TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-51



Tengah Malam di kediaman Sean....


Lova tidak bisa tidur nyenyak setelah ia mendengar kisah tentang dirinya yg terpisah dengan keluarga dan saudara kembarnya dari Asraf. Yang ternyata tak lain adalah kakaknya sendiri. Ia menggeliat kesana kemari merasa tidak nyaman dan tidak enak. Ia merasa resah dan gelisah karena ia sungguh tak menyangka kalau ternyata ia masih mempunyai orang tua kandung beserta saudaranya.


Lova merasa kalau ia sedang bermimpi. Mimpi yg sangat indah dan ia enggan untuk terbangun. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa itu adalah kenyataan. Orang yg sama wajahnya dengan dirinya ternyata adalah saudara kandungnya sendiri. Serta lelaki yg ia temui beberapa bulan lalu ternyata adalah kakaknya sendiri.


Kalau dipikir-pikir. Terkadang yg namanya takdir itu tidak bisa ditebak. Dan, memang begitulah nasibnya. Ia harus terpisah dari keluarga karena ulah seseorang yg sangat dendam pada orang tuanya. Ia juga tak habis pikir mengapa orang yg bernama Ningsih itu demikian kejam pada diri dan keluarganya.


Lova bangkit dari tempat tidur. Ia berdiri di depan jendela yg terbuka lebar. Sangat dingin cuaca di luar pada malam hari. Namun, ia tak cukup bisa merasakan rasa dingin itu. Tiba-tiba, saja ia merasakan ada seseorang yg memakaikan pakaian sweater padanya.


Sean : "Pakai ini." ucapnya lembut.


Lova terkejut. Sungguh ia tidak menyangka kalau Sean akan bangun dan memakaikan sweater sekaligus memeluknya saat ini.


Sean : "Apa yg membuatmu tidak bisa tidur kali ini, sayang?" tanya Sean.


Lova terdiam.


Sean : "Apa kau masih tidak percaya bahwa kau masih punya keluarga dan saudara kembar?"


Lova mengangguk. Sean membalikkan tubuh Lova agar berhadapan dengan dirinya. Sean melihat tatapan mata Lova yg sendu dan seakan bersedih. Entah bersedih karena apa. Sean tidak tahu.


Sean : "Aku dapat mengerti perasaanmu saat ini. Memang sulit untuk menerima kenyataan. Tapi, kau harus bersyukur dan berbahagia. Bahwa keluargamu masih ada. Dan, besok kau akan bertemu dengannya kan?"


Lova : "Iya, terima kasih ya sayang? Karena, kamu ada di saat aku merasa bimbang dan tidak percaya dengan semua ini."


Sean : "Iya, sama-sama sayang?" ucap Sean seraya mengelus lembut kepala Lova. Lalu, mereka hanyut dalam pelukan hangat cinta kasih mereka.


Namun, tiba-tiba Sean jadi ingat sesuatu. Tentang pembicaraan yg terputus tadi. Mengenai Lova dan Asraf yg pernah bertemu. Sean tersenyum licik. Agaknya malam ini ia akan memberikan hukuman untuk Lova.


Sean : "Sayang?"


Lova : "Ya"


Sean : "Kamu bertemu dengan si Asraf itu kapan sayang? Dan, dimana kamu pernah bertemu dengannya."


"Deg"


Jantung Lova berdebar tak menentu sewaktu Sean menanyakan perihal pertemuannya dengan Asraf beberapa bulan lalu.


Lova : "Um? Itu..."


Sean : "Sayang? Katakan padaku."


Lova : "I...itu...ketemu waktu ma...makan di restoran."


Sean : "Restoran? Restoran yg mana, sayang?" tanya Sean cemburu.


Lova : "Res...restoran itu, yg waktu kita belanja beli ponsel untuk aku."


Sean : "Ohh, restoran yg itu ya? Tapi, aku tidak bertemu dan melihat orang itu. Katakan dimana kau bertemu dengannya."


