
Selain, itu ia masih juga memiliki seorang ibu yg menyayanginya. Dan, juga seorang kakak yg juga menyayangi dirinya. Serta sang saudara kembar yg selalu mendukungnya. Mitha sangat bahagia, memiliki keluarga yg sangat menyayangi dan mencintai dirinya.
Two Husband S2 Eps 31
Mitha sedang ngidam. Ia ingin makan mangga mengkal di malam hari. Ia merengek seperti anak kecil minta mangga mengkal sama Bara suaminya. Bara bingung melihat Mitha seperti itu pada dirinya. Tapi, ia berusaha menenangkan Mitha yg sedang merengek itu.
Bara : "Iya, sayang. Pasti akan kucarikan mangga mengkal untukmu. Duhh..."
Mitha : "Pokonya aku gak mau tahu. Aku mau mangga mengkal. Awas, ya kalau gak dibeliin. Aku ngambek, kamu tidur di luar!"
"Wah, mana bisa aku tidur sendiri. Apalagi, diluar."
Bara jadi kelimpungan sendiri. Menghadapi keinginan Mitha yg ingin makan mangga mengkal.
Bara : "Sayang, please jangan begitu. Iya, aku akan pergi mencarinya ya?"
Mitha melipat tangan di dada. Ia terlihat kesal dengan Bara. Sedangkan, Bara segera pergi dari rumah. Ia menyambar kunci mobilnya. Dan, langsung pergi meluncur mencari keberadaan mangga mengkal yg dimaksud.
Ia sudah mengitari jalan. Dan, ia sudah keluar masuk supermarket untuk mencari mangga mengkal. Tapi, tidak ketemu. Ia mulai dihinggapi kebingungan yg luar biasa.
"Dimana, harus mencari buah itu? Biasanya itu hanya ada perkampungan penduduk. Tapi, aku tidak mungkin pergi ke sana. Duhh...pusing aku jadinya."
Bara berdecak kesal. Karena, ia tidak mendapatkan buah yg diinginkan oleh Mitha. Mau pulang, tapi ia takut Mitha benar-benar akan menyuruhnya tidur di luar. Di dalam kebingungan, itu ia mencoba meminta pertolongan Sean. Ia menelepon Sean.
Percakapan Via Telepon....
Sean : "Halo, Bara. Ada apa, kau meneleponku?"
Bara : "Mohon maaf, kalau aku mengganggu. Sean aku mau meminta bantuanmu."
Sean : "Bantuan, apa? Cepat katakan? Aku sedang menidurkan Zidan."
Bara : "Em? Itu."
Sean : "Itu apa? Ayolah. Cepat."
Bara : "Mitha sedang ngidam. Dia mau makan mangga mengkal...!"
Sean : "Datanglah kau ke kediamanku."
Bara : "Apa!"
Sean : "Kau mau tidak?"
Bara : "Iya...iya...aku segera kesana."
"Tut"
Bara segera tancap gas. Ia segera pergi ke rumah Sean. Sampai disana, ia segera masuk ke rumah Sean. Sean menyambutnya sambil menyerahkan sesuatu yg terbungkus di dalam plastik.
Bara : "Ehh, apa ini?"
Sean : "Bukalah."
Bara membuka plastik yg berisi sesuatu itu. Setelah, ia membukanya dan melihat isinya. Ia jadi kaget.
Bara : "Mangga mengkal?"
Bara melihat Sean penuh selidik.
Sean : "Tadi, aku baru pulang dari perjalanan dinas ke luar kota. Melihat, perkembangan usahaku di luar daerah. Lova sangat suka mangga mengkal. Kebetulan disana sedang musim buah, dan buah mangga ini sedang berbuah banyak disana. Jadi, aku membelinya untuk Lova."
Bara : "Oh, begitu ya? Terima kasih, Sean. Kau penyelamat hidupku. Berkatmu, hari ini aku selamat."
Sean : "Memangnya kenapa?"
