
Setelah acara pertunangan Kinanti selesai. Mitha jalan-jalan di sekitar halaman rumah Kinanti. Ia menghirup udara segar. Ia merasa fresh sekarang. Ia mencoba berolahraga sebentar. Dengan memakai sepatu, celana training dan kaus tanpa lengan. Mitha siap-siap untuk jogging di pagi hari sendiri.
Mitha mengajak Kinanti. Tapi, Kinanti masih betah dengan selimut tebal dan bantal kesayangannya. Ia masih ogah bangun dari tempat tidurnya. Jadilah, Mitha lari pagi sendirian. Meskipun ia pergi sendiri ia hafal sudut-sudut daerah rumah Kinanti. Jadi, Mitha tidak kesasar seperti waktu pertama kali ia tiba di kota itu. Waktu itu dalam rangka libur panjang sekolah.
Ia meluangkan waktu liburnya untuk berlibur di daerah S yaitu di rumah temannya Kinanti. Ia sempat keluar rumah sendirian beberapa kali karena sifat buruk Kinanti yg suka bangun siang. Kendati matahari telah bersinar terang di atas kepala sekali pun. Mitha jadi kesasar dan tak tahu jalan kembali ke rumah Kinanti temannya. Untung saja, ada orang yg berbaik hati untuk mengantarkan pulang dirinya ke rumah Kinanti yaitu tante Dewi. Orang tua dari Bagas tunangan Kinanti.
Tapi, sekarang ia tidak takut untuk kesasar lagi sebab ia sudah hafal daerah sekitar rumah Kinanti. Jadi, ia bisa santai jogging tanpa takut kesasar pergi kemana pun ia suka. Mitha si cewek tomboy dan susah di atur. Zean juga keluar pagi-pagi bukan untuk jogging tapi untuk berjalan-jalan di sekitar daerah rumah bersama Bagas. Mereka sengaja, jalan-jalan keluar untuk menghirup udara segar di daerah S.
Saat ini mereka sudah ada taman yg ada tak jauh dari rumah Bagas. Mereka berdua duduk di bangku taman yg terletak disana. Sambil duduk mereka bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Sampai akhirnya, Mitha lewat di depan mereka sambil berlari kecil. Zean terkesiap melihatnya.
"Lova?" ucap hatinya.
Zean : "Bagas! Tunggu, disini ya?"
Bagas : "Hei, kau mau kemana?"
Zean : "Pergi mengejar seseorang!" ucapnya kemudian ia pergi dari taman itu. Meninggalkan Bagas sendiri disana terbengong.
Sedangkan, Zean mengejar sosok Mitha yg ia sangka Lova. Zean mengejarnya dengan sangat cepat. Dan, ia sudah berada tepat di belakang Mitha yg masih jogging. Zean menepuk pundak Mitha.
"Puk"
Merasa ada yg menepuk pundaknya. Mitha menoleh. Zean kaget begitu melihat Mitha menoleh. Langsung saja ia memeluk Mitha erat.
Zean : "Lova? Kau disini, sayang?"
Mitha bingung, tiba-tiba saja ada lelaki yg memeluknya dan memanggil namanya Lova. Mitha langsung naik darah dan ia melepas paksa pelukan Zean.
Miha : "Akh, lepass!" ucapnya sambil mendorongnya kasar.
Zean kaget ia tak menyangka kalau wanita yg ia sangka Lova akan mendorongnya kasar.
Zean : "Sayang? Kenapa, kau mendorongku?"
Mitha emosi.
Mitha : "Sayang! Sayang! Sayang, kepalamu!"
Zean : "Sayang? Apa, kau masih marah padaku?"
Mitha : "Sayang lagi? Heh! Dengar ya? Namaku itu Mitha. Jangan, sembarangan panggil-panggil aku sayang!"
"Mitha? Kok, Lova ganti nama?" ucap hati Zean.
