
Kediaman Irene...
Asraf sudah berniat untuk menemui Mitha. Namun, keraguan sejenak datang melanda dirinya. Ia ragu tentang Mikayla yg telah lama tiada. Sekaligus, ia belum sepenuhnya percaya dengan apa yg dikatakan oleh bu Ningsih. Bahwa Mikayla masih hidup. Bahkan tentang pasangan pasutri yg membawa dan mengasuh adiknya itu. Dan, alamat yg tidak jelas dari pasangan pasutri tersebut semakin membuatnya tak percaya.
Ia dilanda kebingungan hebat yg menyiksa dirinya.
"Aku harus bagaimana? Mengapa, aku tak percaya bahwa adikku masih hidup dan Jesseline. Entah dimana dia sekarang. Sekarang, salah satunya meneleponku. Tapi, mengapa begitu berat bagiku untuk mempercayainya? Andaikan, saja Suzy masih bersamaku saat ini. Mungkin aku tidak akan sebingung ini. Aku bodoh! Mengapa, aku melepasnya pergi. Aku yg *****. Kenapa, kulepaskan dia saat itu?" ucapnya dengan nada sedih.
Asraf begitu menderita dengan perasaannya sendiri. Sejujurnya, ia mengakui bahwa hatinya sudah terpikat pada Suzy. Namun, ia tiada daya untuk meñahan kepergian Suzy saat itu. Asraf merasa kalut dan terbebani dengan semua ini. Tapi, kata-kata Mitha saat meneleponnya mempengaruhi dirinya. Untuk menguak kebenaran tentang Mikayla. Akhirnya, ia pun mengalah pada rasa tidak percayanya. Ia membulatkan tekad untuk rasa penasarannya. Tentang, benarkah semua ini? Atau hanya hiburan dan ilusi?
"Untuk apa aku ragu dan tidak percaya? Apalagi, tadi dia memanggilku kakak! Itu sudah cukup bukan?" ucapnya lagi tanpa ragu kemudian melangkah keluar menuju mobilnya yg terparkir di garasi.
Langsung saja Asraf segera naik mobilnya dan meluncur menuju daerah S. Ia memasang GPS sebagai alat penunjuk arah. Menuju alamat rumah yg diberikan oleh Mitha melalui sms. Kali ini ia yakin bahwa ia akan bertemu dengan adiknya meski rasa ragu kian merasuk jiwanya. Mengganggu keyakinan dan keteguhannya. Namun, dengan pasti mobil itu terus meluncur dengan kencang. Agar cepat sampai di alamat yg dimaksud.
Setelah lama bertengkar dengan keyakinan dan keraguan yg bercampur menjadi satu. Akhirnya, Asraf sampai juga di alamat yg dimaksud. Lama, ia berdiam di dalam mobilnya. Ia berdo'a semoga saja benar bahwa adiknya masih hidup. Ia menelepon Mitha dengan tangan gemetar. Mitha mengangkat telepon dari Asraf.
Mitha : "Halo?"
Asraf : "Aku sudah sampai. Keluarlah!" ucapnya dengan nada bergetar.
Mitha : "Apa! Baiklah!"
"Tut"
Kinanti bertanya pada Mitha siapa yg telepon.
Kinanti : "Siapa yg telepon?"
Mitha : "Asraf! Kakakku, dia baru saja tiba. Dan, ia menyuruhku keluar."
Kinanti : "Oh, aku ikut!"
Mitha mengangguk. Lalu, Kinanti mengikuti langkah Mitha menuju halaman depan rumah. Sampai di depan rumah Mitha melihat sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumah. Dan, ia juga melihat seorang pria keluar dari dalam mobil tersebut. Mitha menahan nafas saat ia pertama kali melihat sosok Asraf, kakaknya. Salah satu keluarganya.
"Kakak?" gumamnya.
"Mikayla?" gumam Asraf.
Lama, mereka berdiri di posisi masing-masing. Saling menatap dan seakan bertanya satu sama lain. Benarkah, semua ini?
Lalu, akhirnya Mitha berlari dan memeluk Asraf erat sekali. Asraf kaget!
Mitha : "Kakak?" ucapnya dengan nada bergetar sambil menumpahkan air mata.
Asraf : "Mikayla? Adikku?" ucap Asraf membalas pelukan Mitha yg sedari tadi mengerat kencang di tubuhnya.
Kinanti yg menyaksikan kejadian itu perlahan airmatanya tumpah ruah. Ia begitu terharu menyaksikan pertemuan dua saudara yg terpisah sejak lama.
(Author POV : Author juga nangis lho😭😭😭)
Lama mereka berpelukan. Merasakan kerinduan masing-masing. Dan, setelahnya mereka melepas pelukan mereka masing-masing. Asraf menatap wajah Mitha dan menghapus airmata yg menetes di pipinya. Sekejap ia merasa tak asing dengan wajah itu.
