
Percakapan itu pun berakhir. Yang tertinggal sekarang adalah rasa berat hati yg tertinggal di dalam hati Zean untuk melepas Lova. Sang istri pertama dan wanita pertama yg mencuri hatinya. Tapi, hubungan itu harus berakhir dan ia harus mengalah demi sang kakak yg sangat mencintai Lova. Juga, demi menjaga hati Suzy sang istri kedua yang telah memberinya dua orang putra dan putri yg cantik dan lucu.
Two Husband S2 Eps 45
Mitha sedang duduk di ruang tamu sambil menemani anaknya bermain di lantai. Mitha tampak samgat senang sekali dengan kegiatannya di pagi hari itu. Sambil menemani Cecilia ia juga menyetel televisi karena ia juga ingin bermain dengan Cecilia sambil menonton tv. Acara yg paling disukainya adalah menonton berita di televisi.
Saat ia sedang asyik menonton berita di televisi. Ia dikejutkan dengan salah satu berita yg mengabarkan tentang Jason Leon yg ditangkap polisi karena kasus korupsi. Mitha membuka matanya lebar-lebar dan ia mendengarkan lebih jelas lagi berita yg ia dengar dan ia tonton tersebut. Sungguh ia tidak percaya jika Jason bisa melakukan hal itu.
Mitha langsung menelepon Bara untuk memberitahunya hal tersebut. Saat itu, ternyata Bara sedang ada di kantor Sean sedang membahas tentang kembalinya Zhang Jie Luo alias Jhon Leon ke Indonesia. Sean terlihat kaget sekali ketika mendengar dari mulut Bara bahwa Zhang Jie Luo adalah Jhon Leon.
Sean : "Apa!!! Yang benar saja. Bukankah, dia sudah mati?"
Bara : "Ya begitulah, Sean. Sungguh aku tidak mengerti dengan semua ini."
Sean : "Lalu, kenapa Paul tidak kau suruh saja untuk menyelidiki tentang kematian Jhon Leon itu. Mungkin, saja dia bisa menemukan sesuatu."
Bara : "Ya, kau benar. Mudah-mudahan saja aku bisa mendapatkan sesuatu. Tapi, tugas Paul sudah selesai."
Sean : "Dasar, kau ini. Makanya kasih pekerjaan orang itu jangan setengah-setengah. Kau benar-benar menyebalkan. Sudah, serahkan saja tugas ini padaku. Aku juga jadi penasaran. Tentang mayat siapa yg dikebumikan waktu itu."
Bara : "Baiklah, kuserahakan hal ini padamu. Oh, ya si rambut kuning mana ya?"
Sean : "Tidak usah kau cari si Stevie. Dia pasti sedang bersenang-senang hari ini."
Bara : "Ck, anak itu tidak pernah berubah."
Sean : "Dia belum saja menemukan yg cocok. Jika, sudah ketemu dia pasti akan jadi bucin setengah mati. Hahaha...."
Bara : "Hahaha...iya juga ya? Dasar, si kuning rakus."
Sean : "Kau juga."
Bara : "Aku?:
Sean : "Ya, kau dulu juga rakus. Tapi, sekarang kau jadi bucinnya kak Mitha. Hahaha..."
Bara : "Kamprett."
Bara melengos karena kesal. Kata-kata Sean seperti terdengar mengejek dirinya. Beberapa, menit berlalu. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Ternyata, yg meneleponnya adalah Mitha. Langsung saja ia mengangatnya.
Percakapan Via Telepon...
Bara : "Halo, sayang?"
Mitha : "Sayang? Kau dimana?"
Bara : "Aku dikantornya Sean. Ada apa, sayang?
Mitha : "Apakah, kau belum melihat berita?"
Bara : "Berita? Berita apa sayang."
Mitha : "Berita kalau Jason Leon ditangkap polisi, kasus korupsi."
Bara : "Apa! Jason Leon? Ditangkap polisi karena kasus korupsi?"
Mitha : "Iya, sayang. Selama ini, yg ku tahu dia bersih. Tidak suka korupsi. Lalu, tiba-tiba ditangkap karena kasus korupsi. Bukankah, itu janggal?"
Bara berpikir sejenak.
Bara : "Ya, kurasa kau benar. Sayang? Sudahlah, tidak perlu berpikir tentang adik iparmu itu. Oh, ya bagaimana putri kecil kita Cecilia. Apa, yg dilakukan si cantik kecil kita."
Mitha : "Ohh, dia sedang bermain sayang?"
Bara : "Bermain dengan siapa."
Mitha : "Tentu saja, dengan ibunya. Unccchhhh...sini sayang ini papa. Say hello to papa sayang?"
