
Pagi hari kediaman Standford...
Suasana pagi di meja makan, terasa hangat dengan sentuhan sinar matahari pagi yg hangat. Bara sedang menyantap sarapan paginya. Terlihat sekali, raut wajahnya yg tampan tampak gembira. Jimmy diam-diam memperhatikan tingkah boneka kesayangannya itu.
Ooh...jadi seperti ini wajah bonekaku kalau sedang jatuh cinta. Lucu bangettt....! Hihihi..."
Jimmy terkekeh geli melihat raut senang terukir di wajah tampan cucunya. Sedangkan, Bara ia tampak kaget ketika ia melihat Jimmy tiba-tiba saja ada di hadapannya. Ia malu, karena saat itu timbul rona merah di wajah tampannya.
Bara : "Kakek!"
Jimmy : "Hehe..., boneka kesayanganku? Kenapa, dengan warna merah di wajahmu itu?"
Bara : "Apa! Merah?"
Jimmy mengangguk.
Bara : "Ti...tidak...apa-apa, kek?"
Jimmy : "Hehe...kau berbohong pada orang tua ini. Katakan saja, kalau kau saat ini sedang kasmaran dengan kelinci kecilku. Ya kan?"
"Blush"
Wajah Bara yg tadinya merah jadi semakin merah karena ucapan Jimmy.
Bara : "Ti...dak kakek?"
Jimmy : "Huh! Masih tidak mengakui. Nanti, kalau kelinci kecilku di tikung orang. Kamu jangan nangis-nangis sama aku ya?"
Bara : "Kakek? Apa-apaan, kata-kata kakek barusan? Aku tidak akan nangis, kek? Daripada itu, kemarin malam kakek kemana? Katanya ke toilet. Kami menunggu kakek sampai makanannya hampir dingin. Kakek tidak kembali dari toilet. Memang, kakek kemana kemarin malam?"
Jimmy : "Oh, soal itu? Orang tua ini sudah pulang ke mansion. Maklum, orang tua ini sudah rindu sama ranjang empuk juga bantal dan guling. Hehe.., jadi begitulah orang tua ini kembali dan meninggalkan makanan mewahnya di resto."
"Oh, jadi begitu. Dasar, kamprettt."
Bara : "Jadi benar dugaanku, kakek kembali ke mansion dan sengaja meninggalkan kami berdua, ya kan?"
Jimmy : "Betulll sekali boneka kesayanganku?"
Bara : "Dasarrr, kamprettt...!"
Jimmy : "Dasar, bucin!"
Bara : "Apa! Bucin? Siapa, yg bucin?"
Jimmy : "Tentu saja kau, bonekaku?"
Bara : "Enak saja. Aku bukanlah seorang bucin."
Jimmy : "Jika, kau bukan seorang bucin. Kau tidak akan penasaran sampai kau ikut kami makan malam di resto kan? Hehe...!"
"Sialan! Kakek benar!
Bara terdiam.
Jimmy : "Kau cucuku, apa yg tidak kuketahui tentangmu. Kau boleh pacaran dengan wanita mana pun yg kau suka. Tapi, ingat! Kau harus hati-hati dalam memilih seorang nyonya rumah untuk dirimu sendiri dan keluarga ini. Aku tidak suka siluman wanita itu yg kemarin itu duduk di pangkuanmu. Huh! Menyebalkan. Aku lebih suka kelinci kecilku yg berada di sisimu."
Bara : "Mitha?"
Jimmy : "Ya, cepatlah kau lamar wanita itu. Dia cantik dan juga baik hati. Dia cocok untuk menjadi istrimu. Hehe..., orang tua ini sudah tidak sabar mau gendong beruang kecilku."
Bara menepuk jidatnya.
"Oh, my goshhh..., kakek? Aku tidak bisa bilang padamu. Kalau, Mitha sudah menikah."
Bara jadi pusing gara-gara Jimmy memintanya untuk segera menikahi Mitha. Tapi, ia akan mencari cara bagaimana supaya Mitha mau menikah dengannya. Sekaligus, memberitahunya tentang siapa lelaki yg saat malam itu bersama dengannya.
Kantor standford Group...
Bara duduk di kursi kebesarannya. Ia tampak lelah. Bukan karena masalah pekerjaan. Tapi, karena masalah keinginan kakeknya itu. Ingin ia segera menikahi Mitha. Saat ia sedang memikirkannya, tiba-tiba saja Lee asisten pribadinya masuk ke dalam ruangannya.
Lee : "Tuan?"
Bara kaget.
Bara : "Ya"
Lee : "Ini saya bawakan laporan bulan ini."
Bara : "Oh, taruh saja di mejaku."
Lee : "Baiklah, kalau begitu."
Lee memperhatikan raut wajah Bara.
Lee : "Tuan, kenapa? Seperti, ada sesuatu yg sedang tuan pikirkan."
Bara : "Ya, kau tahu. Kakek ingin aku segera menikah dengan Mitha. Tapi, kau tahu kan Mitha sudah menikah."
Lee : "Um? Tuan, kenapa tidak tuan melakukan pernikahan kontrak saja dengnnya."
Bara : "Apa! Pernikahan kontrak?"
Lee : "Iya tuan?"
Bara : "Hem? Ide yg bagus sekali, Lee. Terima kasih."
Lee : "Sama-sama, tuan? Kalau begitu, saya pamit dulu tuan?"
Bara : "Ya, pergilah."
Bara tersenyum. Akhirnya, ia bisa menghilangkan rasa khawatirnya tadi. Mungkin, dengan pernikahan kontrak bisa mengikat Mitha untuk berada di sisinya sebagai nyonya Standford. Bara sangat berharap Mitha jadi istrinya dan bisa memberikannya seorang keturunan.
