TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband-47



Malam hari di kontrakan Suzy....


Suzy memberikan Laura pada Zean untuk digendong. Setelah ia menyusui Laura di kamar. Suzy memang terlihat malu jika harus menyusui Laura di hadapan Zean. Karena, Zean selalu saja menatapnya dengan tatapan yg sulit untuk di artikan oleh Suzy.


Suzy : "Nah, ini dia. Gendonglah. Dia sudah kenyang dan tak akan menangis lagi."


Zean : "Oh."


Zean menerima Laura dari tangan Suzy. Ia menggendong putrinya yg cantik itu. Tampak Zean sangat senang dan bahagia sekali menggendong putrinya itu. Ia mencium bayi itu sambil terkadang ia juga menyentuh pipi merah bayinya itu.


Zean : "Dia imut sekali, ya?"


Suzy : "Ya, dia imut. Sama seperti kamu."


Zean : "Tidak. Dia imut sama seperti kamu. Aku kan laki-laki jadi tidak mungkin dia imut seperti aku."


Suzy tersenyum.


Zean : "Oh, ya. Bagaimana kedai nasi kamu. Apakah ramai pembelinya."


Suzy : "Hari ini cukup ramai seperti biasanya. Yah, walaupun terkadang sepi juga."


Zean : "Pasti itu sulit buat kamu."


Suzy : "Tidak juga. Menurutku ini malah jauh lebih baik dari pada bekerja di club. Um? Takut akan berpengaruh buruk untuk Laura."


"Wah, dia sampai berpikir seperti itu demi Laura. Sebaiknya juga aku membantunya mencari nafkah. Aku tidak bisa melihatnya membesarkan Laura sendirian. Aku harus membantunya. Bagaimana pun juga dia masih istri sahku. Dan, Laura adalah anakku." batin Zean.


Zean : "Kalau begitu, besok aku akan keluar mencari pekerjaan. Siapa tahu, aku akan mendapatkan pekerjaan."


Suzy : "Ehh??? Bukankah, kau masih sakit. Memar di wajahmu juga belum hilang."


Zean : "Tidak apa-apa, Suzy! Aku masih kuat untuk mencari pekerjaan. Syukur-syukur aku diterima bekerja. Dan, bisa mencukupi kebutuhan kita juga Laura."


"Apa katanya? Bisa mencukupi kebutuhan kita dan Laura?" ucap hati Suzy.


"Hu...hiks...hiks."


Tiba-tiba, Suzy menangis. Zean kaget melihatnya.


"Dia menangis?" batin Zean.


Zean bergerak sambil menggendong Laura dan memeluk Suzy.


Zean : "Kenapa, kamu menangis?"


Suzy : "Hiks...aku terharu. Baru kali ini aku merasa kau peduli dan perhatian padaku juga anak kita."


Zean mempererat lagi pelukannya.


Zean : "Maafkan aku, Suzy! Jika, selama ini aku sudah membuatmu menderita. Dan, sudah menelantarkanmu juga anak kita. Sekarang, kamu jangan nangis lagi ya? Lihat, Laura menangis karena kamu." ucap Zean ketika ia mulai mendengar dan melihat Laura menangis.


"Oekkk....oekkk."


Suzy : "Dia menangis bukan karena aku. Dia menangis karena haus dan mengantuk."


Zean : "Oh, begitu. Dasar, aku ini orang tua yg bodoh! Ini kuserahkan Laura padamu. Susui dia."


Suzy : "Baiklah!"


Suzy segera beranjak dari sana untuk menyusui Laura di dalam kamar dan Zean mengikutinya dari belakang. Suzy kaget! Ketika, ia tahu Zean mengikutinya.


Suzy : "Ka...kau mengikutiku?"


Zean : "Memangnya kenapa? Aku kan suamimu? Aku mengantuk dan mau tidur di satu kamar denganmu. Apa itu salah?"


Suzy : "Ti...tidak salah sih? Tapi, aku merasa malu padamu."


Zean : "Kenapa mesti malu segala? Seperti belum pernah saja aku melihatmu."


Suzy : "I...iya...ya sudah kalau sudah mengantuk. Tidur saja duluan. Aku mau menyusui Laura dulu."


Zean segera menjatuhkan tubuhnya di atas ambal tahu. Sejenak, ia melihat sekeliling kamar kontrakan itu. Sungguh tidak layak, pikirnya. Istri keduanya ini hidup di tempat sederhana dan biasa saja. Namun, meski begitu ia melihat justru Suzy menyukainya.


