
Asraf menelepon sang detektif yg sudah bekerja padanya untuk mencari adiknya Jesseline. Ia ingin memberitahukan bahwa ia sudah bertemu dengan Jesseline secara tak sengaja di dekat toko pakaian bayi.
Percakapan Via Telepon...
Detektif : "Apa!!! Tuan bertemu dengan Jesseline?"
Asraf : "Ya, pak Detektif. Saya, kemarin bertemu dengannya. Saya memanggilnya, tapi dia tidak mendengarnya. Dan, dia menaiki sebuah mobil ketika pergi."
Detektif : "Lalu, apakah tuan ingat plat nomor mobilnya?"
Asraf : "Saya ingat pak Detektif?"
Detektif : "Katakan, tuan?"
Asraf : "Plat nomornya adalah BK 2134 ZZ."
Detektif : "Oke, tuan Asraf saya sudah mencatatnya. Dan, saya akan segera melacaknya."
Asraf : "Baiklah, terima kasih pak Detektif?"
Detektif : "Sama-sama, tuan?"
"Tut"
Pembicaraan itu pun selesai. Irene yg sejak tadi menguping pembicaraan putranya dengan seorang detektif pun jadi bertanya-tanya tentang pencarian Jesseline.
Irene : "Bagaimana? Apa, pak Detektif itu sudah menemukan sesuatu tentang Jesseline?"
Asraf : "Belum, bu? Tapi, aku sudah menemukan titik terang keberadaan Jesseline. Bersabarlah, ibu. Kita pasti akan menemukannya."
Irene : "Ibu akan selalu bersabar, Asraf. Semoga saja pencarian ini tidak sia-sia."
Asraf : "Iya, bu. Semoga saja."
Irene : "Oh, ya. Dimana, Mikayla?"
Asraf : "Mikayla? Mungkin sedang berada di kamarnya. Kudengar tadi ia sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Mungkin, orang tua asuh yg sudah membesarkannya."
Irene : "Kalau begitu, ibu akan menemuinya."
Asraf : "Baiklah, ibu. Aku akan pergi keluar sebentar."
Irene : "Ya, nak. Pergilah."
Asraf pergi keluar untuk melacak plat nomor mobil kemarin yg ditumpangi oleh Jesseline. Sesungguhnya, ia sudah menyuruh Detektif melacaknya. Tapi, ia juga ingin melacaknya agar ia bisa menemukan Jesseline secepatnya.
"Lebih cepat, lebih baik." pikir Asraf.
Asraf ingin segera menemukan Jesseline secepatnya. Dia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu Jesseline dan memeluknya erat karena rindu. Sama seperti ia memeluk Mikayla kembaran Jesseline. Dia sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan Jesseline yg sudah lama hilang karena ulah bu Ningsih.
Ia pun mulai melakukan pelacakan terhadap plat nomor mobil yg kemarin ditumpangi oleh Lova bersama Sean, suaminya. Tidak butuh waktu lama untuk melacaknya. Akhirnya, ia menemukan juga alamatnya dimana. Ia membawa Mikayla serta pergi ke alamat rumah Jesseline alias Lova.
Sebelumnya, ia mengatakan pada sang detektif kalau ia sudah menemukan alamat rumah Jesseline.
Percakapan Via Telepon...
Detektif : "Benarkah, anda sudah menemukan alamatnya?"
Asraf : "Ya, aku sudah menemukan dimana alamatnya pak detektif. Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju kesana bersama Mikayla."
Detektif : "Apa? Mikayla juga ikut?"
Asraf : "Ya, dia juga sangat gembira sekali. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan kembarannya."
Detektif : "Wah, baguslah kalau begitu tuan Asraf. Itu berarti tugas saya sudah selesai untuk mencari Jesseline."
Asraf : "Ya, anda benar! Tugas bapak sudah selesai. Dan, saya akan segera mengirimkan pembayaran atas jasa anda pak detektif?"
Detektif : "Ah, terima kasih tuan?"
Asraf : "Sama-sama, pak?"
"Tut"
Percakapan itu pun selesai. Mikayla bertanya pada Aaraf apakah urusannya sudah selesai dengan sang detektif?
Mitha : "Sudah selesai, kakak?"
Asraf : "Sudah, Mikayla."
Mitha tersenyum. Asraf memperhatikannya. Ia juga melihat ada bekas luka sedikit di pergelangan tangannya. Dan, tampaknya lukanya masih baru.
Asraf : "Sepertinya kau tampak senang hari ini, adikku? Saking senangnya, sampai kau pun tidak mengatakan soal luka di pergelangan tanganmu itu padaku."
