
Suzy dan Asraf baru saja tiba di rumah orang tuanya. Asraf memencet bel pintu rumahnya berulangkali. Tak lama pintu rumah itu pun terbuka. Tampak, seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu dengan senyum ramah menghias wajahnya.
Irene : "Asraf? Kamu baru pulang, nak?"
Asraf : "Iya, ma?"
Irene melihat seorang wanita hamil bersama Asraf. Ibunya heran dan muncul banyak sekali pertanyaan di kepalanya.
Irene : "Nak? Siapa, wanita hamil yg ada di sebelahmu itu? Apa itu istrimu? Kamu sudah menikah diam-diam? Kamu tidak beritahu, mama?"
Asraf : "Ma? Mama! Asraf bisa jelasin sama, mama."
"Ck, aduh? Gimana, nih jelasin ke mama." ucap hati Asraf.
Irene : "Ya sudah, kalau kamu mau jelasin sama mama. Ayo, masuk dulu. Kasihan, dia. Wanita hamil tidak baik berada di luar rumah lama-lama."
Asraf : "Ayo, Suzy!"
Suzy menganggukkan kepalanya. Ia mengikuti langkah kaki Asraf masuk ke dalam rumah itu. Sesampainya di ruang tamu, Irene mempersilahkan Asraf dan Suzy duduk.
Irene : "Duduklah."
Asraf dan Suzy pun duduk.
Irene : "Sekarang, jelaskanlah kepada mamamu ini. Siapa, wanita hamil yg kau bawa pulang ke rumah ini, nak?"
Asraf pun menjelaskan tentang Suzy, wanita hamil yg sudah di tolongnya itu. Tampak, Irene manggut-manggut mendengarkan penjelasan Asraf, anaknya. Irene pun mengerti.
Irene : "Oh, begitu rupanya ceritanya. Wah, mama sampai berpikir kalau....., siapa namamu, nak?"
Suzy : "Suzy, tante."
Irene : "Ah, ya Suzy. Mama, pikir dia istrimu nak?" ucap Irene tersenyum.
Asraf : ??? Mama, nih ada-ada aja. Asraf kan jadi maluπ π π .
Asraf menggaruk-garuk kulit kepalanya yg tidak gatal. Melihat itu, Irene tersenyum saja.
Irene : "Kalau begitu, Suzy. Tinggallah disini, nak? Tante sama Asraf hanya tinggal berdua saja. Tante sangat senang kalau ada anak perempuan di rumah ini. Agar, tante tidak kesepian!"
Suzy : "Baiklah, tante. Suzy akan tinggal disini bersama tante dan juga Asraf."
Irene : "Bagus! Bagus sekali. Ayo, nak? Tunjukkan dimana kamar Suzy beristirahat." ucap Irene senang sambil menepuk bahu Asraf agak keras.
Asraf cukup terkejut. Tapi, ia sangat senang melihat raut senang di wajah wanita yg telah melahirkan dirinya itu.
Asraf : "Baiklah, ma? Ayo, Suzy. Ikut denganku."
Suzy menganggukkan kepalanya dan ia mengikuti langkah kaki Asraf menuju kamar tamu yg sudah disiapkan. Sementara, Suzy sudah berada di rumah Asraf. Kepanikan terjadi di kediaman Frederick. Lova terlihat panik saat ia bangun ternyata ia mengetahui kalau Suzy tidak ada di kamar atau dimana pun. Kepanikannya itu mengundang perhatian Sean yg saat itu tiba-tiba terbangun karena mendengar suara Lova yg sedang panik kehilangan Suzy. Sean memeluknya erat.
Sean : "Tenang dan sabar ya? Suzy pasti tidak kemana-mana. Dia pasti masih ada di rumah kok?"
Lova : "Apanya, yg harus tenang dan sabar. Mengatakan padaku Suzy masih ada di rumah ini. Kopernya aja gak ada. Meski, pakaian di lemarinya masih utuh. Dia pasti sudah pergi membawa pakaian seadanya dan juga uang seadanya pemberianku. Bagaimana, aku bisa tenang Sean??? Hu...Hiks....Hiks." ucap Lova sambil menangis. dalam pelukan Sean.
Zean terbangun dari tidurnya, pada saat Suzy pergi. Zean tidur di kamar lain karena Suzy sedang pingsan. Zean bertanya pada Lova apa yg sudah terjadi.
Zean : "Ada apa ini ribut-ribut? Hoaaammm...." ucapnya setengah mengantuk.
Melihat Zean bertanya begitu tanpa rasa khawatir sedikitpun pada Suzy. Langsung saja, membuat Lova marah dan emosi. Ia melayangkan satu tamparan keras pada Zean.
"Plaaaakkk."
Zean terkejut. Sean juga. Sean tak menyangka jika Lova bisa juga marah dan melayangkan satu tamparan untuk Zean. Lova menatap marah pada Zean. Sean diam tak bisa berkata apa-apa.
Lova : "Laki-laki macam apa kamu! Sampai istri kamu pergi dari rumah pun kamu tidak tahu? Kamu malah enak-enakan tidur! Sedangkan, dia di luar sana entah berada di mana! Zean kamu memang laki-laki keparat yg tidak berguna! Tidak punya hati dan nurani! Suka menyiksanya lahir dan bathin! Aku benci sama kamu!!!"