Zean : "Sayang? Kenapa, kau ganti nama? Dan, kenapa kau ada disini?"
Mitha semakin emosi dan kesal.
"Uurgghh..., laki-laki ini. Benar-benar membuatku kesal!" ucap hati Mitha.
Mitha : "Bukan urusanmu!!! Sana pergi!!! Awas, kalau kau berani memanggilku sayang lagi. Akan kutonjok wajahmu sampai babak belur." ucap Mitha kesal kemudian pergi dengan perasaan kesal dan marah.
Bagas : "Zean!"
Zean : "Bagas?"
Bagas : "Kau mengejar Mitha?"
Zean : "Mitha?"
Zean : "Ah, yg bener?" tanya Zean tak percaya.
Bagas : "Itu benar, bodoh? Aku tahu dia karena Kinanti sering bercerita tentang dia padaku."
Zean : "Bukannya namanya Lova?"
Bagas : "Lova? Siapa itu, Lova?"
Zean : "Istriku!"
Bagas : "Istri? Kapan, kau menikah? Kenapa, kau tidak mengundangku?"
Zean : "Maaf! Pernikahanku waktu itu terburu-buru. jadi aku tidak bisa bilang padamu."
Bagas : "Baiklah. Well, sepertinya masih banyak yg baris kau katakan padaku. Ayo kita pulang. Mungkin ibu sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kita."
Zean mengangguk. Lalu, ia dan Bagas berjalan bersisian. Bagas banyak bertanya tentang Lova pada Zean. Dan, Zean pun menceritakan tentang Lova pada Bagas. Setelah mendengar semua cerita tentang diri Lova kepada Bagas. Bagas menarik satu kesimpulan.
Bagas : "Dari ceritamu itu. Aku bisa menarik satu kesimpulan." ucap Bagas saat mereka sedang menyantap sarapan pagi mereka. Dan, tentunya setelah mereka sampai di rumah.
Zean : "Apa?"
Bagas : "Istrimu dan Lova itu berbeda. Yang aku tahu tentang Mitha teman Kinanti itu adalah sosok seorang wanita yg tomboy dan suka sekali berkelahi. Sedangkan, tentang istrimu itu memiliki sifat yg lembut dan mudah terluka."
Zean : "Maksudmu?"
Bagas : "Maksudku adalah? Jelas bahwa Mitha dan Lova bukan orang yg sama. Mereka berbeda meski wajah mereka sama. Mungkin saja mereka saudara kembar."
Zean kaget!
Zean : "Ah, bagaimana mungkin!"
Bagas : "Apanya yg tidak mungkin? Sudah banyak kejadiannya kok. Ada saudara kembar yg terpisah. Atau, jika bukan saudara kembar mungkin saja Mitha adalah dopplegangernya Lova."
Zean : "Ini sulit dipercaya, Bagas?"
Bagas : "Memang sulit dipercaya. Bagaimana kalau kau mencari asal usul istrimu itu. Bukankah, dia anak angkat di keluarganya? Mungkin saja mereka menyimpan kebenaran tentang istrimu itu."
Zean menarik nafas lelah.
Zean : "Tapi, apa guna aku melakukan itu semua. Sekarang aku dan dia sudah berpisah jauh. Dia disana dan aku disini."
Bagas : "Meskipun begitu, rasa cinta itu masih ada bukan?"
Zean : "Ya, tentu saja."
Bagas : "Mungkin saja, dia juga masih mempunyai perasaan yg sama denganmu. Bukan tidak mudah bagi seseorang untuk melupakan suaminya meskipun itu tanpa cinta sekali pun. Meski, ia berada dalam pelukan lelaki lain akan tetapi rasa itu masih ada untukmu. Kau harus yakin itu, Zean?"
"Yah, mungkin saja!" ucap hati Zean.
Zean mengangguk. Dan, ia meneruskan makan paginya.
Bersambung...
TWO HUSBAND