
Sean membawa masuk Lova ke dalam rumahnya. Saat, mereka masuk tampak beberapa orang pelayan berada di luar menyambut Sean dan Lova.
Para pelayan : "Selamat datang, kami ucapkan kepada tuan Sean dan nona!"
Sean menjawab pendek.
Sean : "Hm!"
Ia tetap dengan sifatnya yg dingin dan sedikit angkuh juga posesif. Ia berpesan, kepada Fandy....
Sean : "Fandy! Bawa, mobilku pergi! Nanti, aku akan menghubungimu ketika aku membutuhkanmu!"
Fandy segera menyingkir.
Fandy : "Baiklah, tuan?"
Fandy segera membawa mobil tuannya pergi. Sedang, Sean menarik tangan Lova masuk ke dalam rumah. Tampak sekali, tatapan tidak suka para pelayan wanita kepada Lova. Seolah, mata mereka berkata "dasar, jalang......!"
Tapi, Lova tidak peduli karena yg membawanya kesana adalah Sean sendiri. Dan, hal itu tidak ada hubungannya dengan diri mereka. Sean dan Lova sudah berada di dalam rumah sekarang. Lova sangat takjub dengan isi interior rumah yg dimiliki Sean. Sangat mewah dan "wah" tentunya.
Sean : "Kenapa? Tidak, pernah lihat rumah mewah sebelumnya?"
Lova : "Ehh? I.....iya, pak?"
Sean : "Pantas saja, kau jadi bengong begitu lihat rumah biasa seperti ini!"
Lova : "Rumah biasa?"
Mengangguk.
Sean : "Iya, bagiku ini biasa saja! Banyak rumah lebih besar dan mewah yg kumiliki lebih dari ini!"
Lova : "Oh"
Sean mengerutkan dahinya.
Sean : "Oh?"
Lova bingung.
Lova : ???
Dengan nada dingin dan datar.
Sean : "Ck....sudahlah! Sekarang, kau tinggal disini denganku! Kau tidak perlu bekerja di bar lagi! Kau cukup melayani semua keperluanku mulai sekarang!"
Lova terkejut!
Lova : "Se....semua? Semua keperluan, anda pak?"
Sean : "Ya"
Lova : "Apakah.....apakah......termasuk....itu.....pak?"
Sean : "Itu?"
Lova mengangguk. Dan, Sean pun mengerti maksud Lova. Ia pun berjalan mendekati Lova, sementara Lova mundur ke belakang hingga tubuhnya menabrak tembok.
"Bruk"
Sean sudah berada di depannya dan sedang menghembuskan nafasnya kasar. Lalu, kemudian berbisik di telinga Lova. Sambil, meletakkan kedua tangannya di antara dinding tembok.
Dengan, senyum sinis.
Sean : "Jika, kau mau melakukannya, maka dengan senang hati aku akan pasrah menerimanya!" ucapnya sambil menjilat telinga Lova.
Lova terkejut!
Dengan, raut wajah ketakutan.
Lova : "Hah? Pak? Bukankah, ini tidak pantas anda lakukan?"
Sean menaikkan satu alisnya. Dengan, sorot mata tajam menatap Lova yg takut menatapnya. Sean, berbicara dengan nada penuh penekanan.
Sean : "Tidak pantas? Pantas tidak pantas, bukan kamu yg menentukan tapi, aku! Mengerti!"
Dengan, nada penuh ketakutan.
Lova : "Me....mengerti!"
Sean : "Baiklah, kalau begitu! Lou Chan!!!" panggilnya keras sambil melepaskan kedua tangannya dari tembok.
Tak lama, muncullah seorang pelayan keturunan tionghoa datang dengan tergopoh-gopoh.
Lou Chan : "Saya, tuan?"
Sean : "Tunjukkan, wanitaku dimana letak kamarnya!"
"Wanitaku???" ucap hati Lova.
Lou Chan : "Baiklah, tuan? Mari, nona....?
Menyebutkan nama.
Lova : "Namaku, Sandrina Widyalova, paman! Panggil, aku Lova paman?"
