TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-43



Setelah menerima alamat Ningsih dari Kinanti. Mitha segera pergi ke alamat yg diberikan oleh temannya itu. Dengan naik bus, dan berhenti di terminal. Ia melanjutkan perjalanan menuju rumah Ningsih dengan menaiki ojek. Perjalanan dari terminal sampai rumah Ningsih memakan waktu satu jam. Sebab, rumah Ningsih memang letaknya jauh dari kota.


Di sepanjang perjalanan Mitha tengah asyik memandangai pemandangan alam pedesaan yg masih asri. Disana sini banyak sekali ladang dan juga sawah yg sudah memasuki usia panen. Banyak padi yg sudah menguning. Ia menatapnya kesana kemari. Bola matanya yg liar dengan bulu mata yg lentik. Serta bibir indahnya tak hentinya tersenyum. Setelah melewati perjalanan jauh akhirnya ia sampai juga di depan rumah Ningsih.


Mitha mengetuk pintu rumah berulangkali. Lalu, tak lama ia mendengar jawaban dari dalam rumah.


Ningsih : "Sebentar!" ucapnya nyaring.


Ningsih membuka pintu rumahnya. Dengan sedikit terbatuk di usianya yg tidak muda lagi. Ia bertanya pada Mitha yg mengetuk pintu rumahnya berulangkali.


Ningsih : "Siapa ya?" ucapnya dengan dahi berkerut.


Mitha : "Bayi merah perempuan dengan selimut pink!"


Ningsih terkejut ketika Mitha mengatakan tentang bayi perempuan berselimutkan pink.


Ningsih : "Mikayla?"


Mitha : "Bu Ningsih, kan?"


Ningsih : "Iya."


Mitha : "Boleh saya masuk, Bu? Saya mau bicara dengan ibu di dalam."


Ningsih : "Oh, iya. Mari, masuk ke dalam."


Ningsih mempersilahkan Mitha masuk ke dalam rumahnya yg sederhana.


Ningsih : "Silahkan duduk, nona?"


Mitha : "Ehh??? Tidak perlu sungkan dan tidak perlu memanggilku nona, bu? Panggil namaku saja bu, namaku Mitha."


Ningsih : "Oh, Mitha ya? Jadi, mereka memberimu nama itu."


Mitha mengangguk.


Ningsih : "Mitha? Kedatanganmu kemari, pasti ingin mencari dan mengetahui dimana keberadaan orang tua kandungmu bukan?"


Mitha : "Betul sekali, bu? Um, bisakah ibu memberitahuku dimana alamat orang tua kandungku?"


Ningsih : "Wah, kebetulan sekali. Seminggu yg lalu ada seorang pria tampan datang kemari untuk mencari dimana kembaranmu."


Mitha : "Apa! Kembaran?"


Ningsih : "Iya. Dia mengaku sebagai kakak dari kembaranmu. Kamu memiliki kembaran namanya adalah Jesseline."


Mitha sangat kaget begitu ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang kembaran.


"Apa? Aku memiliki seorang kembaran? Jesseline?"


Ningsih beranjak dari duduknya dan ia mengambil kertas yg berisi nomor ponsel Asraf.


Ningsih : "Ini adalah nomor kakakmu, Asraf! Telepon dia dan kau akan bertemu lagi dengan orang tua kandungmu!" ucap Ningsih tanpa basa basi lagi.


Mitha menerimanya dengan tangan gemetar.


Mitha : "Terima kasih, bu Ningsih."


Ningsih : "Sama-sama. Oh, ya? Jika, nanti kau bertemu dengan orang tua kandungmu. Janganlah kau marah padanya. Sebab, semua ini adalah murni kesalahanku. Ibumu tidak tahu jika kau masih hidup. Ia hanya tahu hanya Jesseline saja yg masih hidup. Kau mengerti, kan?"


Mitha mengeryit.


"Apa? Orang tua kandungku tidak tahu kalau aku masih hidup? Jadi, sebenarnya mereka tidak membuangku? Ada apa ini. Aku harus meminta penjelasan bu Ningsih!" ucap hati Mitha.


Mitha : "Tolong jelaskan padaku mengapa orang tuaku tidak tahu kalau aku masih hidup."


Ningsih : "Baiklah, aku akan menjelaskannya padamu."


Begitu Mitha mendengar keseluruhan cerita dari Ningsih. Tampak ia sangat terpukul sekali mendengarnya. Mengapa Ningsih demikian tega melakukan hal yg tidak sepatutnya. Mengapa, harus memisahkan dirinya dan saudara kembarnya dengan orang tua kandung mereka. Mitha tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Ia sangat marah pada Ningsih.


Mitha : "Mengapa! Mengapa, ibu demikian tega melakukan hal itu. Memisahkan kami. Membuat hidup kami menderita!!!"


Ningsih terisak.


Ningsih : "Hu...hiks...maaf? Tolong, maafkan semua kesalahan saya."


Mitha : "Seharusnya ibu minta maaf pada orang tua kandung saya. Dialah yg paling terluka atas semua kejadian ini." ucap Mitha kemudian segera beranjak pergi dari rumah Ningsih.


Mitha : "Saya permisi. Maaf, jika saya sudah mengganggu waktu anda bu Ningsih?"


Ningsih masih terisak disana. Ia sadar ia telah berbuat kesalahan. Ia memisahkan orang tua dengan anaknya. Ia juga telah membuat hati Irene begitu terpukul dan menderita karena ia menyangka Mikayla telah tiada. Kenyataannya Mikayla masih hidup dan memberikannya pada Robert dan Julia untuk di asuh.


.


.


.


.


.


.


Mitha sudah sampai di rumah Kinanti. Mitha menatap kertas yg berisikan nomor ponsel Asraf, kakaknya. Ia masih menimbang-nimbang apakah ia akan menelepon atau tidak sama sekali. Kinanti memperhatikan dirinya yg masih pusing bergulat dengan perasaannya sendiri.


Kinanti : "Untuk apa, kau berpikir demikian berat seperti itu? Telepon saja, dia kan kakakmu. Dia sudah mencarimu."


Mitha menghela nafas lelah.


Mitha : "Dia tidak mencariku. Tapi, dia mencari Jesseline."


Kinanti : "Jesseline? Siapa dia?"


Mitha : "Bu Ningsih bilang dia saudara kembarku."


Kinanti terkejut.


Kinanti : "Apa! Saudara kembar? Kau memiliki saudara kembar?"


Mitha mengangguk.


Kinanti : "Ini kisah yg menarik. Seorang anak yg terpisah dari orang tua kandungnya plus seorang saudara kembar yg terpisah dari saudara kembarnya yg lain. Mitha, jika memang kau ingin bertemu dengan keluargamu lagi. Cepat! Telepon, kakakmu! Mudah-mudahan saja kau bertemu dengan keluargamu lagi dan saudara kembarmu."


Mitha : "Mungkin kau benar! Mungkin saja aku akan bertemu dengan mereka lagi. Keluargaku yg sebenarnya. Tapi, Jesseline sepertinya belum ditemukan."


Kinanti : "Itu bukan masalah yg serius. Yang penting bertemu dengan mereka dahulu. Baru kemudian mencari Jesseline."


Mitha : "Ya, kata-katamu ada benarnya juga. Aku akan menelepon kakakku sekarang juga."


Kinanti tersenyum dan Mitha mulai mengetik nomor ponsel Asraf lalu meneleponnya. Tak lama terdengar suara Asraf dari sana.


Asraf : "Halo? Ini siapa, ya?"


Mitha : "Adikmu, Mikayla!"


"Deg!"


Bersambung...


TWO HUSBAND