Lova : "Di...di...toilet, sayang?"


Sean : "Ohh, yg waktu itu kamu kelamaan di toilet ya. Ahh, jadi kamu sempat say hello dengannya?"


Lova mengangguk.


Sean : "Sayang? Kamu harus diberi hukuman!" ucap Sean sambil tersenyum Smirk.


Lova : "Ap...apa??? Hukuman? Hukuman apa?"


Lova : "Baiklah, tapi satu kali saja ya? Tidak boleh banyak-banyak."


Sean tersenyum.


Sean : "Hehe..., itu semua tergantung ketulusan hatimu sayang?"


Lova : "Ak...aku tulus kok?"


Sean : "Oh, ya? Kalau begitu....?"


Dan, malam panjang itu terus berlanjut dengan riuh suara yg terdengar sangat intim diantara Sean dan Lova. Malam itu Lova memberikan apa yg diinginkan oleh suaminya. Ia tahu itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri. Namun, Lova tetap mewanti-wanti Sean agar pelan-pelan dan tidak menyakiti calon bayi mereka. Sean mengerti hal itu. Ia juga tidak ingin kehilangan calon bayi mereka berdua. Untuk itu ia melakukannya dengan hati-hati sekali.


Sementara itu disaat yg bersamaan, di daerah S...


Malam yg dingin seakan menusuk kulit. Zean sedang tertidur dengan tubuh meringkuk. Ia sedang kedinginan sekali. Suzy melihat dan mengetahui hal itu. Suzy lalu mengambilkan selimut tebal dan memakaikannya pada Zean. Zean membuka matanya dan ia melihat Suzy memakaikan selimut tebal itu untuknya. Zean mengucapkan terima kasih pada Suzy.


Zean : "Terima kasih, sayang?" ucap Zean sambil mengecup lembut bibir Suzy. Suzy terkejut. Perlahan ia menjauhkan dirinya dari Zean.


Zean : "Kenapa?"


Suzy : "Tidak apa-apa! Hanya kaget aja."


Zean : "Kenapa, harus kaget begitu? Kemarilah, sayang?"


Suzy mendekat kepada Zean. Zean menyambutnya dan memeluk Suzy.


Zean : "Sebenarnya, yg aku butuhkan bukan selimut sayang?"


Suzy : "Cuaca dingin begini di malam hari. Masa tidak butuh selimut lalu apa?"


Zean menatap mata sendu Suzy.


Zean : "Kau mau tahu?"


Suzy : "Ya"


Zean tersenyum dan berbisik lembut di telinga Suzy.


Zean : "Aku ingin kamu sebagai penghangat ranjangku. Sebagai penebus rasa bersalahku padamu waktu itu."


Suzy : "Apa???"


Zean : "Kenapa terkejut begitu? Aku benar-benar menginginkannya saat ini, sayang? Berikanlah padaku!" ucap Zean setengah merengek bagaikan anak kecil membuat Suzy jadi tersenyum geli melihatnya.


Suzy : "Baiklah!"


Zean : "Kalau begitu, jangan mengerang terlalu kuat ya? Aku tidak mau kedengaran tetangga sebelah rumah. Bisa repot, kalau mereka dengar."


Suzy tersenyum dan ia mengangguk.


Zean : "Ohh, sayaaang??? Muach..."


Zean mencium lembut bibir Suzy. Zean memberikan kenikmatan cinta pada Suzy. Setelah sekian lama, Suzy tidak merasakan kenikmatan dalam hubungan antara suami dan istri. Malam ini ternyata ia merasakan kenikmatan itu. Kenikmatan yg sudah ia idamkan sejak ia menikah dengan Zean. Tapi, belum terlaksana karena Zean sangat membenci dirinya dan tidak ingin menyentuh dirinya. Tapi, sekarang saat ini dan malam ini ia merasakan perasaan itu bersama Zean mengarungi malam yg semakin dingin. Suzy bahagia bersama Zean dan anak perempuan mereka.


Bersambung....


TWO HUSBAND