TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband S2-04



Kediaman Frederick...


Lova baru saja menelepon Mitha. Tampak sekali di raut wajahnya yg tampak khawatir. Sean yg baru saja pulang dari kantor memperhatikannya. Ia bertanya-tanya perihal apa yg membuat Lova jadi seperti itu. Ia mendekati istrinya itu seraya menyentuh pundaknya.


Sean : "Sayang? Kamu kenapa?"


Lova sedikit kaget.


Lova : "Ehh? Sayang, ngagetin aja. Enggak apa-apa kok."


Sean : "Tidak apa-apa kok wajahnya begitu. Ayo, ceritakan padaku. Ada, masalah apa."


Lova : "Um? Tadi, aku telepon kak Mitha. Soalnya, aku ada perasaan gak enak gitu."


Sean : "Terus, kak Mitha bilang apa. Dia gak apa-apa kan?"


Lova : "Kata kakak sih dia baik-baik aja."


Sean : "Jadi, dia gak kenapa-kenapa kan?"


Sambil tersenyum Lova menjawab.


Lova : "Iya"


Sean : "Ya udah, kalau gitu kamu siapkan dulu air mandi aku. Lepas itu kita makan bareng."


Lova langsung berdiri dan langsung memberi hormat kepada Sean.


Lova : "Siap, bos!"


Sean tersenyum, tiba-tiba ia teringat Zidan.


Sean : "Oh, ya dimana Zidan."


Lova : "Dia sedang bermain dengan mobil kesayangannya di kamar."


Sean : "Oh, aku pergi lihat dia dulu."


Lova : "Baiklah."


Sean segera pergi ke kamar Sean. Disana ia melihat putra kesayangannya itu sedang bermain dengan mainan kesayangannya. Sean mendekatinya dan kemudian menggendong putranya yg baru berumur setahun lebih itu.


Sean : "Sayang? Kok, kamu main sendiri sih? Gimana, sih mama kamu. Kok, kamu dibiarin main sendiri."


Sean memanggil Lova.


Sean : "Lova...! Lova...!"


Mendengar teriakan Sean, Lova segera berlari turun ke bawah.


Lova : "Iya...iya...ada apa, sayang?"


Sean : "Kamu gimana, sih sayang? Kok, Zidan dibiarin main sendiri. Nanti, dia kenapa-kenapa gimana."


Lova : "Loh, tadi dia kan sama mbak Susi pengasuh kita."


Sean : "Terus, mbak Susinya dimana. Kamu tahu, gak dia kemana."


Lova : "Lah, tidak tahu."


Sean : "Ck..., kamu ini. Udah, tahu mbak Susi itu gak bagus. Masih juga kamu kasih dia pekerjaan buat jaga Zidan. Pecat, aja dia. Besok, kita cari pengasuh baru."


Lova : "Iya"


Sean : "Nih, gendong Zidan. Jangan, kasih sama mbak Susi. Langsung pecat, dan kasih pesangon!"


Lova : "Iya...iya, bawel amat sih?"


Sean : "Aku bawel juga karena aku sayang sama anak aku. Dia masih setahun lebih. Belum berusia 6 atau 7 tahun. Yang udah, bisa jalan dan bicara."


Lova : "Iya...sayang. Maaf!"


Sean mengelus lembut kepala dan mengecup kening Lova.


Lova terdiam.


Sean : "Ya udah, aku mandi dulu ya?"


Lova mengangguk. Lova merasa sangat senang karena Sean sangat menyanyangi mereka. Tak seperti kebanyakan keluarga kecil lainnya. Yang terkadang terlihat harmonis di luar tapi, sangat rapuh di dalam. Lova bersyukur sekali ia bersuamikan Sean. Dan, ia berjanji ia akan menjaga keharmonisan tersebut sampai rambutnya memutih.


Sementara, Lova yg merasa bersyukur bersuamikan Sean. Berbeda halnya dengan Mitha yg bersuamikan Jhon. Hidup Mitha terasa bagaikan neraka. Sejak kejadian itu perilaku Jhon semakin kasar pada Mitha. Jhon mengusir Mitha dari kamar utama dan menyuruh Mitha untuk tidur di kamar tamu.


Jhon : "Hey...Mitha! Segera pindah kau ke kamar tamu saja. Aku tidak mau seranjang denganmu."


Jhon berkata ketus pada Mitha sambil melempar bantal, guling serta selimut ke wajah Mitha. Mitha kaget.


Mitha : "Kenapa, kamu mengusir aku?"


Jhon : "Heh Mitha, masih bagus aku mengusirmu dari kamar utama. Bukan mengusirmu dari rumah ini. Sekarang, cepat ambil itu dan pergi dari hadapanku!"


Jhon membentak Mitha kasar.


