
Semenjak malam kebersamaan mereka. Bara dan Mitha selalu bersama-sama. Dan, Mitha sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah orang tuanya, Irene. Maklum saja Mitha sedang dimabuk asmara. Bara memang selalu sukses membuatnya terpana dan tergoda hingga membuat Mitha tidak ingin berpisah dengannya meski hanya sedetik pun. Mitha selalu mengekor kemana pun Bara pergi. Sungguh, ia sangat mencintai suami keduanya itu.
Demikian juga, sebaliknya Bara. Ia juga sangat mencintai Mitha apa adanya. Dan, ia tidak mau meninggalkan Mitha seorang diri. Jadi, ia membiarkan wanita yg dicintainya mengikutinya kemana pun ia pergi. Termasuk itu pergi ke kantor untuk bekerja sekali pun.
Mitha dan Bara seia sekata. Karena, seringnya mereka bersama. Akhirnya, mereka bertemu dengan Jhon di sebuah areal parkir. Mitha kaget, Jhon juga kaget. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan istrinya itu disana. Mitha berkeringat dingin, namun Bara menenangkan dirinya.
Bara : "Tenang saja. Ada aku."
Jhon mendekati Mitha yg saat itu sedang bersama Bara.
Jhon : "Heh! Perempuan jal*ng sialan. Siapa laki-laki yg bersamamu itu. Apakah, dia lelaki pemuas kebutuhanmu?"
Kata-kata Jhon menusuk hati Mitha dan membuatnya sakit. Bara tidak ingin Mitha disakiti lagi oleh Jhon. Jadi, dia pun membela Mitha di hadapan Jhon.
Bara : "Apa, maksud kata-katamu itu? Kau mengatainya? Apa, otakmu sudah rusak? Beraninya, kau berkata begitu kepada istriku."
Jhon kaget.
Jhon : "Apa! Istri? Dasar, laki-laki sialan. Siapa, yg istrimu. Mitha istriku. Bukan istrimu. Hei, Mitha. Perempuan kurang ajarr, kesini kau. Dekat denganku."
Mitha : "Tidak mau, tuh?"
Jhon : "Apa! Tidak mau? Baiklah, aku akan menyeretmu!"
Jhon hendak menarik tangan Mitha kasar. Tapi, Bara mencegahnya.
Bara : "Jangan, coba-coba menyakitinya."
Jhon : "Dasar, kau lelaki sialan. Kurang ajarrr! Minggir."
Jhon berusaha untuk meraih Mitha tapi Bara menghalanginya. Jhon marah.
Jhon : "Kurang ajarr! Minggir. Aku bilang minggir. Apa, kau tidak dengar?"
Bara maju dan membisikkan sesuatu di telinga Jhon.
Bara : "Dasar, g*y!"
Jhon kaget setelah ia mendengar apa yg dibisikkan oleh Bara.
Bara : "Pergilah! Dan, jangan mencari Mitha lagi. Jika, kau tidak ingin...."
Kata-kata Bara terpotong.
Jhon : "Baiklah, aku pergi. Tapi, aku akan mengingat semua ini. Mitha, kau tunggu saja!"
Jhon segera pergi dari tempat itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa namun ia masih sempat mengancam Mitha. Dan, sekarang Mitha sedang tersenyum di atas luka hatinya. Meski, ia seorang penyuka sesama jenis namun sesungguhnya ada sedikit rasa di dalam hatinya untuk Mitha. Tapi, karena ia mendengar dari Marco bahwa Mitha tidur dengan lelaki lain ia jadi sangat marah dan membenci Mitha.
Ia menganggap Mitha dan mantan kekasihnya dulu sama. Yaitu, seorang wanita yg sama sekali tidak bisa setia dan menjaga diri. Hal tersebutlah yg menyemaikan benih dendam di hatinya. Membuatnya jadi tidak percaya wanita lagi. Bahkan, hingga membuatnya memiliki penyakit yg menyimpang. Ia menyukai jenisnya sendiri.
Dan, ia berharap jenisnya sendiri bisa dipercaya dan bisa ia andalkan untuk meraih cinta dan asa dalam hidupnya. Tapi, nyatanya semuanya itu berbanding terbalik 100 derajat dengan apa yg ia pikirkan dan harapkan. Jhon melihat kenyataan pahit di hadapan matanya sendiri saat ia sedang gundah ia mendatangi temannya Marco. Namun, tampaknya Marco sedang bersenang-senang dengan Brian, kekasih sejenisnya dulu.
