
Asraf merasa bersalah pada Vlara karena sudah bersikap kasar padanya. Suzy dapat melihat dengan jelas hal itu. Karena, dirinya terjadi pertengkaran di rumah yg damai dan tenang itu. Ia merasa sedih sekali. Dimana pun dia berada selalu saja ada kejadian tak mengenakkan terjadi. Suzy merasa dia memang tidak pantas tinggal di rumah keluarga Asraf. Ia berniat untuk pamit dan pergi dari rumah keluarga Asraf yg sudah menampung dirinya.
Awalnya, Asraf merasa keberatan untuk berpisah dengan Suzy. Karena, ia sudah jatuh cinta pada Suzy. Dan, ingin selalu bersamanya. Akan tetapi, nasib berkata lain. Bahwa memang mereka harus berpisah dan tidak mungkin dapat bersama. Asraf melepas kepergian Suzy, dengan hati yg berat. Belum lagi selesai pencarian tentang adik kandungnya. Ia sudah kehilangan satu lagi orang yg berarti dalam hidupnya. ia terluka.
Sedangkan, Vlara tersenyum penuh kemenangan. Ia sudah berhasil menyingkirkan duri yg selama ini selalu nyangkut di kakinya. Yang membuatnya harus bérjalan-jalan dengan kaki tertusuk duri.
"Yah, akhirnya dia pergi juga." batinnya puas.
Vlara benar-benar sangat bahagia atas kepergian Suzy dari rumah itu. Senyum penuh kebahagiaan menghiasi bibirnya. Ia menghampiri Asraf, pura-pura bersimpati dan memberi dukungan.
Vlara : "Sabar ya, kakak? Kakak jangan sedih." ucap Vlara mencoba untuk menghibur Asraf meski pura-pura.
Asraf menanggapi dengan dingin.
Asraf : "Apa, kau sudah puas? Huh!" ucapnya kemudian ia pergi meninggalkan Vlara disana.
Vlara : "Kakak? Hu...hiks...hiks." tangisnya pura-pura.
Vlara bersandiwara di hadapan Asraf. Agar, ia dapat meraih hati Asraf dengan pura-pura merasakan kesedihan Asraf. Namun, Asraf tak benar-benar menanggapinya. Karena, ia tahu siapa sebenarnya Vlara. Dan, ia tak ingin jatuh dalam perasaan palsu Vlara yg tiba-tiba saja menghibur dirinya.
Asraf sungguh tidak butuh hiburan dari seorang Vlara yg sudah membuat wanita yg ia cintai pergi menjauh. Sebab, Suzy tidak ingin membuat keributan di antara Asraf dan Vlara. Ia merelakan dan mengikhlaskan Asraf pada perempuan lain. Itu juga semua ia lakukan demi kedamaian di dalam keluarga itu.
.
.
.
.
.
.
Suzy menaiki bus yg akan membawanya ke daerah S. Disana, ia akan membuka kembali lembaran baru. Dan, sebentar lagi ia akan melahirkan seorang anak yg akan menemani hari-harinya yg sendiri tanpa Zean berada di sisinya. Sejenak, ia menghembuskan nafas lelah.
"Hidup ini memang penuh dengan cobaan. Dimana, terkadang aku merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menjalaninya. Dulu, aku menjalani hidup yg gelap. Mencoba menggoda bos besarku. Bosku menolak diriku, karena ia tidak suka wanita ****** mendekatinya. Akhirnya, aku mendekati adiknya. Berhasil, memang dan aku hamil anaknya. Tapi, ia tak menerimaku. Malah, ia membenci diriku. Disitu, aku baru merasakan apa itu rasa sakit dan kecewa. Ternyata, dia lebih mencintai istri pertamanya. Dan, ia tetap menganggap aku seorang ****** yg mencoba menggoda dirinya. Meski pun, aku sudah berubah ia tetap memandang rendah diriku. Hiks...tuhan? Apakah, aku sama sekali tidak berhak untuk mencintai dirinya? Mengapa, begitu sulit untuk melupakannya. Bahkan, ketika aku jatuh cinta pada pria lain. Tetap saja, hanya dirinya yg ada dalam hatiku? Apakah, aku memang sudah tidak bisa berpaling?" ucap hatinya sedih.
Suzy sang mantan wanita malam. Jatuh terperangkap dalam cinta dan kerinduan akan kasih sayang suaminya. Sementara, suaminya tidak pernah mau melihat dirinya dan mencintainya. Suzy begitu sangat menderita sekali. Di dalam mata Zean yg terlihat hanya Lova seorang saja. Sungguh tiada wanita lain selain Lova. Dan, Suzy ia anggap hanya hiasan saja. Hanya bisa dipandang tanpa pernah mau untuk melihatnya bahkan menyentuhnya pun tidak pernah.
Kini, Suzy sedang memupuk asa. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Tanpa adanya seorang pendamping pun dalam hidupnya. Niatnya hanya satu saat ini. Ia hanya ingin hidup berdua saja dengan anaknya. Meski tiada Zean yg menjadi kepala keluarga sekaligus penopang dalam hidupnya. Suzy memang sudah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang single parent bagi anaknya kelak yg akan lahir sebentar lagi.
Daerah S
Mitha sudah menceritakan maksud dan tujuannya datang ke daerah S kepada Kinanti. Yaitu, mencari kedua orang tua kandungnya. Kinanti sangat terkejut sekali ketika mendengar keseluruhan cerita Mitha. Yang mengatakan bahwa ia bukanlah anak kandung dari pasangan suami istri Robert dan Julia. Sekaligus, kedua pasutri itu juga mengatakan bahwa seorang wanita yg bernama Ningsih yg memberikan dirinya.
Kinanti : "Apa? Ningsih?"
Mitha : "Ya. Bukankah, Ningsih adalah pembantumu?"
Kinanti : "Ya, mbok Ningsih adalah pembantu disini dulu."
Mitha : "Dulu? Maksudnya?"
Kinanti : "Mbok Ningsih dulu memang bekerja di rumahku. Tapi, sudah beberapa tahun yg lalu ia meminta untuk berhenti dan kembali pulang ke kampung halamannya di daerah pedalaman."
Mitha : "Oh! Jadi, jelas sudah. Aku hanya tinggal mencari alamatnya saja. Apa kau tahu dimana alamatnya?"
Kinanti : "Oh, ada!"
Mitha : "Benarkah? Bisakah, kau memberikan alamatnya padaku."
Kinanti : "Bisa, tunggu sebentar." ucap Kinanti sambil berlalu meninggalkan Mitha yg masih duduk di ruang tamu. Tak lama, kemudian Kinanti kembali dengan kertas bertuliskan alamat rumah Ningsih.
Kinanti : "Nih, alamatnya." ucap Kinanti menyerahkan kertas alamat Ningsih.
Mitha menerima kertas alamat tersebut dan melihatnya.
Mitha : "Inikah alamatnya?"
Kinanti menganggukkan kepalanya.
Mitha : "Terima kasih, Kinanti?"
Kinanti : "Sama-sama, Mitha. Aku berharap kau segera menemukan orang tua kandungmu."
Mitha tersenyum.
Mitha : "Ya, mudah-mudahan saja ya? Do'akan aku, agar aku cepat bertemu dengan mereka."
Kinanti : "Pasti." ucap Kinanti lalu memeluk Mitha erat. Ia sangat berharap Mitha dapat segera bertemu kembali dengan kedua orang tua kandungnya. Dan, dapat segera berkumpul dan bersama-sama lagi. Tidak terpisahkan lagi untuk selamanya.
Bersambung...
TWO HUSBAND