapi, apa mau dikata. Hubungan mereka kini tak sama lagi.
Kini, hubungan itu hanya sebatas saling merindukan saja. Tanpa, ada keinginan untuk bersama lagi. Apalagi, Lova juga menolak melayaninya. Karena, Lova tidak ingin menyakiti Sean. Kini, Zean harus mengambil keputusan. Apakah, ia harus bertahan atau menceraikan Lova. Memberinya kebebasan untuk bersama Sean selama-lamanya.
Bersambung....
TWO HUSBAND Season 2