.
.
.
.
.
.
.
Restoran Abigail's
Mitha bertemu Jason secara tak sengaja di sebuah resto. Mitha kaget, jason justru senang. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tampaknya kalimat itulah ug cocok menggambarkan pertemuan Mitha dan Jason tersebut. Jason yg tampan dengan bibir merahnya. Dan, Mitha yg cantik dengan senyum manisnya.
Jason : "Hai, kakak ipar?"
Mitha : "Ha...hai juga Jason?"
Jason tersenyum.
Jason : "Apa kabar kakak? Apa kakak baik-baik saja?"
Mitha gugup.
Mitha : "Ba...baik. Aku baik-baik saja."
Jason : "Syukurlah, kalau kakak baik-baik saja."
Mitha meremas kedua tangannya. Dan, Jason melihatnya.
Jason : "Ada, apa kakak terlihat cemas."
Mitha : "Akh, tidak apa-apa."
Jason : "Oh"
Jason diam sejenak.
Jason : "Apakah, kakak lapar?"
Mitha diam. Jason mengulang pertanyaannya sambil tersenyum.
Jason : "Aku bilang? Apakah, kakak lapar? Jika, kakak lapar. Kakak bisa menemaniku makan siang sebentar."
Mitha : "Tapi...!"
Mitha ragu. Ia takut akan bertemu dengan Jhon di resto itu. Jason melihat itu, ia mengeggam erat jari jemari Mitha. Mitha kaget.
Jason : "Jangan takut, kak. Kan, ada aku. Yuukkk?"
Mitha : "Em? Baiklah."
Jason tersenyum senang. Ia menggandeng tangan Mitha menuju meja makan di resto tersebut. Jason memperlakukan Mitha dengan lembut.
"Duhh, dia cantik sekali. Sungguh, sayang dia menjadi kakak iparku. Bagusnya dia jadi istriku saja."
Jason menatap Mitha tiada henti. Ia sungguh terpesona dengan Mitha. Mitha tidak sadar Jason terus menatapnya. Lebih tidak sadar lagi ternyata ada sepasang mata yg memperhatikannya. Tampak sekali raut cemburu terlukis di wajah sepasang mata itu. Siapa lagi kalau bukan Bara Standford. Ia baru saja tiba disana. Lalu, Bara menyuruh Lee untuk menelepon salah satu pacarnya Bara yaitu Almia. Untuk membuat pertunjukan memanas-manasi Mitha.
Almia tiba, tak lama setelah Lee meneleponnya atas suruhan Bara. Kebetulan Almia memang berada di sekitar tempat itu. Ia sedang berbelanja sepatu, jadi ia cepat datang ke resto tersebut. Bara langsung menggandeng tangan Almia begitu ia tiba disana. Lee hanya garuk-garuk kepala melihat tingkah Bara. Padahal, baru kemarin-kemarin Bara memintanya untuk menghendel acara pertemuannya dengan banyak wanita yg dipacarinya.
Tapi, sekarang Bara sudah memintanya untuk menghubungi kembali Almia dan memintanya untuk datang ke resto tersebut. Sungguh, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran tuannya itu. Namun, ternyata setelahnya ia melihat ternyata wanita yg sedang diincar oleh tuannya itu sedang makan berdua dengan seseorang yg tak dikenal. Ternyata, tuannya cemburu melihat wanitanya jalan dengan lelaki lain.
"Oh, my goshh...tuan tampaknya sedang cemburu."
Bara dan Almia duduk di satu meja dekat dengan Mitha dan Jason. Sedangkan, Lee ia memilih duduk di tempat lain menyendiri sambil mengamati. Mitha kaget melihat Bara ada di sana dan sedang duduk bersama dengan seorang wanita yg tak dikenalnya. Mitha menarik nafas. Ada sedikit rasa cemburu disana. Jason memperhatikannya, kemana arah mata Mitha memandang. Jason bertanya pada Mitha.
Jason : "Kakak ipar? Apa, kau mengenalnya?"
Mitha : "Ap...apa! Siapa?"
Jason : "Kakak, sedari tadi memandanginya saja. Lelaki itu. Juga, raut wajahmu itu kak. Kok, jadi berubah gitu?"
Suara Mitha meninggi.
Mitha : "Berubah apanya! Udah, deh jangan ngaco!"
Mitha menjadi panas apalagi melihat Bara memegang terus tangan wanita itu dan merem*snya dengan gemas tanpa peduli Mitha ada disana dan sedang melihat ke arahnya.
"Huh, dasar playboy. Benar-benar menyebalkan!"
Mitha kesal dan akhirnya ia pun pergi dari sana. Jason mengejarnya.
Jason : "Kak! Kak Mitha! Tunggu, kak. Mau kemana. Kak Mitha!!!"
"Ck, sial! Acara makanku berantakan gara-gara laki-laki itu. Arghhh...siapa laki-laki itu sebenarnya? Dan, kenapa Mitha peduli padanya?"
Jason galau di tinggal pergi Mitha. Dan, Bara tersenyum puas sudah membuat Mitha cemburu. Ia sangat senang mengetahui ternyata Mitha juga ada rasa pada dirinya. Sedangkan, Almia ia merasa benci sudah dijadikan sebagai alat oleh Bara untuk memanasi wanita lain yg diincar oleh Bara. Ia juga pergi meninggalkan Bara. Ia kesal juga dengan sikap Bara yg tak pernah cukup dengan satu wanita saja.
Bersambung...
TWO HUSBAND Season 2