TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-33



Asraf dan Vlara sudah sampai di rumah keluarga itu. Vlara turun dari mobil dengan gaya centilnya sambil menggandeng lengan Asraf. Asraf merasa risih, ia mencoba melepaskan pegangan Vlara pada lengannya.


Asraf : "Lepass, Vlara!!!" bentaknya.


Vlara : "Isshhh, kakak? Vlara kan rindu sama kakak? Masa gak boleh pegang lengan kakak?"


Asraf : "Apa hubungannya rasa rindumu dengan lenganku Vlara!"


Vlara : "Ya adalah kak. Secara kan kita cocok gitu?"


Asraf : "Ck, ada-ada aja. Minggir!" ucap Asraf ketus dan meninggalkan Vlara. Vlara berlari mengejar Asraf hingga sampai di depan pintu rumah.


Asraf memencet bel berulang kali. Dan, yg membuka pintu kali ini adalah Suzy. Suzy tersenyum manis sekali saat ia melihat Asraf kembali ke rumah. Namun, tatapan penuh tanya ia arahkan pada Vlara. Asraf mengerti akan tatapan itu. Lalu, Asraf pun menjelaskan kepada Suzy bahwa gadis remaja yg ia bawa adalah adik sepupunya Vlara.


Asraf : "Suzy! Dia adalah Vlara. Adik sepupuku."


Suzy : "Oh, hai Vlara. Aku Suzy! Salam kenal?"


Vlara memandang Suzy dari atas sampai bawah. Tatapan matanya tajam, tampak tidak suka pada Suzy.


"Ohh? Jadi, ini yg namanya Suzy? Seorang wanita hamil doang! Bukan masalah bagiku. Lihat, nanti bagaimana aku akan menendangmu keluar dari rumah ini, S u z y......" ucap hati Vlara.


Vlara berakting, ia berpura-pura baik dan senang melihat Suzy padahal dalam hatinya ia sudah menyiapkan seribu cara untuk menyingkirkan Suzy.


Vlara : "Salam kenal kembali! Aku Vlara. Kau hamil? Kakak? Apa dia istrimu? Dia sudah hamil begitu. Kakak, kau jahat sekali. Kau menikah tapi tak bilang padaku." ucap Vlara manja sambil bergelayut di lengan Asraf.


Asraf menjadi sangat kikuk di hadapan Suzy karena tingkah manjanya Vlara.


Asraf : "Vla...Vlara!!! Lepasss!!!" bentaknya lagi kesal.


Asraf tidak mau Suzy mengira hal yg tidak-tidak antara dia dan Vlara.


Vlara : "Isshhh....kakak? Dari tadi ngebentak terus? Hu....hiks...., kak Suzy? Lihatlah, kak Asraf marah padaku?" ucap Suzy pura-pura menangis.


Suzy : ???


"Ehh??? Adegan apa ini? Terasa familiar? Seperti di sinetron-sinetron? Seorang adik sepupu yg mencoba menggoda kakak sepupunya. Dan, seorang kakak sepupunya yg tidak menyukainya." ucap hati Suzy.


Asraf : "Sudahlah, tidak perlu pura-pura menangis begitu. Cepat masuk! Ibu ada di dalam. Awas aja kalau kamu ngadu yg tidak-tidak. Akan kujewer telinga kamu sampai putus!" ancam Asraf pada Vlara.


Vlara menjerit, hingga mengundang perhatian Irene yg sedang menonton tv di ruang tamu.


Vlara : "Kyaaaaaa....! Kakak, kau kejam sekali? Hu...hiks...., kau lihat itu kan kak Suzy? Dia benar-benar kejam padaku. Dia tidak melihat air mataku?" ucap Suzy meminta pertolongan Suzy.


Irene : "Ada apa? Siapa, yg menjerit? Suzy? Apa, kau yg menjerit tadi? Kau tidak apa-apa, kan? Perutmu tidak apa-apakah?"


Melihat kekhawatiran terukir di wajah Irene pada Suzy, bibinya itu seketika membuat rasa cemburu di hati Vlara. Ia merasa kalau bibinya itu lebih perhatian pada orang luar daripada dirinya, yg merupakan keponakan dari Irene tersebut.


"Sial....! Perempuan hamil ini, tidak tahu darimana asalnya. Dan, tidak tahu ada hubungan apa dengan kak Asraf. Malah, dia yg orang lain lebih diperhatikan dibandingkan aku yg keponakannya Bude Irene. Huh! benar-benar memuakkan! Dia harus cepat-cepat disingkirkan! Dia bisa saja merebut semua perhatian bude Irene dan Asraf nantinya dengan perut buncitnya itu!!!" ucap Vlara penuh emosi dan bara api kecemburuan yg menyala.