Zean : "Sa....sayang? Kamu jangan marah-marah ya? Ak....aku minta maaf. Memang aku salah sudah mengatakan itu padanya. Mana, aku tahu jika hal itu malah membuatnya kabur dari rumah?"
Lova masih menangis terisak. Dan, ia membentak Zean.
Lova : "Hu...Hiks....diam kamu!!!"
Zean terdiam begitu Lova membentaknya.
Lova : "Ceraikan aku, sekarang juga!!! Aku tidak mau bersuamikan lelaki yg tak punya hati seperti kamu!"
Zean terkejut mendengarnya. Sean juga tak kalah terkejutnya mendengar permintaan "CERAI" dari Lova.
Zean : "Apa!!! Cerai, katamu? Tidak, sayang? Aku tidak akan menceraikanmu apa pun yg terjadi."
Lova : "Kalau begitu, aku saja yg menceraikanmu! Aku akan mengurus semua suratnya. Ayo, Sean? Bawa aku pergi."
Sean : "Ada apa? Masih kurang jelas? Hah! Dia minta cerai denganmu. Sebaiknya, kabulkan keinginannya. Dan, biarkan dia jadi milikku seorang!"
Zean : "Apa maksudmu, kakak? Aku suami sahnya bukan kau. Aku yg berhak atas dia bukan kakak!!!"
Sean menarik kerah baju Zean.
Sean : "Diam, kau Zean! Atau aku akan memukulmu!"
Zean : "Pukul saja! Pukul aku, kak! Aku sudah kalah! Kakak menang!" ucapnya dengan nada tinggi.
Lova mencoba melerai Sean dan Zean yg sedang bertengkar.
Lova : "Sudah, hentikan kalian berdua! Kalian bukannya mencari Suzy. Kalian malah bertengkar hebat disini. Sean, aku akan tarik kata-kataku jika kau bisa memenuhi permintaanku."
Zean : "Baiklah, apa itu Lova?"
Lova : "Dalam waktu satu bulan, cari Suzy sampai ketemu. Jika, dalam waktu sebulan pun kau tak dapat menemukannya. Maka, kau harus siap untuk kehilangan aku. Kita berpisah!"
Zean : "Baiklah, sepakat. Aku akan mencarinya sampai ketemu. Tunggu saja, aku akan membawanya kembali ke rumah ini. Aku pergi, aku akan mencarinya sekarang juga."
Zean segera berlalu pergi dari rumah itu. Ia akan mencari Suzy sampai ketemu. Zean sangat mencintai Lova. Sampai-sampai demi Lova ia rela melakukan itu. Meski, di dalam hatinya sangat berat memiliki dua istri. Kalau bisa ia hanya memperistri Lova saja. Itu sudah cukup baginya.
.
.
.
.
.
.
Menjelang malam......
Lova tampak berdiri di hadapan jendela. Dia sedang menatap langit malam. Ia berdo'a sambil memejamkan mata. Agar, Tuhan membukakan hati Zean agar menerima dan mencintai Suzy sebagai istrinya. Sungguh, ia pun tak keberatan jika harus berbagi suami dengan wanita lain seperti Suzy. Karena, Suzy sedang hamil anak dari Zean. Jadi, butuh perhatian ekstra dari sang suami.
Sean muncul di belakang Lova. Ia memeluk erat tubuh Lova yg lembut.
Sean : "Sedang apa, kamu sayang?"
Lova : "Menatap langit, sambil berdo'a pada Tuhan agar membukakan hati Zean untuk Suzy. Kamu, tidak kerja hari ini?"
Sean : "Bagaimana, bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Kamu tidak boleh sendirian. Aku harus menemanimu, sayang?"
Lova tersenyum mendengar kata-kata Sean.
Lova : "Tidakkah kau rugi, sa...yang?"
Sean : "Tidak? Kenapa, aku harus rugi. Uang masih dapat kucari. Tapi, istri seperti kamu dimana lagi aku akan mencarinya."
Lova : "Kamu gombal."
Sean : "Aku tidak gombal. Aku serius. Aku benar-benar mencintai kamu, sayang?"
Lova : "Huh? Mana buktinya?"
Sean : "Bukti? Apa, cinta itu perlu bukti? Kaya kasus kriminal saja pakai bukti. Ribet ah..."
"Hahaha"
Lova tertawa lebar.
Sean : "Oh, kamu menertawaiku ya? Awas, kamu ya?"
Lova : "Ehhh??? Tidak....emmh?"
Lova masih mau bicara tapi Sean sudah membungkam bibirnya yg merah itu dengan bibirnya. Sean mencium Lova lembut dan penuh nafsu. Sean melepas ciumannya dan berbisik lembut di telinga Lova...
Sean : "Aku ingin punya anak darimu, sayang? Malam ini, ayo kita buat."
Wajah Lova jadi merah ketika ia mendengar kata-kata rayuan dari Sean. Mau tak mau, ia pun kembali memberikan dirinya kepada Sean. Seperti, malam-malam yg sudah-sudah sebelumnya. Dan, Sean pun tak bosan-bosannya mereguk madu asmara bersama Lova untuk kesekian kalinya. Karena, ia benar-benar menikmatinya bersama dengan Lova istrinya.
Bersambung....
TWO HUSBAND