Bara : "Asal kau tahu saja, jika aku tak mendapatkan buah ini. Mitha menyuruhku tidur di luar."
Sean tertawa terbahak-bahak begitu ia mendengar derita asmara yg dirasakan oleh Bara.
"Hahaha"
Bara : "Kenapa kau tertawa? Hah."
Sean : "Lucu sekali, hahaha..."
Bara mengumpat.
Bara : "SIALAN!"
Sean : "Nasibmu benar-benar sial sekali, Bara. Sungguh kasian sekali kau ini."
Bara : "Diam kau, brengsek!"
Sean : "Hei, Bara jangan marah begitu. Aku hanya bercanda saja. Nah, sekarang pulanglah. Kak Mitha pasti sudah menunggumu."
Bara menahan rasa kesalnya.
Bara : "Iya, baiklah. Aku pulang, salam buat Lova."
Sean : "Akan aku sampaikan. Bye..."
Bara segera kembali ke mansion miliknya. Dimana Mitha menunggunya dengan perasaan tak sabar. Saat ia tiba, Mitha langsung membuka pintu rumah. Dan, ia bertemu dengan Bara di depan rumah. Bara menyapanya.
Bara : "Hai, sayang? Kok, kamu sih yg buka pintu."
Dengan manja Mitha menjawab.
Mitha : "Kan aku mau nyambut kamu. Mana mangganya. Dapat enggak."
Bara pura-pura lesu. Ia menyembunyikan mangga di belakang tubuhnya.
Bara : "Sabar ya sayang? Aku belum mendapatkan mangganya. Sungguh sangat susah sekali mencarinya."
Mitha langsung melengos pergi meninggalkan Bara. Dan, ia langsung menutup pintu sambil berkata.
Mitha : "Kalau begitu, kau tidur saja di luar."
Bara mengejarnya, dan ia menahan pintu sambil tangannya menunjukkan mangga yg ia bawa dari rumah Sean. Melihat itu, kontan membuat Mitha tidak jadi marah dan ia malah memeluk erat suaminya. Bara kaget menerima perlakuannya.
Bara : "Iya...iya...sayang."
Bara menggaruk-garuk kepalanya yg tidak gatal. Di dalam hatinya ia membathin.
"Aku heran, apakah semua wanita hamil seperti ini? Terlalu manja dan sensitif? Entahlah..."
Bara mengikuti Mitha ke dapur. Mitha mengambil pisau dapur untuk mengupas mangga. Setelahnya ia duduk di ruang meja makan. Saat ia akan mengupas mangga. Bara mencegahnya.
Bara : "Sayang, jangan. Sini, biar aku yg kupaskan."
Mitha tersenyum. Ia memperhatikan Bara yg tampak cekatan mengupas mangga. Tak lama, mangga itu pun selesai dikupas. Bara juga memberikan bagian mangga yg kecil-kecil pada Mitha.
Bara : "Apakah, tidak ingin pakai garam atau bumbu rujak?"
Mitha menggeleng.
Bara : "Oh, baiklah."
Bara memang sudah lama tinggal dan menetap di Indonesia. Jadi, ia tahu tentang makanan penduduk lokal di Indonesia. Mitha memakan dengan lahap mangga tersebut sampai habis tidak tersisa. Bara terkejut melihatnya.
Bara : "Sayang? Kau menghabiskannya?"
Mitha : "Iya, dan sekarang aku sudah kenyang."
Mitha mengelus perutnya yg sudah berumur satu bulan tersebut. Bara tersenyum melihatnya.
Bara : :Kalau begitu, kita bisa bobo sayang-sayang dong?"
Mitha : ???
Bara : "Mau kan, sayang?"
Mitha : "Bobo sayang-sayang?"
Bara : "Iya."
Mitha : "Gak boleh, sayang? Kan, aku udah hamil."
Bara : "Tenang aja, aku bakalan pelan-pelan kok?"
Bara tersenyum. Mitha mencubit hidung Bara.
