
Asraf sangat bahagia telah menemukan Mikayla dan membawanya pulang ke rumah untuk bertemu dan memberi kejutan pada Irene, ibu mereka. Sesampainya di rumah, Asraf segera betemu dengan ibunya dan mengatakan tentang semuanya kepada ibunya. Irene sempat shock dan kaget sekali. Dengan apa yg diceritakan oleh Asraf.
Irene : "Benarkah? Nak, kamu sedang tidak bercanda kan?"
Asraf : "Tidak bu? Asraf tidak bercanda! Ini Mikayla, adikku sekaligus putri ibu yg masih hidup."
Irene menatap Mitha dengan tatapan rindu dan mata yg membasah. Perlahan setetes air matanya jatuh ke bumi.
Irene : "Benarkah, ini kamu nak? Mikayla, kamu masih hidup?" ucapnya dengan derai air mata yg mulai jatuh bercucuran.
Mitha : "Benar! Ini aku, bu?" ucap Mikayla sambil memeluk erat tubuh Irene dan ia pun mulai menangis sesenggukkan.
Mitha : "Hu...hiks....ibuuu....!" panggilnya kencang.
Akhirnya, ibu dan anak yg sudah lama terpisah itu pun bertemu. Disertai dengan derai air mata yg menetes di pelupuk mata mereka masing-masing. Irene yg sudah sangat lama merindukan sosok anak perempuannya yg ia kira sudah tiada. Yang selama berpuluh tahun ia kunjungi makamnya. Yang ternyata adalah makam palsu yg sengaja dibuat oleh Ningsih untuk menipu dirinya.
Pelukan hangat itu seakan menghapus duka lara yg selama ini membungkus hati ibu dan anak tersebut. Dan, sekarang duka lara itu perlahan menghilang. Berganti menjadi kebahagiaan yg bersinar terang di dalam sanubari mereka. Keluarga itu kini berkumpul kembali meski belum lengkap. Karena, Jesseline masih belum ditemukan. Namun, mereka akan tetap berusaha untuk menemukannya.
Irene : "Nak, adikmu Mikayla sudah ketemu. Jesseline?"
Asraf menggenggam tangan Irene.
Asraf : "Ibu tenang saja. Kita pasti akan menemukannya. Ibu jangan khawatir.
Mitha : "Benar, bu? Jangan, khawatir. Kita pasti akan segera menemukan Jesseline."
Irene : "Ya, kalian benar. Kita pasti akan segera menemukannya."
Lalu, keluarga itu berpelukan erat bersama. Merasakan kebahagiaan itu bersama-sama.
Sementara, itu Suzy sudah melahirkan bayi perempuan di rumah sakit daerah S. Bayi tersebut ia beri nama Laura. Dan, sekarang ia tinggal di rumah kontrakan.
Untuk menghidupi dirinya beserta anaknya. Suzy membiayai hidupnya dan anaknya dengan membuka kedai nasi. Dengan sisa uang dan yg diberikan oleh Asraf sebelum ia pergi dari rumah tersebut. Sebenarnya, uang tersebut sudah ia gunakan untuk membayar biaya rumah sakit dan masih ada sisanya hanya sedikit lagi. Ia gunakan untuk menyewa kontrakan. Sedangkan, untuk biaya membuka kedai nasi ia terpaksa menjual kalung emas pemberian Asraf saat itu.
Sekarang Suzy sedang berada di pasar ia sedang berbelanja untuk keperluan kedai nasinya. Dari tempat ia berbelanja, ia melihat suara keributan di sana. Ia berjalan menuju keributan suara sambil menggendong Laura. Laura kelihatan tenang dan tidak menangis karena Laura sedang tertidur pulas dalam gendongan ibunya. Namun, tiba-tiba ia menggeliat karena mendengar suara keributan tersebut. Dan, Suzy menenangkannya dan Laura tertidur kembali.
Suzy terus mendekat. Sampai di kerumunan orang-orang yg ribut tadi ia menyeruak untuk melihat apa yg terjadi. Ia melihat di dalam kerumunan tersebut sekelompok orang tengah memukuli seorang pemuda.
"Buk...Bak...Buk...Bak."
Suzy tidak tega melihatnya. Jadi, ia melerai orang-orang yg sedang memukuli pemuda tersebut.
Suzy : "Hei..., hentikan! Jangan, pukuli lagi!" teriaknya kencang.
Mereka semua pun berhenti memukuli pemuda tersebut. Suzy datang memeriksa keadaan lelaki tersebut. Dan, alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat wajah pemuda tersebut. Ia shock!
Suzy : "Ze...Zean!"
Pemuda tersebut pun tak kalah terkejutnya ketika ia melihat siapa wanita yg menolongnya.