Mitha : "Ha, apa! Oh, ini. Ini hanya luka kecil kakak. Tidak perlu dipusingkan."
Asraf : "Oh, ya? Luka kecil? Katakan padaku. Siapa yg melakukannya."
Mitha : "Um? Itu, kemarin sewaktu kakak pergi keluar. Dan, setelah ibu selesai menemuiku. Vlara datang ke kamarku. Dan, dia mencoba cari gara-gara denganku."
Kejadian kemarin.....
Kamar Pribadi Mitha.
Vlara : "Enak ya? Dapat perhatian dan kasih sayang dari kak Asraf sama bude Irene?"
"Apa-apaan dia bicara begitu? Dia cemburu?" batin Mitha.
Mitha : "Tampaknya kau sedang stres. Pergilah, dari kamarku! Aku tidak suka ada puppy kecil berisik di kamarku! Keluar!!!" ucap Mitha membentak Vlara sambil membukakan pintu kamar lebar-lebar untuk Vlara.
"Apa! Puppy katanya?" batin Vlara emosi.
Langsung saja Vlara menggigit pergelangan tangan Mitha hingga membuat Mitha menjerit kesakitan.
"Arrgghhh...! Lepaskan!!!" teriaknya.
Karena, Vlara tidak mau melepas gigitannya. Akhirnya, Mitha menjambak kuat-kuat rambut Vlara hingga Vlara merasakan kesakitan dan melepas gigitannya. Vlara menjerit kesakitan karena Mitha tidak mau melepaskan pegangan tangannya dari rambut Vlara.
"Akh...lepas! Sakiittt!!!" teriak Vlara.
Mitha tersenyum mendengar teriakan Vlara.
Mitha : "Oh, sakit ya? Wah, tadi kau menggigit pergelangan tanganku. Itu sakit tahu! Sekarang, bagaimana sakit kan diperlakukan begini? Hah!" ucap Mitha sambil melayangkan satu tamparan keras ke pipi Vlara.
"Plaaakkk...!" bunyinya.
"Aww, sakittt! Hentikan!" ucap Vlara memohon.
Mitha : "Hentikan? Boleh saja, asal kau keluar sambil merangkak dari kamarku."
Vlara : "Apa? Merangkak?"
Mitha : "Ya"
Vlara : "Tidak bisakah, aku keluar tanpa merangkak?"
Mitha : "Apa? Tidak mau merangkak, ya? Kalau begitu, aku akan menamparmu lagi." ucap Mitha sambil mengangkat tangannya untuk menampar pipi Vlara kembali. Tapi, kemudian gerakan tangannya tertahan.
Vlara : "Jangan!!! Baiklah, ak...aku akan merangkak keluar. Se...sekarang lepaskan aku!"
Mitha : "Nah, begitu kan jauh lebih baik." Wah, kau memang puppy yg baik dan patuh." ucap Mitha sambil menepuk-nepuk pipi Vlara dan melepaskan pegangan tangannya pada rambut Vlara.
Vlara pun lega. Mitha sudah melepasnya.
Mitha : "Ayo, tunggu apa lagi. Merangkaklah! Atau, aku akan menendangmu."
Vlara pasrah. Sungguh ia kalah bila berhadapan dengan Mitha yg tomboynya selangit. Dan, tenaganya seperti tenaga seorang pria.
Vlara : "Iy...iya." ucap Vlara kemudian merangkak keluar dari kamar Mitha.
Mitha menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
"Sudah beres!" batinnya senang sudah memberi pelajaran kepada Vlara.
Kejadian kemarin selesai...
Mitha : "Begitulah, kejadiannya kakak?"
Asraf : "Oh, jadi begitu. Pantas saja wajah Vlara agak merah tadi kakak lihat."
Mitha : "Itu bagus untuknya. Siapa, suruh dia menggangguku."
Asraf : "Tentu saja, membela diri itu baik. Tapi, akan lebih baik lagi jika kau bisa menahan emosimu adikku?"
Mitha : "Cih! Menyebalkan! Untuk apa, menahan emosi untuk orang seperti Vlara itu?"
Asraf : "Dia begitu karena ia cemburu. Wajar saja, sejak kecil dia terbiasa dengan kasih sayang yg kakak berikan. Lagipula, dia kan sepupumu adikku?"
Mitha : "Baiklah, demi kakak. Aku akan menahan emosiku."
"Sepertinya, tidak baik jika aku membiarkan Vlara berlama-lama tinggal di rumahku. Nanti, setelah masalah ini selesai aku akan menelepon tante untuk membawanya kembali ke rumahnya. Hem, begitu jauh lebih baik." ucap batin Asraf.
Bersambung...
TWO HUSBAND