
Sementara itu di tempat lain.....
Zean dan Lova tampak semakin akrab saja. Kecanggungan yg semenjak tadi menyelimuti mereka berdua pun akhirnya sirna. Kini, mereka dapat berbicara tanpa rasa canggung sama sekali.
Ketika, pagi mulai menyingsing. Zean pun mengajak pulang kembali ke rumah. Dimana, Sean tengah menunggu kabar berita Lova yg hilang entah kemana di rumah. Zean dan Lova tak tahu kalau Sean sedang mencari Lova melalui Leon.
Namun, hingga pagi menyingsing pun ia belum mendapatkan kabar dari Leon sama sekali. Ia semakin frustasi sekali. Hingga, akhirnya Zean pulang ke rumah dengan membawa Lova bersamanya. Ia terkejut melihat Zean dan Lova bersama sambil bergandengan tangan.
Seketika, amarah Sean pun memuncak. Ia ingin menumpahkan amarahnya kepada Lova saat itu juga. Namun, berhubung masih ada Zean disana ia pun mengurungkan niatnya itu ingin menginterogasi Lova. Hatinya, terasa sesak dan panas. Tatapan matanya tajam menatap Zean dan Lova. Zean bisa melihat itu, dan Zean mengira kakaknya marah padanya.
Zean pun melepas gandengan tangannya pada tangan Lova dan ia pun lalu naik ke atas. Tanpa, berkata apa-apa pada Sean, kakaknya itu. Sean, yg melihat itu pun jadi semakin marah dan ia pun melampiaskan semua kemarahannya pada Lova.
Sambil menarik tangan Lova kasar dan naik ke lantai atas.
Sean : "Ayo, ikut aku!!!" ucapnya ketus.
Lova : ???
Lova tak bisa berbuat apa-apa, karena raut wajah Sean yg tampak sangat tidak enak di pandang. Ia pasrah saja saat Sean menariknya dengan kasar.
Sean, masih saja menarik tangan Lova langsung ke arah kamar pribadinya. Langsung masuk kamar dan menutup pintu kemudian menguncinya.
"Krieeet"
"Braak"
"Ceklek....ceklek...."
Sean pun lalu melempar tubuh Lova ke ranjang. Lova terlihat sangat ketakutan. Ia mencoba untuk bangkit, namun tiba-tiba saja Sean menindih tubuhnya dan mengunci kedua tangan Lova agar Lova tidak dapat berontak. Ia pun terkejut.
Lova : "Hah!!!"
Melihat ekspresi terkejut di wajah Lova, Sean pun terkekeh.
"Hehehe" kekehnya.
Sean : "Kenapa? Takut? Hm?"
Lova diam tak berani menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya. Hingga, membuatnya tertawa.
"Hahaha" tawanya.
Sean : "Denganku, kau takut! Tapi, dengan adikku kau tidak takut! Malah, kau terlihat senang bahkan kau pun memakai jaket miliknya."
Lova tak berkutik.
Lova : "Itu....emm....Zean yg memakaikannya padaku karena aku kedinginan tadi malam."
Sean menaikkan satu alisnya.
Sean : "Oh, sungguh romantis! Saking, romantisnya sampai kau tidak tahu bahwa aku tampak seperti orang gila nencarimu!"
Lova : "Kau mencariku?"
Sean tersenyum sinis.
Sean : "Tidak! Tentu saja, bodoh!!! Aku mencarìmu!!!" ucapnya dengan nada tinggi dan membentak.
Sean : "Ngapain, berontak? Mau kabur, hah? Cari Zean! Iya!!!"
Sean membentaknya. Lova sangat takut melihatnya. Hingga ia meneteskan airmatanya.
"Hiks....hiks....hiks!" tangisnya.
Sean : "Nangis? Mewek? Biar, Zean denger! Iya? Hei...Lova? Dengarkan, aku baik-baik! Kucing peliharaan yg tidak patuh harus diberi hukuman! Hukumannya apa? Kau mau tahu, baby?"
Sambil berbisik di telinga Lova.
"Diberi kepuasan sampai muntah!!!"
Lova semakin terisak. Sedangkan, Sean sudah mulai bergerak. Ia menyelusup ke dalam cd yg di pakai oleh Lova. Ia mulai sibuk membuka cd tersebut dan membuangnya ke lantai. Lova panik.
Lova : "Ja....jangan, Sean? Huhuhu...!!!"
Sean membentaknya.
Sean : "Diaaam!!!!"
Lova tiba-tiba terdiam.
Sean : "Buka lebar-lebar kedua kakimu! Cepat!!!"
Lova menggelengkan kepalanya sambil memanggil nama Sean.
Lova : "Sean....???"
Sean tidak peduli. Ia pun kemudia memainkan jari jemarinya di klit*ŕisnya Lova. Sebelumnya, ia melumasi jarinya dengan ludahnya sendiri sebagai pelicin. Gerakannya sangat lembut perlahan. Memberi sensasi yg membuat Lova mendesah pelan.
"Mmph.....emmh"
Sean senang mendengar desahan Lova. Kemudian, ia pun menambah tempo gerakannya. Membuat, Lova semakin mengeluarkan suara indahnya.
"Aaah.....sssshhh.....ohhhh"
Sean : "Huh.....Sexy!!! I like your voice! Mendesahlah, baby???" ucap Sean sambil terus mengocok klit*ris tersebut.
Lagi, gerakan Jari Sean semakin liar mengocok milik Lova hingga akhirnya Lova pun mencapai klim*ksnya.
"Aaaaaaaahhhhh.....Seaaaaaannn!!!"
Sean pun tersenyum senang Lova sudah mencapainya. Lalu, Sean pun langsung saja pindah posisi tadi jarinya yg ada disana. Sekarang, bibirnya yg ada disana lidah dan mulutnya dengan cekatan membersihkan milik Lova yg keluar lalu menelannya. Setelah, bersih ia pun mencium bibir Lova dengan ganas. Lova terkejut sekali. Namun, ia sudah tak bisa apa-apa ia sudah lemas. Jadi, ia menerimanya saja saat Sean menciumnya. Kemudian, setelah ia puas mencium bibir Lova ia pun melepas ciumannya.
Sean : "Kau beruntung, aku tak membobol perawanmu! Tapi, ingat jika aku sampai melihatmu jalan berdua dengan adikku lagi. Maka, aku akan melakukan yg kebih dari pada ini!" ucap Sean penuh dengan nada penekanan.
Kemudian, Sean meninggalkan Lova disana dalam keadaan terisak sedih. Sean meninggalkannya begitu saja setelah ia puas melampiaskan amarahnya yg meluap-luap. Sungguh, Lova tidak mengerti apa kesalahannya hingga Sean berbuat begitu kejam pada dirinya. Padahal, ia dan Zean tidak melakukan hal apa pun. Mereka hanya berteman saja. Tapi, siapa sangka justru itu menyulut api kemarahan Sean.
❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤
💦💦💦TWO HUSBAND💦💦💦