Zean : "Suzy!"
.
.
.
.
.
.
Di rumah kontrakan Suzy....
Suzy : "Jadi, ceritakan padaku apa yg telah terjadi padamu. Kenapa, kamu jadi babak belur begini?"
Suzy : "Oh begitu. Lalu, kenapa kau ada di daerah S ini?"
Zean : "Lova mengusirku. Dia marah padaku. Karena, aku tak bisa menemukanmu!"
Suzy : "Apa!!! Lova mengusirmu?"
Zean mengangguk.
Suzy : "Aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau kepergianku akan menjadi masalah untukmu dan Lova."
Zean : "Ah, sudahlah. Toh, semuanya sudah berlalu. Tidak perlu kau minta maaf begitu? Ouch...!"
Suzy : "Kau sepertinya kesakitan. Tahanlah dulu, aku akan mengobati lukamu." ucap Suzy sambil berdiri dan pergi kedalam kamar. Ia membawa selimut tebal dan bantal kecil dari dalam kamar lalu meletakkannya di tikar.
Ia melepas kain jarik yg ia pakai untuk menggendong Laura. Dengan hati-hati ia meletakkan Laura di atas selimut tebal dan bantal kecil. Bayi mungil itu masih tertidur. Zean memperhatikan apa yg Suzy lakukan. Tanpa sadar pandangan matanya mengikuti setiap gerak gerik Suzy. Ia juga melihat bayi yg masih berusia 2 bulan itu tampak tertidur pulas. Tiba-tiba hatinya tercekat.
"Itukah anakku?" batinnya.
Zean : "Suzy!"
Suzy : "Ya."
Zean : "Bayi itu...?"
Suzy tersenyum.
Suzy : "Ini Laura, dia anak kita."
Zean : "Apa! Anak kita?"
Suzy mengangguk.
"Ternyata, anakku sudah lahir rupanya. Dia terlihat kecil sekali." ucap hati Zean.
Zean : "Um? Apakah, boleh aku menggendongnya?"
Suzy : "Boleh saja, kau kan ayahnya. Tapi, ia sedang tidur. Nanti kalau dia sudah bangun baru kau bisa menggendongnya."
Zean : "Oh, ya sudah kalau begitu."
Suzy beranjak dari duduknya. Lalu, ia mengambil obat P3K di dalam kamarnya. Dan, mengobati luka-luka di wajah tampan Zean. Namun, wajah Zean saat ini tidaklah terlihat tampan. Tentu saja karena luka-luka memar yg ia terima dari pukulan orang-orang di pasar.
Zean menatap wajah Suzy yg terlihat sendu di matanya. Tak tahu mengapa, ia merasa nyaman ketika ia merasakan sentuhan lembut jari jemari lentik Suzy yg sedang mengobati lukanya. Untuk sesaat ia juga merasa terpana ketika ia melihat Suzy dari dekat. Ia tampak cantik dengan pakaian tertutup rapi tersebut.
Memang saat ini terihat lebih baik jika dibandingkan dengan dulu. Jika, dulu ia suka memakai pakaian yg serba terbuka. Tapi, sekarang Suzy memakai pakaian yg menutup auratnya. Benar-benar ia telah berubah total. Apalagi setelah ia melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Jadi, ia benar-benar ingin menjadi orang tua yg baik untuk Laura, anak perempuannya.
Tatapan mata Suzy yg sedari tadi terpaku pada luka-luka di wajah Zean. Tiba-tiba saja beralih menatap mata Zean yg sedari tadi sibuk menatapnya dengan intens. Tatapan mata kedua insan berlainan jenis itu pun bertemu. Gemuruh terasa di dada Suzy. Dan, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Zean melihatnya dan ia mengelapnya lembut dengan jemarinya.
"Istri keduaku ini ternyata secantik ini. Dengan wajah sendunya itu. Dia benar-benar mempesona diriku. Tapi, jauh di dalam hatiku masih ada Lova. Bagaimana, ini? Sekarang aku juga menginginkan dia?" ucap hati Zean bingung.
Suzy merasa kaget. Saat jari jemari Zean menyentuh pelipisnya. Perlahan Suzy menjauh dari Zean dan berkata.
Suzy : "Ak....aku akan pergi memasak." ucapnya dengan panik.
Melihat kepanikan itu, membuat Zean jadi tersenyum manis sekali. Apakah, ia sudah jatuh cinta lagi? Entahlah, tidak ada yg tahu.
Bersambung...
TWO HUSBAND
Bagaimana menurut kalian pembaca? Apakah, Zean akan mencintai Suzy atau tidak?
Berikan jawaban kalian ya?