Hal itu juga cukup memukul berat bagian hatinya yg terdalam. Ia terluka parah. Ia tampak seperti orang yg bodoh dan *****. Sementara, itu ada sepasang mata yg mengawasi dirinya. Dia adalah Tian Cheng. Seorang pembunuh bayaran yg disewa oleh Jason untuk menghabisi nyawa Jhon. Tian Cheng melihat semua kejadian yg terjadi hari ini pada Jhon. Dan, ia bergumam.
Tian Cheng : "Lelaki ini memang tidak berguna. Seharian mengikutinya. Berharap ada setitik harapan yg tersisa dalam dirinya. Sehingga bisa menggugah hatiku untuk tidak membunuhnya. Tapi, ternyata dia memang tidak berguna. Percuma saja, membiarkannya hidup. Dia memang harus mati. Sekotak emas menungguku. Apalagi, yg kutunggu."
Tian Cheng tersenyum sinis. Sekarang ia sudah memantapkan hatinya untuk membunuh Jhon. Agar, supaya ia tidak plin-plan lagi dalam menjalankan tugas yg diberikan oleh Jason. Rupanya Tian Cheng adalah orang yg penuh dengan perhitungan. Ia tidak mau sembarang membunuh orang. Bahkan, sebelum ia membunuh seseorang maka ia terlebih dulu mengikuti orang yg menjadi target itu. Apakah, pantas untuk dilenyapkan atau tidak.
.
.
.
.
.
Disana di jalan yg tidak banyak dilalui orang. Jalan yg hanya dilalui oleh orang yg putus asa. Jhon memberhentikan mobilnya. Ia turun dan keluar dari mobilnya. Ia melihat jurang di bawah sana. Ia ingin lompat ke bawah. Tapi, ia takut mati. Ada keinginan dalam hatinya untuk berubah dan tetap hidup.
Tian Cheng yg masih melihat semua itu. Lagi-lagi, hanya tersenyum sinis. Lalu, ia pun keluar dari mobilnya. Dan, ia menghampiri Jhon.
Tian Cheng : "Kenapa ragu-ragu! Lompat saja! Kau memang harus mengakhiri hidupmu atau...."
Tian Cheng tidak melanjutkan kata-katanya. Ia mendekat ke Jhon seraya berbisik.
Tian Cheng : "Aku akan membunuhmu."
Jhon terkejut.
"Deg!"
Jhon mundur kebelakang.
Jhon : "Apa!"
Jhon tidak melihat jurang yg ada di belakangnya. Akhirnya, ia terjatuh ke dalam jurang.
"Aaaarrrggghhhhh....!!!"
Tian Cheng kaget. Ia melihat tiba-tiba saja Jhon jatuh ke dalam jurang. Tapi, ia cukup senang. Ia tidak perlu melumuri tangannya dengan darah Jhon.
Tian Cheng : "Hem? Ternyata aku memang tidak perlu mengotori tanganku sendiri seperti ini. Dia sudah jatuh ke dalam jurang. Tapi, aku harus memastikannya sendiri. Apakah, ia masih hidup atau dia benar-benar sudah mati."
Tian Cheng terjun ke dalam jurang, yg sebenarnya tidak terlalu dalam.
Tian Cheng : "Sepertinya jurang yg tidak dalam ini tidak akan membuatnya mati seketika. Tapi, aku harus melihatnya."
Tian Cheng sampai di dalam jurang tempat Jhon jatuh. Dia melihat tubuh Jhon masih bergerak meski hanya sedikit saja. Dan, Jhon melihat seorang pembunuh masih berdiri di hadapannya. Ia memohon kepada sang pembunuh tersebut untuk tidak mengambil nyawanya.
Jhon : "Ak....aku mohon. Ja...jangan...bu...nuh...a...ku."
Tian Cheng tersenyum sinis.
Tian Cheng : "Ohh, ya? Katakan padaku, alasanmu agar aku membiarkan kau hidup tuan Jhon yg terhormat?"
Jhon : "A...aku...ingin hidup dan aku...juga...ingin berubah...! Apa, itu cukup?"
Tian Cheng : "Hegh! Baiklah, tuan Jhon. Hari ini tuan Jhon Leon sudah mati jatuh ke dalam jurang!"
Tian Cheng lalu mengambil pistol yg terselip di balik pinggangnya lalu kemudian dia melepaskan tembakan sebanyak 3 kali.
"Dor...Dor...Dor...!"
Bersambung...
TWO HUSBAND Season 2
Nama Pemeran.
Nama : Tian Cheng (25) tahun
Visual
Keterangan :
Pembunuh bayaran berkebangsaan China. Memiiki berbagai jaringan dengan para pembunuh bayaran di negaranya. Merupakan pembunuh bayaran no 1 di China. Rapi dalam melakukan aksinya. Namun, ada kecenderungan untuk tidak membunuh targetnya. Karena, alasan konyol yg diyakininya. Yakni, semua orang berhak hidup.