Asraf : "Tunggu dulu! Aku pernah bertemu denganmu sebelumnya. Kau Lova, kan?"
Mitha berkerut dahi.
Mitha : "Lova? Kakak? Aku tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya. Kita baru pertama kali bertemu yaitu hari ini, saat ini."
Asraf : "Apa! Tidak mungkin! Aku, benar-benar pernah bertemu dengan mu dan berkenalan denganmu."
Mitha : "Kakak, jangan mengada-ngada deh! Aku Mitha kak, bukan Lova."
Asraf menjadi bingung.
Asraf & Mitha : "Apa, jangan-jangan itu Jesseline?"
Kinanti menyambung pembicaraan Mitha dan Asraf.
Kinanti : "Ah, mungkin saja. Maaf, aku mengganggu waktu kalian. Bagaimana, kalau kita masuk dan berbicara di dalam saja."
Asraf : "Kurasa, itu ide yg bagus! Ayo, Mikayla!"
Mitha mengangguk saja. Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah.
Kinanti : "Ayo, silahkan duduk."
Asraf : "Terima kasih!"
Kinanti : "Aku sangat senang dengan pertemuan adik dan kakak yg mengharukan. Akhirnya, temanku dapat berkumpul lagi dengan keluarganya kembali. Namun, tadi sepertinya ada sesuatu yg sedikit menarik perhatianku. Dan, aku ingin sekali bertanya pada kak...!"
Asraf : "Asraf. Panggil aku Asraf!"
Kinanti : "Oh, kak Asraf. Um, kak kenapa kakak memanggil Mitha dengan nama Lova? Padahal setahuku namanya adalah Mitha dan nama aslinya adikmu ini adalah Mikayla. Apa, kakak pernah bertemu dengan seseorang yg dulu sangat mirip wajahnya dengan Mitha?"
Asraf : "Ya."
Mitha : "Kapan kak?"
Asraf : "Seingatku, beberapa bulan yang lalu. Sewaktu aku sedang mengajak ibu makan siang di sebuah restoran. Disana aku bertemu dengan dia yg wajahnya sangat mirip denganmu, Mikayla?"
Kinanti : "Padahal, Mitha baru bertemu dengan kakak hari ini. Benar kan, Mitha?"
Mitha : "Benar!"
Kinanti : "Itu, berarti Mitha. Perempuan itu bisa saja adalah saudara kembarmu Jesseline!"
Asraf : "Ya, kau benar! Mungkin dia adalah Jesseline. Salah satu adikku yg lain yg diculik oleh bu Ningsih ketika itu. Ah, bodoh sekali aku! Andai saja, aku tahu dia adikku dia akan aku ajak pulang ke rumah bersamaku dan juga ibu."
Mitha : "Kalau begitu, kak? Kita harus mencari dan menemukannya."
Asraf : "Ya, Mikayla. Kita harus menemukannya! Ayo, saatnya kita kembali ke rumah. Ibu pasti senang melihatmu. Setelah itu, kita akan cari Jesseline sampai ketemu. Um...?"
Kinanti : "Kinanti, kak namaku!"
Asraf : "Kinanti, terima kasih sudah menampung adikku sementara disini. Aku sangat berterima kasih sekali padamu. Kau sangat baik sekali padanya."
Kinanti : "Sama-sama, kak? Oh, ya? Kapan-kapan, kakak sama Mitha boleh main-main kesini lagi. Bawa Jesseline juga ya kalau udah ketemu."
Asraf & Mitha : "Oke!"
Mitha : "Aku akan membereskan barang-barangku dulu, kak!"
Asraf : "Ya, kakak tunggu."
Mitha segera pergi menuju kamar dimana ia tidur dan meletakkan barang-barang bawaannya. Ia membereskannya. Setelahnya, ia segera keluar dari rumah Kinanti bersama Asraf, kakaknya. Untuk segera pulang menemui ibu mereka. Tak lupa Mitha mohon pamit pada Kinanti dan keluarganya.
Asraf : "Ibu pasti sangat senang melihatmu nanti, Mikayla."
Mitha : "Ya, kak. Semoga aja, aku udah gak sabar ingin bertemu dengan ibu, kak!"
Asraf tersenyum lalu ia mengelus kepala Mitha penuh sayang. Akhirnya, Asraf sudah menemukan Mikayla dan menghilangkan semua keraguannya. Kini, ia tinggal mencari dimana Jesseline berada. Bersama-sama dengan Mitha atau Mikayla. Dan, berkumpul lagi bersama selamanya.
Bersambung...
TWO HUSBAND