TWO HUSBAND

TWO HUSBAND
Two Husband S2-25



Tatapan mata Brian masih tak lepas menatap wajah manis Asraf. Sungguh ia punya minat terhadap laki-laki ini. Sedangkan, Asraf ia merasa aneh dengan kakaknya Amanda. Selalu menatapnya dengan intens seperti ingin menerkam dirinya. Asraf sampai merinding tingkat dewa merasakannya.


 


Two Husband S2 Eps 25


 


Setelah, Mitha tak menemukan Bara di kantornya. Ia segera pulang ke mansion Standford. Sampai disana ia bertemu Jimmy di ruang tamu. Jimmy segera menyambutnya dengan senyumnya yg ramah. Tapi, Mitha malah membuang muka sambil menangis. Jimmy heran karenanya. Ia menggaruk-garuk kepalanya yg tidak gatal.


Ia bergumam.


Jimmy : "Kelinci kecilku, kenapa ya? Kok, dia nangis gitu? Ah, ini pasti ada apa-apanya. Telepon boneka kesayanganku dulu."


Jimmy menelepon Bara untuk menanyakan tentang Mitha yg menangis. Tapi, telepon Bara mati dan tidak bisa dihubungi. Jimmy marah, ia membanting ponselnya.


"Braaakkkkk"


Jimmy : "Dasar, boneka semprull sialan! Kenapa, dia mematikan ponselnya. Huh!"


Jimmy melipat tangan di dada. Ia kesal sekaligus emosi. Sedangkan, Mitha sudah ada di dalam kamar pribadinya. Ia menangis kencang disana.


"Hu...hiks....Bara."


"Kenapa, kau tidak mau memaafkan aku. Aku sungguh tidak sengaja membohongimu. Kenapa, kau tidak mau mendengarkan penjelasanku. Hu...hiks."


Mitha menangis terisak. Airmatanya jatuh bercucuran. Ruang kamar mewah dan terlihat elegan itu tampak hampa tanpa canda serta tawa Bara di sisinya. Hati yg lemah itu jadi berkabut. Semakin berkabut dan semakin tebal kabutnya. Menutupi hati yg terluka karena kesalahannya sendiri. Senyum itu pun tiada lagi terukir di sudut bibir merahnya.



Burung cantik itu kini seakan patah sayapnya. Ia sudah tidak bisa terbang lagi. Karena keserakahan seorang pemburu. Yang menyakitinya dengan cara menembak sayapnya. Dan, sekarang burung itu terluka serta tidak ada yg bersedia merawat juga menjaganya. Ia sendirian.


Sedang, pasangan sang burung itu terlihat marah. Marah karena pasangannya belum juga kembali. Marah karena api cemburu yg berlebihan menguasai relung hatinya. Hatinya yg saat ini sedang tidak berpikir dengan logika yg ada. Ia sedang dikuasai oleh keegoisan yg melanda hati jiwa dan raganya.


Ponselnya berbunyi nyaring. Tadi, ia memang sempat mematikan ponselnya karena ia tidak ingin Mitha menelepon dirinya. Bara bangkit dari duduknya dan mengambil ponsel yg terletak di sofa. Ia melihat siapa yg menelepon dirinya. Ternyata, yg menelepon dirinya adalah seorang teman yg baru saja kembali dari Inggris. Dia adalah Steven Jensen.


Bara : "Halo, Steven? Kau meneleponku? Apa, kau sudah kembali dari Inggris."


Steven : "Wahh, kau benar sekali teman! Aku baru tiba di Indonesia hari ini. Dan, aku sedikit mengadakan pesta disini di Bar milikku. Datanglah, bersama pasanganmu. Atau, kalau tidak punya pasangan....! Ah, tidak mungkin seorang Bara yg playboy tidak punya pasangan kan? Kau tidak pernah kekurangan wanita."


Bara : "Sialan! Kau benar, tapi aku saat ini sedang tidak mood. Lain kali saja, ya?"


Steven : "Hei, sejak kapan kau jadi orang yg tidak mood begini. Biar kutebak. Apakah, kau baru ditinggal wanita?"


Bara : "Steven, kurang ajarr. Siapa yg mengatakan hal itu padamu. Apa, kau mau bisnismu hancur?"


Steven : "Hei...hei...mengapa kau mendadak sensitif begitu? Kau, terlihat seperti emak-emak telat dapat gaji aja. Hehe...kutunggu kedatanganmu disini. Ku jamin kau akan enjoy. Disini banyak bunga-bunga cantik dan sexy dibandingkan dengan wanita yg membuatmu tidak mood itu."