Mitha membesarkan volume panggilannya. Agar Cecilia dapat mendengarkan suara Bara.
Mitha : "Ayo, sayang? Ayo, bicara. Uuhh...kamu lom bisa bicara ya sayang. Sayang, Ceci belum bisa bicara sepertinya."
Bara : "Tentu saja, sayang? Usianya masih beberapa bulan. Masa sudah bisa bicara."
Bara tersenyum menjelaskan kepada Mitha bahwa Cecilia masih kecil dan belum dapat berbicara.
Mitha : "Ouh, iya juga ya sayang? Ya, sudah sepertinya Ceci sudah cape dia mau tidur. Kututup dulu teleponnya ya. Bye...sayang?"
Bara : "Bye...sayang."
"Tut"
Bara : "Ada apa dengan wajahmu itu. Tadi, kau baik-baik saja."
Sean : "Tidak apa-apa."
Bara : "Sean aku cukup mengenalmu. Tidak apa-apa, kau bilang belum tentu tida ada apa-apa kan?"
Sean : "Yeah. Sebenarnya, ada sedikit masalah dalam rumah tanggaku dengan Lova."
Bara : "Masalah apa, coba katakan padaku."
Sean : "Zean dan Lova akan bercerai."
Bara terkejut mendengarnya.
Bara : "Apa!!! Zean dan Lova akan bercerai?"
Sean tersenyum kecut.
Sean : "Ya"
Bara : "Kapan?"
Sean : "Aku belum tahu. Zean masih mengurus surat-suratnya."
Bara : "Jadi, itukah yg membuatmu tadi seperti itu?"
Sean : "Itu sebagian kecil."
Bara : "Jadi, bagian besarnya???"
Sean : "Lova sangat mencintai Zean."
Bara : "Jadi, Lova tidak cinta padamu?"
Sean : "Aku tidak tahu, yg kurasakan selama ini adalah dia hanya sekadar sayang padaku."
Bara : "Itu saja?"
Sean : "Ya"
Bara : "Sean! Aku rasa untuk masalah kalian itu. Lebih baik dibicarakan dari hati ke hati. Tentu lebih baik jika kalian saling terbuka. Tidak baik membiarkan masalah tentang perasaan ini berlarut-larut. Jika, dibiarkan terlalu lama maka akan menimbulkan luka di antara kalian berdua."
Sean termenung sejenak. Ia memikirkan kata-kata yg baru saja diucapkan oleh Bara.
Sean : "Ya, kau benar. Aku harus meluruskan masalah ini dengan Lova. Nanti malam aku akan mengajaknya berbicara mengenai masalah ini."
Bara : "Baguslah. Semoga berhasil."
Sean : "Oh, ya. Mengenai pembicaraan kalian tadi tentang Jason Leon. Apakah itu benar?"
Bara : "Entahlah, aku juga tidak tahu."
Sean : "Dari kabar yg kudengar. Jason mengadakan kerjasama dengan Zhang Jie Luo. Apakah, mungkin ada hubungannya dengan hal itu?"
Bara : "Kerjasama? Zhang Jie Luo?"
Sean : "Ya, kau tidak tahu? Mungkin saja si keparat itu sedang merencanakan sesuatu. Yang ku tahu juga hubungannya dulu dengan Jason juga tidak baik."
Bara : "Kenapa?"
Sean : "Jason dan Jhon, kau tahu. Mereka saudara tiri. Heidi merupakan ibu kandung Jason. Selalu memanjakan Jason dan memberinya banyak fasiitas dibandingkan Jhon."
Bara : "Lalu?"
Sean : "Hanya itu saja yg kutahu. Masalah keluarga itu cukup rumit. Ah, sudahlah. Tidak perlu membahas mereka lagi. Aku akan tetap membantumu menyelidiki tentang mayat siapa yg dikebumikan itu."
Bara : "Baiklah. Aku pamit dulu."
Sean : "Ah, Bara. Hati-hati ya?"
Bara menganggukkan kepalanya. Lalu, ia segera pergi dari kantor Sean. Bara segera meluncur kembali ke kantornya dahulu. Namun, di dalam perjalanan itu tiba-tiba saja ia diserang oleh seorang pengendara sepeda motor moge. Pengendara itu menembakkan pistolnya terus menerus ke arah mobil yg ditumpangi oleh Bara.
Sedangkan, di sisi lain. Sean masih berada di dalam kantornya. Ia tidak tahu kalau Bara diserang oleh orang tak dikenal. Sean sedang sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri. Sementara, Bara ia sedang berjuang melawan maut yg sedang mengintainya.
Bersambung...
TWO HUSBAND Season 2