
Zhang Jie Luo tersenyum. Senyumnya manis sekali. Fang Yi terperangah melihatnya. Tanpa ia sadari ia mengecup pipi Zhang Jie Luo secepat kilat. Lalu, kemudian ia membuka pintu mobil dan segera pergi dari hadapan Zhang Jie Luo. Ia malu. Sedangkan, Zhang Jie Luo ia memegang pipinya. Terasa hangat disana. Lalu, ia pun segera pergi dari sana kembali meneruskan perjalanan menuju rumahnya yg ia tinggali bersama Tian Cheng.
***Two Husband S2 Eps 22***
Saat ia sampai di rumah. Ternyata ia mendapati Tian Cheng sudah ada di rumah. Zhang Jie Luo kaget.
Zhang Jie Luo : "Ternyata kamu. Kukira kau sedang mengurus sesuatu. Apakah, sudah selesai."
Tian Cheng menghela nafas.
Tian Cheng : "Ya, tadi aku sedang mengurus masalah sedikit. Dan, sekarang masalahnya cepat selesai karena seorang dungu seperti kau."
Zhang Jie Luo : "Apa! Seorang dungu seperti aku?"
Tian Cheng : "Iya, dungu."
Zhang Jie Luo : "Tian Cheng sialan! Katakan, apa maksudmu berbicara begitu?"
Tian Cheng : "Aku sengaja pergi menjauh dari kalian. Kau pikir kenapa aku melakukannya?"
Zhang Jie Luo : "Untuk memberi kesempatan kepada aku dan Fang Yi begitu?"
Tian Cheng : "Tuh, kamu tahu itu. Tapi, kamu malah membuang kesempatan itu. Bahkan, ketika Fang Yi menciummu kau sama sekali tak ada kemauan untuk memulainya duluan. Kau bilang kau akan berubah. Untuk itu aku memberimu kesempatan. Tapi, apa nyatanya. Berdekatan dengan wanita saja kau masih acuh tak acuh. Dokter bilang kau sudah sembuh. Aku curiga apa kau benar-benar sudah sembuh sepenuhnya atau belum? Atau, apa kau sedang menunggu untuk memangsaku?"
Mendengar kata-kata terakhir yg keluar dari mulut Tian Cheng seketika membuat Zhang Jie Luo marah. Emosinya naik ke ubun-ubun. Dengan kasar ia menarik kerah baju Tian Cheng.
Zhang Jie Luo : "Tian Cheng sialan! Dengarkan, aku baik-baik. Aku sudah sembuh. Meskipun aku belum sepenuhnya sembuh total. Dan, asal kau tahu saja untuk saat ini aku benar-benar tidak ingin memangsa laki-laki. Apalagi, memangsa laki-laki gila sepertimu. Aku bukan tipe orang yg seperti kacang yg lupa akan kulitnya. Huh!"
Setelah berkata demikian, Zhang Jie Luo melepaskan kerah baju Tian Cheng. Ia mengambil kunci mobil, lalu kemudian ia segera melangkah pergi dari sana. Ia sangat emosi pada Tian Cheng karena sudah menuduh dirinya yg tidak-tidak. Zhang Jie Luo membawa mobil milik Tian Cheng pergi ke tempat yg penuh dengan kesenangan dunia berada.
"Tian Cheng sialan! Hari ini akan aku buktikan padamu. Bahwa aku sudah sembuh. Aku akan menunjukkannya padamu. Siapa, Zhang Jie Luo yg sekarang."
Zhang Jie Luo sudah sampai di tempat yg penuh dengan keramian dan hingar bingar disana. Saat ia memasuki tempat itu banyak sekali tatapan mata para wanita yg melihat dirinya. Ia tersenyum melihat tatapan para wanita kelaparan itu. Tiba-tiba, seorang wanita datang menghampirinya. Wanita itu bernama Eva Yang.
Eva : "Hai, sendirian aja bos?"
Zhang Jie Luo tersenyum seraya berbisik.
Zhang Jie Luo : "Ya, apa kau mau menemaniku malam ini. Kau sangat cantik, baby."
Eva terkekeh geli sambil memainkan jari lentiknya.
Eva : "Hihihi, aku terbiasa menemani bos-bos kaya? Apa, kau...!"
Tiba-tiba, saja Zhang Jie Luo menaruh jari telunjuknya di bibir Eva Yang.
Zhang Jie Luo : "Oh, jadi kau berpikir aku tidak punya uang? Aku memiliki banyak uang nona, meski tidak banyak. Bagaimana? Jika, kau setuju ikutlah denganku."
Zhang Jie Luo menghembuskan nafasnya kasar di telinga Eva Yang. Membuat wanita itu kegelian.