Suzy : "Tidak apa-apa, tante? Aku baik-baik saja. Ini keponakan tante tadi Vlara berteriak gara-gara Asraf, tante?"


Irene : "Ohh? Apa! Vlara?"


Vlara : "Hehe..., hai bude? Ini Vlara lohh?"


Irene menepuk jidatnya kala ia melihat keponakannya yg super manja dan tak bisa di atur sudah tiba di rumahnya.


Irene : "Ya sudah, ayo masuk ke dalam." ucapnya dengan nada lemas.


Asraf dan Vlara masuk ke dalam rumah tersebut. Asraf menenteng koper Vlara menuju lantai atas. Vlara mengikutinya dari belakang sambil senyam senyum tidak jelas. Agaknya, keponakan Irene ini seperti mengidap suatu penyakit tertentu. Hanya saja, mereka tak menyadarinya. Mengingat, hubungan keluarga dan kekerabatan yg begitu dekat antara Irene dan Dini. Juga, hubungan keluarga antara Asraf dan Vlara. Vlara sudah menganggap Asraf seperti miliknya yg tak boleh disentuh wanita lain. Sedangkan, Asraf hanya menganggap Vlara seperti adik kandungnya sendiri.


Semenjak, adik kandungnya Jesseline hilang diculik oleh pembantu mereka. Sejak saat itu membuat Asraf jadi kehilangan tempat untuk memberikan kasih sayangnya sebagai seorang kakak. Ia menjadi orang yg bersalah karena ia tak bisa menjaga adiknya Jesseline. Namun, ketika Vlara sang adik sepupunya hadir dalam kehidupannya sedikit demi sedikit mengobati luka dan perasaan bersalah itu. Asraf memberikan kasih sayangnya pada Vlara sejak mereka masih kecil. Dan, mereka selalu bersama.


Walau pun begitu, rasa rindu Asraf pada adik kandungnya tidak akan mudah hilang begitu saja. Meski, ia memiliki Vlara menyanyangi dan melindungi Vlara seperti adiknya sendiri. Tak akan bisa mengubah kenyataan bahwa ia begitu sangat merindukan sosok adiknya yg hilang tanpa jejak itu. Ia dan ibunya Irene sangat merindukan Jesseline. Dan, entah sampai kapan mereka akan bertemu lagi dengan adik dan anak kandung dari keluarga itu. Namun, Asraf percaya bahwa suatu hari nanti ia akan menemukannya. Terbukti, bahwa do'a yg selalu ia panjatkan ketika ia sendirian. Telah dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.


Detektif yg ia tugaskan untuk menemukan adiknya yg hilang itu. Sudah menemukan titik terang dimana keberadaan adiknya itu. Ia menemukan alamat sang pembantu yg selama ini bersembunyi di sebuah desa di daerah pedalaman. Semua ini berkat keahlian dan kecermatan sang detektif dalam usahanya membantu Asraf untuk menemukan adiknya.


Percakapan Via Telepon....


Detektif : "Halo, tuan Asraf?"


Asraf : "Halo, tuan detektif. Bagaimana hasilnya? Apa sudah ketemu?"


Detektif : "Ya, tuan Asraf. Setelah, saya menyelidiki kasus ini dan dalam usaha pencarian saya. Akhirnya, saya menemukan titik terang tentang keberadaan adik anda tuan?"


Asraf : "Benarkah? Baguslah, tuan detektif? Dimana..., dimana adik saya tuan detektif?"


Detektif : "Emm? Tapi, saya masih menemukan alamat pembantu yg telah menculik adik anda tuan?"


Asraf tampak sedikit kecewa mendengarnya.


Asraf : "Oohh???"


Detektif : "Anda tenang saja, tuan? Saya pasti akan menemukan adik anda. Oh, ya? Bagaimana, jika kita bertemu saja tuan? Biar, obrolan kita lebih enak tuan?"


Asraf : "Baiklah, detektif? Kita bertemu di kantor saja."


Detektif : "Tidak usah, tuan? Kita bertemu di tempat lain saja, bagaimana?"


Asraf : "Baiklah, dimana tempatnya detektif?"


Detektif : "Di Coffee Shop Palace saja, tuan? Selain mengobrol kita bisa juga minum kopi yg enak disana."


Asraf : "Oh, oke! Saya, akan segera meluncur kesana."


Detektif : "Oke, saya tunggu!"


"Tut"


Asraf segera pergi ke tempat yg telah di tentukan oleh Detektif tersebut. Ia pergi sendirian. Ia tak membawa ibunya bersamanya. Takut kalau nanti ibunya histeris karena ingin segera bertemu dengan anak yg selama ini sangat ia rindukan dan nantikan.


Bersambung.....


Two Husband