Mitha : "Dasar suami."
Bara langsung menggendong tubuh Mitha naik ke atas kamar pribadi mereka. Bara sangat senang Mitha mau memenuhi keinginannya. Dan, malam itu pun berlalu dengan suara-suara indah nan merdu sepasang pasutri tersebut.
.
.
.
.
.
.
***Sementara itu di sisi lain....
MACAU***
Zhang Jie Luo sedang menatap keindahan malam dari jendela apartementnya. Dia berkhayal, seandainya saja ada Mitha di sampingnya saat ini. Tentu dia akan sangat bahagia sekali. Dia rindu akan saat-saat dulu kebersamaannya dengan Mitha.Saat itu terasa sangat membahagiakan baginya dan Mitha. Meski, penyakit menyimpangnya itu mencegahnya untuk menyentuh Mitha. Ia menyesal saat itu ia tidak langsung berikhtiar dan mengobati penyakitnya itu. Malah, ia sibuk tenggelam dalam perasaannya tentang Brian pasangan sejenisnya.
Ia tidak peduli tentang Mitha. Ia hanya peduli dengan perasaannya yg terlanjur dalam pada Brian. Ia sudah tidak pedui akan Mitha. Bahkan, sampai Mitha hendak disentuh lelaki lain pun ia juga seakan tidak peduli. Tidak mau tahu. Ia hanya bisa menyalahkan Mitha. Menyalahkannya atas kesalahan yg sama sekali tidak dilakukannya. Mitha memang salah tapi ia dijebak. Dan, yg melakukannya adalah Marco. Marco memang pria jahat. Dia memang selalu menginginkan wanita yg masih suci untuk dirinya. Tanpa harus menikahinya.
Tian Cheng : "Zhang-Zhang!"
Zhang Jie Luo menoleh.
Zhang Jie Luo : "Oh, Tian Cheng."
Tian Cheng : "Apa, yg sedang kau pikirkan."
Zhang Jie Luo : "Mitha."
Tian Cheng menghembuskan nafasnya.
Tian Cheng : "Bersabarlah, sedikit lagi usaha kita akan berhasil. Jangankan, satu Mitha. Beribu Mitha pun bisa kau dapatkan."
Zhang Jie Luo : "Aku tidak mau beribu Mitha. Aku hanya mau satu Mitha saja. Itu sudah cukup bagiku."
Tian Cheng : "Oh, ya? Lalu, bagaimana dengan wanita yg kau bawa pulang kemarin."
Zhang Jie Luo : "Ia hanya selingan saja. Buatku, dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Mitha. Mitha, istriku cantik. Mempesona baik senyumnya maupun tingkah lakunya. Dia seorang wanita yg baik. Dan, aku sudah menyakitinya."
Tian Cheng : "Baru kau sadar kau sekarang. Setelah, kau jauh darinya. Setelah, dia menjadi milik lelaki lain. Baru sekarang kau merasa bahwa dia sangat berharga. Zhang-Zhang, kau ini benar-benar ya?"
Tian Cheng langsung melayangkan tinjunya ke wajah Zhang Jie Luo.
"Bughhh."
zhang Jie Luo terpekik.
"Arghhh"
Ia memegang bagian wajahnya yg dipukul oleh Tian Cheng. Dia memaki Tian Cheng.
Zhang Jie Luo : "Tian Cheng, SIALAN! Mengapa, kau memukulku."
Tian Cheng : "Kau pantas menerimanya. Dasar, kau laki-laki bodoh. Mulai sekarang seriuslah. Jangan main-main."
Setelah berkata begitu. Tian Cheng pergi meninggalkan Zhang Jie Luo. Zhang Jie Luo melihat Tian Cheng pergi dari sana. Ia tak bisa membalas pukulan Tian Cheng. Karena, ia sadar dia memang salah. Yang menyebabkan Mitha pergi dari sisinya.
Bersambung....
TWO HUSBAND Season 2