Eva : "Baiklah, karena kau tampan. Aku akan ikut denganmu. Ayo, bawa pergi aku dari sini."
Zhang Jie Luo : "As you wish, sweetheart."
Zhang Jie Luo menggandeng tangan Eva Yang. Membawanya pergi ke sebuah tempat yg sudah direncanakan oleh Zhang Jie Luo.
"Tian Cheng, sialan! Gara-gara keparat sepertimu. Aku harus melakukan hal yg sebenarnya ingin kulakukan hanya dengan satu orang wanita saja. Sekarang, aku tampak seperti ******** yg kelaparan."
Zhang Jie Luo : "Brengsek!"
Zhang Jie Luo mengumpat dan Eva sempat mendengarnya.
Eva Yang : "Bos tampan? Apa, kau sedang kesal dengan seseorang."
Zhang Jie Luo : "Emh? Tidak baby."
Eva Yang : "Jadi?"
Eva Yang tersenyum dan ia langsung masuk ke dalam mobil yg dikendarai oleh Zhang Jie Luo. Malam semakin larut, semakin memantapkan keinginan Zhang Jie Luo yg di dorong oleh rasa kesal akibat kata-kata kasar Tian Cheng sewaktu di rumah tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu di sisi lain...
INDONESIA
Jimmy sedang menyantap sarapan paginya. Wajahnya tampak sumringah sekali dan terlihat cerah. Maklum saja, ia sedang teringat-ingat akan kejadian kemarin petang di kantor Bara. Ia mengunci Bara dan Mitha dalam satu kamar. Ia berharap ia akan segera mendapatkan momongan.
Kakek nyentrik ini terkadang perbuatannya itu keterlaluan. Walau begitu tidak ada satu orang pun yg bisa mencegahnya. Karena, dia ini memang tipe kakek-kakek super heboh dan berbuat apa pun sesukanya. Bahkan, demi mendapatkan seorang pewaris pun ia juga tega mengunci Bara dan Mitha di dalam kamar pribadi Bara di dalam ruang kantornya.
Beberapa kali Jimmy melirik jam di dinding. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi tepat. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Lee, asisten pribadi Bara. Dia mengatakan pada Lee untuk segera berangkat ke kantor. Tanpa mengatakan tentang Bara dan Mitha yg masih terkunci di dalam ruangan kamar.
Percakapan Via Telepon...
Jimmy : "Lee, dimana kau."
Lee : "Di perjalanan menuju mansion anda, tuan. Ada apa, ya tuan menelepon saya?"
Jimmy : "Hem? Tidak apa-apa. Hanya saja, segera kamu langsung pergi ke kantor saja."
Lee : "Langsung ke kantor, tuan? Tapi, bukankah tuan Bara masih di mansion tuan."
Jimmy : "Terlalu banyak bicara kau, bocah semprull. Sudah, jika aku bilang kau langsung ke kantor. Ya, langsung saja pergi. Huh!"
"Ehh? Tuan Besar, marah padaku. Hiks...nasibku memang buruk. Hu...hiks."
Lee : "Iya...iya...tuan. Saya, pergi sekarang ke kantor."
"Tut"
Panggian berakhir dan Lee berkeringat dingin. Ia sangat takut tadi ketika ia dimarahi oleh Jimmy. Baginya, Jimmy lebih menakutkan dari serigala liar di hutan. Jadi, ia tak bisa berbuat apa-apa ketika Jimmy memerintahkan sesuatu kepadanya.
Sedangkan di tempat lain di waktu yg bersamaan. Pergumulan panas sedang berlangsung antara Bara dan Mitha. Mitha mengeluh kepada Bara. Karena, ia sudah tidak sanggup untuk melayani suaminya itu.
Mitha : "Uuhh..., sayang? Apakah, kau tidak bisa berhenti. Aku lelah sekali."
Bara : "Mau bagaimana lagi. Kakek semprull itu menyuruh kita kerja bakti. Mau tidak mau kita harus menurutinya. Jika, tidak maka dia pasti akan ngamuk sama kita."
Mitha : "Iya, tapi masa iya harus semalaman kerja bakti terus? Kaya, ibu-ibu PKK aja. Huh!"
Bara tertawa geli mendengar kata-kata Mitha barusan.
"Hahaha"
Bara menghentikan permainannya.
Mitha : "Loh, kenapa berhenti."
Bara : "Mendengar kata-katamu barusan. Aku jadi geli, dan aku tidak sanggup melanjutkannya lagi sayang?"
Bara kemudian turun dari tempat tidur itu. Dia pergi ke kamar mandi. Ia mandi dan Mitha mengekorinya dari belakang. Ia juga sudah lelah, dan ingin menyiram tubuhnya dengan air yg segar.
Bersambung....
TWO HUSBAND Season 2