Bara : "SIALAN! Siapa, yg mengizinkanmu berkata begitu tentang....!"


Steven : "Bye...bye...!"


"Tut"


Sebelum Bara benar-benar murka Steven memutuskan sambungan teleponnya. Sungguh ia tidak mau mendapatkan masalah lebih lanjut dari Bara. Namun, ia sudah mengusik hati Bara yg terdalam Tidak tahu apakah yg akan dilakukan Bara padanya.


Sedang, Bara ia sudah tersulut emosi yg parah. Ia pun memutuskan untuk menghadiri pesta kecil yg diadakan oleh Steven di Bar miliknya. Sekalian, memberikan pelajaran kepada Steven yg sudah terang-terangan mengusik hatinya.


Bara mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak lama ia sampai di Bar milik Steven teman akrabnya. Ia bertanya pada cewe yg bekerja sebagai pelayan disana dimana ia dapat menemukan biang keladi yg sejak tadi memacu emosinya.


"Duakhh."


Steven yg saat itu sedang dikelilingi wanita-wanita cantik itu pun terkejut. Minuman beralkohol yg tadi ia teguk ia muntahkan kembali. Di hadapannya telah berdiri Bara dengan wajah yg tidak enak untuk dilihat.


Steven : "Ehh, Bara. Temanku."


Ia menyambut Bara dan merangkul Bara.


Steven : "Sudah lama kita tidak bertemu."


Bara : "Aku kesini, tidak untuk basa basi denganmu. Steven, aku hanya mengingatkanmu. Jangan, pernah kau mengusik wanita yg kucintai atau kau akan tahu apa akibatnya. Kau PAHAM?"


Steven : "Ehh??? Pa...paham. Aku paham. Mari duduk dulu."


Bara : "Tidak perlu. Aku masih banyak pekerjaan."


Steven : "Pekerjaan apa, ini sudah tengah malam. Apa, kau mau lembur? Daripada kau lembur disana lebih baik kau lembur disini saja dengan wanita-wanita ini. Hehehe...!"


Bara : "Maaf, Steven. Aku tidak bisa. Aku juga tidak tertarik dengan wanita-wanita itu. Untukmu saja. Aku pergi."


Bara bersiap pergi. Steven memberi kode kepada para wanita itu untuk menghalangi Bara pergi.


Ladies : "Hai, bos tampan? Mau kemana? Jangan, pergi dulu donk. Kita bisa kok temani bos. Hem?"


Wanita cantik itu merayu Bara. Bara diam tak merespon.


Bara : "Maaf, aku tidak bisa. Istriku menunggu di rumah!"


Ladies : "Apa! Istri?"


Steven pun terkejut dengan pengakuan Bara barusan.


Steven : "Istri? Haha...Bara temanku. Kau sudah menikah rupanya. Kenapa, tidak memberitahuku."


Bara : "Untuk apa, memberitahumu. Kau selalu sibuk dengan urusanmu sendiri, kan?"


Steven : "Hehe..! Ya sudah kalau begitu, kapan-kapan kau kenalkan istrimu padaku ya?"


Bara : "Untuk apa aku mengenalkannya padamu. Bisa-bisa nanti dia kepincut denganmu!"


Steven : "Oww...temanku Bara. Ternyata, kau ini pencemburu berat ya?"


Bara : "Bukankah, kau suka sekali mengincar milikku? Padahal, kau punya tapi kau masih suka mengincar punyaku. Katakan, padaku Steven. Apakah, aku perlu memberimu satu. Sebab, aku sudah bosan dengan mereka semua. Nah, kuserahkan mereka semua padamu."


Steven : "Bara temanku, bukan seperti itu. Hehe...masa begitu saja kau sudah marah sihh...??? Aku kan hanya penasaran saja."


Bara : "Steven! Suatu hari yg namanya PENASARAN pasti akan membunuhmu. Cepat atau lambat. Dadah..."


Steven : "Apa!"


Bara segera pergi meninggalkan Steven dengan pesta kecilnya. Bara sudah tidak mau lagi ikutan pesta dengan Steven seperti dulu. Ia sudah punya Mitha. Dan, ia tidak ingin lagi berpacaran dengan banyak wanita seperti saat sebelum ia mengenal Mitha.


Bersambung...


TWO HUSBAND Season 2