
Suzy siuman dari pingsannya. Saat ia siuman ia tak melihat suaminya disana. Ia hanya melihat Lova di sisi ranjangnya sedang tertidur karena kelelahan. Ia menatap lekat wajah Lova yg lelah.
"Lova, sungguh kau beruntung. Kau seorang wanita yg baik. Sayang, aku memang tidak seberuntung kamu. Suamiku ternyata sangat mencintaimu. Bahkan, dia tak menginginkanku maupun anakku. Dia hanya menginginkanmu. Lebih, baik aku pergi saja daripada aku menjadi benalu di dalam kehidupan kalian. Aku titip suamiku, maafkan jika selama ini aku telah merepotkanmu Lova?" ucapnya dalam hati sambil mengecup kening Lova.
Kemudian, ia bergegas menyusun pakaian miliknya dan memasukkannya ke dalam koper miliknya. Jumlah pakaian yg dibawanya hanya sedikit. Maklum, ia tak sempat untuk membuka lemari pakaiannya untuk mengambil pakaian miliknya semua.Takut ia akan membangunkan Lova yg sedang tertidur kelelahan karena menjaga dirinya.
Suzy berjalan berjingkat-jingkat dan hati-hati agar kepergiannya tak membangunkan orang-orang g sedang tertidur lelap. Akhirnya, dengan susah payah ia berhasil juga keluar dari rumah itu. Ia bernafas lega. Sebelum, ia benar-benar pergi. Ia menatap rumah yg ditinggalinya bersama Zean dan yg lainnya. Terselip ada rasa sedih disana. Sekaligus, rasa kecewa disana. Tak terasa air matanya jatuh menetes. Dalam hati ia berucap....
"Ternyata aku memang tidak pantas menjadi milikmu. Aku hanyalah rumput teki yg merusak pemandanganmu. Kurelakan dan kuikhlaskan kamu bersamanya. Karena, memang hanya dia yg kau cintai dan sayangi." ucapnya dengan deraian airmata.
Suzy melangkah pasti, ia menatap lurus ke depan. Ia mengelus perut buncitnya yg sudah memasuki 7 bulan dan dua bulan lagi ia akan melahirkan. Ia bertekad akan berjuang sendirian meski ia ragu apakah ia bisa menjadi seorang ibu tunggal bagi anaknya kelak.
"Anakku, bersabarlah. Percayalah, pada ibumu ini. Meski, kita hidup berdua kita pasti bisa menjalani semuanya bersama dalam suka dan dalam duka." ucapnya dalam hati sambil mengelus lembut perutnya yg semakin membuncit.
Suzy sudah memantapkan hatinya bahwa ia akan bisa melewatinya sendirian tanpa siapa pun di sisinya. Meski, hatinya sedih tersayat sembilu. Karena, pengakuan yg sebenarnya dari Zean yg dengan terang-terangan mengatakan akan menceraikan dirinya setelah anak mereka lahir. Betapa, shocknya ia kala suaminya mengatakan hal itu dan membuatnya jadi jatuh pingsan karena ucapan Zean yg begitu kasar pada dirinya.
Kini, langkah kakinya yg berjalan menyusuri jalanan dengan perutnya yg besar dan membuncit itu. Ia sudah tidak tahu lagi kemana arah yg dituju. Ia bahkan tidak tahu dimana ia harus tinggal. Ia pun hanya memegang uang seadanya pemberian Lova beberapa hari lalu. Lova sengaja memberikan uang kepadanya. Karena, Zean memang lelaki yg tidak bertanggung jawab. Zean tidak memberi uang pada Suzy. Zean hanya memberi uang pada Lova. Karena, memang bagi Zean istrinya hanya Lova seorang.
Lova tidak tega melihat Suzy. Jadi, ia memberi uang pemberian Zean pada Suzy. Suzy menerimanya dengan perasaan takut dan sempat menolak. Tapi, akhirnya ia menerima juga karena Lova memaksanya. Hingga kini, uang itu masih ia pegang dan simpan di saku dasternya. Suzy berpikir setidaknya dengan uang itu bisa menyewa hotel untuk beristirahat satu malam. Lalu, esoknya dia akan mencari tempat kost-kostan. Agar bisa ia tinggali beberapa bulan sembari ia mencari pekerjaan untuk memenuhi biaya hidupnya nanti sebelum dia melahirkan dan setelah melahirkan nantinya.
Tak terasa langkah kakinya membawanya kian jauh dari rumah suaminya. Dan, ia pun sudah tidak tahu dimana dia berada sekarang. Tempat yg ia lewati sangat sepi dan tidak ada orang maupun kendaraan yg lewat. Jika pun ada kendaraan yg lewat hanya satu atau dua saja. Selebihnya, hanya kekosongan dan suara jangkrik malam saja disana. Suzy merasa takut sekali melewati tempat itu. Ia takut jika ada orang yg akan berbuat jahat pada dirinya. Ia celingak celinguk kesana kemari takut kalau ada orang yg mengikuti langkahnya. Takut kalau tiba-tiba orang itu akan berbuat jahat pada dirinya.
Suzy mempercepat langkah kakinya. Namun, tiba-tiba langkah kakinya di hadang oleh 2 orang lelaki berpenampilan seperti preman. Akhirnya, apa yg ditakutkannya terjadi. Lelaki itu menyeringai dan tersenyum dengan senyum yg terkesan menakutkan. Suzy bergidik ngeri melihatnya. Ia ingin lari, tapi tiba-tiba ia merasa kakinya lemas. Karena, ia ketakutan membuatnya tak bisa lari. Para preman itu menatapnya penuh senyum kemenangan di bibir mereka. Mereka mulai mendekati Suzy dengan tawa yg terdengar sangat menakutkan bagi Suzy yg mendengarnya.
Bagaimanakah, kisah selanjutnya?
Apakah, Suzy selamat ataukah ia berakhir di tangan preman?
Apakah, ada yg akan menolongnya?
Bagaimanakah, reaksi Zean ketika mengetahui Suzy pergi dari rumah?
Nantikan, episode selanjutnya ya😊😊😊
Bersambung.....
TWO HUSBAND