"Suatu saat nanti aku akan membawamu dan anak kita ke tempat yg lebih layak lagi, Suzy! Aku tidak ingin kamu tinggal di tempat seperti ini dan membesarkan anak kita di sini. Do'akan saja, mudah-mudahan aku berhasil mendapatkan pekerjaan yg bagus dan merubah nasib kita agar lebih baik lagi." ucap hati Zean.


Suzy selesai menyusui Laura. Ia meletakkan Laura di atas ambal tahu. Ia melihat Zean sedang melamun sambil rebahan. Suzy menegurnya.


Suzy : "Lagi mikirin apa?"


Zean menjawab tanpa sadar.


Zean : "Lagi, mikirin kamu dan anak kita!"


Suzy : "Oh"


Zean melirik Laura yg sudah tertidur pulas.


Zean : "Apa dia sudah tidur?"


Suzy : "Sudah, kenapa?"


Zean : "Kemarilah, mendekatlah padaku!"


Suzy : ???


Zean : "Jangan takut padaku, sayang?"


Suzy kaget Zean memanggilnya mesra.


Suzy : "Ehh???"


Zean heran melihat Suzy yg masih terpaku di tempatnya kendati Zean sudah memanggilnya untuk mendekat. Maka, ia pun mengalah. Ia mendekati Suzy dan duduk di sisi Suzy. Suzy terkejut. Zean tersenyum melihat ekspresi terkejut terukir di wajah sendu Suzy.


Zean : "Mengapa, kau terkejut begitu?"


Suzy : "Um? Tidak apa-apa, hanya kaget aja!"


Zean merapatkan duduknya agar lebih dekat lagi dengan Suzy. Suzy takut kejadian masa lalu dan kekasaran Zean padanya dulu terulang lagi. Lalu, ia pun bergerak untuk menjauhi Zean. Namun, gerak refkeknya itu tertahan oleh Zean karena Zean menarik tangannya.


Zean : "Mau kemana?"


Suzy : "Ma...mau...um?"


Zean : "Apa, kau tidak rindu padaku? Sehingga kau berinisiatif menjauhiku?"


Suzy : "Maaf, bukan begitu. Hanya saja aku merasa takut."


Zean : "Takut?"


Suzy mengangguk.


Zean : "Jangan takut padaku. Aku tidak akan mengasarimu lagi. Aku hanya ingin dekat denganmu. Karena, aku merindukanmu."


Suzy : "Benarkah?"


Zean : "Ya, untuk apa aku berbohong. Kemarilah, sayang?" rayu Zean pada Suzy.


Suzy tidak punya pilihan lain. Ia pun mendekat pada Zean dan duduk lagi di sisinya. Zean tersenyum senang. Suzy mau menurutinya. Ia mengelus lembut pucuk kepala Suzy. Dan, ia menatap mata sendu milik Suzy. Lalu, perlahan ia mendaratkan kecupan di kening Suzy.


"Cup"


Suzy terperanjat sekali.


Zean : "Kau istriku. Kau adalah segalanya bagiku. Bukan hanya kamu. Lova juga istriku. Kalian berdua sangat berarti dalam hidupku. Sekarang, aku sudah menemukanmu. Kamu, jangan pergi lagi ya? Aku susah sekali lho mencari kamu? Maafkan, atas sikapku dulu pada dirimu. Yang membuatmu kecewa dan pergi dari rumah. Aku khilaf saat itu. Kamu mau kan, maafin aku?" ucapnya panjang lebar.


Lagi, airmata jatuh di pelupuk mata Suzy. Ia menangis dan terharu begitu ia mendengar kata-kata Zean.


Suzy : "Hiks...jangan berkata begitu lagi. Aku sudah memaafkanmu sejak dulu."


Zean memeluk erat Suzy.


Zean : "Terima kasih, sayang! Mulai sekarang, kita buka lembaran baru lagi ya?"


Suzy menganggukkan kepalanya. Malam itu benar-benar merupakan malam yg membahagiakan untuk Suzy. Setelah, sekian lama ia pergi dari rumah. Baru malam itu ia merasakan kesempurnaan menjalani rumah tangga bersama Zean. Karena, mulai malam itu Zean memberikan segenap cinta dan kasih sayangnya pada Suzy. Meski harus terbagi dua.


Bersambung....


TWO HUSBAND