
Lova kembali kerumahnya dalam keadaan lelah. Memang, pekerjaannya sangat membuatnya merasa lelah sekali. Namun, ia merasa cukup senang melakukan pekerjaan itu karena gajinya yg cukup besar. Sehingga, memungkinkan ia untuk menyimpan sedikit uang untuk kehidupannya di masa depan. Jika, nanti ia tidak bekerja lagi disana. Ia bisa membuka usaha untuk dirinya sendiri.
Lova sudah tidak punya orang tua lagi. Ia adalah seorang yatim piatu. Ia diangkat anak oleh seorang wanita yg memiliki seorang anak laki-laki. Wanita, itu sangat menyayanginya sehingga mengakibatkan kecemburuan di hati anak laki-laki itu hingga ia dewasa. Sedangkan, Lova tidak pernah sama sekali membencinya. Ia menganggap Juan, nama kakak angkatnya itu sebagai kakak kandungnya sendiri meski, ia seringkali mendapat tatapan tidak suka dari Juan.
Dan, wanita yg telah mengangkat dirinya sebagai anak itu kini telah meninggal dunia karena sakit. Kini, Lova harus hidup membiasakan diri tanpa orang tua yg selalu berada di sisinya. Dan, ia juga mesti berhadapan dengan kakaknya setiap hari. Yg, selalu meminta uang kepadanya untuk berjudi. Juga, sekaligus meminta uang kepadanya untuk membayar hutang judinya itu. Seperti, pagi ini setiap ia selesai bekerja dan pulang ke rumah. Kakaknya selalu, saja datang meminta uang darinya.
"Brak"
Dengan, wajah beringas babak belur habis di hajar dan nafas ngos-ngosan. Juan, meminta uang kepada Lova secara paksa.
Juan : "Hei, Lova! Aku minta uang!"
Lova tidak terkejut mendapati hal itu.
Lova : "Uang? Maaf, kak? Lova, tidak punya uang!"
Juan marah.
Juan : "Apa!!! Tidak, punya uang?"
Lova : "Bukankah, kakak kemarin sudah mengambil uangku? Sekarang, aku tidak punya uang kakak?"
Membuang ludah dan seraya mengobrak abrik lemari pakaian Lova.
Juan : "Cih! Dasar, keparat! Wanita, sialan! Entah, pelacur mana yg melahirkanmu! Beraninya, kau membohongiku! Lihat! Ini, apa!!!"
Lova terkejut!
"Uang tabunganku?" ucapnya dalam hati.
Lova : "Kakak? Aku, mohon? Jangan, kakak? Itu uang tabunganku! Jangan, ambil kakak?"
Juan : "Diam! Hahaha....! Sekarang, aku punya uang untuk berjudi. Tapi, aku tidak punya uang untuk membayar hutang!"
Juan berpikir.
Lova : ???
"Ah, begini saja! Biar, Lova saja yg membayar hutangku kepada tuan kaya itu!" pikir Juan.
Menarik paksa Lova.
Juan : "Kau!!! Ayo ikut, aku!"
Memegang apa pun, agar tidak dapat dibawa pergi oleh Juan.
Lova : "Tidak mau, kakak? Lova, mau dibawa kemana?"
Menghardiknya kasar.
Juan : "Diam!!!"
Sambil melepaskan apa pun yg di pegang Lova dan membawanya pergi ke suatu tempat yg sudah dijanjikan oleh tuan kaya tersebut.
Sebelumnya
Setelah, kepergian Lova dari ruangannya. Tiba-tiba, saja ponselnya berdering. Ia meraihnya, dan memencet tombol warna hijau.
"Tut"
Percakapan Via Telepon.
Zean : "Kakak! Aku sudah mendapatkan orang itu!"
Dengan nada dingin.
Sean : "Bagus! Tetap, awasi jangan sampai kabur! Sebentar, lagi aku kesana!"
Zean : "Baik, kakak!"
Setelah, menerima telepon bergegas pergi. Ia menyambar jasnya dan memakainya dengan rapi. Lalu, ia pun pergi bersama Fandy sekretarisnya dengan menggunakan mobil pribadinya. Menuju, tempat ia biasa bernegosiasi dengan orang bahkan menghajar orang yg sulit membayar hutang.
Tak butuh waktu lama, untuk sampai disana. Hanya butuh 30 menit saja. Mereka pun sampai. Sean, turun dari mobil dengan gagahnya sedang Fandy di belakangnya menyusul.
Tempat itu tampak seperti bekas pabrik yg tidak terpakai lagi. Tampak sangat lusuh dan gelap. Tidak ada penerangan yg memadai disana. Hanya, lampu 5 watt saja yg menerangi tempat itu.
Disana, di dalam salah satu ruangan. Terdapat, seorang anak manusia dalam kondisi terikat kedua tangan dan kakinya. Dan, ia di hajar habis-habisan hingga babak belur.
Sean mengangkat dan berkata....
Sean : "Zean!!! Cukup!"
Zean berhenti menghajar orang itu.
Zean : "Kakak? Aku belum puas menghajarnya!"
Sean : "Nanti, kau bisa menghajarnya lagi jika aku sudah selesai bicara dengannya!"
Zean : "Baiklah!"
Zean pun mundur.
Sean mendekati orang yg terikat itu perlahan.
Sean : "Jadi, bagaimana tuan Juan?"
Sambil mendongkkan kepala, dengan wajah meringis kesakitan.
Juan : "Tuan kaya!" Aku akan bayar hutangku! Tolong, lepaskanlah aku!"
Sean tersenyum mengejek.
Sean : "Oh, ya? Bagaimana, kau akan membayar hutangmu!"
Juan : "A....adikku punya uang banyak! Aku akan minta padanya! Untuk membayar hutangku!"
Sean : "Benarkah???"
Juan : "Benar! Aku, tidak bohong!"
Mempertimbangkan dan berpikir.
Sean : "Baiklah, aku akan melepaskanmu! Segera, pergi dan bayar hutangmu! Atau, aku akan menembak kepalamu!"
Ketakutan.
Juan : "I.....iya, tuan? Saya, pergi dan saya akan segera kembali!" ucapnya segera berlalu dari tempat itu. Setelah, Sean menyuruh anak buahnya untuk melepaskannya.
Zean yg sedari tadi hanya mendengarkan saja, percakapan mereka menjadi kesal.
Zean : "Kakak? Kenapa, kau lepaskan dia?"
Sean : "Diam!!! Pergilah! Uruslah urusanmu! Biar, Juan aku yg mengurusnya!"
Zean : "Ck.....ya sudahlah! Aku pergi!" ucapnya kesal sambil menendang tong sampah yg ada disana.
Sean yg melihat tingkah adiknya itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
"Dasar, bocah!" ucapnya dalam hati.
❤❤❤❤❤BERSAMBUNG❤❤❤❤❤
💦💦💦TWO HUSBAND💦💦💦
FOTO ZEAN FREDERICK