"Hu...hiks...hiks."


Mitha menangis sambil memungut sesuatu tadi yg dilempar oleh Jhon ke arahnya. Jhon yg melihat itu, tiada rasa belas kasihan sedikit pun. Ia menatap penuh benci kepada Mitha. Ia memang sudah tidak ingin tidur bersama dengan seorang wanita yg sudah ternodai. Dahulu, ia memandang tinggi Mitha karena Mitha adalah seorang wanita yg pandai menjaga diri. Akan tetapi, setelah ia mengethui Mitha tak suci lagi ia jadi berang.


Padahal ia sendiri yg salah sudah memperkenalkan Mitha dengan Marco yg ternyata punya niat tak baik pada Mitha. Agaknya, Jhon ini benar-benar sudah sakit jiwa juga. Tidak bisa melihat duduk persoalan yg sesungguhnya. Hanya melihat Marco saja yg benar padahal Marco yg menjadi penyebab itu semua terjadi. Akibat, dahulu ia pernah disakiti wanita hingga membuatnya jadi berbalik membenci Mitha.


Mitha yg tahu apa-apa tentang masa lalu suaminya itu hanya bisa pasrah saja menerima amarah Jhon. Menerima setiap kekasaran Jhon yg membuatnya bagaikan wanita yg tidak ada harganya. Selalu saja salah di mata Jhon. Namun, Mitha menerima semua itu dengan tabah dan ikhlas.


.


.


.


.


.


.


.


Sedangkan di sisi lain....


Pria tampan itu sedang duduk di balkon kamarnya. Tatapannya jauh menatap kejauhan, menatap kelap kelip lampu-lampu yg menghiasi sudut kota. Tersungging senyum manis di bibirnya. Teringat akan kejadian kemarin yg begitu membuatnya bersemangat menggebu memacu malam yg kian larut bersama seorang wanita cantik yg sedang berada dalm pelukannya kala itu.


Ia tak sengaja bertemu dengan wanita cantik itu di diskotik. Wanita itu tak sengaja menabrak dirinya serta merayu dirinya. Mitha tak sadar bahwa dirinya sudah dikuasai oleh minuman yg bercampur obat. Hingga ia berani merayu seorang lelaki yg tidak dikenalnya.


Mitha : "Hey...tampan?"


Mitha menyapa lelaki yg dikenal di diskotik tersebut sebagai Bara Standford. Bara tersenyum ketika ia mendengar rayuan Mitha dan suara merdu Mitha.


Bara : "Cantik? Sepertinya, kau kurang sehat? Biar kakak ini yg mengobatimu ya?"


Mitha tersenyum saja. Dan, ia pasrah saja dibawa oleh Bara meninggalkan tempat berisik tersebut. Bara membawanya pergi ke suatu tempat. Selama, dalam perjalanan Mitha tak henti-hentinya menggoda Bara. Bara tersenyum saja ketika Mitha menggoda dengan duduk di pangkuannya.


"Hem? Sepertinya dia kena obat. Kalau, tidak mana mungkin dia bisa seliar ini. Wanita, kasian sekali. Entah keparat mana yg sudah kau singgung."


Jhon membatin. Sambil tetap memperhatikan tingkah laku Mitha yg semakin menjadi. Sesampainya di hotel Black Star. Bara menggendong Mitha masuk ke dalam tempat itu. Ia memesan kamar yg sangat mewah di hotel tersebut.


Setelah menyelesaikan urusan administrasi hotel. Bara membawa ke kamar yg sudah ia pesan tadi. Awalnya, ia hanya ingin menyelamatkan Mitha saja karena ia sudah dijebak dan diberi obat. Namun, siapa yg dapat menolak pesona Mitha yg sedang dibawah pengaruh obat.


Mitha : "Kakak ganteng? Jangan, pergi. You're my man?"


Mitha berkata tanpa sadar. Ia sudah merayu seekor hewan buas. Bara tersenyum.


Bara : "Ohh..., as you wish beautiful girl? Jangan, menyesal ya? Karena, setelah ini aku tidak akan melepasmu."


Mitha terkekeh kecil. Dan, terjadilah hal yg seharusnya tidak perlu terjadi. Malam itu Mitha menyerahkan kesuciannya pada seorang lelaki yg tidak dikenalnya. Entah, berapa kali Bara mengulang perbuatannya karena rasa Mitha sangat manis sekali. Hingga membuat ia ketagihan dan tak bisa mengontrol dirinya. Demikianlah, hal yg terjadi sebenarnya malam itu. Dan, hal itu tercetak jelas dalam ingatan Bara dan ia tak bisa tidur karena teringat akan wajah cantik dan suara merdu Mitha.


Beesambung....


TWO HUSBAND Season 2