Lova pun mengangguk dan mengikuti langkah Lou Chan yg sebenarnya merupakan seorang pengurus rumah di rumah tersebut. Ia naik tangga, ke lantai atas mengikuti Lou Chan yg berjalan di depannya. Sedang, Sean menatap setiap langkah demi langkah kaki Lova menuju lantai atas.
πππππ
Menjelang Malam
Hari sudah menjelang malam. Sean, sudah bangun dari tidurnya maklum kemarin malam merupakan hari yg panjang dan melelahkan. Ia pun, menyuruh Lou Chan untuk memanggil Lova ke kamarnya. Lou Chan, pun segera menuruti perintah tuannya.
Lou Chan : "Baiklah, tuan? Saya, akan segera memanggil nona Lova kemari!"
Menyuruh pergi tanpa melihat.
Sean : "Hm! Pergilah!"
Lou Chan mengangguk dan segera pergi dari hadapan Sean untuk memanggil Lova di kamarnya.
*****SKIP*****
Lou Chan pun kembali dengan membawa Lova bersamanya.
Lou Chan : "Tuan? Ini, nona Lovanya!"
Sambil memberi kode untuk segera pergi.
Lou Chan : "Baiklah, tuan?"
Sambil menutup pintu.
'Krieet"
"Jegrek"
Lova terkejut ketika pintu kamar Sean ditutup dan dikunci oleh Lou Chan dari luar.
Lova : "Ehh? Pintunya....pintunya....jangan dikunci!!!" teriaknya.
Sean marah.
Sean : "Diam!!! Kau ini, berisik sekali ya?"
Lova terdiam kala Sean membentaknya. Sean terlihat kesal.
Sean : "Kau tenang saja! Aku tidak akan memperkosamu!!! Aku hanya ingin, kau melayaniku mandi! Itu saja!"
Lova membulatkan matanya.
Lova : "Melayani mandi?"
Sean : "Ya, kenapa? Apa, kau berharap lebih?"
Lova : "Ti....tidak!"
Menarik tangan Lova menuju kamar mandi.
Sean : "Baiklah, ayo sini!"
Membuka, baju mandi di hadapan Lova tanpa permisi. Lova kaget dan berteriak sambil menutup matanya.
Lova : "Kyaaaaa" jeritnya.
Sean terkejut!
Sean : "Ada, apa?"
Sambil menunjuk tubuh polos Sean tanpa sehelai benang pun. Sean mendengus kesal dan tidak peduli. Ia melangkahkan, kakinya memasuki bak mandi yg ternyata sudah di siapkan dengan busa sabun.
Sean : "Buka matamu! Dan, kemarilah! Gosok tubuhku! Cepatlah!"
Lova mengintip dan membuka kedua matanya perlahan. Ia melihat Sean sudah berada di dalam bak mandi. Ia pun merasa lega. Lalu, ia pun melangkahkan kakinya ke arah Sean dan mulai menggosok tubuh Sean secara perlahan dan lembut.
Sean merasakan sentuhan lembut tangan Lova menjamah seluruh tubuh bagian belakangnya. Ia merasa nyaman namun, ia pun merasakan sedikit sensasi nakal di daerah intimnya. Miliknya, secara perlahan bangkit. Dan, ia merasa gelisah. Tak mau, terjadi hal-hal yg tidak di inginkan ia pun menyuruh Lova berhenti menggosok tubuhnya.
Sean : "Berhenti!!!"
Lova pun menghentikan, aksinya.
Sean : "Sekarang, kamu keluar dan tunggu aku di luar!"
Lova menurut tanpa berkata sepatah kata pun.
Setelah, Lova keluar dari kamar mandi. Sean menenangkan nafasnya yg mulai memburu.
Sean : "Ck....SIAL! Aku tidak menyangka, kalau sentuhan lembutnya membangkitkan hasratku!" ucapnya galau.
Akhirnya, Sean pun mandi sendiri. Setelah, ia mengalami kegalauan luar biasa saat Lova menggosok tubuhnya tadi.
β€β€β€BERSAMBUNGβ€β€β€
πππTWO HUSBANDπππ